
"Ko tumben pagar rumah di buka lebar?" Kataku saat aku melihat pagar gerbang di buka lebar.
"Ada petinggi yang ngelamar Lo lagi kali,"ucap Raihan.
"Ga ada pemberitahuan. Ya Allah ponsel gw mati kehabisan daya. Ada apa ya kira-kira." Ucapku bertepatan dengan mobil kami yang berhenti di garasi.
"Bi itu kursi kenapa di pinggir-pinggir kan. Bi ada apa ,mana mami,papi." Tak ada satupun yang menjawab pertanyaanku, hingga Raihan menghampiriku dan memberikan ponselnya padaku.
"Radit mau bicara ?"
"Mas menghubungin Radit ?" tanyaku yang di jawab anggukan.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, pada kemana sih orang-orang ?"
"Dengar aku. 2 jam yang lalu kakek janjian ketemu sama temen-temennya. Tapi mobil yang di pakai kakek mengalami pecah ban , hingga oleng dan menabrak pembatas jalan."
"Lo ngomong apa sih, jangan cerita yang enggak-enggak sekarang kakek di mana aku mau bicara."
"Kakek kecelakaan sempat kritis dan di bawa kerumah sakit."
"Radit jangan bohong aku gak mau denger apapun yang akan keluar dari mulutmu."Teriaku dan langsung menyerahkan ponsel kepada Raihan.
"Kembalikan kursi dan meja seperti sedia kala, jangan ada yang menggeser kursinya!" Tapi tidak ada satupun yang mendengarnya, mereka tetap bekerja tanpa menghiraukan ucapanku.
"Bilang ke mereka kakek hanya lecet, hanya luka jangan ada yang memindahkan meja kursinya." Rengek ku pada Raihan, Meskipun Radit belum bicara apapun. Pikiran ku sudah tidak menentu, karena aku tahu diusia kakek yang sudah terbilang tua. Kakek selalu berkendaraan sendirian, kecuali jika perjalanan ke luar kota.
Raihan hanya diam duduk di sampingku, mendengar setiap ucapan yang aku dengarkan. Tanpa bertanya atau berekpresi.
"Kakek jahat setelah menjatuhkan harga diriku, sekarang meninggalkan aku tanpa penjelasan. Harusnya menjelaskan dulu padaku, bukan main tinggal. Kakek harus tanggung jawab dengan perkataannya." Aku terus berceloteh hingga terdengar suara ambulans di susul mobil papi.
Dari dalam mobil ambulans Radit keluar, dan dari mobil papi nampak mami berjalan memapah nenek.
Ingin aku berjalan menghampiri dan bertanya kepada mereka, kalau ini bohong, kalau ini cuma mimpi. Tapi tubuh ini terasa lemas, jangan kan untuk berjalan mendekat, untuk membuka mulut saja terasa susah.
"Kakak dengerin papi. Apa yang terjadi hari ini sudah takdir, yang ikhlas biar jalan kakek juga mudah." Bisik papi menemuiku di kamar,aku masih tidak percaya dengan ini semua.
"Raihan baru cerita, katanya kakek melamar Raihan untukku. Apa papi tahu? Setelah merendahkan harga diriku, sekarang dengan seenaknya saja kakek pergi tanpa pamit. Harusnya kakek menemui ku dahulu, harusnya kakek bilang langsung padaku."
"Iya maafkan kakek ya, maafkan kakek. Ikhlaskan kakek." Entah apa yang terjadi selanjutnya aku tidak tahu, dari pada saudara lelaki ku aku lebih dekat dengan kakek. Baik kakek dari mami atau papi, apalagi 4 tahun sekolah di Singapura tinggal bersama mereka.
"Biarkan dia istirahat pasti berat buatnya, baru beberapa bulan lalu Abi pergi sekarang papa juga pergi meninggalkannya." Ucap papi sambil memakaikan selimut untuk menutupi tubuhku. Mungkin karena kecapaian menangis membuatku tertidur di pelukan papi.
Adzan subuh membangunkan aku," Hanya mimpi." Ucapku sambil berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan selanjutnya menuaikan sholat subuh. Jujur aku tak berani keluar untuk melihat kenyataan, bahwa semalam bukan mimpi.
Tok tok "Kakak,papi boleh masuk." Ucap papi,aku tidak menjawab hanya melirik jam dinding yang sudah pukul 8 pagi.
"Kita turun yu!"
"Yang semalam hanya mimpi kan pi?"
