Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Salah paham



Seperti hari-hari kemarin, pagi ini Runa sedikit terlambat untuk berangkat ke kantor akibat mobil yang ia kendarai terkena masalah, yaitu ban mobil yang bocor.


"Pak masih lama ya?" tanya Runa pada Pak Bejo.


"Sebentar lagi neng, selesai." Pak Bejo menjawab masih dengan mengotak-atik alat.


Runa ber desis pelan, sesekali melirik jam tangan. Sudah pukul 06.50 yang artinya Runa hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit, agar sampai di kantor.


"Em.. Pak, Runa naik taksi atau ojek aja deh. Ini udah mau masuk soalnya, bapak gak papa kan kalau Runa tinggal?" tanya Runa pada Pak Bejo.


Pak Bejo bangkit dari tempat jongkok nya. "Gak papa neng, bapak yang minta maaf. Lupa ngecek tadi pagi," ujar Pak Bejo, tak enak.


Tersenyum maklum, Runa mengangguk lalu berpamitan pergi di saat bersamaan dengan sebuah taksi lewat.


"Runa pamit ya Pak, mending langsung bawa bengkel aja. Bapak ati-ati disini," pesan Runa sebelum memasuki taksi.


Runa mengembang kempiskan kedua pipinya, menatap jalanan luar dan berdoa agar pagi ini dia selamat, ya meski Runa tau hanya akan ada teguran saja baginya.


Namun, kalau dipikirkan kembali. Runa masih karyawan baru yang baru saja bekerja sekitar 2 bulan. Masa iya dirinya harus terlambat kerja.


"Pak, bisa lebih cepat dikit ya." Runa berkata apda sang supir taksi.


Supir tersebut menganggukan kepala, dan sedikit menaikkan kecepatan.


Sampai taksi yang Runa tumpangi berhenti tepat di depan pintu utama perusahaan.


Menghembuskan napanapas perlahan, Runa perlahan keluar dari taksi. "Makasih pak," ujarnya pada pak supir.


Segera Runa masuk ke dalam dan langsung menuju ke tempat duduknya. "Runa," panggil seseorang.


Membalikkan badan ke belakang, Runa mendapati Leo yang tersenyum ke arah nya. "Eh iya Pak,"


"Jam berapa ini?" tanya Leo, tanpa melupakan nada tegas nya.


Menggaruk tengkuknya tak gatal. Runa menjawab, "Maaf Pak, t-tadi ada sedikit masalah di jalan."


"Baiklah kali ini tak masalah. Tapi ingat! Jangan diulangin kembali," tegur Leo.


"Baik Pak,"


Leo tersenyum sekilas, lalu berjalan kembali. Namun kembali terhenti dan mengingatkan pada Runa untuk segera mengirim laporan biaya bayar bukti pada dirinya.


"Oh iya Runa," Runa mengangkat sebelah alisnya. "Jangan lupa segera kirim kan laporan biaya bayar bukti ke saya," ujar Runa mengingatkan.


Runa tersenyum, lalu menganggukkan kepala. "Siap pak!"


Kembali mendudukkan diri di kursi, Runa mulai mengerjakan tugas kantor. Tangannya asik mengetik di atas keyboard, melirik ke tumpukan berkas yang harus Runa kerjakan pagi ini.


"Runa," panggil salah satu karyawan. Sebut saja namanya Laila, biasanya anak-anak kantor memanggilnya Lia.


"Iya kak?"


"Kamu mau ke ruangan pak Leo kan?" Runa mengangguk. "Nah kebetulan, aku titip ini dong. Kamua kasih ya ke pak Leo," Lia memberikan beberapa tumpukan map pada Runa.


"Loh kok---" ujar Runa menggantung.


"Gak papa, nanti kamu bilang aja. Aku mau ke toilet dulu. Bye Runa!" Lia melangkah pergi dengan terburu-buru.


Mendesah pelan, Runa mengangguk kecil. Mengambil tumpukan map itu lalu melangkah naik ke atas.


Tok.. Tok.. Tok..


Runa mulai memegang ganggang pintu, dan membukanya perlahan.


"Masuk," ujar pria yang ada di dalam. Perlahan Runa masuk. Setelah mendapatkan izin tentunya.


Dia cukup terkejut saat melihat Shaka juga ada di dalam ruangan itu. "Ini Pak, laporan biaya." Runa memberikan map miliknya.


"Dan ini, punya kak Lia." sambung Runa memberikan map titipan Lia.


"Makasih Runa," Leo menerima map pemberian Runa.


"Sama-sama Pak. Kalau begitu, saya pamit keluar." Runa berpamitan, belum sempat membalikkan badan, suara bas terdengar memanggilnya.


"Runa," panggil Shaka.


"Iya Pak?"


Shaka bangkit dari duduknya. "Ikut saya," perintah Shaka pada Runa.


Runa yang diberi perintah seketika merasa bingung. Entah mengapa seketika otaknya berpikir buruk. "Udah ikut saja," ujar Leo. Mecoba meyakinkan.


Mengangguk paham, Runa langsung mengikuti Shaka yang sudah lumayan jauh. "Mau kemana?"


"Makan siang,"


"Hah?" beo Runa dengan polosnya. "Tapi kan, ini masih jam 11 siang Pak." Runa berkata sambil melirik jam di tangan kirinya.


