Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Olimpiade



DOBEL UPDATE YA!


...


Seorang laki-laki dengan setelan seragam putih abu-abu tengah menatap jam tangan hitam yang melekat di pergelangan tangannya berkali-kali. Ia mengatur napasnya berkali-kali.


"Rasya, ayo masuk. Acaranya bakal di mulai 15 menit lagi." ujar seorang pria paru baya menepuk pelan pundak Rasya.


Rasya mengangguk kecil. "Duluan!" pamitnya pada teman-teman.


Semua mengangguk. "Semangat Ras, gue yakin kali ini lo pasti menang." kata Arthur.


Rasya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala. "Makasih," laki-laki itu membalikkan badan, mengikuti langkah Pak Sakti dari belakang.


"Kak Rasya! Semangat!" pekik Vanya cukup keras. Cewek itu tak akan melupakan hari bersejarah ini, karena disini lah Vanya bisa melihat Rasya cukup lama.


Senyum tipis terbit di bibir Rasya, lelaki blasteran itu lantas mengangguk kecil. "Cie... Rasya, di dukung tuh sama Vanya." Bram memulai aksinya untuk menggoda Rasya.


"Ehem, kayaknya ada yang bermekaran nih." sahut Tara yang membuat semuanya tertawa.


"Udah! Kasihan tuh udah merah wajahnya." cetus Rayn ikut-ikutan, sambil melirik Rasya dan Vanya bergantian.


Rasya hanya bisa menggelengkan kepala, sedangkan Vanya tersenyum malu-malu. Rasya pun pergi pamit masuk ke dalam. Tak berapa lama seseorang yang merea tunggu datang juga, Shaka datang bersamaan dengan Kania.


"Sorry telat, Rasya kemana?" tanya Shaka yang baru datang, membuat semuanya menoleh ke arah Shaka.


"Rasya baru aja masuk ke dalam sama pak Sakti." jawab Rayn.


Vanya mengernyitkan dahi, menatap Kania dan Shaka yang datang bersamaan. "Run, kok mereka kelihatan deket banget sih." bisik Vanya pada Runa.


Runa langsung mengalihkan pembicaraan Vanya dengan mengajaknya mencari minuman. "Em.. Van, kita cari minum ke sana yuk? Aku haus soalnya. Kak kita ke sana dulu ya, mau cari minuman dulu." pamit Runa pada yang lain.


Arthur menyahuti. "Eh iya Run, mau gue anter gak?" tawarnya sambil menggoda Shaka.


"Gak usah kak, sama Vanya aja. Nanti langsung ketemuan didalam aja." tolak Runa secara halus, lalu menarik Vanya pergi.


"Runa! Ih lo mah nyebelin banget sih, selalu aja ngalihin pembicaraan, lo sama kak Shaka gak ada masalah kan?" tanya Vanya.


Selalu saja begini, setiap Vanya bertanya, Runa selalu mengalihkan pembicaraan dengan membahas hal yang lain, padahal kan Vanya ingin Runa bercerita tentang masalahnya, cewek itu hanya ingin menjadi sahabat yang berguna bagi Runa.


Runa mengangguk cepat, sambil mengulum senyum semanis mungkin. "Aku sama kak Shaka gak papa kok! Kita berdua baik-baik aja, dan buat kak Shaka sama kak Kania, mereka kan satu kelas, mungkin aja gak sengaja ketemu atau kak Kania numpang. Udah ah, gak boleh su'udzon sama orang, gak baik tau! Beli itu yuk, Thai tea." gadis itu menarik Vanya untuk mengantri membeli minuman.


Dalam hati Runa berdo'a, dan meminta maaf telah banyak berbohong kepada semua orang. Mengatakan semuanya baik-baik saja, padahal- semua hanya topeng belaka.


"Maafin aku ya Van, bukannya aku gak percaya sama kamu. Cuma aku gak mau kamu masuk ke dalam masalah aku sama kak Shaka." batin Runa meminta maaf.


"Sa, kok lo bisa bareng Kania?" tanya Tara sambil berbisik.


"Tadi waktu di jalan gak sengaja ketemu, yaudah gue ajak aja." jawab Shaka membuat Tara mengangguk mengerti.


"Katanya sih ketemu di jalan." bisik Tara pada Arthur.


"Ray, lo ngerasa aneh gak sih. Kok mereka berdua makin ke sini makin deket aja, gue jadi ngerasa kasihan sama Runa." ujar Arthur pada Rayn, sesekali melirik ke arah Shaka dan Kania.


Rayn hanya mengidikkan bahu tak tau. "Gak tau lah, gue juga bingung. Do'ain aja semoga masalah mereka berdua segera selesai dan gak ada lagi masalah yang terjadi." Rayn dan Arthur saling mengamini dalam hati.


"Ini kita gak masuk ke dalam?" tanya Kania.


"Tungguin Runa aja, biar sama-sama ke dalam." jawab Bram.


"Masuk aja, kita cari tempat dulu buat duduk." ujar Shaka yang lantas masuk ke dalam meninggalkan yang lainnya.


"Ngikut aja dah." jawab Tara, membuat semuanya mengangguk mengerti.


"Gue di sini aja deh, gue mau nungguin Runa sama Vanya. Lo semua duluan deh," sahut Arthur.


"Totalnya 30 ribu mbak." ujar Mbak penjual sambil memberikan sekantong plastik.


Runa memberikan beberapa lembar uang pada mbak kasir itu, lalu menerima minuman pesanan mereka. "Makasih Mbak!"


"Yuk balik, kayaknya mau di mulai." Di perjalanan keduanya sama-sama bercerita, sampai seseorang menyapa Runa, membuat langkah mereka terhenti.


"Runa!" sapa seseorang dengan seragam putih Abu-Abu.


