
Dear Diary , Agustus 1985.
Hari ini mas Elang menyatakan perasaannya padaku, sungguh ini semua seperti mimpi buatku. Lelaki idola kampus bilang suka padaku, di depan semua penghuni kantin. OHH So Sweet...
Dear Diary , September 1986.
Dia melamarku. Bahkan demi beli cincin untuk melamarku dia rela kerja part time. Sungguh beruntungnya aku menjadi orang yang di sayangnya,di cintainya.
Dear Diary , Febuari 1987.
Ini pertengkaran kami yang pertama. Dia melarang ku untuk mengikuti kuliah kelas karyawan. Dia berjanji akan membiayai ku , mengikuti kelas reguler.
Siapa aku dibiayai oleh nya, aku hanya orang lain. Bukan anak atau istrinya.
Dear Diary , Maret 1987.
Cinta pertama ku berahkir. Mas Elang akan pergi ke kota asalnya setelah wisuda,semoga mas menemukan jodoh mu.
…
"Ini kamu yang menandai ?" Tanyaku pada Raihan sambil menunjuk pita-pita kecil pembatas.
"Iya yang aku kasih pita adalah curhatan ibuku tentang ayah kandung ku."
"Kamu sudah baca semua berati?"
"Tidak juga kadang aku melihat bulan yang tertulisnya baru aku baca."
"Hana sepertinya Elang haus deh!" Ucap mami berjalan mendekati ku, yang duduk santai di taman belakang.
"Enak ya,asik pacaran anaknya di asuh mami dan papi." Ucap Radit yang berjalan di belakang mami dan papi .
"Makanya buruan menikah biar mami dan papi juga bisa mengasuh anak mu." Ucap papi yang ikut duduk diantara kami.
"Ini Diary ibu kandung mu?"
"Iya Pi ."
"Boleh papi pinjam ?"
"Boleh Pi."
"Buat nyari celah ya pi,?" tanya Radit.
"Kita harus bisa bergerak cepat. Sebelum Bayu bergerak kita harus perkuat benteng kita supaya dia tidak bisa merobohkan keluarga kita."
"Kaya permainan aj sih Pi,"canda mami.
"Dari yang terjadi hari ini papi yakin tujuannya Bayu, ingin menarik Raihan dan Elang masuk keluarga mereka."
"Kenapa papi bisa tahu?"
"Om Arya bilang rumah sakit Samudra group dan menyuruh memasang CCTV pribadi."
"Karena itu papi bisa tahu dan langsung menyusul kami,?" tanya Raihan.
"Iya. Jujur Kami melakukan ini bukan untukmu Rai, tapi untuk cucuku Elang."
"Ko begitu pi,?" tanya mami.
"Raihan lelaki dewasa berumur 34 tahun, legal menurut hukum bis menentukan pilihannya. Berbeda dengan Elang yang masih dibawah umur."
"Tapi Elang punya orang tua kandung yang sah menurut negara,pi?"
"Mi segala sesuatu bisa terjadi. Apalagi Bayu tipe orang yang akan melakukan segala cara untuk keinginannya tercapai."
"Ah papi membuat mami berpikir buruk."
"Harus buktinya Bayu bisa mengancam ibunya Rai menandatangani surat cerai."
"Apa jangan-jangan kecelakaan yang di alami Om Luki adalah rekayasa pi,?" timpal Radit.
"Itu kecurigaan Luki. Kecelakaannya tidak parah kenapa sampai harus operasi."
"Wah gila ektrim sekali caranya,"sahut Radit.
"Hebat papi bisa bergerak dengan sangat cepat."
"Iyalah mi suamimu ini , bukan sembarangan pengacara ya."
"Kambuh narsisnya,"celetuk mami.
"Gila sudah puluhan tahun baru terungkap sekarang," ucap Radit.
"Jika terungkap apa bisa di usut pi,?" tanya mami.
"Tidak bisa karena sudah terlalu lama. Paling tidak kita bisa berjaga-jaga , dan bisa kita jadikan sebagai pelajaran."
"Darah mu boleh sama mas, tapi kelakuannya jangan ya." Ucap Radit yang di tanggapi anggukan oleh Radit.
