
"Hana!"Ucap Raihan langsung berdiri hingga perempuan itu langsung tersungkur ke lantai.
"Wah tidak bisa mengantarkan anak istri karena bertemu teman lama. Teman lama apa bertukar air liur mas?"
"Dia yang mencium ku secara paksa. Dia langsung duduk di pangkuan ku dan mencium ku tanpa aku bisa tolak,"jelas Raihan.
"Jangan alasan Rai kamu juga menikmatinya,?" ucap perempuan itu.
"Kamu lelaki, apalagi dengan pekerjaan mu itu. Tentunya tenaga mu lebih kuat mas, jangan hanya mau cari benarnya mas. Jika salah akui kesalahan mu, apa kamu lupa itu yang sering kamu sampaikan kepada anak-anak kita?"
"Mas akui sempat terbuai selama beberapa detik,tapi."
"Tidak usah mencari pembenaran. Tidak ada yang terbuai sampai hamil."
"Kamu dengerin,?" tanya Rai.
"Aku dengar semuanya. Dan kau jika ingin di akui jadi istri Raihan, tunggu proses perceraian Kami selesai."
"Raihana tidak ada perceraian di antara kita !" Ucap Raihan sedikit keras.
"Aku tidak peduli dan tidak mau berbagi suami dengan wanita lain." Ucapku langsung berjalan pergi, tapi belum sempat aku keluar Raihan sudah menarikku masuk ke dalam rumah.
"Dengerkan mas dulu!" Ucap Raihan sambil berdiri menutup pintu, menghalangi ku untuk keluar.
"Aku tidak Sudi berbicara denganmu," ucapku sambil membuang muka.
"Tapi mas harus jelaskan. Mas tidak ada apa-apa dengan wanita itu."
"Mass,!" ucap perempuan tersebut.
"Tidak kenal tapi bisa menghasilkan anak,Impossible !"
"Itu semua kecelakaan Hana sayang."
"Mau kecelakaan,mau kalian saling cinta aku tidak peduli. Yang aku tahu ada anak di antara kalian."
"Tidak bisakah kamu dengerkan mas dulu," mohon Raihan.
"Aku tidak mau denger, aku tidak mau peduli,aku tidak mau lihat kamu lagi!" Ucapku sambil menutup kedua telingaku.
"Dek , please." Ucap Raihan hendak memegang tanganku, tapi segera aku tepis.
"Jangan sentuh aku dengan tangan mu,!" teriakku sambil menghapus air mataku.
Aku tidak menyangka di usia pernikahan kami yang ke 11 tahun, akan ada badai orang ketiga.
"Oke mas tidak akan sentuh kamu, tapi kita bicara sebentar baik-baik ya?"
"Tidak ada yang baik-baik,kamu sudah menghamili orang tapi kamu tidak bertanggung jawab. Ingat kamu juga punya anak perempuan, bisa tidak kamu sedikit punya rasa tanggung jawab."
"Aku tidak yakin itu anakku."
"Mas tega sekali mulutmu, meskipun aku janda. Aku bukan janda murahan ya!"
"Bukan begitu," ucap Raihan sambil mengacak-acak rambutnya. Saat Raihan lengah aku menerobos Raihan, dan langsung membuka pintu untuk berlari keluar. Dilanda rasa marah , emosi aku berlari tanpa memperhatikan sekitar hingga aku tidak memperhatikan motor yang lewat. Aku akui salah menyebrang tanpa menoleh ke kanan dan kiri, hingga motor tersebut menyenggol tubuhku sampai terjatuh.
"Aduh maaf Bu, saya gak sengaja. Habis ibu main nyelonong," ucap pengendara motor.
"Tidak apa-apa dek, bisa bantu saya berjalan ke mobil itu."
"Bisa mari bu."
"Sayang kamu kenapa ?" Ucap Raihan yang tiba-tiba muncul dan langsung menghalangi pemuda tadi.
"Jangan sentuh aku!"
"Aku suamimu,dia bukan muhrim mu." Ucap Raihan yang tidak bisa aku bantah, meskipun di dalam hati aku mengumpat. Bukan muhrim katanya, jika tahu bukan muhrim tidak boleh bersentuhan, kenapa dia bisa punya anak dengan perempuan lain ?
"Sayang,aku anterin pulang ya?"
"Tidak perlu aku bawa mobil sendiri !"
Kenapa kepalaku pusing sekali dan pandanganku jadi berkunang-kunang. Karena tidak kuat menahan pusing dan pandanganku yang mulai buram, aku putuskan untuk menghentikan mobilku di pinggir jalan.
"Sayang-sayangnya buka pintunya !" Ucap Raihan sambil menggedor-gedor pintu mobilku. Aku yang sudah tidak ada tenaga, berusaha membuka kunci mobil dari dalam. Begitu kebuka Raihan langsung memindahkan aku ke kursi penumpang belakang.
