Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Life or death



Runa sedang bersiap-siap untuk balik ke rumah, jam pulang kantor tiba. Hari ini jam pulang mereka lebih awal dari biasanya, dan hal itulah yang membuat mereka senang.


Jarang jarang pulang cepat begini, biasanya kalau mau pulang cepat harus izin terlebih dahulu.


"Kamu balik sekarang Na?" tanya Lia pada Runa.


Runa tersenyum, dan menganggukkan kepala. "Iya kak, Runa balik duluan ya. Sampai jumpa besok!" pamit Runa, sambil memakai tas tote bag hitamnya.


"Iya Na! Hati-hati ya, kakak mau ke ruang rapat dulu!" pamit Lia juga.


Ponsel Runa bergetar, ternyata Rama sudah hampir dekat. Pulang kali ini, Rama kembali menjemputnya. Setelah sekian lama cowok itu sibuk dengan tugas kafe.


Tak lama sebuah motor ninja berwarna hitam berhenti tepat di depan Runa. Rama membuka helm full face nya seraya menyisir rambutnya ke belakang. Melihat itu membuat Runa tersenyum geli.


Mengulurkan tangannya, Rama membantu Runa naik ke atas motor. "Ayo naik!"


"Sudah?" tanya Rama pada Runa yang berada di belakangnya.


Runa mengangguk, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rama. Menenggelamkan wajahnya pada punggung Rama. Menghirup aroma mint dari tubuh Rama.


Rama tersenyum dibalik helm full face nya. Mengendarai motor dengan kecepatan sedang, ingin lebih lama menikmati waktu berdua bersama Runa, seperti tak ada hari esok.


"Mau pulang dulu atau jalan-jalan?" tanya Rama.


Mendapatkan pertanyaan, Runa menegakkan tubuhnya, dan menyandarkan dagunya pada bahu Rama. "Ke kafe matahari boleh gak?"


Rama mengangguk dibalik helm full face nya. "Jadi kesana?"


"Iya boleh kan? Udah ditunggu sama anak-anak yang lain soalnya," balas Runa.


Beberapa hari kemarin, Vanya mengirimkan pesan singkat dan mengajak Runa untuk berkumpul. Sekalian juga untuk silahturahmi. Sudah lama juga mereka tak kumpul begini.


Rama kembali menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Tak perlu waktu lama, mereka pun sampai di depan sebuah bangunan kafe dengan gaya tradisional.


Selesai memarkirkan motor dengan tepat, Rama membantu membukakan helm dari kepala Runa dan menaruhnya di atas kaca spion.


"Yuk masuk!" Rama menggandeng lembut tangan Runa, mengiringinya masuk ke dalam.


"Di atas?" Runa mengangguk sebagai balasan, mereka naik ke atas, dan benar saja di sana sudah terlihat anak-anak berkumpul.


"Runa!" Vanya berdiri dari duduknya dan berlari memeluk sahabatnya itu. "Lo apa kabar?" tanya Vanya sambil mengurai pelukan.


Runa tersenyum manis. "Alhamdulillah baik Van, kamu gimana kabarnya?"


"Baik dong! Eh duduk yuk, semuanya udah pada kumpul tuh," Vanya mengajak Runa untuk segera duduk.


Menatap itu Rama berdehem singkat, membuat Vanya menoleh pada sosok di samping Runa. "Sorry, sorry! Hai Ram," sapa Vanya melambaikan tangannya gugup.


Rama membalasnya dengan senyuman manis. "Hai Van!"


Vanya melangkah terlebih dahulu, disusul Rama dan Runa dibelakangnya. Melihat kedatangan Rama dan Runa, membuat anak-anak yang lain berdiri lalu menyapa mereka.


"Hai Runa tambah cantik aja lo!" sapa Arthur, seperti biasa tebar pesona.


"Pelanggaran! Ingat ada yang punya tuh!" sahut Bram.


Rama tersenyum maklum, pada kelakuan Arthur. Karena ini bukan sekalinya dirinya bertemu lelaki dengan julukan playboy cap badak.


Runa melambaikan tangannya, dan tersenyum manis. "Hai kak!"


Rasya menyuruh Rama dan Runa duduk di tempat yang telah disediakan, selanjutnya obrolan ringan terjadi, banyaknya sih lebih membahas masalah bisnis.


Sementara itu, yang cewek-cewek memilih untuk menepi. Membahas tentang gosip yang lagi ramai.


Shaka sendiri masih berada di kantor, menyandarkan perlahan tubuhnya ke kursi kantor. Tangannya memijit pelipis, menatap berkas berkas yang bertumpukan.


Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 3 sore, buru-buru Shaka bangkit dan melangkah keluar kantor, menuju ke dapur kantor untuk membuat teh.


"Sore Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu karyawan di sana.


Menggeleng singkat. "Tidak ada, saya bisa sendiri." membuat karyawan itu tersenyum paham dan berpamitan pergi.


Sambil menunggu air panas mendidih, Shaka duduk di salah satu kursi yang menghadap keluar jalanan. Pikirannya kembali pada beberapa hari yang lalu, tepat saat dirinya bersama Runa.


Membayangkan kegiatan mereka berdua kemarin membuat Shaka tersenyum geli, cowok itu masih belum menyangkal bahwa bisa berdua bersama dengan waktu yang cukup lama.


Shaka tersadar ketika suara air mendidih terdengar, cowok itu langsung mebuat minuman dan kembali lagi ke ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


...


Hampir satu jam lamanya mereka mengobrol santai, Rama dan Runa memutuskan untuk segera balik.


