Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
96. Keluarga



"Thanks for the offer. I will gladly take your offer."(Terima kasih atas tawarannya. Aku akan dengan senang hati menerima tawaranmu.)


"Come back here and take care of all your administration !"(Kembalilah kemari dan urus semua administrasi mu!).


"Yes, sir. As soon as possible I will be there to complete my administration and unfinished work."(Ya pak. Sesegera mungkin saya akan kesana untuk menyelesaikan administrasi dan pekerjaan yang belum selesai.)


"Ok, I will wait."(Ok, saya tunggu.)


"Ada apa kak? Kakak mau pergi lagi ,?" tanya mami dengan muka sedih. Membuat ku tak nyaman, karena banyak orang yang ada disini melihat kearah ku. Hari ini tujuh hari meninggalnya kakek, jadi kami mengadakan acara doa bersama di sini.q


"Mi,mami jangan begini. Kakak masih terikat kontrak dengan pihak Google di sana," ucap papi.


"Kontrak kakak masih 6 bulan lagi Pi."


"Kalau mau tenang nikah kan saja anak gadis mu!"


"Tante Dira,apaan sih."Kesal ku, suasana yang sempat sunyi, jadi sedikit ramai gara-gara celetukan Tante Dira.


"Lagian mami mu itu lebay sih , Han. Kamu di sana sudah 3 tahun masih aja kaya baru ke sana."


"Kamu ya Dir, enak Jelita selalu berada di dekat mu."


"Kamu juga aneh ,anakmu itu biasa hidup jauh dari mu,tapi kenapa sikap mu masih lebay. Jangan-jangan Lo hamil lagi,?" ucap Tante Dira membuat kita anak-anak mami melotot.


"Kamu hamil yang ?"


"Ga usah aneh-aneh deh Pi, masak aku harus punya adik di umur ku yang 27." Ucap Radit yang di sambut sorakan dan ledekan yang lain.


"Emang ada yang aneh kalau mamimu hamil lagi,?" tanya papi.


"Haha papi jangan berbicara yang membuat ku merinding deh," ucap Radit.


"Kayanya yang siap punya adik, cuma Randi." Celetuk Om Hardi, membuat semua melihat kearah Randi.


"Sebenarnya malu,entar adikku dikira anakku lagi. Tapi kalau sudah terlanjur jadi ya mau gimana,ya tentu aku terima lah."


"Haha haha," suara tawa memberikan kesan seolah kita tidak habis berduka.


"Om harap kalian akan terus hidup rukun,penuh tawa. Om yakin jika AA lihat anak dan cucunya tertawa bahagia, dia juga akan senang melihatnya."


"Benar, pasti jika Abi melihat kita bersedih dan menangis dia juga akan bersedih. Abi pasti seneng jika melihat kita semua bahagia," ucap Om Hafis dengan mata memerah. Pasti Om Hafis merasa sangat terpukul melebihi mami, meskipun kata orang mami paling di sayang kakek. Tapi kenyataannya Om Hafis yang hidup tidak pernah terpisah lama dengan kakek, selain saat kuliah di Kairo.


"Bagaimana setiap tahun kita agendakan kumpul keluarga," ucap umi Aisyah.


"Kan tiap tahun kita juga selalu kumpul,umi"jawabku.


"Aku gak yakin kalian akan sering kesini, setelah ustad meninggal."


"Hehe iya juga sih," ucapku. Lagian tiap aku kesini tujuan ku adalah kakek, sekarang kakek sudah tidak ada.


"Jangan berpikir untuk tidak kesini , hanya karena Abi sudah pergi. Ini juga rumah kalian, rumah teteh Dira dan AA Arkana bersama anak-anaknya."


"Assalamualaikum," suara salam menghentikan ucapan Om Hafis.


"Walaikumsalam, masuk Ali, Anis Raihan," ucap Om Hardi.


"Ko teh Anis berang mereka,?" tanyaku.


"Wajarlah istri pasti akan selalu nuturkeun salakina ,"ucap istri Om Hafis.( nuturkeun salakina: mengikuti suaminya)


"Apa kabar Ning,masya Allah sudah lama kita tidak jumpa. Aku kangen sama panjenengan Ning," ucap Tah Anis sambil memelukku.


"Alhamdulillah sehat, teteh bagaimana kabarnya ?"


"Alhamdulillah sehat,maaf kemarin ga bisa kesini."


"Maklum lagi mabuk,"ucap Ali.


"Alhamdulillah. Akhirnya setelah menunggu 2 tahun lebih di beri kepercayaan sama Allah,"ucap umi Aisyah.


"Amin,iya umi."


