
Pertama mengenal Arkana waktu razia di diskotik malam, dari sana kami mulai sering bertemu dalam situasi seperti telah di rancang oleh yang maha kuasa. Dari razia narkoba malam hari sampai aku diantar pulang ke kosan, Razia di kawasan kosan, pertemuan saat Arya kecelakaan dan ternyata dia sepupunya Aryo suami Nadira semua mungkin sudah takdir, hingga dari Arkana aku bertemu lagi dengan om Ridwan yang hampir menjadi ayah sambungku.
🎼✉️Kana
Dimana
^^^me^^^
^^^📷aku mengirim foto depan gedung aula.^^^
Kana
good job
🎼🏧 Mata ku melotot saat ada notifikasi M Banking senilai gajiku sebulan masuk ke rekeningku, padahal ini pertengahan tanggal jadi tidak mungkin itu gajiku.
Kana
Itu bayaran Lo selama 24 jam
Dimulai saat Lo mulai memakai baju yang ku kirim kemarin
Kampret ni orang makiku membuat beberapa orang yang lewat langsung melihat kearah ku.
^^^me^^^
^^^Gw mulai memakai baju pukul 08.00 pagi jika elu hitung 24 jam berarti gue harus ikut sama lu sampai jam 07.00 besok pagi gila aja.^^^
Kana
🤣🤣
Pesanku yang panjang cuma di balas dengan stiker ketawa, membuatku rasanya ingin menghajarnya sekarang juga. karena bosan menunggu akhirnya aku gunakan waktu untuk mencari informasi beasiswa Kementerian Kesehatan bersama LPDP, tentang beasiswa fellowship dokter spesialis. Selain sibuk belajar untuk ikut CPNS aku juga belajar untuk meraih beasiswa dokter spesialis ku.
"Di telpon nggak diangkat dikirim pesan nggak dibaca, aku kira sudah pulang"ucap Kana ikut duduk disampingku, segera ku tutup laptopku.
"Ponsel gw berada di dalam tas,"ucapku Kana melirik ku dari atas sampai ke bawah.
"Tas yang gue beliin mana?"tanya Kana,aku langsung mengeluarkannya dari tas ranselku.
"Kenapa harus di masukin ke dalam tas ransel, coba lihat penampilanmu udah keren pakai kebaya masak yang di pegang tas ransel"ucap Kana ketus.
Aku langsung memasukkan laptopku ke dalam tas ransel dan mengambil tas kecil yang dipegang Kana,"kenapa dibikin repot kamu tinggal bawa tas ranselku dan aku tinggal bawa yang ini" ucapku.
Kana ahkirnya pasrah dengan saranku.
"Tadi aku sudah berfoto dengan kedua orang tuaku sekarang giliran aku berfoto denganmu seperti selayaknya pasangan," ucap Kana ku putar malas bola mataku mendengarnya, tetapi aku tetap menuruti kemauannya tanpa berani menolak ajakan berfotonya.
"Kana seharusnya kamu berfoto dengan Rahayu calon istrimu bukan wanita yang sudah janda ini," ucap ibu Kana yang datang sambil menggandeng Rahayu. Tidak seperti Radi yang langsung mengenaliku saat pertama bertemu, sepertinya Rahayu tidak mengenaliku buktinya dia biasa aja tidak seperti Aku yang kaget melihatnya. Apa mungkin karena penampilanku atau karena emang waktu sudah sangat lama entah lah.
" Lebih baik janda ketahuan bekas orang daripada yang berstatus gadis di KTP tetapi tidak jelas bersegel tidaknya" ucap Kana dingin, membuatku tak percaya apa yang telah Kana ucapkan.
" Sudah ah tidak usah ribut sekarang kita segera pulang orang yang di rumah sudah menunggu"ucap papa Kana. Mama Kana satu mobil dengan Rahayu dan papanya satu mobil dengan kami, membuatku tidak bisa mengomel atau protes kepada Kana.
"Dirumah ada acara apa ?"tanyaku pada Kana.
"Cuma acara syukuran kecil-kecilan kami mengundang beberapa anak yatim piatu dan tetangga untuk membaca doa bersama,"ucap ayah Kana.
"Kalau saya berhenti di depan boleh gak om?"tanyaku yang langsung di pelototin Kana.
"Tanya apa gw sehat bukan orang penyakitan ya," Ucapku sewot.
"Yang bilang Lo penyakitan siapa, bukannya Lo mau cari beasiswa papaku punya banyak Chanel kamu bisa bertanya pada papaku," ucap Kana sambil menggelengkan kepalanya.
