Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
145. Cemburuan



Hidup itu seperti cerita dalam novel atau dalam dongeng. Ada yang memiliki kisah hidup yang indah ,ada yang penuh dengan cerita duka ,ada juga yang penuh dengan intrik dan rahasia. Seperti halnya kisah Raihan, sungguh aku tak menyangka Raihan yang ku kenal anak satpam punya banyak rahasia.


"Apa yang kalian bicarakan di ruang kerja papi?"


"Kami menceritakan banyak hal, termasuk status ibu yang sebenarnya belum bercerai dengan ayah."


"Hah ko bisa begitu ?"


"Memang benar ibu telah menandatangani surat cerai,tapi ayah tidak memprosesnya. Baru saat hendak menikah dengan istrinya yang sekarang, ayah mencari ibu."


"Tapi ibumu ternyata sudah meninggal ?"


"Iya,saat itu ayah belum tau kalau sudah ada aku."


"Ko bisa, begitu ?"


"Ayah mengira aku anaknya papa Luki. Baru saat ayah ketemu teman kuliahnya, yang menanyakan keadaan ibu. Dari sana ayah tahu kalau ibu pernah hamil, tapi saat ketemu papa bilang anaknya meninggal bersamaan dengan ibu."


"Ayahmu percaya ?"


Raihan mengagukan kepalanya," Iya karena ada bukti nyata yaitu kuburan ibu dan bayi yang berumur 1 Minggu."


"Berumur 1 Minggu, apa kamu pernah melihatnya ?"


"Tunggu ada yang aneh." Ucap Raihan seperti mengingat sesuatu.


"Apa,?" tanyaku.


"Di dalam batu nisan itu tertulis nama Reino bin Elang Samudra. Apa jangan-jangan !"


"Itu kuburan saudara kembar mu,!" tebak ku.


"Aku harus telpon papa,"ucap Raihan sambil mengambil ponselnya.


"Jangan kita cari waktu yang tepat, untuk menyusul papa. Lebih enak kalau kita ngobrol langsung !"


"Aku setuju,mas akan mengajukan cuti. Bagaimana dengan Elang ?"


"Terserah mau di ajak atau kita tinggal di sini bersama mami dan papi. Lagian Elang sudah 7 bulan ini, tidak masalah kalau kita tinggal sehari."


"Kenapa cuma sehari ,?" tanya Raihan.


"Memang mas bisa cuti lama ?"


"Hehe iya juga sih."


"Mas atur waktunya kapan, nanti kalau sudah di ACC kita baru cari tiket !"


"Ini sudah mau jam 11 malam, Elang tidak nyari kita ?"


"Biarkan saja. Kata mami malam ini Elang tidur dengannya, sebelum besok pagi kembali ke rumah dinas."


"Ya udah berarti malam ini , malamnya kita berdua."


"Kita berdua memang mau ngapain ?"


"Membuat adik buat Elang!"


"Elang masih kecil juga !"


"Tidak masalah, masak mas yang sudah 34 tahun anaknya cuma 1."


"Satu juga ga apa-apa. Ayo kita tidur sudah malam." Ucapku sambil tidur membelakangi Raihan.


"Mas yang masalah. Mas itu maunya di usia 35 tahun, sudah punya 2 anak."


"Aku masih takut kalau hamil ,kamu tinggal pergi satgas lagi."


"Ya ga apa-apa namanya panggilan negara ya!"


"Mas jangan meninggalkan bekas." Protes ku saat aku merasakan Raihan menghisap kuat leherku.


"Ga apa-apa biar kamu pakai jilbab, jika lehermu penuh tanda cinta mas pasti kamu akan memakai jilbab."


"ISS kamu sengaja," ucapku sambil berusaha memberontak.


"Jangan banyak bergerak, nanti ular ku bangun!"


"Alasan sekarang saja sudah bangun." Ucapku saat merasakan ada yang mengganjal di belakang ku.


"Kamu merasakannya, bantu mas ya. Masak kamu tega membuat mas menahan sakit kepala."


"Orang itu bertanya dulu, baru setelah dapat ijin baru bergerak!"


"Kalau begitu sudah gak semangat lagi."


"Yakin, di saat yang d belakang sudah sangat keras!"


"Oh istriku pinter." Ucap Rehan sambil menarik tubuhku untuk tiduran di atasnya.


"Mas, bikin kaget saja sih?"


"Pumung Elang tidur sama mami dan papi. Anggap saja ini bulan madu Kita." Ucap Raihan sambil tangannya bekerja, untuk memanaskan suasana.


"Itu mami sudah bekali buat makan siang kamu dan Raihan ,juga buat makan siang cucu mami!"


