
...Part ini aku mau kamu putar lagu Belum Siap Kehilangan - Stevan Pasaribu....
..."Di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan, hanya saja yang membedakan diantara keduanya adalah kejadian." -Arshaka Aruna....
…
Shaka telah tiba di rumah sakit, tanpa menunggu lama cowok itu berlari mencari ruangan dimana Runa di rawat dan meninggalkan Rasya begitu saja.
"Assalamu'alaikum," ucap Shaka dengan napas yang tak stabil.
Semuanya menoleh menatap Shaka yang saat ini tengah mengatur napas. "Runa mana?" tanya Shaka to the poin.
"Ada di dalam," balas Arfan mempersilakan Shaka untuk masuk dan menengok keadaan Runa.
Tanpa menunggu lama Shaka masuk ke dalam, langkahnya perlahan menjadi pelan tatapannya mengarah pada Runa yang terbaring lemah dengan berbagai alat yang menancap di tubuhnya.
Takutnya kini menjadi nyata, mimpinya saat ini terjadi juga.
"Sayang?" suara Shaka melemah, perlahan-lahan ia mulai mendekati brankar berisikan Runa di atasnya. Tubuhnya merosot seketika begitu sampai di samping Runa.
"Maaf," hanya ucapan itulah yang keluar dari mulutnya. "Maaf udah buat kamu kayak gini," imbuhnya lagi dengan nada bergetar.
Hatinya terasa seperti tertusuk oleh ribuan duri, hatinya tak kuat melihat Runa yang terbaring lemah seperti ini. Gadis yang kemarin ia rindukan ketika pulang kini berbeda. "Aku ada disini, aku bakal temenin kamu. Segera sadar cantik," bisik Shaka. Air matanya perlahan mulai membasahi pipi.
Disisi lain semuanya menatap Shaka dari arah luar, mereka sama-sama menetaskan air mata. Harapan yang Shaka nantikan kini hanyalah impian, Runa yang menyambutnya pulang kini berubah menjadi Shaka yang menyambutnya sadar.
"Princess nya Abang, ayo bangun! Udah ada Shaka di samping lo, ayo buka matanya!" batin Arfan berteriak.
"Anak Bunda ayo bangun sayang, kamu masih ada janji sama Bunda kemarin. Katanya mau bikin kue sama-sama, ayo nak buka matanya!" batin Yuna, wanita itu telah menangis di dalam pelukan Bima.
...
Hari telah berganti malam, keadaan Runa makin kesini semakin mengkhawatirkan. Janin dalam kandungan Runa perlahan mulai melemah. Kecil kemungkinan jika kandungannya akan selamat.
Sampai malam ini Runa masih dalam keadaan koma, perempuan itu masih tetap setia menutup kedua matanya rapat-rapat. Hingga detik ini Shaka masih berusaha untuk mengajaknya mengobrol meski ia tau jika hasilnya nihil.
Shaka memandangi wajah pucat istrinya, hari ini hari ketiga paska kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan itu sudah di tindaklanjuti oleh polisi, dan kini tengah dalam masa pencarian pelaku dan korban.
Dari CCTV tempat kejadian. Polisi menemukan suatu hal bahwa pengendara truk yang menabrak Runa tempo hari tengah melaju kencang, hal itulah yang membuat Runa terpental hingga beberapa meter.
Di dalam kini tak hanya Shaka saja, melainkan semuanya juga berkumpul. Ada Ale, Lea, Al, Bunda, Ayah, Kak Jihan, Bang Arfan, Banyak dan ke-lima anggota Alastair. Tara baru saja tiba di Indo begitu mendengar kabar jika Runa mengalami kecelakaan dan mengalami koma.
Kelimanya menatap Shaka kasihan, lihatlah! Cowok itu begitu terpuruk, badannya sudah tampak berbeda. Seperti orang yang tak di urus. Baru saja sehari ditinggal Runa sudah seperti ini.
"Ayo sayang, bangun! Tepati janji kamu buat kita sama-sama rawat Shaka Junior. Please wake up," bisik Shaka melemah.
Makin kesini hatinya dan pikirannya beradu, keduanya berbeda pendapat. Pikirannya berkata bahwa Runa akan sadar, tapi hatinya berkata terbalik.
Ditambah dengan perkataan dokter tadi siang, jika memang sampai saat ini Runa tak kunjung sadar dari masa koma nya, maka Shaka harus bersiap merelakan kepergian anaknya.
Lea berjalan menghampiri Shaka, wanita itu mengusap kedua pundak anaknya. "Sa, ayo makan. Kamu belum makan dari tadi pagi, makan ya walaupun dikit."
Shaka menggeleng lemah. "Enggak Ma, Shaka gak laper."