"Sekarang banyak internet kita bisa browsing ,"ucapku.
"Jaman sekarang harus punya koneksi dan uang dan Lo ga punya dua-duanya, buktinya butuh waktu setahun buat Lo bekerja sesuai gelar Lo kan, gak usah gengsi atau malu papa beda dengan mama"ucap Kana tanpa expresi di wajahnya.
"Emang Dira lulusan apa, siapa tau om bisa bantu ?" ucap papa Kana.
"Saya mau nyari beasiswa buat dokter spesialis bedah om" ucapku malu.
"Dira dokter to? sekarang kerja dimana ?"tanyanya. "Beberapa bulan ini kerja di klinik Citra Medika om" ucapku.
"Yang dibilang Desti lihat jadi resepsionis itu gak bener, berati ?"tanyanya.
"Bener om, setelah lulus kedokteran sebenarnya dapat tawaran dari rumah sakit tempat caos,tapi karena pingin ke Jakarta saya tolak hehe. Ternyata nyampai sini susah om ya dari pada ga bisa makan saya kerja apa saja yang penting halal "ucapku.
"Kamu gak malu ?"tanya papa Kana.
"Orang gak tau om saya sarjana kedokteran lagian saya gak bisa kenyang kalau malu om " ucapku yang langsung di diketawain papa Kana.
"Sayang sudah sampai, kapan-kapan kamu ajak Dara kerumah papa suka ngobrol dengannya,dia gadis pertama yang tidak pernah jaga image di depan papa selain mamamu"ucapnya sebelum keluar dari mobil.
"Ayo keluar "ucap Kana sambil membukakan pintu mobil untukku, yang masih sedikit kaget dengan respon papa Kana.
"Harusnya papamu ilfil sama aku" ucapku , sambil memukulkan kepalaku pada bahu Kana.
"Sudah ku bilang papa itu beda dengan mama,"ucap Kana sambil menarik pinggangku untuk menempel pada pinggangnya." Ini apa tidak terlalu dekat ya posisi jalan kita"bisikku,Kana tidak menjawab hanya tersenyum manis membuatku sedikit bingung. Sial kataku dalam hati saat menyadari begitu masuk semua tampak ramai bahkan Arya juga ada.
"Kalau sudah bosan dengan Kana aku siap menerima mi"ucap Arya.
"Sialan Lo emang gw barang yang bisa dipindah tangankan sesuka kalian"Ucapku galak.
"Bukan gitu, gue merelakan kamu buat Kana karena aku berharap kamu bisa mengobati patah hati Kana tapi jika tidak bisa lebih baik kamu denganku saja"ucap Arya.
"Gw mau lepas dari orang-orang kaya kalian berdua "Ucapku.
"Tawaran Ku masih berlaku jika kamu mau menikahlah denganku Aku akan membiayai semua kebutuhan spesialis mu"ucap Arya.
"Dasar gila"bisikku pada Arya.
"Arah jam 9 mantan Kana, Cinta pertama Kana yang meninggalkan Kana dan sekarang malah mengajar Kana,"ucap Arya saat aku menoleh membuat jantungku berdetak sangat kencang.
'Sekar Arum mantan Kana menikah dan rela menjadi istri ketika demi uang' ucapan Arya seketika terngiang kembali di kepala ku. Saat aku melihat Sekar berbincang-bincang dengan mama Kana dan mama Arya,ada Sekat pasti ada Abi kataku dalam hati.
'Aku dan Sekar beda sembilan belas tahun. Aku menikah hi Salma karena kamu mintak cerai dek,sedang aku butuh keturunan' kata-kata Abi 10 tahun lalu tiba-tiba berputar di kepala ku.
'Ya bayangin aja umur 18 tahun baru lulus SMA di suruh nikah dengan lelaki umur 37 tahun', kalimat demi kalimat yang Arya dan Abi ucapkan menjadi kaset rusak yang terus berputar di kepala ku.
"Kenapa ko Lo bengong terus pucat Lo sakit " ucap Kana sambil memegang keningku.
"Gak apa-apa, sepertinya gw lapar dari pagi belum makan, " ucapku berbohong membuat Kana dan Arya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Gw anterin dan temani Dara makan Lo disini aja karena kali ini bintangnya Lo, jadi Lo ga boleh pergi jauh-jauh "ucap Arya sambil menarikku untuk bangun dan berjalan mengikuti Arya.