Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
76. BAB II Rihana Raihan I



Waktu cepat berlalu semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hari ini aku kembali ke tanah air, setelah 4 tahun menempuh pendidikan tingkat SMP dan SMA di negri tetangga.


"Orang-orang itu pada kuliah di luar negri. Ini giliran kuliah malah di suruh pulang."


"Kakak kan tahu kakek dan nenek sudah tidak tinggal disana," ucap Papi.


"Tapi kakak bisa tinggal di apartemen sendirian,mami papi."


"Tapi disana jauh dari keluarga ,"ucap mami.


"Justru itu lebih baik. Aku bisa mandiri tidak tergantung dengan kalian."


"Tapi kami sebagai orang tua merasa was-was, bagaimana kalau kamu sakit, siapa yang akan merawat mu? Belum lagi pergaulannya di luar negeri yang terkenal bebas."


Aku cuma bisa cemberut menahan kesalku dengan sikap mami yang mengagapku masih anak kecil.


"Sudah lama kita tidak mengadakan acara kumpul bersama dengan keluarga besar di rumah. Kayanya bisa diagendakan di rumah mi bulan depan pas ulang tahun Randi dan Radit yang ke 17 tahun."


Jika di tanya apa aku ngiri ? Jawabannya adalah tidak, karena aku sudah mendapatkan kado jalan-jalan yang lebi seru. Aku diijinkan oleh mami papi ikut Hiking di KL , bersama teman-teman untuk merayakan kelulusanku. Biasanya aku Hiking hanya dengan keluarga,itu pertama kalinya aku bebas bersama teman-temanku.


"Kakak sudah ada rencana mau lanjut ke mana ?"


"Rencananya kalau ke UGM Yogyakarta, boleh ?"


"Kenapa tidak di Jakarta atau Bandung saja sih,kak?"


"Ih mami! Aku sudah nurut Lo ya ,melepaskan beasiswa di NUS !"


"Ya udah ga apa-apa mi."


"Begitu dong ,kakak itu sudah 17 tahun, sudah dewasa,"ucapku.


"Karena kakak sudah dianggap dewasa, berarti kakak harus dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan segala perbuatan kakak. Mami harap kakak juga bisa berpikir dewasa."


"Tentu mi. Kakak akan berusaha tidak mengecewakan mami dan papi karena itu ijin kan kakak kuliah di jogjakarta tahun."


"Mami ijin kan."


"Asssik terima kasih mami,"ucapku langsung memeluk erat mami.


Sesampai di rumah aku disambut kedua adik kembaran ku, yang tambah tinggi. Meskipun aku juga memiliki tinggi di atas rata-rata wanita Indonesia. Tinggiku 168 cm dan adik-adikku 180 cm.


"Makin cantik cucu Abi,tapi sayang tidak mau menutup auratnya," ucap Kakek membuatku langsung cemberut.


"Nanti aku bakal pakai ko ,kek. Tapi tidak sekarang."


"Nungguin dapat hidayah dia kek," ucap kedua adikku bersama.


"Apa sih! Aku cuma mau bener-bener siap lahir dan batin. Jadi tidak buka tutup jilbab seperti para artis."


"Setuju,"ucap kak Jelita yang tiba-tiba muncul.


"Dasar kalian anak muda ya,"ucap Kakek cuma bisa geleng-geleng kepala.


"Mau kuliah dimana, gimana kalau di Surabaya tar tinggal sama kakak."


"Enggak ah aku mau di jogjakarta."


"Biar tidak ada yang kenal ya,"bisik kak Jelita.


"Bener,"ucapku. Keluarga papi bukan konglomerat tapi memiliki nama di pemerintahan. Papi dan para om punya firma hukum. Kakek menjadi menteri kesehatan tahun lalu dan sekarang menjadi ketua PMI. Kakek Abi memiliki brand baju anak negri di Bandung , membuatku selalu di kelilingi teman-teman yang hanya memanfaatkan aku saja.


Sedangkan kakek kak Jelita sekarang menjadi salah satu pejabat BUMN.


"Rencananya mau ambil jurusan apa? Kedokteran apa hukum ?"


"Tidak semua kak. Aku mau ambil jurusan yang berbeda dari keluarga,biar ada tantangan mencari kerja setelah lulus kuliah. Teknik sipil atau informatika mungkin."


"Aku setuju ! Makanya sekarang kakak memilih menjadi dosen, dari pada ikutan papa mama mengurus firma hukum."


"Kenapa kak,?"tanyaku pada kak Jelita.


"Beban. Jika usaha itu maju ga masalah minimal sama,tapi kalau menurun kan itu beban buat kita."


