
Setelah kepergian Rama, Runa terdiam di atas kursi. Sembari memikirkan cara untuk pergi dari tempat ini tanpa sepengetahuan lelaki itu.
Menatap sekeliling dengan serius, hingga matanya terhenti pada satu titik.
Dimana di sana ada satu jendela yang berukuran cukup besar, dengan ditutupi oleh kayu. Mencoba untuk mendekati jendela itu.
Hanya ingin memastikan, sekarang ini Runa ada dimana?
Pelan-pelan, Runa menggerakkan kursinya perlahan mendekati jendela kaca itu, sampai tiba di dekat jendela. Runa mencari celah untuk bisa mengintip keadaan di luar sana.
Gelap, keadaan luar sangat gelap. Tak ada orang yang terlihat, hanya suara hewan yang terdengar. Runa yakin jika tempat ini jauh dari tempat ia tinggal.
"Aku dimana sekarang?"
Napas panjang terdengar, masih mencoba mencairkan pikiran untuk bisa mengatur cara agar bisa pergi dari tempat.
"Lebih baik aku istirahat sebentar. Dan lanjut buat pikir nanti gimana caranya buat pergi dari tempat ini," putus Runa.
Rama sendiri terduduk di atas kursi kayu, tangannya memainkan kunci lalu memutarnya.
Sampai tiba suara pintu terbuka, dan langkah kaki mendekat. Tanpa Rama menoleh cowok itu tau siapa orang yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Gimana keadaan tuh cewek?" tanya seseorang di belakangnya.
"Semuanya aman,"
Perempuan di belakang Rana mengangguk mengerti, tanpa basa basi perempuan itu mengulurkan tangannya, dan langsung meminta Rama kunci. "Kunci,"
"Gue buang,"
"Bodoh! Terus gimana caranya gue masuk?" perempuan itu menjambak rambutnya frustasi.
Rama berdecak kesal. "Iya iya, nih kuncinya. Terserah lo mau apain dia," Rama merogoh saku celana, dan memberikan sebuah kunci lainnya pada perempuan di belakangnya.
Perempuan tersebut tersenyum, dan mengambil alih kunci dari tangan Rama. "Gini dong! Gue duluan ya, mau cek dia."
Memegang gagang pintu, perempuan itu perlahan masuk ke dalam. Mengintip ke dalam, dapat terlihat jika Runa te han tertidur dengan posisi yang mengenaskan.
Melihat itu membuat perempuan itu tersenyum bangga. Bangga atas semua rencana yang sudah dirinya susun selama ini berhasil.
"Akhirnya, setelah 5 tahun lamanya gue menyusun ini semua. Semuanya berjalan mulus," perempuan itu dengan bangganya mendapatkan sosok yang telah lama dirinya incar.
"Kayaknya seru kalau kita main main sebentar, terus besoknya lo terbunuh dengan cara yang mengenaskan."
Menyandarkan diri disalah satu meja, menatap Runa yang tergeletak di atas kursi dengan keadaan terikat.
"Kasihan gue sama lo," perempuan berambut coklat menampilkan wajah sedihnya, lalu tertawa kencang.
"Lagian jadi orang bodoh banget, bisa bisanya percaya sama Rama. Rama lo percaya," remeh nya.
"Ini belum seberapa, dibandingkan dengan kehancuran gue. Lo harus mati, karena lo hanya parasit yang di hidup kita!" memilih untuk kembali keluar, tak lupa kembali mengunci pintu dari luar.
"Tambah penjagaan lagi, karena gue baru dapat kabar. Kalau Shaka dan bawahannya sudah mulai bergerak," suruh nya dengan berbisik.
Tanpa mereka ketahui, Runa sedari tadi mendengar pembicaraan antara Rama dan sosok perempuan yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Jika kalian pikir Runa akan tidur, maka jawabannya salah. Karena gadis itu hanya mengistirahatkan sejenak tubuhnya.
Dan terbangun akibat suara pintu terbuka, gadis itu hanya berpura-pura tidur untuk mengetahui siapa sosok orang yang masuk ke dalam ruangan.
Saat mendengar suara perempuan itu, membuat Runa mengernyitkan dahi. Mengapa suara itu terdengar tak asing lagi ditelinga nya?
"Itu suara siapa? Dan kenapa suaranya gak aneh di telingaku," ungkap Runa.
Di tempat lain, Shaka dan yang lainnya baru saja tiba di tempat tujuan. Tepatnya berada di taman, tempat inilah yang menjadi tempat terakhir keberadaan Runa terlacak.
