
"Hana dengerin mas dulu!" Aku menutupi telingaku dan mengunci pintu kamar dari dalam, sampai adzan magrib berkumandang. Aku baru keluar untuk mandi dan wudhu setelah mendengar Raihan,mengetok pintu kamar pamit ke mushola. Selama mandi aku kepikiran Raihan ke mushola pakai baju mana? Kan lemari ada di kamar.
Aku juga penasaran dengan alasan Faizal, kenapa Faizal jadi tentara? Bukannya dia bercita-cita ingin membuka klinik sendiri? Beberapa pertanyaan mengganjal di pikiran ku. Sampai aku tidak sadar ada yang masuk ke dalam kamar.
"Maafkan mas ya dek,"ucap Raihan sambil memelukku dari belakang.
"Mas cuma cemas, apa lagi melihat jalanmu yang pincang gitu." Ucapnya lagi yang masih tidak aku gubris,aku gak tahu apa yang membuatku kesal. Yang kurasakan hanya kesel saat Raihan tidak membantu ku berjalan di saat kakiku sakit. Padahal cuma sepele tapi gengsi ku sudah menguasai, jadi males untuk meladeni Raihan.
"Ehh,"ucapku saat aku sadar Raihan malah membuatku geli, dengan mencium leherku dan sesekali juga menghisapnya.
"Dari tadi mas ngomong sampai berbusa-busa tidak direspon, giliran di gigit lansung beriaksi."
"Apaan sih,"kesal ku sambil melepaskan pelukannya dan duduk.
"Mau kemana,?" tanya Raihan sambil mengikuti aku keluar dari kamar.
"Lapar,"ketusku.
"Mas juga lapar,mau masak apa? Mau gak mas masakin?"
"Emang bisa,?" ucapku sinis.
"Bisa,mau di masakin apa ?"
"Adanya tinggal nasi, tapi di kulkas ada telor,bakso dan sosis. Bikin nasi goreng bakso dan sosis aja ya!"
"Oke tuan putri tunggu sebentar ya!" Ucap Raihan sambil ngacir ke dapur, sambil menunggu Raihan aku putuskan duduk di ruang tamu. Nampak baju-baju yang tadi pagi aku cuci sudah di gosok rapi, jadi Raihan yang gosok. Pantas gak manggil.
"Nasi goreng spesial ala chef Raihan," ucap Raihan sambil meletakkan nasi goreng buatannya di meja.
"Ko cuma 1 porsi, mas gak makan ?"
" Emang kamu habis nasi goreng sebanyak ini?"
Aku memperhatikan nasi goreng sambil mengaguk , sudah beberapa hari nafsu makan ku meningkat.
"Nanti kalau habis kamu buatkan mas, omlet aja gak apa-apa ?" Ucap Raihan sambil menyuapkan sesendok ke mulutku.
Dengan telaten Raihan menyuapi aku, "Sudah seperti tuan putri ya hidupku, masak di masakin, makan di suapin."
"Kamu kan memang tuan putri keluarga Wiraguna," ucap Raihan.
"Udah ah kenyang. Kata siapa Wiraguna punya dua perempuan aku dan kak Jelita."
"Iya terserah kamu kalau begitu tuan putri."
"Jangan-jangan kamu tahu Tetang?"
"Iya aku tahu karena kakek sudah cerita," ucap Raihan memotong ucapanku. Aku sebenarnya tidak suka dengan para kakek nenek Wiraguna, yang selalu me no 2 kan kak Jelita. Hanya karena tidak mengalir darah Wiraguna.
"Yang tadi beli ini buat apa?" Tanya Raihan sambil menunjuk kan taspek yang masih bersegel.
"Hehe itu, Yanti nyuruh aku coba untuk mengecek dulu. Setelah tadi melihat keanehan kita," ucapku.
"Aneh di mana nya?"
"Kamu yang muntah-muntah habis makan lauk yang katamu aneh, padahal kata Yanti,dulu tiap hari kamu makan di sana. Aku yang makan mangga muda, padahal menurut Yanti asem."
"Iya ya mas juga ngerasa, nafsu mas lebih tinggi, agak sensitif terhadap makanan."
"Aku yang hamil kenapa mas yang aneh ?"
