
Shaka baru saja tiba di kamarnya pukul 11 malam, dia kembali mengecek ponselnya setelah beberapa jam Shaka tinggalkan. Mencoba untuk menghubungi Runa dan menanyakan keadaan gadis itu.
Mendesah kasar, saat tau jika pesannya masih belum terkirim, malahan yang masuk pesan Runa siang tadi yang meminta izin untuk keluar bersama Vanya, selanjutnya tak ada lagi pesanan yang Shaka terima.
Shaka menutup kedua matanya, diiringi dengan hembusan napas lelah. Rasa lelahnya kini tak sebanding dengan rasa khawatirnya pada Runa.
Meski berulang kali Shaka mencoba untuk tenang dan tetap berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi rasa takut dan khawatir terus mendominasi.
Memilih untuk tak berpikir hal itu lama-lama, Shaka berjalan ke arah balkon. Menatap bangunan di hadapannya. Cuaca disini dari tadi siang cukup tak baik, hujan yang turun terus menerus.
"Kapan semuanya bakal selesai?" gumam Shaka sambil memijit dahinya, pening.
Rasanya Shaka ingin segera cepat-cepat menyelesaikan semuanya dan segera balik ke rumah. Sore tadi Rasya dan Shaka memang rapat, tapi tak bertemu dengan Mr. Mahendra selaku client yang ingin bekerja sama dengannya.
Tak lama pintu kamar Shaka terketuk, Shaka yang tadinya ingin mandi dan membersihkan diri tak jadi, dan langsung melangkah mendekati pintu.
"Ras, kenapa?"
Rasya menyerahkan sekantung kresek berisikan makanan dan minuman yang tadi dia beli untuk Shaka. "Makan! Lo belum makan kan?"
Shaka tersenyum melihatnya. "Makasih,"
Rasya mengangguk pelan. "Khawatir boleh, bodoh jangan!" ujar Rasya.
"Gue tau lo khawatir dan takut saat ini, tapi jangan sampai lo sakit juga. Ntar gue yang susah," meski kadang Rasya dibuat kesal oleh pria di hadapannya itu tapi tak urung jika rasa khawatir akan keadaan sahabatnya itu lebih besar.
Shaka tertawa mendengarnya. Lalu mengajak Rasya untuk masuk ke dalam untuk makan bersama, sembari membahas kegiatan apa yang akan keduanya lakukan esok.
...
Runa sendiri, gadis itu sudah dipindahkan di ruang rawat inap, meskipun begitu keadaannya saat ini masih belum dikatakan baik-baik saja, dia masih menjalani masa koma.
Semuanya masih setia menunggu sadarnya Runa, Ayah Bunda, Lea dan Al harus kembali ke rumah dan akan kembali besok pagi. Tak mungkin juga jika mereka menginap di rumah sakit, walaupun bisa.
Arfan dan anak Alastair bergantian menjaga. Dan sekarang giliran Jihan dan Ale yang menjaga, Arfan dan anak Alastair lainnya pamit ke kantin untuk membeli beberapa minuman dan cemilan. Ada Vanya juga yang masih setia menunggu Runa untuk sadar.
"Kak Vanya mending istirahat dulu," ujar Ale pada Vanya. "Dari tadi siang kakak belum istirahat sama sekali loh. Ini juga udah malam," ujar Ale lagi.
"Iya Van, istirahat di kamar sebelah aja ya? Biar enak tidurnya," sahut Jihan.
Vanya mengangguk menurut, perempuan itu masih memilih menunggu disini daripada harus pulang.
Jihan pun mulai membantunya bangkit dan mengantarkannya ke kamar sebelah untuk beristirahat, Ale yang melihat itu hanya tersenyum simpul. Lalu beralih menatap Runa yang masih setia menutup matanya.
"Baru setengah hari kakak gak sadar gini, tapi rasanya udah beda aja. Kakak buruan sadar dong, biar Ale bisa main lagi sama kakak sama ponakan onty juga." Ale menarik lembut tangan kiri Runa, dan menggenggamnya.
"Bang Shaka juga sampai saat ini masih belum bisa dihubungi, kayaknya di sana lagi gak ada sinyal. Disini dari tadi hujan terus," sambung Ale yang masih setia berceloteh panjang lebar.
"Buruan bangun kak, jangan lama-lama tidurnya." Bisik Ale dengan nada menahan tangis.
Tak jauh dari sana, Arfan berdiri menatap Ale yang berceloteh panjang lebar. Tersenyum simpul mendengarnya, niatnya tadi ingin menyuruh Ale untuk makan, tapi malah melihat Ale yang sedih.
"Liat dek, Ale aja sedih gitu. Gimana gue? Tapi gue yakin, kalau lo itu kuat. Gue juga yakin kalau lo bisa lewati semua ini," kata Arfan dalam hati.
Memutuskan untuk menaruh makanan yang dirinya pesan di atas lantai, Arfan memilih untuk kembali keluar dan menunggu e sampai selesai.
"Gimana udah dikasih ke Ale?" tanya Jihan yang baru saja keluar.
