
Galang mengangkat sebelah alisnya, lalu menatap Runa cukup lama. "Sebentar, ini cuacanya bagus begini, lo minta gue cerita, yakin?" Galang mempertanyakan kembali.
"Iyaa mau gimana lagi, aku juga gak mungkin harus nunggu dia cerita, apalagi sekarang..." belum juga Runa berkata, Galang dengan cepat memotong pembicaraan.
"Ada Kania? Right," tanpa Runa jawab pun cowok itu tau jawaban Runa seperti apa.
"Kok kamu tau?" Runa menatap Galang terheran-heran.
Galang tertawa sumbang. "Ayolah Run, gak usah becanda. Siapa sih yang gak kenal Kania? Cewek pindahan yang buat nama Trisatya jelek di kata orang-orang?" Berita itu memang tak begitu lama terjadi mungkin sekitar 1 bulan setengah. "Bahkan bukan gue doang yang kenal dia, satu sekolah Putra Tiga juga tau kali Kania siapa." Sambung Galang.
Astaga, Runa sampai melupakan kejadian itu. Kejadian dimana masalahnya semakin menambah rumit. "Ah, iya lupa." gumam Runa.
"Lang, boleh cerita sekarang?"
"Na, lo yakin? Maksudnya gini loh, gue sebenarnya gak berniat buat ikut campur ke urusan kalian berdua ya. Apalagi masalah beginian, cuma dilihat-lihat emang Shaka udah kurang ajar sama lo." Tutur Galang membuat Runa mengangguk paham
"Ya mau gimana lagi, sebenarnya aku lancang buat tanya ke orang lain tanpa bertanya ke pemiliknya." Dengan situasi seperti ini Runa masih memikirkan perasaan Shaka? "Tapi aku juga gak mau nunggu lama-lama, aku bukan cewek yang bisa menahan semua nya sendiri." sambung Runa.
Galang mengangguk mengerti. "Oke kalau itu mau lo, jadi gini---" ucapan Galang terpaksa terhenti akibat handphone milik Runa berdering yang mau tak mau membuat gadis itu mengangkat nya sebentar.
"Eh bentar," cegah Runa, melirik sekilas ke arah nama yang tertera di nomor ponsel. "Halo Bang?"
"Lo dimana?"
"Lagi di cafe, kenapa Bang?" tanya Runa balik.
"Balik sekarang, ini udah jam sembilan, gue gak mau lo kenapa-napa, besok bisa lo lanjut buat keluar lagi, buruan balik, sebelum rumah gue kunci."
Runa hanya bisa memijit pelipisnya, akibat asik mengobrol bersama Galang, dia sampai melupakan jam. "Iya, iya Bang, Runa bentar lagi pulang, tunggu bentar jangan di kunci!"
"Oke, buruan ya udah malam." Arfan langsung mematikan panggilannya sepihak.
"Ada apa Run?" Galang bertanya, cowok itu dapat melihat perubahan raut wajah dari Runa.
"Kayaknya ceritanya lanjut besok lagi deh, aku harus pulang. Udah di tungguin sama Bang Arfan." ujar Runa sambil membereskan barang-barang.
"Naik apaan lo?"
"Jalan atau gak ojek, deket kok paling 10 menit doang." jawabnya.
"Gue antar gih, yuk biar lo aman sekalian. Udah malam juga," tutur Galang, cowok itu kembali memakai jaket miliknya dan melangkah ke arah motor.
...
Makin hari, hubungan Shaka dan Runa bertambah rumit, banyak sekali keributan diantara ke dua pasangan remaja itu. Apalagi hadirnya seorang gadis pindahan yang semakin memperkeruh suasana permasalahan mereka.
Coba bayangkan siapa orang yang rela pacarnya lebih mementingkan sahabat barunya di banding pacarnya sendiri? Kalau pun ada, ku rasa dia psikopat.
Seperti siang ini, Shaka mengajak Runa untuk keluar sebentar untuk makan siang. Akibat hari ini hari libur jadi mereka bisa bersenang-senang.