"Ikut saja," sahut Shaka memasuki lift.


"Tunggu sini," suruh Shaka kemudian masuk ke dalam ruangan. Dan tak menunggu lama kembali keluar. "Ayo!" ajak nya.


...


Mencabik bibirnya dengan perasaan kesal. Runa sudah berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi tadi siang pada sang kekasih.


Biasa, Rama salah paham hari ini. Dan berakhir ke-dua nya ribut. Tadi siang, Tiba-tiba ada orang yang mengirim kan foto pada Rama.


Di sana terlihat jika Runa dan Shaka sedang berduaan. Akibat Rama yang terlalu dilanda kecemburuan, jadinya begini.


"Rama, jangan marah dong. Bener kok, Runa cuma anterin doang. Nggak ngapa-ngapain," Runa masih berusaha untuk membujuk Rama.


"Kamu cuma salah paham aja," sambung Runa kembali.


"Beneran?"


Runa mengangguk sambil tersenyum meyakinkan. "Beneran gak bohong, udah ya jangan kayak gini lagi. Gak enak tau," ungkap Runa.


Mendesah pelan, Rama mengangguk. Dirinya juga merasa bersalah sudah menuduh yang tidak-tidak pada gadisnya.


"Maaf ya. Udah bentak kamu, tadi aku kebawa emosi." ungkap Rama.


"Iya gak papa kok, Runa paham." jawab Runa dengan polosnya.


"Sekarang gimana kaki kamu?" Rama menatap Runa dengan tatapan khawatir.


"Udah gak papa, udah mendingan dari tadi," saat ingin pulang dan melewati tangga, Runa tak sengaja terpleset. Yang membuat kakinya sedikit cedera.


"Tuh kan, udah dibilangin jangan pakai heels lagi kalau gak bisa. Kan kamunya yang jadi sakit," Rama mengoceh panjang lebar.


Sedangkan Runa sendiri tertawa ngakak. "Kok ketawa?" heran Rama. Perasaan tak ada yang lucu.


"Lucu aja," jawab Runa masih dengan tawanya.


"Kamu kalau cerewet kayak mak-mak yang marahin anaknya. Yang habis pulang maghrib," ungkap Runa.


Rama mendengus sebal. Lalu mereka sama-sama tertawa tanpa beban. "Oh iya sayang," ujar Rama menggantung.


Runa yang tertawa seketika terhenti, gadis itu langsung menatap Rama. "Ada apa?"


"Minggu depan aku balik ke Jakarta,"


"Minggu depan?" Rama mengangguk. "Loh bukannya minggu depan itu acara wisuda kamu ya?" heran Runa.


Kelulusan Rama dan Runa hanya berbeda beberapa bulan saja, dan untuk Rama sendiri. Lelaki itu sudah menyelesaikan skripsi nya tepat sebulan Runa melaksanakan wisuda.


"Diundur, karena ada kesalahan. Gak tau tuh kesalahan apa," balas Rama membuat Runa manggut-manggut mengerti.


"Oh.. yaudah aku tunggu di Jakarta kalau gitu,"


"Harus dong," sahut Rama. "Ada yang mau kamu titipkan gak buat dibawa ke Jakarta?" tanya Rama.


"Gak ada. Kamu datang kesini dalam keadaan sehat aku udah seneng," jawab Runa menyengir.


"Beneran gak ada?" Runa mengangguk lagi. "Kalau gitu aku tutup ya. Lagi ada di luar. Nanti aku telpon kembali,"


"Oke, banyak istirahat ya Ram. Mumpung udah selesai skripsi," pesan Runa.


"Iya, kamu juga kalau ada apa-apa langsung telpon aku. Aku tutup ya, bye sayang!" Rama seketika mematikan panggil.


"Byee!"


"Yang sayang, sayangan mah udah beda sendiri." sindir seseorang dari arah pintu.


Dengan segera Runa menoleh. "Bang Arfan,"


"Udah belum pacaran nya?" godah Arfan. Perlahan dia mendekati Runa. "Kaki lo gimana udah baikan? Atau mau ke rumah sakit?" tanya Arfan.


"Udah baikan kok, udah gak papa."


Arfan mengangguk paham. "Kenapa gak nikah aja langsung, kalian berdua udah sama-sama sarjana loh. S1 dan S2," ujar Arfan.


"Gak ah, mau kerja dulu." Runa masih ingin menikmati masa mudanya terlebih dahulu.


"Ya kan bisa setelah nikah, daripada LDR terus?"


"Masih setahun Bang. Ya kali nikah," sahut Runa.


"Loh bukannya lebih baik ya, emang lo mau pacaran terus. Ntar yang ada malah putus,"


"Kok malah bahas nikah sih," sungut Runa. "Udah ah bahas yang lain. Runa masih mau kerja dulu, masih mau buat banggain Ayah Bunda," finalnya.


"Tapi inget jangan dipaksa, istirahat sana udah malam." Setelah berkata seperti itu, Arfan melangkah keluar kamar.


...


Maaf kalo sering up telat, tau sendiri gimana.. Engga engga becanda kok, makasih buat yang mau nunggu cerita ini update :)))