Bagaimana bisa dirinya makan enak sementara Runa harus berada di dalam ambang kematian?
"Ya Tuhan hamba mohon, selamatkan istri hamba. Hamba ikhlas jika anak hamba tak bisa diselamatkan," batinnya berdoa.
"Lo istirahat sana, dari kemarin lo belum istirahat sama sekali. Sekalian juga lo makan," ujar Ale. "Gimana nantinya kalau kak Runa sadar dan lihat lo kayak gini?" tanya Ale kembali.
"Gue masih kuat buat jaga Runa."
Ale menutup matanya sejenak, diiringi oleh hembusan napas pasrah. Gimana mau paksa kalau kayak gini terus. Abangnya ini memang sangat keras kepala jika di kasih tau. "Ck, keras kepala lo."
Di alam sadar di Runa, gadis itu terbangun di sebuah rumah pohon yang ada di tengah hutan, dikelilingi oleh rerumputan. Ia menatap bingung tempat itu.
"Aku ada dimana?" gumamnya bingung.
Perlahan gadis itu bangkit dari tidurnya. Cukup kaget mengetahui pakaiannya sekarang, dress putih yang begitu cantik.
Manik matanya menatap sekitar, apakah ada orang ditempat ini? Sepertinya tidak ada. Runa pun mulai turun ke bawah, menatap ke depan dengan takjub.
Bunga bunga cantik yang tertata rapi. Luas sekali tempat ini, batinnya. Ini tempat apa? Runa baru melihatnya. Satu persatu pertanyaan terlontar di mulutnya.
Kaki kecilnya berjalan menyusuri rerumputan. Gadis itu berlari menikmati terpaan angin sembari merentangkan kedua tangannya.
Langkahnya terhenti ketika seseorang berdiri tak jauh dari tempatnya berada, perempuan itu berdiri membelakangi nya.
"Kamu siapa?" pertanyaan Runa membuat perempuan itu menoleh.
Perempuan itu tersenyum dan memperkenalkan diri. "Aku Aqilla, selamat datang disini."
Runa mengerutkan dahi. "Aqilla? Nama yang tak asing di telingaku."
Perempuan itu tersenyum lantas menarik Runa dan keduanya berlari, keduanya tertawa gembira seakan tak ada beban.
"Sebentar!" Runa menghentikan larinya membuat perempuan itu ikutan berhenti.
Qilla menoleh. "Ada apa?"
"Kenapa aku ada disini?"
"Karena ini tempat mu," jelasnya singkat.
"Tempat ku? Ini bukan tempat ku," balas Runa kebingungan.
"Kau akan tau nanti, sekarang kembalilah ke tempat mu. Kita akan bertemu esok," ujar Qilla tersenyum.
"Maksudnya?" kini Runa tak paham dengan ucapan perempuan di hadapannya itu.
Tempat baru?
Dan bertemu nanti?
"Kau akan tau nanti." Qilla mulai meninggalkan Runa.
Runa menyipitkan matanya, menatap apa yang sedang Aqilla gendong. "Siapa yang kau gendong?" tunjuk Runa.
"Dia bayi mu, esok akan ku berikan ke kamu. Cepatlah kembali, dunia mu bukan di sana lagi, namun di sini." setelah itu wanita itu pergi begitu saja tanpa jejak sekalipun.
…
Elektrokardiogram yang ada di samping Runa seketika menjadi melambat, hal itu di sadari oleh Bram. "Kenapa layarnya lambat?" sontak semuanya menoleh ke layar. Benar saja detak jantung Runa perlahan melambat.
Shaka langsung memencet bel, tak lama dokter datang dengan beberapa suster dan menyuruh semuanya keluar. "Silakan keluar, saya akan memeriksa pasien."
Al dan Arfan langsung mencegah Shaka yang ingin memberontak, keduanya menarik Shaka keluar. Sebelumnya meminta maaf atas tindakan Shaka.
...
Semuanya menunggu diluar ruang operasi, setelah mengecek keadaan Runa dokter menyarankan Shaka untuk segera menandatangani persetujuan operasi.
Satu jam lamanya akhirnya pintu terbuka, beberapa suster keluar dengan langkah terburu-buru. "Gimana istri saya?"
"Maaf Pak, pasien mengalami pendarahan dan kini keadaannya kritis." Suster itu berkata lalu meninggalkan Shaka.
"Silakan tunggu diluar!"
Setengah jam berlalu, pintu pun terbuka. Dokter dan beberapa suster yang menangani Runa keluar dengan raut wajah yang sulit diartikan. Shaka buru-buru menghampiri dan bertanya.
"Gimana keadaan istri saya? Dia selamat kan?" Shaka menatap dokter itu serius.
Dokter itu hanya diam, sontak hal itu membuat Shaka geram. "Bagaimana keadaan istri saya? Dia selamat kan?!"
