
"KAK RASYA TUNGGUIN DONGGGG!" Vanya berjalan tertatih-tatih berlari mengikuti langkah Rasya dari belakang. Yang Rasya tau cewek ini selalu gencar untuk mendapatkannya.
Satu tahun terakhir yang dilakukan oleh cewek itu adalah mengejarnya dan merecokinya namun Rasya selalu menampilkan wajah datar dan sikap cuek agar cewek itu pergi.
Bukannya berhenti mengejar, Vanya malah lebih terus mengejar Rasya.
Bahkan sudah di tolak berkali-kali, Vanya tetap saja mengikutinya. Kapan Vanya sadar bahwa Rasya tak pernah menyukainya sedikit pun.
"KAK RASYA! AWAS AJA YA KALAU LIRIK CEWEK SANA SINI! KALAU NANTI KETAHUAN, VANYA MARAH!"
Rayn tertawa mendengarkannya. Cowok itu bersama teman-temannya duduk di pojok kantin seperti biasa yang merupakan tempat Alastair berada.
"Buset! Pacar bukan posesif nya minta ampun tuh cewek, belum juga jadi pacar, gimana entar." sahut Tara.
"Udahlah Ras, suruh duduk sini. Sekalian gabung sama kita-kita, kasihan tuh ngejar-ngejar lo terus, tawar makan kek, pasti lo capek kan Van?" goda Rayn pada Vanya.
"IYA DONG HARUSNYA BEGITU!"
"Ogah," jawab Rasya pendek, wajahnya sudah menahan kesal setengah mati.
Arthur tertawa. "Suruh duduk lah Ras, ingat prinsip Alastair apa!"
Rasya lalu berdiri, dirinya tidak suka jika teman-temannya sudah mulai mendesaknya seperti ini. Saat berbalik, di depannya sudah ada Vanya yang menatapnya bingung.
"Pergi! Gue gak suka di ganggu," Vanya terkejut lagi dan lagi cowok itu menghindarinya.
"IH KOK---- TAPI KANNN!" Vanya menarik ujung seragam Rasya. "Ya udah, tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Terima gue jadi pacar lo!"
Rasya menatap wajah Vanya cukup lama lalu melepas tangan Vanya, harus berapa banyak lagi tenaga yang Rasya keluarkan untuk cewek di depannya ini. "Dalam mimpi lo!"
"Gue cuma mau ajak lo makan berdua kok! SUMPAH!"
Rasya tak lagi menghiraukan perkataan Vanya, cowok blasteran itu lebih memilih melangkah pergi keluar kantin, telinganya telah pengang akibat teriakan maut milik Vanya.
"KAK RASYA KAPAN LO TERIMA CINTA GUE SIH?!"
"Kapan-kapan," jawab Rasya dengan judes.
"YA KAPAN-KAPAN KAPAN?"
Rasya tak lagi menjawab, memilih melangkah kan kembali kakinya keluar.
Pikirannya bertambah pusing atas kehadiran cewek itu, setelah dua jam berkutat dengan matematika, dan kini harus diributkan dengan kehadiran Vanya yang menurutnya hanya menganggu ketenangan.
"KAK RASYA! YAKIN GAK SUKA SAMA GUE? NTAR LO NYESEL LAGI KALAU GUE DI TEMBAK SAMA COWOK LAIN." Vanya masih saja mengejar Rasya, menyamakan langkah kakinya dengan langkah lebar milik Rasya.
Selalu saja seperti ini, sudah satu minggu Vanya selalu seperti ini, saat istirahat, bel pulang bahkan saat dari toilet pun cewek itu tetap mengejarnya.
Sampai-sampai, Rasya ingin menenggelamkan wajah Vanya ke rawa-rawa!
"Capek tau ngejar-ngejar terus! Gak ada niatan buat ngejar balik gue gitu? Sumpah gak pakai mikir gue terima detik itu juga!" katanya menggebu-gebu.
Vanya adalah gadis yang cukup terkenal, dia memang tak pandai dalam hal akademik, namun dalam hal akting dan drama Vanya pemenangnya.
Cewek ini menjadi salah satu dari sekian banyaknya cewek yang cukup populer di Trisatya.
"Kak Rasya! Kok diam aja sih, jawab dikit gitu. Berasa ngomong sama tembok tau gak?" keluh Vanya, dari tadi cowok itu hanya menatapnya dengan ekspresi datar.
"Segitunya lo mau jadi pacar gue?" tanya Rasya. "Dimana rasa malu lo? Atau emang urat malu lo udah ilang?" Rasya bertanya tak melupakan nada pedas.
Rasya mendekati Vanya. "Lo itu cewek, gak seharusnya cewek ngejar cowok dengan alasan jatuh hati. Kalau lo masih punya harga diri di depan cowok, jauhi gue!"
"Ayolah kak, sekali ini aja. Cuma makan doang sama nonton film kok, gak banyak-banyak, please mau ya?" Vanya menakup kedua tangannya di depan dada, memohon sekali lagi kepada Rasya.
Rasya menatap Vanya dengan gemas. Berapa kali dia harus berkata bahwa 'Rasya tak menyukainya!' "Berapa kali gue harus bilang sama lo, kalau gue gak suka dan gak akan pernah suka sama lo?"
"Satu lagi, kalau lo suka sama gue, jangan pernah ganggu gue, karena lo bukan pacar gue," tambah Rasya, membuat Vanya mengeram kesal.
"AWAS AJA YA, GUE PASTIKAN KALAU LO YANG BAKAL SUKA SAMA GUE! CAMKAN BAIK-BAIK!" pekik Vanya.
"Ih kesel, kesel, kesel. Nyebelin banget sih, masa iya gue gak di terima?" Pundak Vanya merosot seketika, lelah sekali hari ini.
"Vanya," seseorang menepuk pelan pundaknya, membuat Vanya menoleh ke belakang.
"Runa,"
"Gagal lagi?" tanya Runa, gadis itu telah melihat apa yang terjadi tadi, kadang Runa berpikir, apa Vanya tak lelah selalu di tolak terus seperti ini.
Wait!
Kalau Vanya aja bisa bertahan satu tahun dengan penolakan Rasya berkali-kali, berarti dirinya juga harus bisa dong.
Bertahan pada Shaka dan mempertahankan hubungan nya --walau sebenarnya tak bisa dipertahankan.
Vanya mengangguk kecil. "Runa bantu gue dong buat deketin kak Rasya, atau gak lo minta ke laki lo buat minta no nya kak Rasya." Vanya mengadu pada Runa.
"Atau gak lo mintain ke kak Arthur, dia kan baik tuh. Please mau ya? Pokoknya cowok itu harus jadi milik gue!" Vanya bersikukuh.
Runa tertawa kecil. "Iya nanti aku bantu,"
"Makasih Runa, lo sahabat gue terbaik deh, kantin yok! Perut gue laper nih udah minta jatah, bentar lagi juga masuk." Vanya lantas merangkul pundak Runa, menariknya masuk ke dalam kantin.
...
Siapa nih yang suka Rasya Vanya? Akhirnya setelah ber episode lamanya, mereka berdua debut hehe, biar kalian gak bosen sih tepatnya kalo Shaka Runa mulu.
Mengapa tiba-tiba aku malah jadi nge-ship mereka berdua mon maap nih!
...Vanya Denada...
...Rasya Adipati...