
Malamnya Shaka sudah bersiap dengan pakaian rapi. Dengan kemeja putih dan celana hitam, tak lupa sepatu dengan warna yang senada. Menatap sekilas ke arah cermin, Shaka lanjut melangkah keluar kamar.
Bertepatan dengan Ale yang sama-sama keluar kamar. "Berangkat sekarang?"
"Nggak besok,"
Berdecak sebal. "Yang reuni angkatan berapa?" tanya Ale lagi.
"Nanya mulu, kayak wartawan!" cetus Shaka. "Angkatan 33 sampai 37. Napa mau ikutan?"
Ale menggeleng cepat. "Gak, tanya doang." katanya. "Tugas sekolah gue masih banyak," tambah Ale.
Bicara tentang sekolah, Ale sudah memasuki kelas menengah dan sekarang sudah masuk kelas 12 saja, tinggal menunggu beberapa bulan lagi Ale akan memasuki kuliah.
"Sok rajin," cibir Shaka. "Mama mana?" tanya Shaka pada Ale.
"Istirahat, udah tidur kayaknya."
"Gue duluan deh, bentar lagi acaranya mulai. Ati-ati di rumah, jangan berisik. Awas aja kalau sampai gue denger Mama kenapa-napa, lo orang pertama yang gue interogasi!" Shaka menunjuk Ale dengan jari telunjuk nya, tak lupa memberi kecupan singkat pada adik kesayangan.
Meski berantem terus, yakinlah ada kerinduan jika keduanya saling berjauhan. Entah dari Shaka sendiri ataupun Ale.
Disisi lain, Runa juga sudah bersiap untuk berangkat. Dengan dress hitam, Runa melangkah ke bawah. Ternyata di bawah ada Bunda, Ayah dan Bang Arfan yang asik bersantai.
"Malam," sapa Runa memasuki ruang tamu.
Bunda Yuna tersenyum, melihat Runa yang sudah rapi. Terlihat sangat pas di tubuh gadis itu. "Udah siap?"
Runa mengangguk lalu tersenyum. "Udah Bunda,"
"Mau kemana lo?" tanya Arfan sambil menatap pakaian yang Runa kenakan dari atas hingga bawah.
"Reuni,"
"Mantan dong?" sahut Arfan.
"Nggak usah mulai deh," seru Runa. "Udah ah, Bang Arfan nggak seru. Bunda, Ayah, Runa pamit ya. Assalamu'alaikum!" tak lupa menyalami tangan mereka Runa langsung melangkah keluar.
Ternyata di sana sudah ada Rama yang sudah siap dengan tuxedo hitam. Rama yang awalnya asik memainkan ponsel kini berganti menatap Runa, lelaki itu tersenyum dan langsung menghampiri Runa.
Tangannya tergerak membuka pintu mobil, perlahan Runa masuk ke dalam. Rama menutup pintu perlahan cowok itu mengitari mobil dan duduk di samping kemudi.
Perlahan mobil itu jalan meninggalkan pekarangan Runa. Sebelumnya cowok itu memasang seat belt pada Runa, "Cantik," komentar Rama setelah memasangkan seat belt.
"Makasih Ram," balas Runa.
Selanjutnya tak ada pembicaraan diantara mereka, sambil menatap luar jendela, Runa memegangi dadanya yang terus berdetak kencang. Rasanya ingin lompat dari tempat.
Shaka sendiri baru saja sampai di kawasan Trisatya, selesai memarkirkan mobil. Cowok berkemeja putih melangkah memasuki lapangan. Suara dentuman musik begitu terdengar kencang.
Mendekati gerombolan anak-anak yang tak jauh dari sana. "Wih pak bos datang juga," Bram dengan hebohnya membuka obrolan.
Tara yang ada di samping Bram tak lupa menyapa. "Gimana kabar lo?" Tara memang tak di Jakarta lagi, melainkan berada di Singapura untuk mengurus perusahaan sang Papa.
"Baik alhamdulillah, lo sendiri?"
"Baik dong, kalau nggak kagak mungkin gue kesini." Tara bergurau diakhiri dengan tawa.
"Rayn mana?" tanya Shaka pada yang lain. Shaka tak nampak Rayn dari tadi.
"Toilet dia," jawab Arthur sambil memakan cup cake. "Gue curiga sama tuh bocah. Udah lima belas menit apa jangan-jangan---" kata Arthur yang menggantung.
"Kagak usah ngadi-ngadi jadi bocah!" sungut Rayn dengan kesal nya, cowok itu mengeplak kepala Arthur.