Dokter itu mengatur napasnya dan berkata. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Istri dan anak anda tidak dapat diselamatkan."
Jdar!
"Meninggal?" Shaka tertawa tertahan. "Bohong lo semua!" seru Shaka menunjuk dokter dan suster yang menangani Runa.
"Gak mungkin HAHAHAHA!" ujar Shaka tak terima, lalu tertawa keras setelahnya. "Gak usah becanda istri gue gak akan meninggal," seru Shaka kembali.
"SELAMATKAN ISTRI SAYA DOKTER!" teriak Shaka, wajahnya berubah drastis!
Kembali menggelengkan kepalanya. Sontak air matanya banjir membasahi pipi. "Gak! Dia kuat, dia gak mungkin meninggal!" Lea dan Ale langsung memeluk Shaka.
"Yang sabar Bang," bisik Ale.
"Dek, Runa gak meninggal kan? Dia selamat kan? Dokter itu cuma bohong kan?" Ale menggeleng lemah. "JAWAB GUE ALE!" teriak Shaka menghentakkan kedua pundak Ale.
Tanpa menunggu balasan dari Ale, Shaka langsung bangkit dan masuk ke ruang UGD begitu saja. Tak menghiraukan teriak yang lain.
Langkah Shaka perlahan mengecil, cowok itu menatap suster yang menutupi tubuh Runa dengan kain putih.
"Pasangan kembali semua alat itu. Istri saya belum meninggal!" bentak Shaka membuat dia suster di dalam saling tatap, antara takut dan bingung.
"Kenapa kalian diam? Ayo pasang istri saya belum meninggal!" berontak Shaka.
Semua yang berada di luar langsung menghampiri Shaka, mereka tau Shaka dalam keadaan emosi. Arfan menyuruh ketiga suster itu untuk pergi.
"Runa?" perlahan Shaka menghampiri Runa, cowok itu memegang erat ujung brankar, dan mulai membuka kain putih itu.
"Sayang," dengan cepat Shaka memeluk Runa, ini bukan mimpi lagi baginya.
"Sayang bangun! Kamu gak boleh pergi. Tepati janji kamu, Runa bangun." Shaka masih mencoba untuk membangunkan Runa.
"Udah Sa, lo harus ikhlas." Arfan mencoba menenangkan Shaka.
"Semaunya gak bener kan Bang? Ini semua cuma prank doang kan?" tanya Shaka pelan, sementara Arfan menggeleng lemah.
"Lo harus ikhlas, kalau Runa udah gak ada." Bisik Arfan memeluk adik iparnya.
Semuanya menangis menatap kepergian Runa. Vanya sudah menangis di dalam pelukan Rasya, cewek itu masih berharap bahwa semuanya hanyalah mimpi.
"Tega lo Run! Pergi gitu aja tanpa pamit. Kenapa harus lo yang pergi, disaat lo udah menemukan kebahagiaan lo. Kita udah janji loh buat jadi ibu yang baik buat anak-anak kita nanti," Vanya menjerit dalam hati.
Untuk kedua kalinya Shaka kembali merasakan kehilangan orang yang dia sayang.
…
Kediaman Shaka dan Runa sedang ramai-ramainya, banyak orang yang berkunjung untuk mendoakan kepergian Runa.
"Turut berdukacita buat Runa. Yang sabar ya, gue yakin kok kalau Runa bakal ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi Tuhan. Dia anak yang baik." Ismail datang dengan anggota Alastair lainnya.
"Makasih Bang udah datang, maafin Runa kalau dia punya salah sama lo." Shaka membalas pelukan Ismail.
"Udah gue maafin, dia anak baik." Cowok itu menepuk punggung Shaka memberikan semangat pada cowok itu.
Siang ini Runa akan segera di makamkan. Sekarang ini Runa tengah dimandikan. Tentunya kepergian Runa membuat semuanya kehilangan jati diri gadis itu. Runa gadis polos yang berhasil mengambil hati seorang Arshaka Virendra Aldebaran kini hanya tinggal kenangan.
Shaka melangkah ke atas untuk mengambil barangnya yang tertinggal, setelah menemukannya ia langsung kembali ke bawah. Tapi tatapan terhenti pada sebuah foto yang terpasang di dinding kamar.
Foto pernikahan keduanya.
Shaka tersenyum tipis, berat rasanya mengikhlaskan kepergian Runa. Kenapa secepat itu Tuhan mengambil Runa darinya?
Jika boleh buat ingin sekali rasanya biar Shaka yang menggantikan Runa.
"Secepat itu sayang kamu pergi?" lirih Shaka tak percaya.
