
Menatap langit malam yang memancarkan bintang, Runa duduk di atas balkon sembari menikmati segelas susu coklat hangat buatan sang Bunda.
Tiga hari terakhir yang Runa lakukan adalah istirahat yang cukup, karena tepat esok dirinya dan Shaka akan memulai acara pernikahan di kediaman Zoey.
Tanpa terasa hari-hari yang mereka tunggu akan tiba besok, walaupun ada sedikit berantem kecil diantara mereka berdua. Pengajian juga baru saja selesai kemarin.
Menyeruput pelan susu coklatnya, ia segera menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu kamar yang terbuka.
"Bunda," terkejutnya tak kala melihat sang Bunda datang.
Yuna tersenyum dan menaruh pakaian yang dirinya bawa ke atas kasur, lalu berjalan menghampiri putri satu-satunya.
"Belum tidur kamu?" tanya Yuna, wanita itu lantas duduk di samping Runa seraya mengusap lembut surai putrinya.
Runa menggeleng pelan. "Belum Bunda. Masih belum ngantuk," ungkapnya, menikmati setiap usapan dari sang Ibunda.
Tersenyum menatap sang putri, Yuna menatap Runa dengan tatapan lembutnya. "Putri Bunda udah gede sekarang," ujar wanita itu dengan nada bergetar.
"Bunda--"
"Bunda gak nyangka kalo kamu bakal nikah diumur kamu yang masih terbilang muda gini. Gak nyangka juga kalo bentar lagi tanggung jawab Ayah ke kamu bakal selesai besok," sambung Yuna kemudian.
"Bunda jangan nangis dong. Nanti aku juga ikutan nangis," Runa mengusap perlahan air mata yang perlahan membasahi pipi wanita di hadapannya itu.
"Bunda gak nangis," Yuna segera menghapus air matanya. "Bunda cuma nangis bahagia aja. Bentar lagi anak Bunda udah ada yang punya," ucapnya dan tersenyum.
"Ingat ya sayang ucapan Bunda kemarin. Jadi istri baik, nurut sama Shaka dan jangan pernah buat menyepelekan ucapan darinya!" pesan Bunda.
"Dan yang paling terpenting, kalo lagi ada masalah. Bicarakan berdua, jangan sampai diem aja, nanti malah masalah gak selesai lagi,"
Lantas Runa memeluk Yuna dengan erat. "Iya Bunda, Runa akan berusaha buat ingat selalu nasihat yang Bunda beri."
"Sekarang kamu tidur, besok acaranya dimulai pagi. Jadi kamu harus banyak istirahat," Yuna menggiring Runa masuk ke kamar.
"Bunda lupa, nih pakaian kamu buat besok." wanita dengan balutan hijab abu-abu nya memberikan baju yang akan Runa pakai esok.
"Makasih Bunda," Runa menerimanya dan memasukannya ke dalam lemari baju.
"Bunda keluar ya. Selamat malam sayang," mengecup singkat kening Runa lalu memakaikan selimut itu sebatas dada.
"Selamat malam Bunda," balas Runa yang mulai terlelap.
...
Pagi hari telah menampakkan sinarnya. Berdecak kesal, saat sinar matahari yang tanpa permisi berhasil menerpa wajah cantiknya.
Tangannya meraba-raba ke atas meja, mencari jam weker yang sedari tadi berbunyi keras. Ketika berhasil mendapati nya, dengan segera Runa mematikannya.
Mencoba untuk tidur kembali, tetapi tak berhasil. Mencoba untuk menyadarkan diri, ia melirik jam weker nya yang telah menunjukkan pukul pagi hari.
05.48
Kekesalan di pagi hari seketika sirna begitu saja, saat tau jika pagi ini pagi apa.
Runa mengambil ancang-ancang untuk berdiri, akhirnya Runa memutuskan untuk berjalan masuk ke kamar mandi.
Sebelumnya, ia mengambil handuk putihnya yang berada di belakang pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Namun saat tangannya meraih gagang pintu. Pintu kamar terbuka, menampilkan Yuna dengan busananya.
"Udah bangun? Yaudah sekarang langsung mandi. Bentar lagi tukang rias nya bakal datang," Yuna berucap lalu kembali menutup pintu.
