Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
100. Raihan Rihanna XXIV Kompor Meleduk



"Kapten Raihan, dari angkatan darat,?"tanya kakek.


"Siap betul,"ucap Raihan tegas.


"Wah kakek ketemu calon suami Hana ," ucap Radit spontan membuat ku keluar dari tempat persembunyiannya ku.


"Bukan kek! Mas Raihan sudah punya calon, anak Danyon nya!"Ucapku langsung berdiri di depan Raihan.


"Terus kalau dia sudah ada calon kenapa dia ada disini ?" Aku hanya bisa menelan ludah, bingung mau jawab apa.


"Dia juga kan yang menemani mu ke Bandung? Jika kalian tidak ada hubungan apa-apa ,kenapa Raihan mau menemanimu ke Bandung malam-malam?"


"Mungkin karena balas Budi dengan papi yang pernah menolong orang tuanya."


"O,ya benar begitu Arkana ?"


"Aku memang pernah menolong orang tuanya Raihan 10 tahun lalu,tapi 14 tahun yang lalu orang tua Raihan dan keluarganya, juga sudah menolak ku dan keluarga ku."


"Bener kamu mau menikah?"


"Kakek kenapa ikut campur urusan orang lain!"


"Hana! Bisa diam?" Aku hanya mengangguk dengan pertanyaan kakek.


"Bagus, diam jangan bicara kalau kakek tidak menyuruh mu bicara. Mengartikan! Ini juga untuk semuanya yang ada di sini."


"Untung papi sudah tidak berkecimpung di dunia militer,"ucap Radit.


"Radit, keluar !"


"Iya kek, maaf."


"Bener kamu yang menemani Hana ke Bandung ?"


"Siap! Bener,pak."


"Apa kamu di paksa untuk mengantarkan Hana ke Bandung, semalam !"


"Siap tidak !"


"Apa kamu sudah menikah ?"


"Siap belum !"


"Apa benar calonmu anak Danyon!"


"Kami cuma."


"Jawab benar tidak, saya tidak mau tau detailnya!"


"Bukan!"


"Apa kamu sudah ada calon?"


"Belum."


"Hai kenapa tidak bilang sudah,kan sudah ada Hany?"


"Hanna siapa yang menyuruhmu bicara?"


"Kamu yang dulu Ta'aruf dengan Hana kan?"


"Siap betul."


"Kata Abi ta'aruf mu berhenti karena kamu harus menempuh pendidikan?"


"Siap betul."


"Suruh orang tua mu, menemui ku."


"Buat apa kek,?" tanyaku.


"Melamar mu. Kalian sudah pernah ta'aruf, tinggal meneruskan. Kalian bisa lebih mengenal setelah menikah!"


"Tapi kehidupan tentara itu sangat jauh berbeda dengan Hana yang seperti tuan putri?"


"Hana harus belajar menerima mu apa adanya!"


"Kasihan Hana nantinya pak, hidup tentara itu tidak senyaman kehidupan Hana sekarang."


"Tapi prajurit punya tanggung jawab yang Lebih baik. Kamu tahu saya seorang Purnawirawan,"ucap kakek membuat Raihan sedikit kaget.


"Raihan,Hana , Radit kalian keluar dulu bisa,!" ucap papi. Tanpa banyak bertanya kami langsung keluar dari ruang kerja papi.


"Hati-hati mas Raihan habis ini di paksa menikah dengan Hana ,"ucap Radit.


"Apaan sih Lo gak usah rusuh!"


"Benerkan kakek kan pingin Lo nikah sama tentara, karena tidak ada keturunannya yang mengikuti jejaknya."


"Maksudnya gimana ya,?" tanya Raihan.


"Kakek dulu seorang tentara, tetapi papi setelah menyelesaikan kuliah hukumnya malah masuk Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS)."


"Jadi Om Arkana dulu polisi,?" tanya Raihan.


"Terus hubungan sama Hana apa ?"


"Ya, ampun mas Raihan. Gini Lo, anaknya ga mau meneruskan profesinya. Terus kedua cucu Kakek juga gak ada yang nerusin, aku memilih jadi pengacara dan Randi memilih meneruskan usaha kakek." Ucap Radit,aku yang males lebih memilih melihat komentar-komentar di akun media sosial.


"Mas sepertinya instansi mas kebawa deh," ucapku menghentikan obrolan Radit dan Raihan.


"Disini nama mas emang gak ada tapi,ada beberapa akun yang Zoom dan melihat seragam mas." Cicitku tidak enak hati, karena Raihan sudah terdampak meski tidak secara langsung.


