
Malam ini, Shaka akan mengajak Runa untuk pergi keluar makan malam berdua.
Cowok itu sudah berada di depan rumah sang gadis, menyandar pada motor sambil melipat kedua tangannya di depan dada, Shaka melirik sekilas ke arah balkon kamar milik Runa.
Lampu kamar mati, yang artinya Runa keluar dari kamar ataupun tidur. Tak berapa lama, sosok yang dia tunggu datang juga. Runa, dengan pakaian dress selutut tengah berjalan menghampiri Shaka.
"Udah siap?" Runa mengangguk kecil sambil tersenyum manis.
Tangannya tergerak membuka pintu mobil, perlahan Runa masuk ke dalam.
Shaka menutup pintu perlahan, cowok itu mengitari mobil dan duduk di samping kemudi.
"Kita mau kemana kak?" tanya Runa, merasa canggung.
Bayangkan saja mereka ribut telah hampir 2 bulan lamanya dan sekarang tak ada angin Shaka mengajaknya keluar untuk sekedar makan malam. Katanya ada yang mau dia bicarakan.
"Makan malam, sama sekalian sama anak-anak Alastair." jawab Shaka seadanya.
Memang benar malam ini tak hanya mereka berdua, namun inti Alastair juga ikutan bergabung.
Membuat Runa mengangguk mengerti. "Runa," panggil Shaka tiba-tiba.
"Ya kak?"
"Aku tau ini kelamaan tapi maaf banget aku baru bisa cerita sekarang ke kamu." Shaka memulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Meski Runa telah tau semua nya, bahkan kemarin siang Lea datang ke rumah untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh Shaka.
Runa tengah asik duduk santai di ruang tamu, ditemani dengan beberapa jajanan dan susu kotak, gadis itu menatap TV dengan serius.
Sampai akhirnya suara ketukan pintu terdengar, dengan buru-buru Runa berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Tante Lea?"
Wanita itu tersenyum lantas memeluk Runa dengan kasih sayang. "Runa, tante minta maaf ya sama kamu."
"Minta, minta maaf buat apa tan?" perasaan Lea tak pernah melakukan kesalahan apapun padanya sama sekali tak pernah.
Lea mengurai pelukan,dan menatap Runa lamat-lamat. "Maafin Shaka ya, kamu jadi harus dengar semuanya dari mulut orang lain, bukan dari Shaka."
Runa yang paham dengan perkataan Lea lantas mengajak wanita itu masuk ke dalam. "Masuk dulu tante," mempersilakan Lea untuk duduk, gadis itu pamit sebentar ke dapur untuk mengambil kan minuman serta sedikit cemilan.
"Di minum dulu teh nya, maaf ya tan cuma ada deh aja."
"Gak papa Run, makasih ya. Sini tante mau bicara sama kamu," wanita itu menarik Runa untuk duduk di sampingnya, Lea tersenyum sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajah gadis manis di depannya.
"Runa, maafin tante ya karena ulah Shaka. Tante juga minta maaf ke kamu, karena baru bisa datang ke sini. Karena satu bulan ini tante harus keluar kota."
"Gak papa kok Tan, Runa malah yang minta maaf ke tante, akibatnya tante sampai harus ke sini segala."
"Gak, tante beneran minta maaf sama kamu. Tante juga bingung, kenapa shaka bisa berubah drastis sampai kayak gini, tante tau kalau shaka benci sama yang namanya cewek, tapi tante gak habis pikir kenapa bisa-bisanya sampai kayak gini."
Lea dan Al, bahkan Ale juga sampai sekarang berpikir mengapa bisa Shaka berubah menjadi seperti ini? Sampai-sampai Al dan Lea sempat menyalahkan diri mereka sendiri sebagai orang tua yang kurang becus.
"Jangankan tante, Runa aja bingung kok." ujar Runa sembari tertawa kecil.
"Tante ke sini cuma mau ceritakan semuanya sama kamu, tante tau kok, Shaka gak akan setega ini sama cewek."
Runa mengangguk lalu menatap ke depan. "Runa udah tau semuanya tante,"
"Galang," jawab Runa singkat, padat dan jelas.
"Galang? Ya ampun, Runa Tante bener-bener minta maaf sama kamu. Untuk kedua kalinya kamu harus denger dari orang lain." tutur Lea sembari mengusap lembut telapak tangan Runa.
"Tapi tante mohon sama kamu Runa, Shaka kayak gini pasti ada maksudnya, dan tante tau kok kalau Shaka gak mau kehilangan kamu." sambung Lea.
"Iya, tante tenang aja, Runa juga berusaha buat kak Shaka kembali jadi seperti dulu. Runa bakal bertahan sekuat diri Runa, Runa minta doa dari tante ya. Dan maaf juga kalau nantinya, Runa bakal mudur." Runa membalas genggaman tangan Lea.
