Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Bawa dia kembali



...Untuk part ini aku mau kalian putar lagu :...


...Bawa dia kembali - Mahalini....


.........


Hari-hari terakhir berada di Jakarta, cukuplah sulit bagi nya. Minggu ini adalah seminggu terakhir Runa berada di Jakarta. Karena minggu berikutnya ia sudah berada di Jogja, dimana tempat kelahiran Runa.


Seminggu terakhir yang Runa lakukan adalah, belajar untuk ujian kenaikan kelas dan mempersiapkan diri untuk pulang.


Bel pulang sekolah telah usai, sekarang di kelas hanya menyisakan Runa dan Vanya. Runa lagi siap-siap untuk balik ke rumah.


Syukur nya, hari ini adalah hari ujian untuk mereka. Setelah satu minggu otak mereka di penuhi oleh materi yang membuat pening kepala.


Sesekali manik mata berwarna coklat melirik ke arah Vanya, yang memainkan handphone sambil tersenyum bahagia. Entah apa yang cewek itu lihat, sampai-sampai bahagia sekali.


"Lo balik sekarang?" pertanyaan Vanya membuat Runa tersadar, bahwa ia sedang melamun.


Runa tersenyum, dan menganggukkan kepala. "Iya Van. Aku balik duluan ya, sampai jumpa besok!" pamit Runa, sambil memakai tas ransel hitamnya.


"Iya! Lo ati-ati ya, gue ke aula dulu buat latihan Drama," pamit Vanya juga.


Ke-dua nya sama-sama berpamitan untuk melaksanakan aktivitas mereka selanjutnya. Tepat di tangga, Runa dan Vanya melepaskan pelukan dan mereka berpisah.


Menatap Vanya yang bersemangat membuatnya tersenyum, bicara mengapa Vanya bersemangat hari ini. Padahal yang kalian tau, Vanya adalah cewek yang sekalinya ketemu kasur langsung rebahan.


Itu semua karena Vanya akan menampilkan sebuah pentas seni, tepatnya Drama musikal bagi kakak kelas 12, yaitu angkatan Shaka dan kawan-kawan. Pastinya ada Rasya, hal itulah yang membuat cewek berambut sebahu bersemangat. Jikalau tak ada Rasya, mungkin Vanya akan memilih rebahan di rumah.


Ponsel milik Runa bergetar, ternyata taksi yang Runa pesan sudah hampir dekat. Pulang kali ini, Runa tak dijemput oleh Abang kesayangan nya itu.


Kalian tau sendiri lah, kalau Arfan sudah semester akhir dan beberapa bulan ke depan bakal melaksanakan skripsi. Tentu kalian semua tau seberapa sibuknya. Ditambah lagi dengan menentukan banyak teori dan pikiran.


Kaki mungilnya sedikit dipercepat, Runa menuruni satu persatu tangga hingga sampai di depan gerbang. Kepalanya ia miring kan sedikit, menoleh ke kanan dan ke kiri, dan menatap beberapa teman-temannya yang sudah dijemput oleh orang tua mereka.


"Tunggu sana aja deh," Runa memilih melangkah keluar gerbang. Dan duduk di kursi besi yang disediakan di depan sekolah.


Namun belum lagi langkahnya menjauh, tangannya tertahan. Yang membuat Runa harus serentak menghentikan langkahnya.


"Runa," panggilnya. Tanpa Runa berbalik, gadis itu tau siapa yang memanggilnya.


"Bisa bicara berdua?" tanya Shaka dengan nada yang begitu lembut. Permintaan Shaka membuat Runa membalikkan badan.


Manik mata coklat kini sedang menatap Shaka, menatap mata lelaki itu. Mata yang selalu menampilkan mata tajam kini hanya tersisa penyesalan.


Tak ada lagi mata tajam bak elang itu, semuanya tergantikan dengan penyesalan.


"Maaf kak, aku harus balik." Runa perlahan melepaskan tangan Shaka dari lengannya.


"Kali ini aja. Aku mohon," Shaka kembali menarik telapak tangan Runa dan mengusap nya dengan lembut.


