Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
117. RR. Ungkapan cinta Raihan



"Ternyata kaum wanita juga bisa nekad ya, kalau sudah jatuh cinta."


"Sama aja lelaki juga ada yang begitu,?" ucapku tidak terima. Setelah dari rumah sakit kami langsung ke rumah ke dua orang tuaku. Tapi mami malah ikut papi pergi ke Surabaya, sedangkan Radit tidak pulang memilih tidur di apartemen. Jadi kami memutuskan berangkat besok pagi ke puncak.


"Ternyata perlengkapan mendaki mu lebih lengkap dari pada mas."


"Mengalihkan pembicaraan,"ucapku sambil tersenyum mengejek.


"Buat apa membahas yang bisa membuat kita emosi tidak ada untungnya. Kenapa di kamar mu tidak ada televisi ?" Apa yang Raihan katakan di awal ada benarnya, buat membahas yang tidak penting.


"Dari jaman nenek dan kakek dilarang ada televisi di dalam kamar. Hanya boleh ada televisi di ruang keluarga, biar semua bisa nonton bersama dan berkumpul ."


"Apa tidak berebut,?" tanya Raihan sambil mengusap kepalaku yang aku rebahkan di dada sixpack nya, di depan televisi di ruang keluarga.


"Kata kakek dan nenek itu seninya, jika kami berebut acara kartun. Tapi papi anak tunggal jadi tidak pernah berebut."


"Aku dulu suka berebut sama Rita. Rita nonton kartun, aku nonton pertandingan bola."


"Umur kita sudah matang apa kamu juga mengharapkan segera dapat momongan ?"


"Anak itu rejeki dari Allah SWT, kita jalani saja seperti air mengalir. Sedikasihnya Allah SWT saja, lagian kayanya masih lama deh. Gimana tidak lama, tempat berkembang biaknya aja masih tersegel,"ucap Raihan sambil menatapku dengan senyum tipis.


"Salah mengajukan pertanyaan sepertinya aku,"ucapku sambil berdiri dan berjalan kearah dapur.


"Malam tidak ada yang bekerja di rumah."


"Kalau malam ya pada pulang. Ada yang pulang ke rumah, ada yang sengaja tinggal di paviliun belakang."


"Pantes kamu berani lepas hijab dan berpakean minim."


"Emang terkadang begini kalau malem bebas, cuma keluarga sendiri yang berkeliaran. Besok mau ngajak mendaki gunung apa di Bogor, gunung salak, gunung Pangrango."


"Bagaimana kalau gunung kembar," ucap Raihan langsung menciumku penuh tuntutan. Karena aku yang sudah bisa membalas ciuman Raihan atau terbawa suasana, hingga bisa menikmati ciuman Raihan. Sampai aku tidak sadar kalau sudah di gedong seperti koala ,menaiki tangga menuju ke lantai 2 tempat kamarku berada.


"Boleh ?" Tanya Raihan sebelum memulai penyatuan kami, ingin sekali aku menolak karena belum siap. Tapi tanpa sadar aku malah mengagukkan kepalaku. Ternyata pikiran ku tidak bisa beriringan dengan tubuhku, jika pikiranku menolak tidak dengan respon tubuhku.


Malu rasanya jika mengingat apa yang terjadi saat semua sudah selesai. "Terima kasih sudah menjaga kesucian mu untuk suami mu,"ucap Raihan sambil mencium keningku sebelum berpindah ke samping ku.


"Kenapa hmm?" Tanya Raihan sambil memelukku dari belakang,saat aku membelakanginya.


"Kamu menyesal,?" tanya Raihan lagi.


"Bukan aku cuma malu,"cicitku.


"Malu. Malu kenapa,?" tanya Raihan sambil menarik tubuhku hingga berhadapan dengannya.


"Katanya mau pacaran dulu,masa baru beberapa hari pacaran sudah langsung pecah perawan." Ucapku sambil cemberut, membuat Raihan tertawa ngakak.


"Tidak apa-apa, itulah enaknya pacaran setelah halal tidak perlu takut dosa. Karena kebablasan, mau mandi malam ?" Aku hanya menggelengkan kepalaku, karena masih perih buat bergerak.


"Kalau begitu di bersihkan dulu,terus wudhu !"


"Tapi perih buat bergerak,"ucapku malu. Raihan yang paham langsung menggendong ku masuk ke dalam kamar mandi.


"Mau di bantu sekalian tidak?"


"Ga usah sana ke luar,"usirku karena malu. Tadinya aku tidak berencana mandi,tapi setelah sampai kamar mandi aku memutuskan untuk mandi air hangat sekalian mandi wajib. Setelah ritual mandi aku keluar kamar mandi, nampak kasur sudah rapi dengan seprei baru.