"Vanya, aku sama Rama balik duluan ya." Runa berbisik pelan pada Vanya.


"Kok buru-buru sih, baru sejam juga." Vanya masih ingin berlama-lama untuk menghabiskan waktu berdua bersama sahabatnya itu.


"Maaf ya Van. Rama ada urusan katanya,"


Selanjutnya mereka berjalan keluar kafe, Rama kembali mengulurkan tangannya untuk membantu Runa naik.


"Siap?" Runa mengangguk sebagai jawaban.


Rama mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, membelah padatnya kota Jakarta yang ramai akan orang-orang pulang kerja.


Runa mengernyitkan dahinya, menatap jalanan yang tak menuju jalan pulang. Gadis itu menatap Rama dari arah spion kaca. "Rama, kok lewat sini?" heran Runa.


"Kita jalan-jalan dulu,"


Runa mengangguk kecil, dengan percayanya gadis itu memeluk Rama kembali dari belakang menatap jalanan yang cukup asing di matanya.


Tak berapa lama, Rama menghentikan motornya di depan sebuah tanah kosong dengan rerumputan yang luas, bisa dibilang taman tetapi begitu sepi.


Runa sendiri menatapnya dengan terkagum-kagum, bayangkan saja tempat ini begitu luas dan indah.


Tapi sayangnya tempat ini cukup jauh dari rumah, jika dihitung mungkin memerlukan waktu 30 menit untuk tiba disini.


"Ayo!"


Dengan segera Runa mengikuti langkah kaki Rama dari belakang, tatapan matanya masih menatap area sekitar dengan takjub.


"Duduk!" suruh Rama.


Kembali menurut, Runa duduk di salah satu kursi besi yang ada di sana. Kalau dilihat-lihat hanya kursi inilah yang ada di taman ini, sisanya hanya bunga bunga bermekaran dan pohon pohon berukuran sedang.


"Rama, kita ngapain disini?" tanya Runa, menatap Rama dengan tanda tanya.


"Jadi, sekarang sebutkan apa-apa saja yang kamu sukai dari aku? Apa saja,"


Runa terdiam sesaat, menatap Rama aneh. Tak biasanya lelaki di hadapannya itu mempertanyakan soal begini.


"Ram---"


Tersenyum simpul, Rama menyahut. "Jawab aja,"


"Eumm.. aku menyukaimu apa adanya..?"


"Ayolah! Itu hanya kata-kata yang selalu dikatakan oleh orang-orang yang dibutakan oleh cinta," sahut Rama tersenyum. "Sebutkan sesuatu yang logis dan bisa dipercaya,"


Menghembuskan napas panjang, Runa menjawab. "Baiklah, pertama kamu seorang senior sekaligus sosok pria pintar, otomatis pengalamanmu lebih besar dibandingkan diriku."


"Kau baik, sopan pintar dan tak dapat dipungkiri kamu memiliki wajah yang tampan."


"Terima kasih! Jawaban yang cukup logis," balas Rama tersenyum.


"Tapi... apakah kamu benar-benar mencintai ku apa adanya? Bukan hanya sekedar rasa kasihan dan rasa risih?" tanya Rama serata tersenyum sinis.


Mendapatkan pertanyaan dari Rama barusan, membuat tubuh Runa menegang seketika, seakan-akan terkena listrik di siang bolong.


"Rama---" perlahan Runa bangkit, dan mulai mundur ke belakang, menatap Rama yang perlahan mendekatinya.


"Jangan aneh-aneh! Rama please, aku mohon!" mohon Runa masih melangkah mundur. "Ram kalo kamu aneh-aneh, a-aku aku bakal teriak!" ancam Runa.


Rama tertawa kencang, mendengar penuturan dari gadisnya. "Teriak? Coba aja teriak! Gak ada yang bisa dengar suara kamu sayang," balas Rama tertawa remeh.


Runa terdiam, gadis itu menatap penjuru taman dengan ketakutan. Benar, ucapan Rama benar. Disini tak ada orang, jangankan ada orang, tempat ini saja jauh dari kota.


Rama mendekati Runa, cowok itu mengusap lembut pipi Runa. "Ikut aku!" Rama menarik paksa Runa dan membawanya naik ke atas motor.


Dengan ragu-ragu Runa naik ke atas motor, dirinya berusaha untuk mencoba tenang.


Rama menghentikan motornya di suatu tempat, cowok itu turun terlebih dahulu dan disusul Runa. Tiba-tiba Rama menghentikan langkah kakinya, cowok berjongkok di hadapan batu nisan.


Runa menatap sekitar, menatap sekeliling yang ramai akan batu nisan, gadis itu masih tak paham mengapa Rama mengajaknya ke tempat ini.


"Kamu---" Runa menghentikan perkataannya, gadis itu menatap batu nisan yang sedang Rama sentuh. Mencoba perlahan membaca nama yang tersemat di sana.


"Kania Anastasius," mata Runa membulat seketika, usai membaca nama yang tertulis.


"Ram--" belum lagi Runa berucap, Rama berdiri dari jongkok nya terlebih dahulu. Cowok itu menatap dengan tatapan yang sulit Runa tebak.


Menelan kelu saliva nya, Runa berjalan mundur ke belakang. Tatapan itu, tatapan yang selalu Shaka katakan padanya, yaitu tatapan seorang pembunuh.


"Ram--" Runa segera berbalik dan berlari kencang, tapi Rama lebih dulu menahannya, dan memeluknya dari belakang.


"AKHHHH!" teriak Runa terkejut, tubuhnya bergetar kuat.


"Life or death,"


...


Lanjut apa gantung?