"Beri aku satu kali lagi, buat perbaiki semuanya. Aku mohon," Shaka menatap manik mata Runa dengan dalam-dalam. Dua minggu sudah usaha Shaka untuk membalikkan hubungannya dengan Runa.


Namun kembali ke awal, Runa cuek dan tak peduli. Jangankan cuek, saat bertemu saja gadis ber kuncir itu selalu menghindarinya.


Kalau diingatkan kembali, dalam hati yang paling dalam Shaka menyesalkan semuanya, menyesal atas apa yang dia perbuat. Membentak, memarahi Runa dengan kata-kata yang tak seharusnya dia ucap, sampai lebih mementingkan wanita lain yang jelas-jelas hanya ingin membalaskan dendamnya saja.


Memang benar penyesalan akan datang di akhir, ya kalau awal mah pendaftaran.


"Apa lagi yang diperbaiki?" tanya Runa dengan nada bergetar. Mereka sama-sama saling menatap satu sama lain, dan sama-sama melemparkan tatapan kecewa.


"Memperbaiki hubungan kita," ujar Shaka. "Aku tau kesalahan yang aku buat emang gak bisa dimaafin. Cuma yang aku mau adalah kamu kasih satu kesempatan untuk rubah semuanya,"


Runa tertawa ringan dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. "Jujur, awalnya aku emang mau kasih satu kesempatan buat kamu. Cuma aku kira itu bakal sama aja, karena nyatanya buat apa kamu berubah kalau kamu masih terombang-ambing di masa lalu." Runa berujar dengan nada yang begitu pelan, namun yakinlah bahwa perkataan yang Runa ucap begitu memilukan.


Helaan napas panjang terdengar. Runa segera menghapus air matanya dan kembali menatap Shaka. "Oke, aku kasih satu kesempatan lagi buat kamu. Aku tunggu nanti jam 7 di taman nasional, kalau sampai kamu gak datang. Jangan harapkan kesempatan itu bakal balik lagi," kata Runa dengan menekankan kata akhirnya.


Melepaskan perlahan genggaman Shaka, Runa berbalik dan melangkah meninggalkan Shaka. "Aku pamit dulu,"


"Aku antar gimana?" tawar Shaka.


"Gak usah," tolak Runa. "Taksi aku udah datang. Ingat kata-kata aku tadi," pesan Runa pada Shaka. Lalu memasuki taksi online yang dia pesan.


Hanya bisa menatap taksi yang Runa tumpangi, yang perlahan menjauh. Dalam hati Shaka, lelaki itu bersorak gembira. Akhirnya perjuangan nya berhasil juga untuk mengajak Runa ketemu.


"Aku janji buat gak sia-sia in kamu lagi," tekad Shaka. Mendekati motor nya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri tadi, Shaka langsung menyalakan motor nya pergi.


Memilih tak terlalu dekat dengan mobil yang Runa kendarai, takutnya gadis itu malah tau dan semakin marah padanya.


Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Lelah banget hari ini," keluh Runa. "Kenapa hari cepat sekali? Mana beberapa hari ke depan udah pindah," lirih Runa.


"Kayaknya aku emang harus bilang ke Vanya deh secepatnya," sambung Runa dalam hati sambil menatap ke luar jendela.


...


Taksi yang Runa tumpangi kini sudah terparkir rapi di depan rumah berlantai 2. Perlahan pintu taksi terbuka, menampilkan Runa dengan rambut yang sedikit acak-acakan.


Terlihat menggemaskan bagi Shaka. Memastikan bahwa Runa sudah masuk ke dalam, Shaka kembali menyalakan motor ninja miliknya untuk balik ke rumah.


Siang ini cukup melelahkan baginya.


"Runa pulang," kata Runa memasuki rumah. Terlihat bahwa di rumah hanya ada Runa saja, jam segini Arfan pasti ada kelas lalu kalau Ayah dan Bunda? Mereka ke Jogja, kalau kalian lupa.


Meneguk air hingga tandas, Runa menggelap pelipisnya yang keluar keringat. "Gak papa kamu bisa," gumam Runa dengan pelan, sambil menyemangati dirinya sendiri.