"Kakak kan sudah paham, hidup mati sudah di tetapkan sebelum kita lahir ke dunia."
"Tapi kenapa mendadak sekali, ini terlalu mendadak buat ku."
"Ikhlas ya. Mau nganterin kakek ke peristirahatan terakhir ?"Lantas aku mengaguk dengan pertanyaan papi.
Setelah 3 hari tidak kerja, waktu aku masuk kerja banyak mata yang memandang aneh kearah ku.
"Gimana sudah lebih baik,?"tanya Wanda.
"Baik, maaf aku cuti mendadak," ucapku tidak enak hati karena lagi banyak kerjaan.
"Kami maklum kamu lagi berduka," ucap Alvin.
"Kalian tahu?"
"Ini,kami tahu dari sini,"ucap Alvin sambil menyodorkan ponselnya.
Hot news.
Di pemakaman Cakra Wiraguna nampak wajah triple R.
Rihanna Eka Wiraguna
Randi Bisma Wiraguna
Radit Bima Wiraguna
Nampak jelas fotoku, Randi dan Radit.Aku tidak nyangka di saat duka begini masih aja di manfaatkan oleh para yang pengejar berita.
"Kami paham, kamu pasti punya alasan tersendiri kenapa menyembunyikan identitas mu."
"Paling tidak sekarang aku tidak perlu sungkan, jika kamu traktir kita." Canda Arya, menimpali ucapan Wanda.
"Terima kasih tidak menghakimi aku."
"Buat apa menghakimi mu, itu urusan mu dengan wartawan. Tapi kami akan siap membantu jika kamu butuh bantuan." Ucap Alvin yang di anggukin oleh yang lainnya.
Aku sadar hari ini banyak orang yang sengaja lewat depan ruanganku, bahkan ada yang berpura-pura mencari alasan yang tidak jelas.
Saat pulang pun aku terpaksa bertukar kendaraan dengan punya Alvin, untuk mengecoh beberapa wartawan yang ada di depan lobby.
"Aku akan menuntut mereka yang sengaja mengungkapkan data pribadi putri ku." Ucap suara papi terdengar saat kakiku melangkah masuk ke dalam rumah. Nampak ada beberapa orang di ruang keluarga selain keluarga ku, ada juga Raihan beserta keluarganya.
"Jika kamu lakukan itu orang akan menilai mu terlalu arogan,"ucap Aryo.
"Toh percuma saja kamu tuntut mereka, identitas Randi dan Rihanna sudah di ketahui banyak orang," Ucap Arya.
"Kalian jangan egois hanya memikirkan identitas Rihanna, pikirkan juga nasib orang yang tidak ikutan terkena imbasnya." Ucap nenek membuatku semakin penasaran untuk menguping pembicaraan mereka.
"Disana belum jelas, mereka hanya menebak antara Erlangga dan Raihan yang berada dalam satu mobil dengan pengemudi." Ucap Bintang membuatku sekarang paham, bahwa berita yang sebenarnya sepele,bisa menjadi besar jika dialami oleh orang yang berbeda. Mungkin jika aku warga biasa, bukan dari kalangan terpandang tidak akan seheboh ini beritanya. Apalagi mengingat kakek purnawirawan,papi pernah menjadi perwira polisi yang sekarang bergelut dengan dunia hukum.
"Terkadang kita bisa berada di tempat yang salah di waktu yang salah. Jadi apa yang terjadi dengan Raihan, saya dan keluarga tidak menyalahkan Rihanna. Jadi jangan dibesar-besarkan, Raihan tidak apa-apa menerima Hukum Disiplin militer,"ucap om Luki.
"Benar kamu tidak masalah apa kamu tahu hukumnya. Hukum disiplin bukan sekedar pus up 100 kali, atau sikap taubat. Bisa saja Raihan mengalami penahanan disiplin mungkin 14 (empat belas) hari atau penahanan disiplin berat paling lama 21 hari." Ucap nenek, membuatku tak percaya.
"Apa kata mama bener, apalagi Erlangga berada dalam instansi yang sama. Apa tidak mungkin mereka."
"Tunggu Erlangga siapa,?"tanya Om Aryo memotong ucapan papa. Aku memang pergi menuju garasi, sayup-sayup masih terdengar papi menceritakan tentang kedatangan keluarga Wirawan.
Kenapa hidup tenang ku bisa, berubah seperti ini hanya karena masalah sepele. Dengan mengendarai motor milik satpam rumah, aku menyusuri jalanan malam kota Jakarta.