"Bener kak, kira-kira ambil jurusan apa ya? Kesehatan ada mami dan kakek. Bisnis ada nenek dan kakek Abi. Hukum ada papi om Aryo dan om Arya."


"Ya udah sesuai rencana awal mu tadi aja."


Padahal setiap beberapa bulan sekali kami bertemu,tapi masih aja sudah seperti setahun ga ketemu. Setiap pulang, keluarga papi kumpul semua, dan baru pulang menjelang malam.


"Papi mau ke daerah Batu besok,kakak mau nemenin papi ga sekalian jalan-jalan,?" tanya mami saat kami sarapan bersama.


"Kamu ingat orang yang dulu menolong kita waktu pulang dari Bromo ?"


"Iya ingat kakak. Mami masih komunikasi sama mereka ?"


"Tidak mami tidak pernah komunikasi. Cuma sebulan lalu Sandra bertelpon dan konsultasi hukum sama papi. Setelah papi selidiki ternyata keluarga mereka yang tersandung masalah."


"Terus papi mau kesana,?"tanyaku.


"Iya makanya temani mami ga bisa ikut. Ada banyak jadwal operasi, sekalian kamu bisa jalan-jalan."


"Mami takut papi di rayu daun muda ya,?" ledekku. Aku sih tidak yakin ada yang bisa merayu papi selain mami, mengingat tingkat buncin papi ke mami sudah level akut.


"Itu salah satunya, tapi ada yang yang lebih utama. "


"Apa itu ?"


"Kontrol rokok dan makan papi mu. Itu tugas mu kalau ikut papi!"


"Siap!! Tapi ada syaratnya!"


"Apa,?" tanya mami.


"Nanti kalau kerjaan ku mengikuti papi dah beres. Baru aku bilang."


"Kamu tidak kasihan kepada cucuku , baru juga sampai sudah kamu suruh ngikutin papinya,?" ucap kakek Abi.


"Kalau gitu Radit saja,"ucap Radit.


"Tidak bisa Radit masih harus sekolah ," ucap mami.


Membuat ku tertawa mengejek Radit. "Kakak hanya bawa itu,?"tanya mami melihat bawaanku hanya satu tas ransel buat naik gunung.


"Iya lah mi."


Kami berangkat dari Jakarta dengan pesawat paling pagi, begitu sampai sudah ada Askara yang menjemput di Bandara.


"Kara tidak kuliah?"


"Tidak Om. Lagi nyiapin skripsi, tapi masih kehabisan ide aku. Jadi siapa tahu dengan ikut Om bisa ketemu ide cerita."


"Amin,om doakan."


"Usaha juga jangan ngandelin doa."


"Kakak gak boleh mulai!"


Aku langsung kesel saat papi menegurku sedang Kara malah tersenyum, sejenis senyum meledek seolah berkata ' RASAIN'.


Selama perjalanan aku pura-pura tidur di belakang. Sedangkan papi mengobrol dengan Askara membahas kasus yang menimpa Om Luki.


Om Luki satpam dan di tuduh mencuri barang barang gudang, sudah 3 bulan di penjara tapi ada kejanggalan karena itu papi berniat menolong mereka.


"Kita langsung kemana Om ?"


"Kita ke rumah Luki dulu. Hana kamu papi turunkan di sana buat Tante Sandra aman. Papi akan langsung ke kantor polisi."


"Siap papi!"


Rumah mereka tidak jauh berbeda dengan 4 tahun lalu saat kami kunjungi. Aku langsung turun dan papi beserta Askara langsung pergi. Ada 1 motor Vixion terpakir di rumah , sayup-sayup terdengar suara orang bicara.


"Bagaimana kamu sudah suruh suamimu untuk mengaku." Ucap suara seseorang lelaki membuatku langsung mengambil ponsel mahal ku.


"Tidak buat apa? Lagian suamiku tidak bersalah ! Kenapa harus mengakui perbutan yang tidak di lakukannya."


"Dengan suami mu mengakuinya. Maka kasus ini dianggap selesai dan di tutup."


"Dan bos mu aman tidak di penjara."


"Kamu lupa semua bukti mengarah kepada suamimu."


"Kalian jahat sengaja menjebak suamiku."


"Kami terpaksa, salah sendiri suamimu yang menolak kerja sama."


"Karena itu sebaiknya kamu suruh suamimu mengaku. Kami akan tanggung semua biaya hidupmu selama suamimu di penjara . Termasuk biaya pengobatan putri kecilmu itu."


"Assalamualaikum Tante aku pulang." Teriakku sedikit kencang membuat mereka melihat kearah ku semua.