Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Berbagi



Waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, setelah melaksanakan shalat dhuhur berjama'ah. Seluruh anggota Alastair kini berdiri di motor mereka masing-masing.


"Udah siap semuanya?" teriak Arthur, cowok itu menoleh ke belakang dimana anggota Alastair berjejer rapi.


"SIAP!" balas semuanya.


Bendera Alastair di kibarkan, bendera berwarna hitam dengan gambar Elang dan tak lupa tulisan Alastair yang tercetak jelas di tengah-tengah.


Jika kalian tanya siapa yang buat itu semua, pembuatnya adalah Arthur sendiri orangnya. Dibantu juga dengan Rayn. Setelah beberapa kali mereka menganti logo geng motor mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengantinya dengan gambar Elang ini.


"Yuk berangkat!" Perlahan satu persatu motor mulai meninggalkan warjok, motor Alastair berjalan memenuhi jalanan raya.


Tujuan mereka kali ini ingin berbagi makan siang, sambil menemui beberapa panti asuhan untuk berdonasi. Siang ini adalah hari paling berharga bagi para anggota Alastair lainnya.


Alastair bukan sekedar geng semata, namun bisa dikatakan sebagai sebuah komunitas. Mungkin sebagian orang memandang mereka remeh.


Geng motor? Pasti kalian semua menggura geng motor itu jahat, terus anaknya bandel-bandel, gak punya hati dan paling penting. Seenaknya sendiri.


Memang itu semua adalah awal ketika kita melihat Alastair. Namun dibalik itu semua, mereka saling membantu satu sama lain, berbagi dengan sesama dan selalu mendukung satu sama lain.


Mereka mulai membagikan nasi kotak untuk makan siang ke pada orang-orang pinggir jalan. "Ini pak makan siangnya, semoga berkah." Arthur serta Bram membagikan makanan itu kepada para ojol yang sedang berisitirahat di atas trotoar.


"Makasih Mas!"


"Selamat siang Pak, silahkan diambil makan siangnya. Semangat kerjanya ya pak!" ujar Tara bersama dengan beberapa anak Alastair.


Setelah dirasa semuanya terbagi rata, mereka melanjutkan kembali ke panti asuhan, sekalian juga makan siang bersama. Panti asuhan kali ini adalah panti asuhan 'Nurul Iman'


"Assalamu'alaikum," ujar para anggota Alastair.


"Waalaikumsalam, eh kalian. Ayo masuk-masuk, silahkan." Kata ibu-ibu paru baya.


Memang sebagian dari anak Alastair tak semuanya memeluk agama Islam. Namun dengan berbagi ini, mereka bisa bersilahturahmi dengan sesama, lagian Shaka juga tak melarang. Cowok itu malah senang jika mereka mau ikutan.


Disini lah mereka semua memutuskan untuk makan siang, di temani dengan anak-anak panti yang ramah dan murah senyum. Makan Siang memang tak terlalu mewah namun waktunya yang begitu berharga menjadikan istimewa.


...


Runa tengah berada di ruko sang Bunda, siang ini cukup banyak pembeli yang datang. Sekarang Runa dan Bunda tengah makan siang bersama.


"Dek,"


"Iya Bunda ada apa?" tanya Runa.


"Bunda dapat telpon barusan sama mbak Popi kalau keadaan nenek lagi-lagi gak baik, Bunda mau ke Jogja lagi ini. Kamu ditinggal gak papa kan nak?" tanya Buda sambil mengusap rambut panjang milik Runa.


"Emang Bunda mau ke Jogja kapan?"


"Bunda belum tau, mau nya sekarang. Nanti sore Bunda sama Ayah bakal ke Jogja naik mobil." Tutur Bunda.


"Alhamdulillah kalau gitu. Kita pulang sekarang aja ya? Lagian rotinya juga udah pada habis sebagian. Ayah kamu juga perjalanan pulang."


"Oke Bun, biar aku aja yang beresin semuanya. Bunda tinggal lanjut makan Bunda aja. Runa udah selesai." Runa bangkit dari duduknya, membuang sampah lalu membereskan semuanya.


...


Shaka baru saja sampai rumah, cowok itu segera menganti semua pakaian dan turun ke bawah, menghampiri Ale yang tengah sibuk dengan TV di depannya.


"Mama ke ruko?" tanya Shaka yang tak melihat sang Mama sedari tadi dia pulang.


"Iya, Mama ke ruko. Lo habis dari mana?" tanya Ale.


"Biasa,"


Ale mendegus sebal. "Biasa apa? Biasa ribut? Tumben banget ribut kagak bawa luka di muka, biasanya muka lo bonyok kalau habis berantem." katanya terkekeh pelan.


Shaka berdecak. "Panti asuhan," jawab Shaka.


Ale ber'ohria. Lalu mengangguk kan kepala paham. "Yah, kenapa lo kagak ajak gue, gue kan mau ikut!" kadang Shaka memang kalau mau berbagi mengajak Ale, karena Ale akan membagikkan apa yang dia punya juga pada orang lain.


"Gue lupa tadi, bulan depan aja sekalian." balas Shaka.


"Ck, oke deh kalau gitu."


...


"Bunda sama Ayah hati-hati ya di jalan, salam buat tante Popi sama nenek." Runa dan Arfan tengah mengantar Bunda sampai depan gerbang.


"Iya, Arfan jagain Runa ya. Bunda sama Ayah gak bakal lama di sana, paling cuma 1 minggu aja. Nanti bakal balik lagi." Tutur Bunda Yuna.


"Tenang aja Bun, sama Arfan semuanya beres." balas Arfan.


Bunda tersenyum manis, wanita itu memeluk Arfan dan Runa bergantian. Lalu masuk ke dalam mobil yang sudah ada Ayah. "Ati-ati Yah! Kalau capek, istirahat aja dulu." ujar Runa pada Ayah.


"Iya Sayang, kamu hati-hati ya di rumahnya!" pesan Ayah.


"Oke Ayah!" Perlahan mobil Bima pergi meninggalkan pekarangan rumah.


Pasti kalian semua bertanya-tanya kenapa Yuna dan Bima harus bolak-bakik ke Jakarta-Jogja? Semua itu karena Bima adalah anak pertama sekaligus anak satu-satu nya yang tinggal di Indonesia.


Semua adik Ayah Bima bekerja dan pindah ke luar negeri, jadi hanya menyusahkan Ayah Bima yang ada di Indonesia.


"Masuk," Arfan menarik Runa untuk masuk ke dalam rumah.


...


Jejaknya jangan lupa ❤