Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
91. Raihan Rihanna XVI Ta'aruf



"Kakak kami mau bicara!"


"Lo bikin masalah apa,?" bisik Radit mendengar ucapan papi.


"Tau," ucapku sambil mengangkat bahu acuh tetap asik dengan makan malamku.


"Kita duduk di ruang keluarga saja,"ucap papi sambil berjalan setelah selesai makan malam.


"Kakek baru menghubungi papi. Katanya ada pemuda yang mengajukan ta'aruf dengan mu dan kakek sudah menerima."


"Nama Letnan satu Raihan Elang Akbar umur 29 tahun 3 bulan lagi. Da."


"Sudah tidak usah di teruskan aku sudah tahu Pi. Ia anak dari Om Luki dan Tante Sandra." Ucapku memotong ucapan papi.


"Bagaimana bisa begitu dan kamu tidak bilang papi dan mami ?"


"Ceritanya panjang mi."


"Gak usah alasan mami mau dengerin cerita nya."


"Setuju mi. Aku juga penasaran,"ucap Radit.


Akhirnya aku menceritakan semuanya yang terjadi, tanpa aku kurangi sedikit pun. Bahkan tentang kakek Husain, Aziz dan rencana Raihan.


"Jadi Raihan tidak tahu kalau Ning Hana itu kakak ?" tanya papi.


"Iya, kalau tahu dia gak bakalan berani kayanya ?"


"Kenapa,?" tanya papi.


"Katanya kalau dia mengharapkan aku itu seperti pungguk merindukan bulan."


"Siapa yang bilang begitu kak,?"tanya mami.


"Ya Raihan lah mami ,aku cuma menirukan apa yang pernah ku dengarkan pas di Bandung."


"Iya,Kami sempat jalan rame-rame sama teman-temanku pas hari terakhir diBandung."


"Jadi kalian ketemu,?" tanya mami.


"Iya kebetulan."


"Apa kamu juga kenal Pemuda bernama kapten Erlangga,?" tanya papi.


"Sebatas kenal, karena aku pernah menolong adiknya dari keisengan teknologi."


"Orang tuanya berusaha mendekati papi untuk menjodohkan anaknya dengan mu. Kapten Erlangga 30 tahun,ada juga adiknya polisi tapi papi lupa."


"Terus papi jawab apa,?" tanyaku.


"Mami ga ngelarang kalian nikah muda, tapi secara alami tanpa paksaan. Jadi papi bilang tidak berani mengambil keputusan tergantung yang menjalani." Ucap papi membuat ku menarik nafas lega. "Aku juga tolak halus sih saat itu, 'Aku bilang belum kepikiran buat kearah sana'. Tak kusangka mereka malah menghubungi papi langsung."


"Kira-kira mas Raihan tau tentang keluarga kita,?"tanya Radit.


"Sepertinya tidak terlalu mendetail dia hanya tahu Keluarga orang berada dan orang terpandang." Jawabku membuat Radit mengaguk-anggukan kepalanya sebelum bertanya,"Jika dia tahu Ning Hana dan Hana orang yang sama bagaimana ya, reaksinya ?" Aku hanya mengangkat bahu acuh.


"Kalau kamu tidak sungguh-sungguh dan ini gagal. Kemungkinan Aziz akan maju berarti,?" tanya papi.


"Mungkin,aku sendiri tidak yakin dengan apa yang Om Hardi katakan."


"Mending Lo nikah sama mas Raihan, dari pada sama AA Aziz," ucap Radit.


"Kalau bisa jangan semuanya dengan Raihan akan terikat peraturan militer dan dengan Aziz aku sudah menganggap kakak."


"Tapi kalau di paksa milih bagaimana ?" Aku mengangkat bahu acuh menanggapi pertanyaan Radit.


"Gw gak suka sama Aziz, meskipun dia terlihat santun tapi dia orang yang penuh dengan ambisi dan arogan. Ambisi terbesarnya adalah menjadi pimpinan pondok pesantren, mungkin juga menguasai pesantren."


"Ya Biarkan saja bagus kalau dia mau memimpin pesantren. Mengingat kalian bertiga tidak ada yang berniat untuk mengurus pesantren,"ucap mami.


"Tapi tida menikah dengan Hana juga."


"Lagian kenapa adik ga suka sama AA Aziz ,gak mungkin hanya karena ambisius kan?" Tanya papi sambil memicingkan mata.