"Sini duduk aku bantu mengeringkan rambutmu!"


"Kamu ko tahu letak seprei berada?"


"Aku sengaja mencari berharap ketemu sesuatu hal, yang berkaitan dengan masa lalu mu."


"Haha aku tidak punya mantan jadi tidak punya masa lalu,"ucapku.


"Yakin lantas , kenapa ada buku di rak baju bertuliskan 'Untuk Someone'. Yang sepertinya spesial."


Aku menarik nafas panjang sebelum bercerita. "Saat masih kuliah aku berkenalan dengan dengan mahasiswa kedokteran tahun terakhir. Dia sepupu temanku,kami putus kontak saat dia mulai caos."


"Aku sempat ada rasa, bahkan dia sempat mengutarakan perasaannya."


"Sempat pacaran berarti ?"


"Tidak aku bilang, ' Aku di larang pacaran, mari berdoa semoga kita bisa berjodoh.' Aku cuma jawab begitu."


"Berati tidak jelas dong hubungan kalian ?"


"Aku gak tahu, buku yang mas lihat itu aku beli buat dia. Tapi gak jadi aku kasih,"ucapku.


"Kenapa ?"


"Aku melihat dia bercumbu di dengan perawat di ruang istirahat dokter, saat ingin menyerahkan buku ini."


"Alhamdulillah karena kebodohannya kamu sekarang jadi milik mas."


Raihan mencium rambutku yang sudah kering sebelum berjalan ke dalam kamar mandi. Aku putuskan mengambil buku itu dan membuangnya ke tong sampah,seperti halnya masa lalu yang harus di lupakan.


Rencana tinggal rencana saat sehabis sholat subuh, hujan turun dengan derasnya. Membuat Raihan bilang lebih enak bulan madu di kamar, dari pada naik gunung mengingat cuaca yang tidak mendukung.


"Dasar lelaki sama saja sekali ngerasain jadi, kepingin lagi dan lagi." Kesalku dengan Raihan yang membuatku , mandi wajib sehari 3 kali sudah seperti orang minum obat.


"Habisnya mas jadi kecanduan gara-gara kamu."


"Awas kalau kecanduan sampai jajan di luar !"


"Audzubillahiminasyaitonirojim. Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Doakan hati dan jiwa mas hanya untukmu dan negara."


"Malam ini libur ya aku capek banget,baru pertama sudah kamu gempur habis-habisan." Ucapku yang langsung membuat Raihan tertawa.


Esoknya habis sholat subuh Raihan mengajakku pergi ke puncak, kami menikmati keindahan puncak dengan paralayang.


"Saat pertama naik paralayang dengan mu aku ingin melakukan sesuatu hal gila."


"Hal gila apa,?" tanyaku penasaran.


"Kamu akan tahu nanti,"bisik Raihan sambil bersiap-siap.


"Padahal aku ingin naik sendiri kenapa mesti di temani segala,"gerutuku.


"Nanti kamu coba sendiri setelah nyoba berdua,ayo!"


"Indah,?" tanya Raihan saat kakiku baru merasakan, tidak menginjak tanah lagi.


"Sangat indah,"ucapku sambil melihat kearah hamparan kebun teh.


"I love you Raihana Eka Wiraguna." Teriak Raihan membuatku spontan mendongak melihat kearah nya. Raihan yang melihatku langsung menyambar bibirku. Di atas udara dengan ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, dengan terbang melayang Raihan mengungkapkan isi hatinya.


"I love you my wife," ucap Raihan lagi setelah ciuman kami selesai. Bertepatan dengan kaki kami yang mulai menyentuh tanah.


"Wah mas nya itu romantis menebak pacarnya di udara."


"Maaf mbak ini bukan pacar saya,tapi pacar halal saya, istri saya."


"Ih mas ga perlu di jelaskan segala,"bisikku.


"Jika aku tidak jelaskan mereka akan bilang. Percuma pakai jilbab kalau berzina,mas tidak mau agama dan istri mas di pandang rendah orang lain." Ucap Raihan membuatku hatiku berdebar sangat kencang. Apa hatiku sudah mulai ada nama suamiku, tanyaku pada diriku sendiri.


Ya Allah dia yang halal buatku ,satukan kami dalam cinta dan kasih sayang dunia akhirat.


"Habis ini kita akan camping." Ucap Raihan sambil mengendarai mobil ke lain tempat. Dengan mendaki gunung yang berada di daerah Citereup , malamnya kami menikmati bulan dengan camping di atas gunung.


"Inilah bulan madu ala mas,"bisik Raihan sambil memelukku dari belakang. Saat aku menikmati keindahan bulan dan bintang.


"Ini lebih seru dari pada ke luar negeri."