
"Kenapa di beliin tiket pesawat sih Rai,?" ucap mama Raihan. Aku yang hendak bergabung dengan keluarga Raihan di teras belakang, jadi menghentikan langkah ku.
"Jujur aku lupa pesan tiket kereta ma. Karena Rita keburu sekolah Hana menawarkan diri untuk mencarikan tiket,aku kira tiket kereta yang Hana Carikan."
"Ga papa ma, sesekali kita ngerasain naik pesawat. Amplop Kondangan yang di dapat mas Raihan pasti banyak,"ucap Rita membuatku menahan tawa.
"Hus, gak boleh begitu. Aji mumpung iku jenenge,"ucap mama Raihan.
"Bukan gitu ma biar gak capek akunya. Naik kereta 10 - 11 jam,naik pesawat gak sampai pantat panas sudah sampai. Mama tahu sendiri hari Senin aku langsung sekolah,"ucap Rita sambil cemberut.
"Sudah ma, sudah terlanjur di pesan mau gimana lagi. Bersyukur saja dan kita doakan pernikahan anak kita selalu
di berikan keberkahan sama Allah SWT. Pernikahan yang membawa mereka ke dalam kebaikan dunia dan akhirat." Ucap papa Raihan yang di amin mereka, juga aku dalam hati.
"Kamu juga Rita tidak baik memanfaatkan kebaikan mereka, kita sadar posisi kita. Meskipun kita sudah di anggap keluarga tapi , jangan lantas lupa asal usul kita dari mana? Bapak mu ini hanya satpam, yang bernasib baik punya besan orang kaya."
"Iya pa,"ucap Rita lirih.
Kemarin adalah acara resepsi pernikahan kami yang diselenggarakan di salah satu hotel,rekan bisnis papi dan Radit. Baru tadi pagi setelah sarapan aku dan Raihan cek out dari hotel.
"Assalamualaikum,"ucapku sambil berjalan menuju teras tempat Keluarga Raihan lagi berkumpul. Sedangkan keluargaku sudah sibuk kerja,mami harus menangani operasi, Radit di telpon klain nya yang di tangkap polisi. Papi harus menemani nenek cek up kesehatan, karena kecapaian nenek sempat mengeluh sakit kepala dan pinggang.
"Walaikumsalam,"jawab mereka kompak.
"Mami dan papi minta maaf tidak bisa menjamu dengan baik dan terpaksa harus di tinggal kerja."
"Kami sudah sangat terimakasih,3 hari di sini sudah di sambut baik oleh keluarga Hana."
"Bener itu kami sangat senang dengan sambutan keluarga nak Hana ," ucap mama Raihan.
"Ayo berangkat ke bandara,!"ajak Raihan.
"Kan pesawat jam 11 mas,ini masih jam 9,?"tanya Rita.
"Ini naik pesawat bukan naik kereta. Jika kamu naik kereta pukul 11, bisa tiba di stasiun kereta jam 10.30. Beda dengan pesawat kamu harus pastikan tiba di bandara lebih awal, untuk melakukan proses check-in. Sebelum check-in ditutup dan masih harus melewati pemeriksaan keamanan, bagasi." Jelas Raihan kepada Rita, yang mendengarkan dengan seksama.
"Terus kalau telat bagaimana mas?"
"Konter check in buka 2 jam sebelum jam keberangkatan. Dan akan tutup 30 menit untuk penerbangan domestik, atau 1 jam untuk penerbangan internasional sebelum waktu keberangkatan. Jika kamu terlambat dan saat tiba konter check in sudah tutup,ya harus beli tiket Baru." Jelas Ku membuat Rita langsung berdiri.
"Aku belum masuk-masukin hadiah dari mami ,mas Radit dan mas Randi,"ucap Rita langsung berlari menuju kamar tamu.
"Dasar kampungan, malu-maluin saja," ucap Raihan sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan kampungan emang masih pertama wajar,"ucapku.
"Aku dulu pertama naik pesawat gak kaya gitu,"ucap Raihan.
"Karena kamu pertama naik pesawat, naiknya pesawat Hercules." Ucapku sambil berjalan menuju kamar yang dituju Rita tadi. Setelah bersiap-siap dan mengantarkan orang tua Raihan ke bandara,kami memutuskan makan siang di luar. Lagian jika makan siang di rumah, pasti cuma kami berdua yang di rumah.
"Itu bukannya istrinya kapten Erlangga ya,?" tanya Raihan menujuk kearah pintu masuk kafe. Nampak Cindy masuk ke dalam kafe dan memesan minuman.
"Cindy,"panggil ku sambil melambaikan tanganku, saat kulihat Cindy mencari tempat untuk duduk.