Dari sini aku bisa simpulkan kedua orang tua Raihan masih saling mencintai tapi dipisahkan secara paksa. Mengingat sikap Elang Samudra sedikit melunak, bahkan membakar rambut Raihan. Akibat pulang dadakan padahal kondisiku ,belum pulih. Kamarku di sulap seperti ruang perawatan, dengan perawat genit yang selalu mencari perhatian Radit dan Raihan.
" Ayo sudah malam waktunya tidur, biar kondisi kesehatanmu cepat sembuh !"
"Kalau aku tidur jangan menanggapi tingkah suster centil itu,awas!"
"Ya ampun senengnya ada yang cemburu. Setelah 2 tahun bersama ahkirnya aku bisa merasakan kecemburuan mu."
"Waktu sama Oliv kemarin memang aku gak cemburu !"
"Beda waktu sama Oliv Kamu tidak bilang apa-apa tapi langsung kabur. Kalau yang ini kan kamu menyampaikan apa yang kamu rasakan."
"Aku belum ngantuk, boleh aku baca diary ibu mas lagi?"
"Boleh ini,"ucap Raihan sambil berjalan mengambil diary tebal yang sudah lusuh dan pudar warnanya.
"Tadi papi gak jadi minjem ?"
"Jadi ,sudah di copy sama Radit untuk mereka pelajari."
"Hidupku seperti sinetron," candaku.
"Maafkan mas, gara-gara mas hidup mu jadi tidak tenang. Dari mas yang hilang, tingkah Olivia dan sekarang kamu dan keluargamu jadi terseret rumitnya asal usulku."
"Ini sudah jadi cerita hidupku yang di sudah di takdirkan."
"Ini Diary ibu,mas mau lihat Elang dulu."
…
Dear Diary , Agustus 1988.
Setelah hampir setahun tidak berjumpa aku bertemu dengannya lagi. Tapi aku masih sama mahasiswa kelas karyawan, sedang Elang ku seorang mahasiswa pasca sarjana. Aku sadar siapa aku , karena itu aku hanya berani melihat dari jauh. Meskipun harus di bully sama Sandra, karena tingkah ku yang hanya berani melihat dia dari jau.
Dear Diary , Desember 1988.
Oh rasanya aku mau mati karena terkejut, bukan pernyataan cintanya. Tapi dia minta ijin untuk menikah dengan mas Luki. Senangnya mas Luki juga tidak melarang kami.
Dear Diary , Maret 1989.
Kami resmi menikah aku bahagia,tapi juga sedih karena pernikahan kami tidak dapat restu. Karena tidak ada orang tuanya mas Elang, hanya kakak sepupunya. Tapi kata mas Luki itu tidak masalah menurut agama dan negara pernikahan kami sudah sah.
Dear Diary , September 1989.
Baru 6 bulan pernikahan badai kehidupan rumah tangga kami sudah terasa berat buatku. Semua kebohongan mas Elang terbongkar. Mas Elang bukan yatim piatu, dia masih punya ayah dan ibu tiri. Parahnya lagi saksi nikah kami ternyata kakak tirinya, bukan sepupunya. Tega sekali mas Elang menipuku. (Kertas terlihat lusuh seperti bekas air mata yang sudah kering
Diary , Oktober 1989.
Kejam dia memberikan ku pilihan yang sulit. Maafkan aku mas, aku melepaskan mu. Mas Luki butuh uang yang banyak buat operasi, akibat kecelakaan yang menimpanya.
Dear Diary, November 1989.
Aku akan mempertahankan anakku meski aku akan meninggal, karena kanker ini. Lebih baik aku pergi dengan membawa sakit ku, dari pada anakku jadi korban.
Maafkan aku adikmu ini mas, yang tidak bisa mematuhi perintah mu.
Dear Diary, Mei 1899.
Maafkan aku mas telah merepotkan mu. Aku titip anakku tolong kasih nama Raihan Elang Akbar. Aku tidak berharap anakku di akui ,tapi aku hanya ingin mengingat ada darahnya di dalam tubuh anakku.