"Apaan sih mas masih sore,sana pergi sholat isya." Ucapku saat terdengar adzan isya.
"Mas aku ke rumah Bu Rudy dulu,mau liat komputer anaknya katanya tiba-tiba mati," ucapku pada Raihan yang hendak ke mushola.
"Gak nungguin mas aja, sehabis sholat isya ?"
"Gak ah,mas aja nyusul ke sana."
Setelah Raihan pergi baru aku sholat isya dulu sebelum pergi.
POV. Raihan
Aku tidak tahu bener tidaknya dugaan istri Serda Ari tentang Hana yang kemungkinan hamil. Meskipun belum pasti aku sudah sangat senang ahkirnya aku punya keturunan.
"Tumben lama banget doanya, biasanya langsung pulang."
"Maklum mayor pengantin baru, seperti tidak pernah muda saja." Ucap letkol Rudy sambil bercanda. Selama ini aku ¹¹ pulang karena Hana di rumah sendirian, tapi hari ini Hana sudah ijin pergi .
"Haha iya bener. Tidak takut istri mu nungguin ko gak pulang-pulang,"ucap Mayor Hanif.
"Istri lagi di rumah Letkol Rudy, mayor."
"Emang ada apa,?" tanya letkol Rudy yang sepertinya tidak tahu apa-apa.
"Kata Bu Rudy komputer di rumah tiba-tiba mati Letkol."
"Iya bener aku lupa, ya udah kita ngopi aja dulu sebelum pulang." Hampir 1 jam kami ngopi bersama, tidak hanya dengan letkol Rudy dan mayor Hanif. Tapi juga ada beberapa tentara lainnya seperti Letnan Faizal dokter baru pindahan dari Surabaya.
Saat aku pulang rumah nampak masih terkunci,berati Hana belum pulang. Karena itu aku berinisiatif untuk mengeluarkan motor menjemput Hana.
Namun saat aku masuk ke dalam rumah ada tangan yang memelukku dari belakang, "Mas aku minta maaf, harusnya aku dulu tak meninggalkan mu."
"Apa-apaan kamu! Kita bukan muhrim. Lepas!!" Ucapku sambil menghempaskan tanganya yang masih melingkar di pinggangku.
"Jangan so suci kamu mas aku sudah melihat semua bentuk badanmu. Bahkan aku tahu ada bekas sayatan di bahu kanan mu yang belakang."
"Ratih hubungan kita sudah berakhir sejak kamu minta putus, dan sekarang kita punya kehidupan keluarga masing-masing."
"Aku dulu minta putus karena orang tuaku bilang, mau kalau kita nikah diadakan pesta besar. Mas kan tahu aku anak tunggal."
"Dan kamu gak yakin aku mengabulkan karena papa ku hanya satpam,iya!"
"Iya maaf, karena itu aku menerima perjodohan yang di lakukan orang tuaku."
"Ya sudah sekarang kita jalani rumah tangga masing-masing,aku dengan keluargaku kamu juga!"
"Aku di jodohkan dengan kakaknya Yusuf yang seorang dokter,tapi setelah setahun kita saling mengenal dia malah menghamili perawat nya."
"Itu sudah menjadi takdir mu, jalani pilihan yang telah kamu pilih." Ucapku sambil mengambil kunci motor ke dalam kamar, tapi saat aku keluar ku lihat Ratih sudah duduk di karpet ruang tamu, dengan bagian atas yang tidak tertutup kain sama sekali.
"Mas kamu tidak haus," ucapnya sambil mengusap-usap tempat susunya. Jujur sebagai lelaki normal aku langsung tegang melihatnya.
Hanya istighfar yang aku lantunkan di dalam hati sambil menutup mata. Tapi aku salah saat aku menutup mataku,Ratih malah berjalan mendekat dan menarikku hingga aku jatuh menimpa dirinya. Belum sempat aku protes dia langsung melahap bibirku, aku yang terkejut di manfaatkan Ratih dengan baik. Selama beberapa detik aku terbuai tapi sekelebat bayangan Hana melintas.
"Pergi kamu,!" usirku setelah berhasil melepaskan ciuman dari Ratih.
"Kamu tega mendorong ku mas,"ucap Ratih yang terduduk di lantai karena terlalu kencang aku mendorong tubuhnya.
"Assalamualaikummmmmm."