"Udah, aku taruh di depan. Kamu tidur sana sambil temenin Vanya di dalam," ujarnya pada Jihan.
"Aku istirahat dulu, nanti bilangin ke Ale suruh istirahat. Kalian juga jangan lupa buat istirahat," ujar Jihan pada inti Alastair.
"Siap kak!"
...
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, Rasya tiba-tiba terbangun akibat suara dering ponsel yang tak kunjung diam. Masih dengan menutup matanya, Rasya meraba-raba nakas yang ada di sampingnya.
Perlahan-lahan cowok blasteran itu membuka matanya, menatap pesan dan panggilan yang memenuhi layar ponselnya.
Rasya terdiam cukup lama, sebelum akhirnya bangkit dan berlari keluar. Tanpa mengetuk pintu, cowok itu masuk begitu saja ke kamar Shaka, yang saat ini terdiam sembari menatap ponsel.
"Ras, ini gak beneran kan?" tanya Shaka tak percaya, tadinya Shaka ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil, tapi tak jadi akibat ponselnya yang berdering tiba-tiba.
Hal yang paling mengejutkan dirinya adalah, saat banyak panggilan serta pesan yang mengatakan bahwa Runa mengalami kecelakaan dan saat ini tengah koma.
"Kita coba hubungi yang lainnya dulu," Rasya mencoba untuk berpikir positif lagi, meski nyatanya semuanya udah jelas.
Tanpa menunggu balasan dari Shaka, Rasya langsung menghubungi Arthur dan tak lupa menyalakan speaker.
Arthur yang saat itu lagi bersantai dikagetkan dengan deringan ponsel miliknya, Arthur kira yang menelponnya adalah sang Mama, namun ketika melihat nama kontak yang tertulis membuat cowok itu kaget sekaligus senang.
"Rasya telpon," ujarnya heboh.
Sementara Bram dan Arfan yang tadinya ingin tidur dibuat kaget oleh suara Arthur, keduanya kompak menatap Arthur dengan bingung.
"Angkat!" perintah Arfan.
"Halo Ras?"
"Runa gimana keadaannya? Dia gak papa kan? Runa udah sadar kan? Dia di mana sekarang?" Shaka langsung menyerang dengan berbagai pertanyaan.
Arthur yang tak ingin salah kata, memilih menyerahkan ponselnya pada Arfan, membiarkan lelaki itu untuk menjelaskan. "Runa gak papa, dia baik-baik. Sekarang udah dipindahkan ke ruang biasa, tapi keadaannya masih koma." jelas Arfan.
Terdengar helaan napas dari arah sebrang. "Kenapa bisa Runa celaka?"
"Dia ketabrak mobil waktu mau ke rumah Bunda," jawab Arfan.
"Kita balik sekarang!" tegas Shaka setelah mengakhiri panggilan. "Gue gak mungkin diam disini," sambungnya.
"Tenang dulu,"
"Gimana gue mau tenang, sementara Runa di sana lagi bertaruh nyawa!" bantah Shaka dengan nada tinggi.
"Gue tau lo khawatir. Kita bakal balik tapi gak pagi buta juga, siapin diri lo. Gue bakal cari penerbangan pagi ini," suruh Rasya lalu keluar kamar meninggalkan Shaka seorang diri.
...
Seperti ucapan Rasya tadi, kini mereka berdua sudah siap untuk kembali ke Jakarta. Namun kejadian tak mengenakan kembali terjadi, hujan deras disertai dengan angin kencang saat ini melanda tempat mereka.
Yang mau tak mau membuat Shaka dan Rasya harus stay di sana sementara. Tak mungkin juga mereka menerjang hujan untuk balik, yang ada bukannya selamat malah membuat masalah nantinya.
"Gimana Bang?" tanya Ale dari sana.
"Delay," singkat Shaka. "Disini hujan deras sama angin kencang," imbuh Shaka sembari menatap luar.
"Yaudah gak papa. Nanti kalau udah berangkat bilang ke gue," balas Ale.
"Oh iya Bang," Ale menggantung ucapannya. "Tadi dokter yang nanganin kak Runa bilang, kalau kak Runa harus segera dioperasi biar bisa menyelamatkan nyawanya." Ale menghela napasnya sejenak sebelum kembali menjelaskan.
"Tapi lo harus mengikhlaskan salah satu dari mereka berdua," ujar Ale memperjelas.
...
Shaka nampak terdiam sembari menatap jendela luar yang masih turun hujan. Sekarang ia sudah berada di dalam pesawat, tepatnya mereka memakai pesawat pribadi milik Rasya.
Karena tadi tak menemukan keberangkatan di pagi hari, maka keduanya memutuskan untuk menggunakan pesawat pribadi meski harus delay selama beberapa jam.
"Minum dulu," Rasya memberikan sekaleng minuman soda pada Shaka.
"Thanks Ras,"
"Kasih semuanya sama yang di atas, yakin deh. Tuhan tau mana yang terbaik bagi umat-Nya," tegas Rasya tersenyum.
...
...Komen lanjut yang banyak! Nanti malam Nana usahakan update :3...
...______...
...Happy or sad?...