Shaka, Rasya, Tara dan Arya serta beberapa anak bawahan yang diutus Al perlahan berpencar. Mereka mencoba mengelilingi taman itu dengan bantuan senter akibat taman ini minim sekali cahaya.
Setengah jam sudah mereka semua mengelilingi taman, namun sampai sekarang mereka sama sekali tak menemukan titik terakhir Runa berada, atau jejak terakhir gadis itu.
"Udah ketemu Runa nya?"
Semuanya menggelengkan kepala, yang artinya mereka juga sama-sama tak menemukan keberadaan Runa.
"Rek bentar dulu," Tara mencegah yang lainnya untuk bangkit meninggalkan tempat.
"Lo semuanya ngerasa aneh gak sih," Tara merasakan ada keanehan.
"Coba kalian pikir, kita kesini aja membutuhkan waktu hampir setengah jam lebih. Terus Runa ngapain kesini, kalau teman ini cuma lahan kosong."
"Padahal di Jakarta sendiri, tamannya gak jauh bagus dari tempat ini."
"Udah disusun," cetus Rasya, kini membuat yang lainnya menatap nya.
"Semuanya udah disusun dari lama," ulang Rasya.
...
Runa terbangun sesaat ketika mendengar suara ramai dari arah depan, dengan sedikit penasaran gadis itu mengintip nya dari jendela.
Matanya membulat seketika, melihat banyak sekali mobil yang akan pergi meninggalkan tempat itu.
Melihat hal itu, Runa mencoba untuk menjerit kencang. Mungkin saja suaranya bisa terdengar sampai keluar. Dengan begitu, Runa bisa pergi dari sini.
"Eemmhh," jerit Runa.
Dirinya lupa jika mulutnya diikat dengan kain, yang membuat Runa tidak bisa berkata apa-apa.
"Tolong! Siapapun tolong Runa," batin Runa menjerit.
Kembali mencoba membuka ikatan tali, bergerak ke kanan dan ke kiri agar memudahkan dirinya untuk membuka. Tetapi hal itu malah membuat ia kelelahan.
Di sana, tepat sekali diujung sana ada remukan dari pecahan kaca. Runa kembali menatap tali di tubuhnya dan melirik pecahan kaca berulang kali.
Sampai segaris senyum terlihat dibibir mungilnya. Sekarang yang harus dirinya lakukan adalah, berjalan ke sana dan mengambil pecahan kaca untuk menjadikan kaca itu sebagai pengganti gunting.
Berjalan ke ujung dengan sedikit menggeser kan kursi, sampai akhirnya Runa tiba.
Gadis itu sedikit mengepaskan kursi. Dirasa sudah pas, Runa mulai menggores kan kaca tersebut pada tali di tangannya.
"Bisa yok bisa!" berusaha untuk melepaskan ikatan tali, hingga perlahan tali yang mengikat kedua tangannya melepas.
Runa bernapas lega, dengan segera Runa melepaskan penutup mulut dan mulai membuka ikatan tali yang melilit di tubuhnya.
Mengatur napasnya kembali, Runa mencoba bangkit dari duduknya, namun kakinya tak sengaja tersangkut pada ujung kursi, yang membuatnya tersungkur ke depan.
"Akhh!" pekik Runa sedikit teriak.
Sadar akan suaranya, Runa dengan cepat menutup kedua mulutnya dan merutuki dirinya sendiri. "Mampus!"
Mencoba bangkit dari jatuhnya, Runa berjalan menuju pintu, meraih gagang pintu Runa mencoba untuk membukanya. "Pakai dikunci lagi!" kesal Runa.
Berbalik ke belakang dan berjalan menuju jendela, Runa kembali mengamati setiap sudut kamar. Untuk mencari senjata agar bisa melepaskan kayu yang dipasang rapat di jendela.
Sibuk mencari senjata, Runa tak sadar akan kehadiran seseorang. Saat sadar, Runa berbalik ke belakang. Tubuhnya kembali menegang, suara kunci kunci berputar mulai terdengar.
Perlahan dan pasti, pintu kamar perlahan terbuka lebar. Melihat itu Runa langsung berlari dan bersembunyi di balik lemari kayu.
"Runa," panggil Rama masuk ke dalam kamar, mencari gadisnya.
Rama mengumpat kasar, saat tak mendapatkan keberadaan Runa. Lebih marah lagi saat gadis itu menghilang, kini Rama mulai masuk lebih dalam lagi. Menjelajahi setiap sudut ruangan.
Tak lama terdengar suara tawa, tawa yang memenuhi sudut ruangan. "LET'S PLAY BABY!" pekik Rama menggema.
"Yang ketemu duluan dia bakal kalah, dan hukumannya bakal mati!"