"Aduh!" ringis Arthur sambil mengusap kepala yang terkena pukulan Rayn. "KDRT lo!"
"RUNAAA!" pekik Vanya tiba-tiba. Membuat beberapa pasang mata menatap ke arah cewek berambut sebahu dengan dress putih. Begitu juga dengan inti Alastair yang juga menatap ke arah mana Vanya menatap.
Vanya langsung melepas pegangan tangan, cewek itu berlari menghampiri Runa yang barus saja keluar dari mobil. "Runa!" pekik nya kembali.
"Vanya," dengan sedikit terkejut. Runa membalas pelukan Vanya.
"Ini lo?" Vanya memutar balikkan tubuh Runa ke kanan dan ke kiri.
Mencoba memastikan apakah sosok di depannya memang benar-benar Runa atau hanya sosok yang mirip dengan sahabat nya itu.
Runa terkekeh kecil. Gadis itu mengusap tangan Vanya dan menggenggam nya. "Iya ini aku," ujar Runa.
"Astaga ini beneran lo?! Ya ampun Runa, gue kira lo ilang tau mana nggak ada kabar lagi." Vanya hampir saja takut kehilangan Runa. Gadis itu tak ada kabar sama sekali dari mulai kepergian gadis itu yang juga tak ada kabar.
Vanya malah mengira kalau Runa kecelakaan atau hilang. Karena nomor yang Vanya hubungin selalu saja tak aktif ditambah dengan sosial media Runa yang sama saja sudah tak terpakai.
"Maaf ya Van. Aku ganti nomor, handphone aku juga ilang waktu di Jogja jadi nomor kamu gak ke simpan," Runa jadi tak enak.
"Nggak masalah. Eh ke sana yuk, ada anak-anak tuh!" Tanpa aba-aba Vanya langsung menarik Runa mendekati inti Alastair berkumpul.
"Van pelan-pelan!" Runa sedikit tak seimbang.
"Hai Runa!"
"Hai kak!" balas Runa sedikit canggung.
"Sayang aku kan udah bilang, gak usah lari-lari!" tegur sesosok pria dari arah belakang. Yang langsung membuat anak-anak lainnya menatap Rama.
"Maaf," cicit Runa.
"Dia siapa?" tunjuk Vanya pada Rama.
"Gue Rama, pacarnya Runa." Rama memperkenalkan dirinya, sambil memeluk erat pinggang Runa. Ingat kan Runa miliknya dan akan selalu menjadi miliknya.
Seketika suasana yang ramai berganti menjadi canggung. Tak jauh dari sana, Shaka berdiri menatap Runa dan Rama. Otaknya kembali bekerja, menatap sosok gadis yang kini telah menjadi milik orang lain.
Runa yang dipeluk Rama menjadi sedikit risih akibat tontonan anak-anak, manik mata coklatnya menatap ke arah lain. Hingga berhenti pada satu titik, dimana Shaka berdiri, keduanya saling bertatapan cukup lama.
Tatapan yang dulu berhasil membuat Runa jatuh cinta, kini telah tiada. Hanya menyisakan tatapan yang dingin dan menusuk.
"Ram, aku ke toilet dulu." Runa perlahan menurunkan tangan Rama dari pinggang, dan perlahan meninggalkan lapangan.
Sampai di kamar mandi, Runa dengan cepat masuk ke dalam. Menatap dirinya di pantulan cermin, kini Runa bingung, dia kalang kabut. Perasaan sedih, kesal, marah seketika berdatangan menghujani hatinya.
"Runa," seseorang memanggilnya.
"Kamu sama dia---"
Dengan cepat Runa berbalik dan langsung memotong ucapan lelaki didepannya. "Aku sama Rama pacaran. Kenapa?"
"Segitu cepatnya?" tanya Shaka dengan nada serak.
"Emang harus berapa lama? Nantikan kamu lagi yang gak ada kabarnya itu?!" tanya Runa dengan nada lumayan tinggi.
"Maaf aku gak tepati janji aku waktu itu dan maaf karena kamu harus nunggu lama,"
"Justru itu kak! Aku cewek dan aku butuh kepastian bukan hanya sekedar janji manis yang kamu ucapkan waktu itu!" kata Runa sarkastik. Dan langsung pergi meninggalkan tempat, meninggalkan Shaka yang terdiam di kamar mandi.
...
Update dobel semua, jangan lupa jejaknya. Inget perjanjian di atas 😉