"Sebagai sesama lelaki aku punya firasat tidak baik. Terus aku tidak suka cara dia memandang Hana. Sebagai seorang ustadz harusnya dia bisa menjaga pandangannya."


"Ya kita berdoa saja semoga kakak mu Hana mendapatkan jodoh yang terbaik, bisa membimbing di dunia dan akhirat."


"Amin." Ucap kami mengamini ucapan papi.


"Biodata tentang Raihan akan di bawa Randi besok. Ayoook kita tidur sudah malam waktunya istirahat." Ucap papi sambil berdiri dan menarik tangan mami, membuatku dan Radit hanya mendengus. Papi dan mami masih seperti pasangan muda yang baru menikah, itu yang kadang membuat aku dan kedua adik kembarku meledek papi.


"Sebagai lelaki aku pingin Lo menikah dengan lelaki yang tulus mencintai mu apa adanya. Bukan karena harta keluarga kita, bukan karena nama baik keluarga kita, bukan karena cucu pemilik pesantren. Tapi bener-bener karena dirimu,biar rasa sayang dan cinta kalian langgeng seperti mami dan papi."dan


"Hm terima kasih perhatiannya adikku sayang."


"Aku merasa hukuman itu sengaja kakek Husain buat untuk memaksamu menikah."


"Kita lihat saja besok, aku gak mau berprasangka buruk. Apalagi sama orang yang lebih tua dan ngerti agama. Ucapku sambil berdiri. "Gw mau ke kamar duluan mau tidur,"ucapku lagi.


Dalam hati aku juga mau menikah sekali dengan lelaki seperti papi. Tidak harus kaya seperti keluargaku, yang penting tidak hidup serba kekurangan itu sudah cukup buatku.


"Bangun sholat subuh! Sudah umur juga sholat subuh harus di bangunkan, kaya begini di suruh nikah,"ucap mami sambil merapikan selimutku.


"Ayo jamah subuh di bawah !"


"Hmm."


Saat aku sampai di mushola kecil tempat semua penghuni melakukan sholat subuh, nampak Om Hardi dan Randi juga sudah ada di sini.


"Kok udah sampai di sini kapan sampai,?"tanyaku pada Randi setelah sholat subuh.


"Waktu aku baru datang, kata Radit kamu baru setengah jam masuk kamar." Aku hanya mengangguk, sebelum Randi menyodorkan amplop berisi biodata Raihan.


"Kaya melamar kerja saja."


"Itu lebih baik dari pada pacaran ,"celetuk Randi menanggapi ucapan kembarannya Radit.


"Sekarang Lo bikin kaya begitu ,!"ucap Om Hardi.


"Han ini Raihan apa Raihan, yang orang tuanya waktu dulu nolongin kita ?" Aku mengangguk menjawab pertanyaan Randi.


"Ia tahu dan dia dia saja, bahkan waktu di Bandung mereka sempat bertemu." Jelas Radit membuat kembarannya melotot tak percaya mendengarnya.


"Sebaiknya kamu jujur dari pada berbohong Han," ucap Radit


"Bagaimana caranya buat jujur aku juga bingung,"ucapku apa adanya.


"Ya udah jalani saja dulu. Lagian kita tidak akan tahu kedepannya. Jika ada kesempatan buat berkata jujur katakanlah, jika belum ada kuatkan keberanianmu untuk berkata jujur."


"Aku setuju dengan Om Hardi, sambil mengulur waktu." Kata Radit sedangkan Randi hanya terdengar tarikan nafasnya, mau protes tapi tidak bisa.


"Raihan datang sama siapa ?"


"Sama kedua orang tuanya Pi."


"Ketemu. Aku sebagai wakil dari Hana ,tapi sepertinya mereka tidak mengenal ku. Karena mereka memanggilku Gus."


"Tambah runyam kalau begitu," ucap Radit.


"Baiklah Hana jalani saja dulu seperti air yang mengalir. Tapi jangan buat kebohongan baru!"


"Iya Pi," ucapku mendengar ucapan papi.


"Tapi kakek Husain memberikan waktu 3 bulan. Jika sampai 3 bulan Raihan tidak melamar maka ta'aruf batal."


"Kita cari jalan keluarnya yang terbaik, tidak menyinggung kakek Husain dan kakek." Ucap papi menanggapi ucapan Om Hardi.


Aku lega punya orang tua yang tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Tapi orang di luar sana malah berusaha memaksaku, kataku dalam hati.