
Semalam ketawa sendiri baca komen kalian semua, akhirnya bisa buat kalian kesel. Yang sabar ya, semoga darah tinggi kalian gak naik gara-gara cerita ini 😂
...
Runa berjalan keluar kelas terlebih dahulu, di susul Shaka di belakang nya. Runa ingin mencari tempat yang tak cukup banyak orang. Gadis itu hanya tak ingin jika seseorang mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Memilih tangga menuju ke atas roof top, dan Shaka menurutinya.
Ada suatu hal yang benar-benar Runa ungkapkan kali ini dengan serius pada Shaka.
"Kok diam, jadi ngobrol nya gak? Yaudah, kalau gak jadi. Aku balik aja ke kelas," ujar Runa namun sebelum itu Shaka terlebih dahulu menahannya pergi. Membuat tubuh mungilnya hampir menabrak Shaka.
Runa mendorong tubuh Shaka untuk sedikit menjauh, bisa bahaya jika kena omongan anak-anak.
Runa perlahan melepaskan pegangan tangan Shaka, matanya menatap Shaka dengan tatapan yang begitu berbeda. Tatapan yang kembali membuat tubuh Shaka tersentak hebat.
"Aku dan Kania---"
"Nemenin," potong Runa. "Nemenin berobat kan?"
Shaka terdiam. "Iya nemenin Kania berobat," jawab Shaka pelan.
Runa tertawa keras, tawa yang kembali Shaka dengar sebagai tawa ejekan baginya. Tawa yang kembali lagi Shaka dengar setelah kejadian waktu itu. "Nemenin ya?" Runa menganggukkan kepala dua kali. "Ada ya, nemenin sambil pegangan tangan, pelukan, sampai serumah lagi. Kenapa gak sekalian tidur berdua?" Sarkas Runa.
"Atau sebenarnya, emang udah pernah lagi." ujar Runa pada Shaka. "Tidur berdua," imbuh Runa.
"Aku bukan kayak gitu,"
"Yakin?" matanya kembali memancarkan kekecewaan. "Kok gak yakin ya. Jadi ngerasa iri deh sama kak Kania. Bisa berdua bareng, main, makan, ditemenin dimana pun, di jaga, selalu diantar ke rumah sakit kalau mau periksa," sindir Runa.
"Bukan gitu Runa,"
"Bukan gitu gimana?" tanya balik Runa. "Itu beneran sakit, apa cuma pura-pura ya? Biar dikasihani, oh atau jangan-jangan emang gak berfungsi lagi dengan baik." ujar Runa sambil mengelus dagunya seakan tengah berpikir.
"Kania emang sakit," bela Shaka.
Menatap Shaka tak percaya. "Sakit? Perasaan itu terus deh jawabannya, gak ada yang lain? Ini bukan sekali dua kali kamu jawab gini terus loh, ini udah kesekian kalinya kamu jawab begini."
"Kalau emang kamu udah gak ngerasa nyaman sama aku, kenapa gak kamu lepas, kamu tau aku mempertahankan hubungan kita karena aku mau kamu keluar dari masa kelam kamu itu." sambung Runa.
"Runa," Shaka memanggilnya. Kembali menghentikan Runa untuk tak pergi dari tempat ini. Dan hendak mengambil tangan Runa, namun lagi dan lagi Runa menepis pelan, kali ini Runa harus tegas Runa gak boleh lemah dan Runa gak boleh luluh begitu saja dengan sikap Shaka.
"Sebenarnya kamu anggap aku ini apa?" tanya Runa pada Shaka. "Oh iya lupa, pelampiasan. Aku hanya pelampiasan. Aku cuma cewek yang gak tau diri, cuma cewek yang lemah, cewek yang dikit-dikit nangis, dikit-dikit menyerah, dikit-dikit ngambek." ujar Runa, kembali mengingat-ingat perkataan Kania tadi.
"Runa tenang,"
"Gimana aku bisa tenang? Sedangkan kamu enak-enakan main sama kak Kania tanpa beban!" Runa kembali kehilangan kendalinya.
"Harusnya aku sadar sih dari awal, kita beda, kita beda semua. Kamu kalangan atas, anak donatur, ketua geng, cowok yang disegani di sekolah ini, bermarga Aldebaran. Sedangkan aku? Kalangan bawah, cuma gadis biasa yang bermimpi tinggi bisa berdampingan sama kamu, gadis lemah dan gadis yang mudah menyerah." ujar Runa.
"Apa aku harus pergi dulu, baru kamu bisa anggap aku ada? Apa aku harus menjauh dulu, biar kamu cari kemana aku berada? Apa aku harus sakit dulu, biar kamu bisa jaga aku sama seperti kamu jaga kak Kania?" tanya Runa pada Shaka.
"Aku gak mau kamu pergi,"
"Kalau kamu gak mau aku pergi, kita sama-sama berjuang bareng." keluh Runa. "Jangankan berjuang, diajak ketemu berdua aja alasannya kayak mau pindahan muter aja. Ujung-ujungnya keluar sama kak Kania," imbuh Runa.