…
Selamat jalan sayang, terima kasih atas apa yang kamu berikan selama ini, terima kasih atas kasih sayang dan cinta yang kamu berikan, makasih mau terima aku kembali kedalam hidup kamu. Makasih juga untuk dua tahun terakhir nya, semoga kamu tenang di sana.
Selamat tinggal junior papa, terima kasih sudah menambah warna dalam diri papa. Maafin papa ya karena kita gak akan bisa bertemu kembali, mungkin kamu pergi untuk menemani mama di sana. Salam hangat dari papa untuk mu.
Suara sirine ambulance berbunyi, pemakaman Runa akan segera di lakukan. Cukup banyak yang mengantarkan kepergian Runa untuk terakhir kalinya.
Motor ninja serta moge menghiasi kepergian Runa, menembus padatnya Jakarta. Shaka bersama Bunda dan Lea berada di dalam ambulance bersama Runa.
Shaka memegang erat kain penutup keranda itu, Lea yang menatap itu mengelus pundak Shaka. Wanita itu juga merasa kehilangan, sekarang tak ada lagi Runa.
Runa yang membantunya membuat sarapan, Runa yang menemaninya menonton film. Sekarang semuanya berganti menjadi kenangan, kenangan yang tak dapat terlupakan.
Lea mengelus pundak Shaka, memberikan bocah itu semangat.
...
Runa telah selesai dimakamkan sekarang, kayu nisan juga telah tertancap di sana. Shaka dan lainnya berjejer untuk menaburi bunga di makam Runa.
Cowok itu berjongkok tangannya menyentuh kayu nisan yang bertuliskan nama Runa.
"Sayang, selamat tinggal. Semoga kamu bisa tenang di sana, aku tak tau harus berbicara apa sama kamu, aku hanya bisa bilang Terima kasih dan Terima kasih yang sebesar-besarnya padamu, kamu tenang aja. Disini aku akan selalu mendoakan mu," Shaka mengecup kayu nisan itu, hatinya masih belum ikhlas untuk kepergian Runa.
"Selamat jalan putri bunda, Terima kasih sayang atas 25 tahun yang kamu berikan ke bunda, maafin bunda ya jika selama ini belum bisa memberikan yang terbaik buat kamu." -Bunda Yuna.
"Selamat jalan menantu mama, kayaknya rumah bakal sepi karena kamu gak ada, apalagi mama bakal ngerasa kesepian nantinya, gak ada yang bantu masak sama bantu temani mama lihat film. Kamu yang tenang di sana." -Mama Lea.
"Selamat tinggal putri ayah, makasih ya udah temani ayah sampai sini, ayah bangga sama kamu. Kamu lihat banyak sekali yang merasakan kehilangan kamu, sama seperti ayah. Maafkan kesalahan ayah kalau ayah belum bisa memberikan yang terbaik buat kamu." -Ayah Bima.
"Selamat jalan princess, princess lo paling benci ketika gue manggil nama lo dengan sebutan ini. Mungkin besok gue gak bisa buat jailin lo lagi, gak bisa buat lo marah, gak bisa buat lo nangis dan gue gak bakal bisa buat ketemu sama ponakan gue. Makasih selalu ada di samping Abang. Makasih juga udah selalu support Abang selama ini. Lo tenang aja di sana Bunda dan Ayah bakal aman sama gue." -princess Abang.
"Hai kak? Cepet banget perginya. Padahal Ale mau banget buat gendong ponakan onty, tapi dia juga ikutan pergi. Kak Runa tenang ya di sana. Kakak udah gak sakit lagi nanti, dan gak bakal minum obat lagi." -Ale.
"Hai Runa, selamat tinggal. Gue gak tau harus ngomong apa ke lo, banyak banget jasa dan pelajaran yang lo kasih ke gue. Semalam gue masih gak nyangka kalau lo bakal pergi, maafin gue kalau sering buat lo marah dan kesel, makasih juga atas pertemanan kita." -Vanya.
"Kepergian lo membuat kita kembali merasakan kehilangan sosok yang sama namun berbeda orang. Kepergian lo hanya menyisakan kenangan yang begitu indah. Lo cewek baik dan lo wanita kuat, perjuangan lo udah selesai sampai disini." -anggota Alastair.
...____...
...Sialan! Saya menangis. Yang gak nangis saya bilang hebat ✨...
...Gimana, nangis malam-malam enak gak?...
...Boleh minta 1 kata terakhir buat Runa?...
...Boleh minta 1 kata penyemangat buat Shaka?...
...____...
Saya selaku penulis Arshaka Aruna ingin berucap Terima kasih buat kalian yang setia menunggu cerita saya dan mohon maaf atas update lamanya. Terima kasih juga buat kalian semua yang selalu memberikan semangat di setiap episode yang saya buat, mohon maaf apabila ada kesalahan di setiap episode yang saya buat.