"Terima kasih mamiku cantik."


"Dari sebelum kamu lahir Mami sudah cantik,"ucap papi yang baru bergabung di meja makan.


"Radit tuker mobi ya,!"ucapku.


"Oke, tukeran selamanya juga gak apa-apa ko."


"Gak mau, rugi aku !"


"Ya udah kamu mau jual berapa ?"


"Gak ah belum puas aku makainya. Pajero ku aja yang kemarin penyok, gak apa-apa kalau mau !"


"Pagi-pagi sudah transaksi aja di meja makan," tegur mami.


"Bawa aja mobil mami,!" ucap papi.


"Terus mami bagaimana ?"


"Mami akan papi anter jemput."


"Sudah ah aku harus balik,ayo mas. kami pulang mi ,pi!"


"Hati-hati jaga Elang, kalau ada apa-apa hubungi mami!"


"Oke mi."


"Kalian hati-hati, sudah 2 hari ada mobil asing yang terparkir tidak jauh dari rumah. Meskipun setiap hari mobilnya berganti ,tapi lingkungan kita hampir tidak pernah ada mobil yang terparkir di jalan."


Komplek perumahan yang di huni papi dan mami tergolong, hunian elit. Hampir semua rumah yang ada di sini ,garasi yang di milikinya bisa muat lebih dari 2 mobil.


"Karena itu kami pakai mobil mami saja!"


"Tapi pi apa mobil mami tida terlalu mencolok kalau kami bawa ke batalyon ?"


Mobil mami BMW 3 series model sedan, bisa-bisa di kira Raihan korupsi. Selama ini tida ada yang tahu seluk beluk keluargaku selain Yanti dan suaminya.


"Dari pada repot gw anterin saja,ayo!"


"Oke gw setuju. Ayo mas."


Setelah berpamitan kami berangkat dengan diantar Radit. Bener kata papi ada mobil terparkir di pinggir jalan,di dekat rumah kami. Mobil dengan warna kaca gelap menambah kecurigaan kami.


Seperti sebelumnya setiap aku pulang selalu disambut Yanti, dengan cerita dan gosip-gosip nya selama aku tidak ada.


"Aku waktu itu sebenarnya agak aneh , ko tumben kamu terima tamu dengan pintu tidak terbuka lebar?"


"Tapi kenapa kamu gak samperin dan lihat kondisi aku?"


"Aku gak kepikiran ke situ juga kali mbak!"


"Terus ada yang tahu kejadian yang menimpa ku tidak ?" Tanyaku sedikit was-was, takut jadi bahan omongan penghuni kompleks perumahan dinas.


"Enggak kapten Raihan bilang ke semua orang mbak terpleset, sebenarnya ada apa sih ?"


Ah syukurlah,gak kebayang kalau ada berita istri kapten Raihan di tusuk orang tidak di kenal.


"Ya sesuai yang di katakan suamiku!"


"Tapi ada yang bilang rumah mbak di masukin pencuri dan mbak melakukan perlawanan hingga terluka."


"Hah begitu ya!"


"Iya karena ada beberapa orang yang melihat dokter Faizal menggedong Elang , kapten Raihan menggedong mbak Hana ,dan Pratu Heru menyeret seorang perempuan."


"Udah gak usah di bahas lagi sudah berlalu. Aku dengar ada warga baru , sudah berkenalan belum ?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Ada kapten Erlangga, istrinya wanita karir bekerja di radio tapi bukan penyiar. Sudah 2 tahun menikah belum punya anak, tapi lebih terlihat seperti pasangan baru di jodohkan." Jelas Yanti lancar, sangat mudah untuk mengalihkan pembicaraan. Sampai siang hari Yanti pulang untuk menyiapkan makan siang suaminya. Ini yang ku suka dari Yanti membuat suasana jadi ramai, kalau kata Raihan Yanti cocok dengan ku yang sedikit pendiam.


"Mas sudah mendapatkan cuti , seminggu lagi kira-kira bisa tida?"


"Bisa asal mas sudah punya paspor?"


"Ada dulukan kita pernah ketemu di luar negeri,masa lup?"


"Hehe iya , maaf lupa."


"Bukannya lupa, memang mama aku belum terukir di hatimu. Jadi mudah kamu lupakan !"


Hah ada apa lagi ini, kenapa jadi cemburuan banget sih?


"Itu kan dulu mas, sekarang sudah terukir ko nama mas di hatiku."


"Buktinya."


Dari pada pusing cari bukti, ahkirnya untuk pertama kalinya aku beranikan diri untuk mencium Raihan duluan.