
Runa baru saja menyelesaikan panggilan guru. Gadis berambut panjang itu kini melangkah menuju ke kantin, pastinya Vanya telah menunggunya lama.
Satu minggu ini, Runa harus bolak-balik ke ruang guru untuk memenuhi nilai. Satu bulan sudah, nilai Runa perlahan turun, bukan turun biasa melainkan luar biasa.
Banyak sekali nilainya yang di bawah KKM, yang membuat Runa mau tak mau harus melakukan berbagai cara untuk memenuhi target, apalagi dia ingin nanti setelah lulus bisa masuk kuliah dengan beasiswa.
Menatap Shaka yang berada di dekat tangga, sedang menyendiri sambil memainkan handphone.
Tatapan yang begitu fokus membuat segaris senyum terbit di bibirnya muncul
Kalau dilihat begini Shaka terlihat lucu, tapi ada satu hal yang sangat sangat disayangkan. Brengseknya lebih ber dominan.
Sedikit mengumpulkan keberanian untuk mendekati Shaka, Runa perlahan mendekati lelaki itu.
Namun ketika melihat Kania yang datang dari bawah sambil membawa buku paket, ia mengurungkan diri dan memilih diam di tempat.
"Maaf ya Sa jadi nunggu lama, ada panggilan di ruang guru." kata Kania pada Shaka.
"Gak masalah," balas Shaka dengan singkat, sedikit melirik Kania sekilas dan melanjutkan bermain game.
"Shaka lagi apa?"
"Game," jawab Shaka membuat Kania menganggukkan kepala mengerti.
"Shaka," panggil Kania tiba-tiba.
Cewek itu perlahan mendekati Shaka dan menaruh tangannya di atas tangan milik Shaka. Lalu menggenggam nya, Kania tersenyum menatap Shaka yang menatapnya dengan ekspresi kaget.
Yang Runa lihat adalah Shaka hanya diam, cowok itu tak menjawab panggilan dari Kania dan sama sekali tak menegur bahkan menyentak -berbeda jauh dengannya.
Hal yang membuat jantung Runa kembali berdebar kuat, sembari memegang dadanya yang semakin terasa sakit.
"Jangan kaget gitu, kan udah biasa juga. Lagian Runa juga gak bakal tau, dia kan gak peduli sana kamu. Jadi, gak usah takut ya," ujar Kania pada Shaka.
"Lagian ya, kalau memang Runa peduli dan sayang sama kamu. Pastinya dia gak akan diam aja, dia pasti ngelakuin segala cara buat bikin hubungan kalian berdua kayak dulu lagi." Kania memulai aksinya.
"Buat apa juga mempertahankan Runa, cewek yang hanya bisa buat hidup kamu gak tenang."
"Aku akui kalau Runa cantik, tapi sayang dia malah main sama cowok. Aku mau tanya sama kamu, apa sih yang kamu lihat dari Runa? Cantik? Baik? pengertian?" tutur Kania.
"Shaka kamu harus ingat, bahwa kamu itu ketua geng. Anak yang disegani di sekolah ini, masa iya kamu pacaran sama cewek yang mainnya sama cowok, mana lagi itu musuh kamu." imbuh Kania.
"Dia gak pernah buat ulah, apalagi buat gue gak nyaman."
"Beneran?" tanya Kania memancing.
"Coba deh kamu ingat baik-baik, berapa banyak Runa ngelakuin kesalahan yang buat kamu malu," ujar Kania yang membuat Shaka terdiam.
"Sadar gak, kamu itu dari kalangan atas sedangkan Runa? Aku tau kalau Mama, Ale sama Papa kamu dukung kamu sama Runa. Tapi masa iya kamu mau sama Runa yang note bate nya anak biasa," katanya kembali memancing.
Kania semakin yakin, seberapa besar kekuatan Runa dengan keluarga Shaka lainnya. Terlihat jelas jika Lea dan Ale membela keras Runa dan Shaka menyatu, terlihat pada saat kecelakaan waktu itu terjadi.
"Kamu memang bisa bikin anak saya berubah, tapi jangan harap saya akan berubah dengan sifat kamu. Dan satu lagi, jangan pernah bermain-main dengan saya atau kamu lah yang masuk ke dalam perangkap permainan kamu sendiri." ujar Lea waktu itu.
Serta
"Gue akui lo cantik, tapi sayangnya lo gak ada harga diri bukan hanya di mata gue melainkan orang-orang. Gak sayang ya sama tubuhnya, kasihan banget, cuma karena mau balas dendam lo sampai jatuhkan harga diri lo." kata Ale dengan sarkas.