"Darah ada darah, sabar sayang sayang kita akan ke rumah sakit sekarang."
Darah di mana yang berdarah,aku tidak merasakan ada luka kenapa bisa ada darah.
Berbagi pertanyaan menghantui pikiranku, hingga aku tak sadarkan diri.
Cklek Nampak seorang perawat masuk, dan mengecek tensi darahku dn infus.
"Ibu sudah sadar ? Suaminya sedang menemui dokter,ibu tunggu sebentar ya."
"Apa yang terjadi dengan saya ya sus?"
"Nanti suami yang akan menjelaskan tentang apa yang terjadi dengan ibu."
"Saya mohon sus , saya cuma ingin tahu ?"
"Ibu barusan mengalami keguguran,"
Ucap perawat lirih.
"Berapa usia kandungan saya sus?"
"12 Minggu."
"Saya ibu yang buruk ya sus,"ucapku lirih.
"Kata suami ibu, usia ibu sudah 38 tahun. Menurut sebuah penelitian bahwa ibu yang hamil di atas 35 tahun, memiliki risiko mengalami keguguran lebih besar dibandingkan ibu yang hamil di bawah 35 tahun." Jelas suster berusaha menghiburku, yang ku jawab dengan senyum tipis.
"Saya permisi Bu, jika butuh bantuan silahkan tekan tombol bantuan emergency !"
"Iya sus terimakasih."
Tidak lama setelah suster pergi Raihan masuk, karena malas untuk melihatnya aku tutup mataku. Pura-pura tidur adalah pilihanku yang tidak ada tenaga, tidak hanya sakit hatiku tapi juga ragaku.
"Apa yang terjadi sebenarnya ?" Suara orang yang baru masuk, yang aku yakini adalah suara mama Raihan.
"Hana mengalami keguguran," ucap Raihan.
"Kenapa bisa terjadi ?"
"Ini salahku ma, yang membuatnya marah dan stres hingga calon anak kami yang belum lahir kena imbasnya."
"Setiap rumah tangga punya masalah hadapi dengan kepala dingin, jangan terbawa emosi."
"Iya,ma."
2 hari dirawat di rumah sakit,aku selalu menghindari Raihan. Setiap Raihan ada bersamaku dalam satu ruangan hanya berdua, maka aku akan pura-pura tidur.
"Semuanya sudah aku bereskan,ayo kita pulang."
" Aku akan pulang bersama mbak Jelita, mbak Jelita sudah menungguku diluar."
"Please Hana,"ucap Raihan sambil mengambil tanganku,tapi aku tepis.
"Aku sudah memikirkan dengan baik-baik, mari kita selesaikan masalah kita dengan baik-baik. Jika kamu mempersulit perceraian kita,aku akan laporkan ke atasan mu."
"Laporkan, paling aku akan kehilangan pekerjaanku. Aku tidak peduli karirku hancur,"ucap Raihan dengan muka mereka.
"Aku sudah kehilangan calon anakku, jangan sampai kamu kehilangan calon anakmu lagi."
"Aku tidak peduli dengan calon anaknya, yang aku pedulikan kamu dan anak-anak."
"Jangan egois kamu!"
"Aku tidak egois,aku tidak merasakan terlah berbuat lebih dengannya selain ciuman."
Ciuman, sakit rasanya membayangkan suamiku berciuman dengan wanita lain.
"Selain ciuman,apa kamu tidak merasa bersalah melakukan zina mas?"
"Aku pertama bertemu dengannya 3 bulan lalu, di pembukaan rumah saki. Kami hanya berbincang tidak lebih, hingga di acara pelepasan Jendral Boby kami bertemu kembali 2 bulan lalu. Saat itu kamu tidak ikut karena ada acara dengan ibu-ibu Persit. Aku salah mengambil alkohol dan ahkirnya mabuk."
"Dan saat kamu sadar, kamu sudah sekamar dengannya. Dan kamu berbohong padaku, kemalaman karena keasikan ngobrol. Dasar lelaki pembohong !" Ucapku sambil berjalan keluar meninggalkan Raihan.
"Duduk sini aku akan antar kamu !" Ucap Raihan sambil membawa kursi roda.
"Tidak perlu,aku bisa sendiri ragaku sehat, hanya hatiku yang sakit."
"Maaf."
"Karena itu mohon jangan ganggu aku, apa tidak cukup menyakiti hatiku." Ucapku bertepatan dengan Jelita dan suaminya yang datang.
"Dek,aku berjanji akan membuktikan bahwa aku tidak salah." Aku tidak banyak bicara, langsung duduk di kursi roda yang di bawa suami Jelita.