Runa menatap dirinya ke pantulan cermin, gadis itu tersenyum bahagia, akhirnya mereka bisa keluar berdua seperti dulu lagi.
Dengan langkah riangnya, Runa berjalan menghampiri Shaka yang sedang memainkan handphone sambil bersandar pada motor.
"Jadi keluar kan?" tanya Runa berhasil membuat Shaka menghentikan aktivitas bermain handphone nya sejenak.
"Jadi, yuk." Shaka ingin memberikan helm yang dia bawa pada Runa, namun seketika berhenti, ketika handphone miliknya berdering.
"Halo? Oke, Oke gue ke sana sekarang, gue titip Kania bentar, gue otw ke sana." ekspresi Shaka seketika berubah drastis.
"Ada apa?" Tanpa Runa bertanya, dia juga tau apa yang terjadi, pasti juga karena Kania, Kania dan Kania.
"Kania pingsan di kamar mandi, aku harus ke sana sekarang. Hari ini kita batalkan makan siangnya ya? Gak papa kan?"
Sial! lagi dan lagi, kenapa gadis pindahan itu yang selalu Shaka ucap dan selalu Shaka prioritas, sungguh Runa merasa iri pada Kania. Dan ya, Runa benar-benar rindu pada Shaka yang dulu.
Runa mengulum bibirnya ke dalam, sekuat tenaga dia menahan semuanya dalam hati, lalu menganggukkan kepala kecil. "Iya, gak papa kok. Urus aja kak Kania nya."
Tanpa sepatah kata apapun Shaka dengan cepat mengendarai motor nya pergi meninggalkan pekarangan rumah Runa, Runa hanya bisa menatap kepergian motor milik Shaka.
"Runa iri deh sama kakak," batinnya menangis. Percuma juga, kalau Runa menahan Shaka untuk diam di sini, yang ada malah dirinya yang tersakiti.
...
"Kania?" Shaka berlari menghampiri gadis itu dan membantunya duduk. "Kok lo bisa pingsan lagi, penyakit lo kumat?" Shaka menatap Kania dengan mimik wajah khawatir nya.
"Shaka? Iya tadi waktu mau keluar kamar mandi, Tiba-tiba kepala aku pusing, maaf ya Sa, gara-gara aku kamu jadi repot-repot buat ke sini." kata Kania dengan lirih.
"Gak usah pentingin gue, keadaan lo gimana? udah membaik belum atau lo mau kita ke rumah sakit biar sekalian keadaan lo di periksa?" Tawar Shaka.
"Eh, e-enggak usah, aku udah baikan kok, aku juga udah gak papa. Cuma puding doang, kayaknya habis kecapean deh akibat semalam lembur," Kania berkata sambil memijit pelipisnya.
"Lo masih kerja?" Shaka sudah melarang untuk Kania pergi kerja, malahan dia yang menawarkan diri untuk membantu Kania.
"Mau gimana lagi, kalau aku gak kerja. Aku makan apa Sa?" Kania menatap Shaka singkat.
"Gue bisa bantu lo, atau gak lo kerja ke perusahaan bokap gue dari pada lo kerja kayak gini."
Kania menggeleng pelan. "Gak bisa Sa, aku udah terikat kontrak. Kalau aku keluar, aku bisa kena pinalti."
"Lo gak usah pikirin dendanya gimana, itu biar gue yang urus. Tapi gue mau lo harus segera keluar dari tempat itu, secepatnya!" Shaka berkata sambil menekan setiap perkataannya.
...
Pagi yang cerah, secerah matahari bersinar. Runa, gadis itu sudah siap untuk berangkat ke sekolah, menuruni satu persatu anak tangga dan berjalan menuju meja makan.
"Pagi Bunda, pagi Ayah, pagi Bang." Dengan senyum semanis mungkin, Runa menyapa seluruh keluarganya.
"Pagi Dek, udah bangun aja. Lo berangkat sama siapa pagi ini?" tanya Arfan seraya mengoleskan selai coklat ke selembar roti tawar.
"Bang Arfan berangkat pagi ini gimana?" Runa malah mempertanyakan kembali.