"Aku salah, aku antar Kania karena dia emang lagi butuh. Kalau bukan aku siapa lagi? Orang tuanya udah gak perduli sama dia," ujar Shaka.
Runa hanya menatap Shaka dengan sengit. "Sebegitu percayanya kamu sama kak Kania?" batinnya dalam hati.
"Udah selesai kan ngomongnya, aku mau balik," ujar Runa namun kembali lagi Shaka mencegah gadis itu pergi.
"Mau kemana?" tanya Shaka. "Kita belum selesai ngomong berdua Runa,"
"Apa yang mau dibicarakan Tuan Shaka yang terhormat!" ujar Runa sarkastik. "Kamu mau jelasin apa ke aku? Sedangkan kamu aja nutupi semua permasalahan, jangan kan bilang ke aku, kita ngobrol berdua aja kamu selalu menghindar kak. Apa salahnya, buat kamu cerita ke aku." ujar Runa.
"Kalau aja boleh jujur, aku mau kak Shaka yang dulu, aku lebih suka kak Shaka yang dulu. Kak Shaka yang gak cinta sama aku tapi dia menjaga aku sepenuh hati dibandingkan sekarang!" desis Runa dan berlari menjauh meninggalkan tempat.
...
"Runa," dengan segera Runa menghapus air matanya dan mendongak ke atas.
"Galang?"
"Lo ngapain di sini? Ini masih jam pelajaran sekolah," tanya Galang sambil menatap jam tangan di tangan kirinya, masih pukul 10 dan gadis ini berada di luar kawasan sekolah.
"Lo kenapa, sampai keringetan gini kayak habis dikejar-kejar sama orang aja." guraunya sembari mengelap keringat Runa dengan sapu tangan. "Nih minum dulu," Galang memberikan sebotol air mineral.
"Makasih," Runa langsung meneguk minuman itu hingga setengah.
"Ada yang mau gue omongin ke lo," kata Galang.
Alis Runa terangkat sebelah. "Mau ngomong apa?" tanya balik Runa.
"Gimana kalau ke cafe depan, sekalian ngadem, disini panas." ajak Galang sembari menunjuk cafe yang tak jauh dari halte bis.
"Galang mau bicara apa?" tanya Runa, mereka berdua sudah berada di dalam cafe.
"Mending pesan makanan dulu, biar gue yang bayar." Galang mengangkat tangannya memanggil salah satu pelayan.
"Galang mau bicara apa?" tanya Runa pada Galang, dirinya sudah penasaran sedari tadi.
Arfan berdehem singkat, sedikit menggeser kan kursi untuk lebih mendekati Runa. "Pertama gue mau ucapin makasih sama lo, karena lo gue bisa menjadi Galang yang sekarang."
Runa menanggapi dengan senyuman simpul. "Sama-sama,"
"Gue mau bilang kalau gue harus pindah," sambung Galang.
"Pindah?" Galang mengangguk kecil, dia langsung menceritakan semuanya.
"Kok lo nangis," Galang seketika gelagapan.
Tertawa singkat, Runa menatap Galang. "Kalau kamu pindah berarti kita gak bisa main bareng dong," katanya dengan polos.
Helaan napas panjang terdengar. "Ya ampun Runa, ini udah jaman modern. Kita bisa nanti buat vidio call, telpon, chatting." ujarnya pada Runa.
"Harus nih pindah,"
"Iya harus, keluarga gue semuanya ada di Amsterdam Runa, jadi mau gak mau gue juga harus ke sana." jawab Galang.
"Terus sama Gundala gimana?" tanya Runa kembali.
"Gue udah keluar dari Gundala, gue mau fokus ke kerjaan dan juga kuliah gue nanti, makanya sekalian juga gue kuliah di sana." tepat semalam Galang memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua geng Gundala, dalam hati paling dalam Galang masih belum merelakan. Namun bagaimana juga semuanya harus dia lakukan.
"Udah gak usah sedih gitu mukanya." Galang mengusap lembut kepala Runa. "Bentar deh, gue ada hadiah buat lo." Galang mengeledah jaket kulit miliknya lalu mengeluarkan kantong pouch kecil.
"Itu apa?" tunjuk Runa.
"Gelang," balas Galang singkat. Mengambil salah satu gelang, Galang langsung memasangkan nya di tangan kanan Runa.
"Mana tangan lo," mendekatkan gelang miliknya dengan gelang milik Runa. Runa sedikit terkejut ketika gelang itu menempel.
"Bisa nempel?"
Galang tertawa melihat wajah polos gadis di depannya. "Bisa. Gue kasih ini sebagai kenangan kita berdua, lo jaga ya gelang nya." pesan Galang pada Runa.
Runa mengangguk. "Pasti,"
....
Btw masa kelam Runa bakal segera ke bongkar, jadi tungguin aja yaa..
Yang nanya gelang mereka berdua kayak gimana nih..