Mengangguk singkat, Runa melangkah kembali masuk ke dalam.
Tak perlu lama-lama untuk ia habiskan di dalam kamar mandi, dengan kaos hijau polos dan celana panjang menjadi pilihannya.
Berjalan menuju meja rias, dan mengeringkan rambutnya. Runa terpaksa menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara pintu kamar terketuk.
"Masuk mbak," Runa mempersilahkan masuk pada beberapa orang yang akan mendandani dirinya pagi ini.
Shaka sendiri baru saja menyelesaikan ritual mandinya, menganti pakaiannya dengan pakaian santai, ia segera turun ke bawah untuk mengambil sarapan.
"Pagi," sapa nya singkat.
Mereka pun mulai melaksanakan sarapan pagi dengan tenang dan damai. Selesai sarapan, semuanya kembali masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap berangkat ke rumah Runa.
"Semuanya udah siap kan? Sa, pakaian kamu udah kamu bawa?" tanya Lea pada putranya itu.
"Udah Ma, semuanya udah siap."
"Bagus deh, sekarang kita berangkat!" ujarnya pada Shaka yang menyetir pagi ini.
Pintu kamar Runa perlahan terbuka, wanita paru baya dengan balutan hijab putih melangkah mendekati Runa dengan pakaian kebaya putih yang sangat pas di tubuh indahnya.
"Gimana sudah siap?" tanya Yuna, sembari menatap Runa dari arah kaca.
"Sudah Bunda,"
"Bun.." panggilnya dengan nada sedikit bergetar, menatap wanita yang berdiri di hadapannya.
"Dulu, waktu Bunda sama Ayah nikah deg-degan gak?" tanya Runa dengan sedikit mendongak, menatap sang Bunda yang tersenyum ke arahnya.
"Pasti, bukan hanya Bunda aja. Semuanya juga pasti sama ngerasa deg-degan kayak kamu," balas Yuna. "Bunda harap, kamu bisa bahagia seperti keinginan kamu,"
"Pasti! Runa bakal bahagia nanti," senyum bahagia terpancar dibibir Runa.
Mengamini dalam hati. "Vanya masuk aja nak," suruh Yuna sedikit keras.
Pintu kamar kembali terbuka, terlihat Vanya dengan dress putih selutut kini berdiri di ambang pintu. Berjalan menghampiri Runa lalu memeluk nya, tak lupa menyalami tangan Yuna terlebih dahulu.
"Kalian ngobrol berdua aja dulu, Bunda mau ke bawah ya, bentar lagi acara akad bakalan dimulai." Yuna pamit keluar kamar.
"Duduk Van," menarik Vanya duduk di kursi sofa. "Kamu datang kesini sama siapa aja?" tanya Runa pada Vanya.
"Sama nyokap bokap dan kak Rasya. Ada di bawah sama anak-anak yang lainnya juga," jawab Vanya membuat Runa manggut-manggut paham.
"Runa, kenapa lo cantik banget hari ini!"
"Ohh.. jadi kemarin-kemarin aku gak cantik gitu?" guraunya terkekeh kecil.
"Bisa aja lo. Tapi beneran loh, lo cantik banget hari ini!" pujian itu tak henti-hentinya Vanya lontarkan.
"Kamu juga cantik hari ini," puji Runa balik.
"Do'ain ya, biar gue cepetan nyusul lo juga." Vanya memang ingin segera untuk menjalin hubungan yang lebih serius dari pacaran.
"Aamiin! Semoga segera,"
Vanya tersenyum, menatap sahabatnya kini akan menjadi seorang istri beberapa menit ke depan. "Gue berdoa agar ini menjadi awal kebahagiaan lo dimulai Na, dan semoga aja setelah ini kalian akan bersama terus." batin Vanya berdoa.
...
Kini tiba saatnya hari yang di tunggu-tunggu. Suasana hening dan damai tercipta di ruangan kecil yang telah didesain semenarik mungkin.
Kedua anggota dari masing-masing keluarga, dan para teman-teman serta rekan kerja terdekat mulai berdatangan.
Menahan napasnya dalam-dalam, Runa mulai digiring masuk ke dalam. Dan duduk di samping Shaka yang sama-sama memakai pakaian adat Sunda.