"Sudah tenang jangan dipikirkan, yang penting jangan kau ulangi lagi."


"Kamu bisa kaya gitu, pernah ikut balapan liar ya di California,?"tanya Radit.


"Sekali doang ko."


"Apa yang sekali doang,?"tanya kakek yang tiba-tiba keluar.


"Bukan apa-apa," jawab ku dan Radit bersamaan.


"Kalian di sini biar papi dan kakek yang keluar," ucap papi. Kulihat papi berjalan keluar dengan kakek.


"Kita lihat dari CCTV,"ucap Radit langsung ke ruang kerja mengambil laptop.


Nampak 2 satpam rumah membuka pagar , terlihat segerombolan wartawan langsung menghampiri satpam. Sekitar 10 wartawan di giring ke teras rumah, setelah gerbang di tutup lagi.


Tidak lama satpam membuka pintu dan tampa mobil om Arya datang, terlihat Om Arya keluar dari mobil bersama Bintang dengan seragam polisinya.


"Papi menghubungi Om Arya,?"tanyaku.


"Tidak, tapi kakak tau sendiri papi punya ikatan batin dengan Om Arya." Canda mami membuatku hanya mendengus. Mulai terlihat beberapa wartawan bertanya kepada kakek.


Wartawan 1: "Apa bener itu mobil salah satu keluarga Wiraguna ?"


Papi: " Iya!"


Wartawan 2: " Tapi samar terlihat ada baju seragam loreng. Setahu kami keluarga Wiraguna tidak ada yang berprofesi sebagai tentara ?"


Terlihat papi melihat kearah Kakek dan Om Arya.


Kakek :"Calon cucu Saya."


Wartawan 2:"Bukanya anda hanya punya 2 orang cucu Radit dan Randi ?"


Kakek :" Mereka kembar 3."


Wartawan 1:" Jadi ada satu cucu perempuan ? Tapi kenapa selama ini tidak terekspos?"


Kakek: "Dari umur 13 tahun menetap di Singapura. Sempat kuliah dan kerja di Indonesia sebelum melanjutkan S2 ke negeri paman Sam."


Papi: "Maaf cukup sampai di sini saja, sekarang sudah kalian sudah tidak. Jadi kami mohon maaf sampai di sini klarifikasinya."


Wartawan 3: "Tapi yang menjadi sopir cucu yang mama ?"


Wartawan 1:" Apa yang mengendarai mobil cucu perempuan anda?"


Warna 3:" Apa salah satu cucu lelaki anda ?"


Nampak Om Arya dan Bintang di bantu 2 satpam rumah berusaha mengusir para wartawan.


"Kenapa harus bilang calon cucu mantu segala sih,"kesalku.


"Ga papa siapa tau jodoh mu tentara. Sekalian nyenengin kakek di hari tuanya." Ucap Radit yang ku balas dengan cibiran.


"Semoga dengan klarifikasi barusan , para wartawan tidak penasaran dan menugu di depan gerbang," ucap papi.


"Halo calon istri mau kemana ko pergi,?" teriak Bintang.


"Mandi, dasar Brondong play boy."


Aku butuh air hangat buat berendam biar pikiran ku sedikit tenang,kataku dalam hati sambil berjalan ke kamar. Setelah berenda dan berganti pakaian satu jam lebih,aku kira sudah pada pulang. Tidak tahunya masih pada ngumpul di ruang keluarga.


"Mi,lapar. Bikini mie rebus pakai telor dan cabai rawit dong!"


"Sudah mau nikah masih aja nyuruh orang tua,!"omel Bintang.


"Biarin , mami gw. Lagian dari pada Randi dan Radit, aku kan jarang makan masakan mami."


"Salah siapa suka hidup sendiri. Lagian kasihan suami Lo nanti," ucap Bintang.


"Berisik sekali Lo, suami gw aja anteng ."


"Hana mana jilbab mu!"


"Di kamar kek. Lagian di sini cuma ada keluarga kita," ucapku sambil merebahkan kepala ku di paha papi.


"Oo saudara kek. Buruan mas Raihan ajak orang tua mu, kesini Hana sudah menerima mu." Teriak Radit kencang , membuat ku memutar bola mata malas.


"Mas Raihan sudah kenal lama bahkan sejak sebelum aku berhijab, ga masalah kali kek. Lagian baju Hana juga panjang ini,"ucapku


"Rihanna dengar kakek, rambut perempuan itu juga aurat yang hanya boleh di lihat suamimu nanti."


"Kan mas Raihan calon suami Hana Kek," ucap Radit.


"Dasar Lo kompor meleduk," kesalku sambil berjalan menuju kamar.