Refleks, Vanya dan Runa menoleh ke samping. Runa tersenyum manis mengetahui siapa orang yang menyapanya barusan. "Galang?"


"Ya ampun, kita ketemu lagi dong." kata Runa sambil terkekeh pelan. "Kamu kesini ngapain?" tanya Runa.


"Iya, kok kamu tau?"


"Kita pernah kenal dulu," jawab Galang membuat Runa mengangguk paham.


"Eh dia siapa?" tunjuk Galang pada cewek yang ada di samping Runa.


"Oh ini Vanya, Vanya kamu pasti tau dong dia siapa." ujar Runa membuat Vanya mengangguk kecil.


"Gue Galang, salam kenal." Galang mengulurkan tangannya.


"Gue Vanya, gue udah tau lo siapa." Vanya membalas uluran tangan dari Galang.


Galang terkekeh pelan. "Gue pasaran haha." kata Galang sambil terkekeh. "Gue duluan ya, bentar lagi temen gue tanding soalnya. Duluan Van," Galang menepuk pelan pundak Runa lantas meninggalkan kedua gadis itu.


Runa dan Vanya sama-sama menatap kepergian Galang sampai cowok itu benar-benar menghilang dari pandangan mereka. "Kayaknya lo deket banget sama Galang." cetus Vanya sambil melirik Runa sekilas.


"Lumayan sih,"


Vanya menggut-manggut paham. "Ati-ati aja, kak Shaka sama Galang musuhan. Gue gak mau, lo masuk ke dalam masalah mereka. Gue sayang sama lo." Vanya memeluk pundak Runa dari samping.


Runa tersenyum miris, dalam hati berkata. "Emang udah masalah Van, maaf ya gak bisa cerita ke kamu."


"Aku juga sayang sama kamu." balas Runa sambil membalas pelukan Vanya.


"Masuk yuk, ntar kita gak ketinggalan lagi, nanti kamu gak bisa lihat kak Rasya kalau telat."


Vanya langsung menarik Runa. "Gara-gara ngobrol sih, udah ayo! Gue gak mau ketinggalan." seru Vanya membuat Runa tertawa ngakak, sebegitu bucin nya Vanya pada Rasya. Padahal lelaki blasteran itu belum tentu suka padanya.


...


Setelah turun dari panggung dan mengambil penghargaan, riuh tepuk tangan dan siulan memenuhi perjalanan Rasya, Rasya tersenyum kecil membalas mereka, langkah kakinya melangkah ke para anggota inti Alastair dan beberapa guru lainnya. Cowok itu langsung di sambut dengan pelukan anak-anak Alastair.


"Gila lo! Keren banget tadi Ras! Mana bisa jawab pertanyaan nya cepat banget lagi." Arthur memberikan pujian dan menatap kagum sahabatnya itu.


Rasya yang mendengarkan itu hanya terkekeh pelan. Ia melihat ke belakang, dimana Vanya dan Runa berdiri agak belakang sedang menatapnya kagum. Vanya di buat kagum atas apa yang Rasya peroleh, cewek itu tersenyum kagum sambil mengacungkan ibu jarinya pada Rasya.


"Selamat kak atas kemenangan nya." Vanya memberikan selamat pada Rasya, membuat semua anak bersiul menggoda.


"Ehem.. ehem.. ada yang kasmaran nih," Arthur mulai menggoda Rasya.


Tara menyahuti. "Udah, jadian aja apa susahnya sih? Jadian gih, gue dukung!"


"Setuju gue, kalian berdua cocok loh. Kenapa gak jadian aja coba? Kelihatan kalian kayak couple goals banget." sahut Bram.


"Sudah-sudah, kita do'ain yang terbaik aja." Rayn melerai. "Balik yuk, udah mau sore juga. Kasian cewek-ceweknya nanti," ujar Rayn membuat semua mengangguk paham.


Semua inti Alastair bersamaan dengan anak-anak cewek dan tentunya beberapa guru berjalan menuju parkiran. Sampai parkiran semuanya pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Runa, lo pulang naik apa?" tanya Bram, lelaki itu melirik sekilas ke arah Shaka dan Kania.


"Ya naik kendaraan lah Bram, ya kali naik onta aneh lo." sahut Tara.


Bram hanya bisa memijit pelipisnya, menatap Tara dengan sebal. Beginilah memiliki teman yang absurd nya tiada tara. Mau bilang aneh, tapi itu Tara. "Ya gue ngerti, ya kali Runa jalan gitu! Maksud gue, Runa pulang naik apa? Kagak mungkin dong kalau cenglu bareng Kania Shaka." tutur Bram.


"Ahh, aku bareng sama Vanya aja pulang nya." jawaban Runa berhasil membuat Vanya menautkan alisnya.


"Kan gue--" dengan cepat Runa menyenggol lengan Vanya lalu memotong ucapan cewek itu.


"Kamu di jemput kan? Yaudah aku bareng kamu aja." potong Runa dengan cepat.


"Eh Run, gak usah. Biar aku aja yang pulang sendiri, kamu sama Shaka aja." seru Kania membuat mereka semua menatap nya.


"Gak usah kak, aku sama Vanya aja." Runa mengulum senyum manisnya, lantas menarik lengan Vanya untuk meninggalkan tempat. "Kita pamit dulu ya," pamitnya.


"Gak di kejar tuh ceweknya?" tanya Rasya membuat suasana menjadi kurang nyaman.


Rasya mengangkat bahu tak acuh, ketika ucapannya tak ada yang menanggapi. "Gue duluan deh, udah sore juga. Ati-ati, kalau gak mau dikatain jadi perusak mending sadar diri." Rasya berkata dengan sindiran yang lumayan pedas.


...


...Kania Anastasius...