
"Bu? Bu Hana! Assalamualaikum !"
Aku segera memakai jilbab instan ku dan berlari ke depan, nampak satpam di rumah sedang menghalangi ibu-ibu yang berusaha masuk.
"Walaikumsalam."
"Maaf Bu, ibu ini memaksa masuk,"ucap pak Anto satpam rumah. Pak Anto dan istri pasangan yang tidak memiliki anak, bekerja dan tinggal di rumah ku.
"Ada apa ya Bu ?"
"Lihat Putriku di tendang putri mu sampai kepalanya bocor."
"Dila !!"
"Iya ma,I'm coming!"
"Bener kamu tendang Frida ?"
"Benar,"jawab Dila tanpa rasa bersalah.
"Bener kan aku bilang, anakmu wedok kelakuan ne koyo wong Lanang urakan."(anakmu perempuan tingkahnya kaya lelaki suka bikin kekacauan.)
"Kenapa kamu tendang Frida ?"
"Frida yang nyuruh aku buat nendang dia!"
"Apa , jangan bohong Kamu !"
"Sebentar ibu saya tanya anak saya dulu !"
"Mana ada maling ngaku maling!"
"Ibu tolong diam sebentar, jika putri saya bersalah saya sendiri yang akan memberikannya sangsi!"
"Yakin !" Aku hanya menarik nafas sambil memejamkan mataku, untuk meredakan emosiku.
"Dila ceritakan !"
"Frida menendang kucing sampai masuk got, terus aku tegur. Karena kata papa jika kita melihat teman yang berbuat salah kita wajib menegurnya."
"Bener Frida ?" Frida hanya mengagukan kepalanya tanpa berani melihat kearah kami.
"Lalu,?" tanyaku.
"Dia bilang kucing gak marah kenapa aku yang marah. Lalu aku bilang ' Kucing juga mahkluk hidup , tidak seharusnya kamu menendangnya.' Waktu aku bilang begitu Frida malah bilang,'Sini tedang aku kalau kamu ga terima.' Ya aku tenda balik, sesuai permintaannya." Ucap Dila, membuat ku tak tahu lagi harus bilang apa.
"Dasar ya anakmu itu sok pahlawan,tapi salah sasaran. Kasihan ko sama kucing," ucap mama Frida.
"Kucing juga mahkluk hidup ciptaan Allah SWT Bu, tidak sepatutnya putri ibu bertindak demikian!"
"Halah emang sejak kapan kucing punya perasaan ? Ayo balek, Awas sampai anakmu membuat anakku luka lagi!" Ucap mama Frida sebelum pergi meninggalkan rumah kami.
"Lain kali jangan main tendang begitu ya, gak baik. Berpikir lah dulu sebelum bertindak, contohnya 'Jika ada orang yang menyuruh mu masuk kedalam sungai yang dalam apa kamu mau?" Dila hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Tidak semua apa yang di suruh orang harus kakak lakukan, pikirkan dulu alasannya dan dampaknya jangan langsung bertindak."
"Maaf habis Dila kesal ma, di tegur bukan merasa bersalah malah bilang kaya begitu."
"Lain kali jangan di ulangi lagi ya!"
"Oke mama."
Dila dan Diva memiliki wajah yang sangat mirip bahkan model rambutpun sama, sampai Raihan saja tidak bisa membedakan jika melihat mereka. Tapi mereka memiliki sifat yang berbeda Dila anak yang ceria, Diva pendiam. Dila kalau bertindak tanpa berpikir, Diva selalu berpikir sebelum bertindak. Dila mudah emosi sedang Diva penyabar dan lembut.
"Aku dengar dari Anto hari ini ada ibu-ibu melabrak Dila ?"
"Biasa tau sendiri Dila,"ucapku sambil menyiapkan baju ganti.
"Pasti kamu capek mengurus ketiga nya?"
"Capek tapi seneng melihat tingkah mereka, meski terkadang bikin emosi.. Mas?"
"Kenapa ?"
"Tadi Radit menghubungi ku, kalau ayah sakit tapi tidak mau memberi tahumu!"