"Gue tanya lo juga, gue sih berangkat kayak biasa. Lo mau bareng gue apa bareng Shaka?" tanya Arfan, yang berhasil membuat Ayah Bima kaget.
"Shaka siapa dek?" tanya Ayah Bima pada Runa.
"Itu Yah, pacarnya Runa." Sahut Arfan terlebih dahulu, lelaki itu tertawa kecil melihat ekspresi Runa yang murung seketika.
"Anak Ayah udah besar aja, inget ya dek! Kalau cowok udah bermain kasar, baik dalam ucapan ataupun perilaku, langsung tinggalkan, gak usah di pertahankan." Ujar Ayah memberikan peringatan.
Deg!
Berarti- selama ini?
Runa mengangguk cepat seraya tersenyum manis. "Iya Ayah, Runa bakal selalu ingat pesan Ayah." seru Runa. "Maafin Runa Yah, Bun, Bang, lagi-lagi Runa harus bohong ke kalian semua." sambut Runa dalam hati, tak berhenti sampai situ Runa terus meminta maaf atas tingkah lakunya yang berbohong.
"Sarapan dulu yuk, nanti lanjut lagi ngobrolnya. Kalian berdua nanti bisa telat," Bunda mengajak Runa untuk duduk di sampingnya. Keluarga kecil itu melaksanakan sarapan dengan tenang.
"Bun, Yah, Arfan sama Runa berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum!" pamit Arfan pada Ayah dan Bunda, di susul dengan Runa.
"Hati-hati ya Bang!" tegur Ayah.
Arfan mengacungkan jempolnya, sedikit mempercepat langkah untuk masuk ke dalam mobil. Perlahan, mobil yang ditumpangi keduanya meninggalkan pekarangan rumah. Di dalam mobil tak ada suara, hanay suara musik yang terdengar.
Hingga suara Arfan terdengar. "Runa,"
Runa yang tadinya melamun, kini menatap Arfan dengan tanda tanya. "Ada apa Bang?"
"Gue mau tanya sama lo, lo sama Shaka baik-baik aja kan? Soalnya gue lihat hampir beberapa bulan ini lo gak sama dia lagi, terus yang biasanya antar jemput malahan udah gak. Lo gak papa kan sama dia?" Arfan melirik sekilas ke kaca mobil, menantikan jawaban dari adiknya itu.
"Gak papa kok, aku sama kak Shaka baik-baik aja, kak Shaka lagi sibuk Bang. Tau sendiri kan kak Shaka kelas berapa? Udah kelas 12, pastinya dia bakal sibuk sama kegiatan sekolahnya." tutur Runa. "Maksudnya sibuk ngurusin temen barunya," lanjut Runa dalam hati.
"Sibuk sih sibuk dek, tapi kan aneh aja. Masa iya gak kayak dulu lagi yang hampir tiap saat jemput lo. Gue tau sih kelas 12 bukan lagi main-main lagi, waktunya dimana kita tentukan masa depan. Tapi kan gak mungkin juga dia diemin pacarnya gitu aja." Arfan tau kelas 12 bukan waktunya bercanda, namun kadang Arfan merasa ada yang aneh saja pada hubungan keduanya.
"Ya masa aku harus bilang ke Abang kalau 24 jam sama kak Shaka? Gak mungkin dong, lagian gak semua hubungan harus dipertontonkan." Serunya sambil menekan kata akhir.
Arfan terkekeh. "Udah pinter ya lo sekarang!" katanya sambil mengusap lembut surai Runa.
Tak terasa mobil Arfan telah berhenti di depan gerbang Trisatya. Membuat Runa melepaskan seat belt lalu turun ke luar, sebelum nya Runa pamit terlebih dahulu pada Abangnya.
"Runa turun dulu ya Bang, semangat yang bentar lagi lulus." Beberapa bulan lagi Arfan memang akan melaksanakan kelulusan, tinggal skripsi saja untuk bulan depan.
"Lo juga, semangat sekolahnya biar dapat beasiswa." Arfan mengecup singkat kening Runa dengan tulus, lalu memeluknya singkat.
"Ati-ati Abang!"