"Emangnya kamu mau jalin hubungan yang kayak gini, aku tau kamu terpaksa Shaka. Pasti kamu gak nyaman kan dekat Runa," ujar Kania kembali.
"Lo lihatnya gitu?" tanya Shaka.
"Iyalah," balas Kania.
"Sekarang gini deh, Runa itu lemah, buktinya dikit-dikit nyerah, dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngambek. Aku tau kamu pasti ilfil kan sama dia?" tanya Kania.
Runa langsung memutar balikkan tubuhnya, ketika berbalik dirinya tak sengaja menabrak suatu barang yang lantas membuat Shaka dan Kania menoleh bersamaan.
Hal itu membuat tubuh Shaka tersentak kaget, dan berlari meninggalkan Kania yang tersenyum di tangga, menatap tontonan yang sudah lama dia inginkan.
...
Shaka melangkah terburu-buru menuju kelas Runa, memastikan bahwa Runa baik-baik saja, melihat Runa yang meringkuk di pojok kelas. Berhasil membuat hati Shaka ter cubit.
"Ngapain ke sini?" Vanya menatap Shaka tak suka.
"Udah puas buat Runa nangis? Udah puas lihat Runa menderita. Udah puas buat sahabat gue sakit hah!" tanya Vanya tanpa melupakan nada pedasnya.
Vanya merasa kasihan pada sahabatnya itu, mengapa bertahan ketika sudah tersakiti seperti ini.
"Gue kesini buat ketemu Runa," balas Shaka.
"Gue boleh masuk?" tanya Shaka pada Vanya.
Vanya ber desis pelan. "Masuk aja kali, pintu lebar nih buat nampung dosa-dosa lo." Vanya berkata dengan sarkas.
"Lagian ngapain juga lo izin ke gue? Lo mah masuk tinggal masuk, cabut tinggal cabut. Kan anak donatur, jadi bebas dong buat ngapain aja. Emang ya yang berduit baru dihargai," cibir Vanya.
Jika saja Vanya bukan cewek maupun adik kelasnya, sudah Shaka pastikan cewek di depannya sudah babak belur terlebih dahulu. "Gue kesini cuma mau ketemu Runa. Bukan sama lo. Dan gue juga gak mau ribut sama lo,"
Vanya tertawa singkat "Dih, siapa juga yang mau ribut sama lo. Buang-buang waktu berharga gue aja," ujar Vanya.
Dapat terlihat dari gelagat Vanya, dan tanpa melupakan cibiran pedas dari bibir cewek dengan rambut sebahu itu. Bahwa, Vanya tau apa yang terjadi sebenarnya.
Sepertinya, Vanya dan Ale pas untuk membuat mental orang break dance. Pas, Sama-sama pedes kalau ngomong.
Vanya berdehem singkat. "Kalau lo kesini hanya buat Runa nangis lagi dan buat dia menderita. Mending lo pergi aja deh, urus tuh cewek lo." Usir Vanya.
"Gue nih antara bingung sama heran sama Runa. Kok bisa-bisanya dia punya cowok yang sejatinya kayak lo," tunjuk Vanya.
"Udah brengsek gak tau diri lagi," sindir Vanya.
Shaka memilih melangkah masuk tanpa menghiraukan cibiran pedas milik Vanya.
Vanya kalau udah membahas soal sindir menyindir itu pedesnya bukan main, bahkan cabai rawit aja kalah.
Keadaan kelas Runa tak begitu ramai, jadi bisa membuat Shaka lebih mudah mengobrol bersama gadis itu.
Shaka sedikit berjongkok, menatap Runa yang memunggunginya. "Runa," panggil Shaka sembari mengelus lembut surai Runa, tapi dengan cepat gadis itu tepis pelan.
"Kamu boleh pergi, aku mau sendiri." usir Runa dengan suara parau nya, terdengar jika memang gadis itu sehabis menangis.
"Kita bisa bicara berdua?" tanya Shaka.
"Mending kakak keluar aja deh, lagian kasihan tau kak Kania nya ditinggal." ujarnya pada Shaka.
Vanya yang berdiri di pintu langsung memilih keluar, tak melupakan untuk menutup pintu.
Sambil menyuruh teman-temannya yang lain untuk menunggu di luar sebentar.
Shaka mengeram kesal. "Kita ngobrol berdua ya,"
Runa langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Shaka dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Kenapa gak disini?"
"Aku gak mau nantinya anak-anak tau,"
"Ngapain? Kan mereka udah tau, takut kalau mereka tau sifat kamu gimana? Gak usah, lagian kan udah ke bongkar waktu itu," cela Runa dengan sarkas.