"Assalamualaikum silahkan duduk,"jawabku sedangkan Raihan hanya membalas dengan senyum tipis.
"Walaikumsalam hehe,"ucapnya sambil nyengir kuda.
"Kalian lagi makan siang atau cuma nongkrong di sini,?"tanya Cindy.
"Makan siang lapar habis nganterin mama ke bandara,"jawabku.
"Kalian kapan ini nyebar undangan,?" tanya Cindy.
"Maaf kamu baru kemarin nikah, maaf ya bukannya ga mau ngundang. Tapi aku bener-bener lupa,"ucapku tidak enak hati.
"Tidak apa-apa santai aja, tapi ada untungnya juga tidak di undang hehe. Aku jadi tidak harus balikin amplop dari kalian sekarang,"ucap Cindy sambil berada ,tapi ada nada kelegaan yang terlihat.
"Haha kamu bisa aja,kami hanya mengadakan pesta sederhana maaf ya aku lupa."
"Sederhana apa aku lihat dari media sosial anak-anak Kementerian komunikasi dan informatika, yang kamu undang Lo. Bahkan di Beny dan Wisnu live ko,eh ngomong-ngomong aku dengar kamu kerja di google ?"
"Hehe sudah berhenti kerja 2 Minggu lalu, kenapa ?"
"Ya sayang,tapi masih ada dong kenalan. Kenalin dong aku lagi butuh kerjaan ni,?" ucapnya membuat ku tak percaya.
"Yang bener,pasti kamu dengar aku keluar gara-gara kasus Bimo." Ucapnya,aku sih tidak tahu detailnya tapi yang aku dengar dari Beny dan Wisnu. Bimo terbukti berbuat curang dan Bimo menyeret Cindy.
"Aku pindahan,jadi di Jakarta cuma 6 bulan belum kenal banyak orang."
"Kalau mau kerja di sini apa tidak kejauhan dari tempat kerja suami, mbak?" Tanya Raihan yang dari tadi hanya diam.
" Mas Erlangga sudah sebulan ini pindah ke Komando Rayon Militer (Koramil) di Serpong."
"Baru 2 bulan nikah ko sudah nyari kerja, bosan ga ada kegiatan apa?"Tanyaku sambil bercanda.
"Itu salah satunya yang utama,biar beban finansial juga ringan." Ucapnya membuatku sedikit kaget, pasalnya pangkat Raihan sama dengan Erlangga.
"Ah bercanda kamu gak lucu,kan tentara banyak tunjangannya. Tunjangan suami atau istri TNI: 10 persen dari gaji pokok TNI. Tunjangan beras, uang lauk dan kalau ada anak nanti anak juga dapat."
"Gw jujur sama Lo , siapa tau Lo bisa bantu gw cari kerjaan. Pernikahan mewah ku dulu biaya di bagi rata berdua. Tapi giliran dapat amplop ibu mertua ku minta di bagi berdasarkan,tamu undangan masing-masing. Sedangkan keluargaku cuma mengundang 200 undangan, pihak laki-laki 350 undangan." Ucapnya lirih, tersirat kegetiran di sana.
"Maaf jadi maksudnya kamu kerja buat nutupin hutang pesta kemarin,?" tanyaku hati-hati.
"Iya,kami di jodohkan. Setelah menikah mas Erlangga membagi 2 penghasilan nya buatku. Separo buatku,separo lagi di bagi 2 katanya buat dia 1/4 dan 1/4 lagi buat simpanan. Sedangkan aku harus membantu orang tuaku, untuk menutupi hutangnya kemarin."
Hanya satu dalam benakku ' Allhamdullilah dia bukan jodohku' , tapi bagaimana Raihan apa cara pikir Raihan juga kaya Erlangga. Bukan uang yang aku permasalahkan, tanpa bekerja aku masih punya penghasilan dari usaha yang di hasilkan Randi dan Radit.
Tapi cara Erlangga yang tida membantu kesusahan keluarga istrinya. Kesusahan tidak hanya soal materi, bisa aja musibah yang lain.
"Kenapa kok bengong,?"tanya Raihan sambil memegang tanganku. Setelah kemarin kami halal , Raihan sudah mulai sering berani skinship. Meskipun hanya pegangan tangan, bergandengan tangan, berangkulan, berpelukan, dan mencium pipi. Tapi membuatku sedikit terkejut, karena meski tinggal di luar negri dan baru memakai jilbab saat kuliah di MIT. Aku tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu kecuali dengan keluargaku. Jika dengan non muhrim, biasanya hanya sebatas berjabatan tangan.
"Tidak,oo. Sudah sampai rumah,ayoo keluar," ucapku sambil melepaskan tanganku dari gegaman Raihan.