Rama mulai menyusuri setiap sudut kamar, tangannya tak diam, cowok itu berjalan sembari memegangi sebuah pisau.
Mendengar penuturan yang Rama kata, membuat Runa ketakutan. Membekap kedua mulutnya dengan tangan, berusaha untuk tak bersuara.
Melirik dari samping, tak kala melihat bayangan Rama mendekat. Sebisa mungkin Runa tak bersuara, jangankan bersuara gadis itu bernapas saja masih tetap berpikir.
Langkah kaki Rama mendekat terdengar. "Runa!" Rama membuka tirai --tempat dimana Runa bersembunyi.
"****! Pakai acara kabur lagi!" Rama langsung berlari keluar.
Memastikan bahwa tak ada orang, Runa perlahan keluar dari bilik pintu. Dirasa telah aman, Runa melangkah keluar dengan mengendap-endap. Sesekali melirik ke belakang, bernapas lega, kala Runa berhasil keluar dari rumah tua.
Kini Runa menatap penjuru jalan jalanan, menatap ke arah Timur, Runa segera berlari ke sana. Dan parahnya salah satu anak buah Rama mengetahui keberadaannya dan berteriak memanggil Rama.
Melihat Runa berlari, membuat Rama marah. Cowok itu lantas mengejar Runa. "Jangan lari kamu!"
Menatap Rama yang terus mengejarnya membuat Runa semakin kewalahan, berkali-kali gadis itu tersandung dan terjatuh. Sebisa mungkin Runa bangkit dan mencari pertolongan.
Menghentikan larinya sejenak, menatap tiga jalur di depannya. "Sekarang aku harus kemana?" tanya Runa kebingungan.
Tanpa berpikir panjang, Runa memilih berlari ke jalur kanan. Berusaha untuk tetap fokus pada larinya, sampai akhirnya Runa terhenti pada satu pohon besar.
Berjalan mundur sambil melihat Rama dari kejauhan. "Akhhh--- eemmhh!" Runa menjerit kaget.
"Shut jangan teriak!" bisik seseorang di hadapannya.
Mendengar bisikan itu, membuat Runa perlahan membuka matanya. Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan sosok didepannya, nyata atau tidak.
"Kak S-shaka,"
...
Saat ini, keduanya duduk sembari menatap hamparan danau yang luas dihadapan mereka. Setengah jam keduanya berdiam diri, tak ada yang mau membuka suara.
Melihat Runa yang tak baik-baik saja, membuat Shaka terhenyak. Lihatlah, keadaan gadis itu. Baru saja di culik setengah hari, keadaannya sudah begini. Dengan luka sayatan di mana-mana, baju yang sudah tak layak pakai.
Akibat tak tega, Shaka mengeluarkan kotak obat yang sudah dirinya siapkan. Melepas jaketnya dan memberikannya pada Runa. "Pakai cuacanya dingin," suruh Shaka.
Melirik jaket pemberian Shaka, Runa menganggukkan kepala. "Makasih," Runa perlahan melepas kemeja kerjanya, dan menutupi tubuhnya dengan jaket pemberian Shaka.
Untungnya Runa memakai tank top, jadi tak membuatnya khawatir. Dirasa Runa telah mengganti pakaiannya, Shaka mulai menggulung jaket, dan mulai mengobati luka di diri Runa.
"Kalau sakit bilang," dengan telaten cowok itu mengobati luka Runa.
"Maaf," sesal Runa membuat Shaka mendongak, menatap Runa cukup lama.
"Gak perlu, disini kita sama-sama salah. Salah mengambil keputusan dan salah menilai seseorang," kata Shaka dengan bijak
Hanya membalas anggukan setuju. Lalu mereka sama-sama saling memaafkan, sama-sama berbagai cerita.
Tanpa mereka sadari, di sana bukan hanya Shaka dan Runa lah yang ada. Tak jauh dari tempat mereka duduki, Rama bersembunyi dibalik pohon, menguping semua pembicaraan antara keduanya.
Rama menatap itu marah, tangan kanannya sudah memegang pistol yang siap untuk dimainkan. "Ayo! Bunuh mereka," ujar perempuan dari telpon.
"Ayo Rama! Mereka lagi berdua, ayo tembak mereka!" kompor nya.
"Rama! Ingat ya, karena mereka. Kita kehilangan dia, kita kehilangan Papa sama Mama. Ayo bunuh sekarang!"
Dengan beraninya, Rama mengangkat pistolnya dan mengarahkannya pada kedua orang dihadapannya. Setelah dirasa tepat sasaran, Rama mulai menarik sumbu pistol. Dan....
DOORR!
...
Gantung bentar, ntar lanjut lagi :)))