"Iya, kamu tenang aja. Tante do'ain semoga masalah kalian berdua segera selesai. Dan kalian kembali kayak dulu lagi,"
Wanita itu telah menganggap Runa seperti anak gadis nya sendiri, walau keduanya belum kenal 1 tahun, namun Lea sudah menyayangi Runa sama seperti menyayangi Ale dan Shaka.
Memaksakan senyum di depan orang rasnya begitu sakit sekali, dan itu yang selalu Runa lakukan. "Aamiin,"
"Kamu kapan mau main ke rumah lagi? Ale kangen tau, tadi dia mau ikut, tapi gak jadi gara-gara ada tugas yang belum dikerjakan." Lea bertanya sambil menyeruput teh bikinan Runa.
Runa tersenyum canggung, kalau dipikirkan memang benar sekali bahwa Runa sudah lama tak bermain di rumah Shaka. "Maaf ya Tan, udah jarang main ke sana. Nanti kalau menag bener-bener ada waktu Runa main ke sana, sekalian main sama Ale."
"Harus dong! Ale dari tadi pagi udah gerutu terus mau ikut, pas udah siap-siap, eh dia pergi sama temennya buat kerjain tugas." kata Lea membuat Runa tersenyum, ya mungkin Shaka belum bisa menerima dirinya, tapi Lea dan Ale sudah memberikan dukungan.
"Mau denger cerita dari tante gak?" tanya Lea membuat Runa mengangguk cepat.
"Mau!"
Lea hanya tertawa kecil, sambil mencubit gemas kedua pipi Runa. "Kamu tau gak, apa yang membuat Shaka seperti ini?" Runa hanya menggelengkan kepala.
"Karena Shaka, pernah mencintai sosok wanita dengan tulus, tapi Tuhan berkehendak yang lain." ujar Lea.
"Dulu tante sempet berpikir apa ya yang membuat Shaka menjadi sosok yang pendiam seperti ini, dan ternyata semua itu karena dia merasa kehilangan sosok cinta pertamanya." jelas Lea.
"Emangnya dulu kak Shaka gak kayak gini ya?"
"Jawabannya setengah-setengah, Shaka emang terkenal pendiam sama orang yang baru dia kenal, tapi kalau udah kenal, ngoceh nya gak berhenti-berhenti." Lea tertawa sebentar, lalu melanjutkan perkataan nya.
"Dan sampai dimana Shaka bertemu sama Qilla, dan Qilla lah yang berhasil merubah sifat Shaka menjadi sosok yang hangat, tapi nyata dia juga yang membuat Shaka menjadi seperti sekarang." sambung Lea kembali.
Gadis itu mendengarkan setiap perkataan Lea dengan cermat, sambil mengusap pundak Lea. "Takdir Tuhan gak ada yang tau tante," sahut Runa.
"Tante tau itu, Runa sekali lagi tante minta maaf ya sama kelakuan yang dibuat sama Shaka, kamu boleh kok buat marahin dia atau bentak dia."
"Gak mau tante, Runa gak mau bentak orang, tapi kalau bertindak tegas aku usahakan bisa." Lea langsung menarik Runa ke dalam dekapannya.
"Makasih ya, kamu udah bertahan sampai di sini. Kamu tenang aja, tante bakal dukung kamu dimana pun dan kapanpun." mengusap surai Runa dengan lembut, lalu mengecup puncak Runa lumayan lama.
Runa membalas pelukan Lea dan memeluk wanita itu tak kalah kencang. "Sama-sama tante,"
"Dan aku udah semua itu," ujar Runa tiba-tiba, Shaka yang tadinya bercerita dengan tak sengaja menginjak rem mendadak.
"K-kamu udah tau?" entah kenapa rasanya tenggorokan Shaka menjadi kering seketika.
Runa ber desis pelan, memilih menatap ke arah luar yang menurutnya lebih mengasikkan. "Iya, aku udah tau, Galang udah cerita semuanya, dan kemarin siang. Tante Lea datang ke rumah, dia juga menceritakan semuanya tentang masa lalu kamu,"
"Na--"
Kembali menatap ke arah Shaka, dengan bola mata yang menggenang. "Susah banget ya buat cerita hal itu? Aku tau kok, lupain orang yang kita sayang itu sesusah itu. Tapi kamu tau, gimana rasanya nunggu kepastian yang kita aja gak ketahui?"
Shaka dengan sigap menarik Runa ke dalam pelukan. "Maaf Na, maaf," tangannya mengusap lembut punggung Runa, kata maaf tak henti-hentinya terucap dari bibir nya itu.