"Suami teh Anis yang mana,?" bisikku kepada Fatimah putri pertama Om Hardi.


"Kamu gak tahu ?" Yang ku jawab dengan gelengan kepala.


"Itu Serka Ali, makanya sekarang teh Anis gak bisa ngajar karena harus ikut tinggal dengan suaminya."


"Fatimah,Hana ! Tidak sopan berbisik di depan tamu ,jaga adab."


"Kami berbisik bukan menggosip ko Om,"jawab ku.


"Bukan gosip, tapi menanyakan sesuatu yang bikin penasaran," celetuk Radit yang duduk di belakang ku.


"Kalau penasaran tanya langsung ke orangnya, jangan berbisik-bisik gak sopan."


"Iya,maaf."


"Umur 27 tahun,bisa cari duit banyak, tapi kalau adabnya masuk kaya ABG 17 tahun begini, bagaimana bisa tenang orang tua mu untuk menikah kan mau."


"Ga ada hubungannya kali om," ketusku.


"Biarkan saja paling kalau nikah, sering di omelin mertuanya."


"Papi ko gitu sih,"kesal ku.


"Karena itu biar tidak bikin malu nikahkan saja sama keluarga sendiri, Bintang juga sudah mapan tu." ucap Om Arya , Bintang putra Om Arya dan Tante Sekar.


"Oh no brondong," ucapku.


"Gaya Lo ngatain gw brondong beda 1 tahun setengah doang," ucap Bintang.


"Ya udah kalau gak mau sama Bintang,sama gw aja."


"Ogah, nanti ada yang datang ke rumah ngaku anak Lo,"jawabku menjawab Askara.


"Sialan gw meskipun playboy tidak pernah menyebarkan benih asal ya," jawab Askara.


"Askara di tolak karena mantan playboy. Bintang katanya Brondong, kalau sama yang duduk di depan Om bagaimana ?"


"Apaan sih Om Hafis ini," ucapku yang malah di sambut tawa keluarga ku. Berbeda dengan muka Raihan yang hanya tersenyum tipis, sungguh seperti orang yang di paksa tersenyum.


"Saya cuma abdi negara, gaji saya kecil,nanti Ning Hana tidak bisa hidup dengan mewah jika bersama saya,"ucap Raihan.


"Lagian biasanya tentara itu jodohnya orang kesehatan,"ketusku.


"Aku bukan orang dunia kesehatan Ning,"ucap teh Anis.


"Kamu belum tahu Papi Hana ini dulu polisi. Tapi karena kecelakaan parah, dia memutuskan pensiun dini , untuk fokus berobat pasca kecelakaan." Ucap Om Aryo, membuat Raihan melihat kearah papi.


"Yang bener anda dulu anda polisi Om ?"


"Iya,papa ku juga dulu tentara angkatan udara. Jadi tidak perlu merendah, yang penting kamu kasih makan anakku,"ucap papi sambil tertawa kecil.


"Malu sama pangkat Kep,?" ucap Ali.


"Pada gak jelas ah,"ucapku langsung berdiri.


"Mau kemana kak,?" tanya mami.


"Mau pesan tiket pesawat, ponsel ku di kamar."


"Nanti mami belikan tiket pesawat, tapi di undur kak seminggu lagi."


"Mami ku sayang,aku kembali ke sana untuk membereskan pekerjaan ku yang belum beres. Sekalian mengurus administrasi kepindahan ku. Semakin lama aku disini, kepindahan ku bisa gagal."


"Kakak mau di pindah ke mana,?" tanya papi.


"Kesini. Ke negara ini di kantor Google di Indonesia."


"Yang bener," jawab sebagian yang di sini kompak. "Iya, kalau gak percaya nanti kita kumpul di acara pernikahan kak Jelita.


"Kamu nanti jadi Bridesmaids ku ya, siapa tau ketemu jodohnya disana nanti!"


"Atur aja lah,"ucapku sambil melangkah pergi.


"Kakak mami yang akan pesan tiket buat kakak secepatnya,biar kita bisa kumpul bersama lagi."


"Ya, udah terserah mami,aku mau cari makan lapar," ucapku sambil berlalu.


"Gw ikut," teriak Jelita.


"Kami juga ikut." Ucap mereka bersama ada Askara, Bintang, Fatimah,Sabil, Jelita. Kami berjalan bersama mencari makanan diluar lingkungan pesantren sambil berjalan kaki.


Momen jalan bersama seperti, ini sudah jarang kami lakukan, sejak kami mulai sibuk bekerja di tempat masing-masing . Inilah keluarga ku, tempat aku kembali, tempat kami berbagi cerita.