"Iya, makanya lebih baik kamu coba menghubunginya. Tanyalah kabarnya, kalian ayah dan anak bukan orang asing!"
"Iya,nanti mas hubungi ayah."
Hubungan Raihan dan ayah Elang bisa dikatakan tidak ada perubahan yang berarti. Ayah Elang sadar diri tidak pernah membesarkan putranya, jadi tidak pernah mau merepotkan atau mengusik Raihan.
"Minggu depan ada tanggal merah di hari Kamis, aku berencana mengajak anak-anak ke Jakarta untuk menjenguk mami,papi , ayah Elang dan yang lainnya."
"Pergilah mas ingin ikut,tapi hari Jumat mas ada janji dengan teman lama mas."
Sudah sebulan ini aku merasa ada yang tidak beres dengan Rai, tapi aku belum bisa menemukan apa itu. Kemarin tanpa sengaja aku melihat pesan masuk mencurigakan di ponsel Raihan, makanya aku berniat menyelediki nya.
"Anak-anak dengerkan mama, kalian tidak boleh nakal harus nurut sama Tante Jelita paham !"
"Iya ma!"
"Kamu yakin tidak perlu ku temani?"
"Tidak perlu,aku harus menyelesaikan masalahku."
Jelita menjemput anak-anak di bandara dan langsung di bawa ke Surabaya. Aku menolak diantar Raihan dengan alasan, mobil biar di parkir di bandara saja jadi tidak perlu antar jemput. Dan untuk pertama kalinya Raihan tidak melarangku, dan mengantarkan kepergian ku.
Setelah mengantar anak-anak ke pada Jelita,aku mengikuti mobil Raihan melalui GPS yang ku pasang tadi pagi saat Raihan ke masjid.
Rumah siapa ini, kenapa mobil Raihan berada disini.
Mobil Raihan berhenti di sebuah perumahan subsidi, yang berada di pinggir kota Sukoharjo.
Aku lihat Rai mengobrol dengan seorang lelaki sebelum masuk.
"Assalamualaikum maaf mas apa benar ini rumah Raihan?"
"Bukan ini rumah mbak Rindu."
"Tapi alamatnya bener ga ini XX."
"Alamatnya benar tapi pemiliknya salah, mbak Rindu itu Janda, mungkin sebentar lagi akan menikah." Ucapnya sambil tertawa kecil, jawabnya membuat jantungku berdetak kencang.
"Mbak Rindu ada?"
"Ada masuk saja! Saya mau pulang dulu, tadi saya kesini cuma mengantarkan air galon."
Setelah lelaki itu aku perlahan masuk dengan mempersiapkan ponselku, sambil mengatur detak jantungku. Aku berharap ini salah paham seperti dulu kala.
"Aku harus bagaimana,aku janda mas. Apa kata orang jika aku hamil tanpa suami."
"Saya punya anak dan istri Rindu. Saya juga merasa itu bukan anak saya."
"Mas kamu tega ya , setelah sebulan lalu apa yang kita lewati!"
"Aku sudah malam itu kecelakaan Rindu!"
"Kecelakaan yang menghasilkan anak!"
"Mana mungkin bisa?"
"Kenapa tidak bisa, waktu itu aku dalam masa subur mas."
"Tolong Rindu tidak hanya keluargaku yang ku pertaruhkan, tapi karirku yang sudah aku bangun 20 tahun ."
"Terus aku harus bagaimana, jangan egois kamu. Aku tidak mau jadi pendosa dengan mengugurkan anakku!"
Apa Raihan punya anak dengan wanita lain? Ini pasti hanya mimpi atau kupingku yang salah mendengarkan saja.
"Apa-apaan kamu Rindu ? Turun dari pangkuan ku sekarang juga!"
Apa yang perempuan itu lakukan di pangkuannya Raihan ?
"Jika kamu lupa aku akan membuat kamu mengingat, kejadian malam itu." Ucap perempuan itu bersamaan aku yang membulatkan tekad untuk melihat apa yang terjadi.
Nampak perempuan itu duduk di pangkuannya Raihan dengan posisi saling berhadapan, dan bibir saling bertautan.
"Hana .."