"Assalamu'alaikum Shaka balik," ujar Shaka memasuki rumah, dengan wajah yang berseri tentunya.


"Balik juga lo," cetus Ale dengan muka bantal nya.


Shaka berdehem singkat, dan langsung menarik Ale ke arah sofa. "Lo napa?" Ale merasa seketika aneh pada diri Shaka, patut di curigai.


"Runa ajak gue balikan," Shaka begitu semangat.


"Syukur deh kalau gitu," sahut Ale. "Kayaknya lo jangan terlalu berekspektasi terlalu tinggi deh, karena bisa jadi kak Runa cuma mau ajak lo ketemuan. Inget Bang, kecewa nya orang sabar itu lebih mengerikan dari pada setan," ujar Ale dengan tegas.


...


Menatap penampilannya dari pantulan kaca, dirasa sudah pas Runa melangkah keluar, ojek yang dia pesan sudah berada di luar.


"Runa keluar dulu, ada urusan." Runa menyalami tangan Arfan dan langsung mempercepat langkah kakinya keluar rumah, sebelum Arfan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


"Makasih pak," kata Runa pada pak ojek, tak lupa mengembalikan helm. Gadis itu sudah sampai di depan tempat yang mereka janjikan untuk bertemu. Taman Nasional.


Sedangkan Shaka, sedang asik dengan jalan depan. Sebentar lagi dia akan sampai, rasanya tak sabar untuk berbicara berdua dengan Runa.


Memarkirkan nya di tempat parkiran khusus motor, matanya menelisik sudut tamat mencari keberadaan Runa. Hingga segaris senyum tipis terlihat.


Melangkah mendekati Runa. Tetapi tak tau dari arah mana, ada sebuh motor dengan kecepatan tinggi mengarahkan ke arah Runa.


Melihat itu dengan cepat Shaka berlari. "RUNAAA AWASSS!" pekik Shaka berteriak.


Runa yang merasa diteriakin langsung menoleh ke belakang. "KAK SHAKAAAAA!!!" teriak Runa histeris, tubuhnya menegang saat melihat Shaka yang terbaring bermandikan darah.


Gadis itu mengangkat kepala Shaka, mengusap dahi dan wajah Shaka yang amat banyak mengeluarkan darah.


"Kak Shaka denger Runa kan? Kak Shaka buka matanya! Kakak denger Runa kan?" Runa sedikit mengguncang tubuh Shaka, bulir air matanya menetesi pipi. Tangannya beberapa kali menepuk pipi Shaka agar lelaki itu tetap sadar.


Suara tangisan terdengar tak begitu jelas di telinganya, suara tangisan yang sangat dia kenal, tangisan yang sangat Shaka rindukan.


"R-runa, a-aku---" Shaka berkata dengan terbata-bata, tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi Runa.


"Iya ini Runa, kakak harus kuat ya. Kita ke rumah sakit sekarang," ujar Runa dengan lirih. "Jangan tinggalin Runa," bisik Runa.


Shaka mengangguk lemah, lalu tersedak. Gumpalan darah keluar membanjiri mulut nya. Melihat hal itu Runa semakin histeris, ia kalang kabut mencari bantuan.


"Ma-maafin aku yang u-udah gagal, b-buat j-jaga kamu, jaga diri baik-baik." pesan Shaka, sejenak menutup kedua matanya, merasakan sakit yang amat dalam. Mungkin itu tak seberapa dibandingkan rasa sakit yang Runa alami. Setelah itu perlahan kedua mata Shaka tertutup perlahan.


"KAK SHAKAAAA!!" Runa menjerit kencang, dia memeluk erat tubuh Shaka tanpa memperdulikan baju yang dia pakai kini terlumuri darah.


...


Ramaikan episode ini dengan komentar kalian ya, beberapa hati ke depan Shaka Runa bakal tamat, makasih buat yang mampir baca cerita ini.


...Arshaka Virendra Aldebaran...



..."Kesalahan terbesar yang ku buat adalah, menyia-nyiakan mu ketika ada di samping ku."...