Saling menatap satu sama lain, menyalurkan ketenangan pada diri mereka masing-masing. Melihat Shaka yang gugup membuat Runa tertawa kecil.
Baginya lucu saja, Shaka yang terlihat datar dan dingin kini dilanda kegugupan.
"Semangat!" bisik Runa pada Shaka.
Para tamu yang hadir pun mulai fokus ke kedua mempelai, mereka semua juga turut bahagia atas pernikahan keduanya.
Bima selaku menjadi wali mulai menjulurkan tangannya ke arah Shaka. Menghela napasnya perlahan, Shaka mulai membalas uluran tangan Bima.
"Awas Bang, kalo gagal batal nikah!" bisik Ale dari belakang. Perempuan dengan pakaian kebaya putih, mencoba untuk tak menertawakan sang Abang.
"Ale!" tegur Lea, menggelengkan kepala. Menyuruh Ale untuk diam.
Ale yang mendapatkan teguran hanya menyengir. "Lagian tegang bener jadi orang," ucapnya dalam hati.
Semua sedang menunggu ucapan ijab kabul yang sebentar lagi terdengar.
Bahkan Vanya dan teman-temannya mulai mengambil handphone mereka masing-masing, untuk mengabadikan momen tersebut.
Begitu pun dengan Arfan dan Jihan, mereka saling menatap satu sama lain dan kembali menatap kedua mempelai di depan. "Semoga dek, ini awal kebahagiaan lo dimulai."
Dengan berdeham singkat untuk menghilangkan gugup, Shaka mulai menatap Bima dengan yakin membuat pria di hadapannya tersenyum.
Bima mulai mengucapkan ijab kabul, "Ananda Arshaka Virendra Aldebaran bin Alvaro Aldebaran. Saya nikahkan dan saya kawinkan Engkau dengan putri kandung saya bernama, Aruna Priyanka Zoey binti Bima Zoey dengan mas kawin seberat 500 gram emas serta uang sebesar lima ratus juta rupiah. Dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Aruna Priyanka Zoey binti Bima Zoey dengan mas kawin seberat 500 gram emas, serta uang sebesar lima ratus juta rupiah tersebut tunai!" Shaka melafalkan ijab kabul dengan sekali tarikan.
Penghulu mengangguk singkat, lalu menatap para saksi. "Sah?"
"SAH!"
Tepuk tangan riuh para tamu undangan terdengar, bahkan Vanya yang hadir di sana tak dipungkiri menangis bahagia.
Tersenyum haru, ketika Shaka berhasil mengucapkan kalimat sakral dengan lantang dan jelas.
Bibir Runa berkedut menahan senyuman, air mata bahagia sudah menetes sejak tadi. Dengan instruksi dari Bima Shaka menatap Runa yang juga sama-sama menatapnya.
Diraihnya tangan Runa untuk ia pasangkan cincin, dan detik berikutnya mengecup kening Runa dengan lembut.
Runa memejamkan matanya, ketika merasakan benda kenyal Shaka mendarat pas di keningnya.
Runa juga dapat merasakan detak jantung dan aliran darah yang mengalir deras di dalam tubuhnya itu.
Kini perasaan senang dan sedih tercampur di hati mereka, saling tatap satu sama lain untuk menyalurkan kata yang tak bisa terucapkan.
Baik Shaka dan Runa, mereka berdua senang. Tak dapat dipungkiri mereka berdua meneteskan air mata bahagia.
Dalam hati Shaka berjanji, berjanji untuk tak akan pernah mengulangi kesalahan yang dirinya perbuat dulu, dan berjanji untuk menjadikan Runa sebagai ratu di dalam hidupnya.
Begitu juga dengan Runa. Dalam batinnya Runa berdoa, berdoa agar ini menjadi awal bahagia di hidupnya dimulai, dan menjadi akhir dari segala permasalahan yang ada.
Semoga saja.
...
...~ ππππππΌπ ~...
...
Satu kata untuk episode ini?
Satu kata buat mereka berdua?
Hikmah apa yang kalian dapat dari season 2 kali ini?
Makasih banyak buat kalian semua, nantikan cerita Nana lainnya yaaa β€