Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Penyakit Runa



Ruangan berdesain berwana putih coklat muda memenuhi ruang. Aroma obat-obatan begitu tercium menusuk rongga hidung.


Setelah hampir satu jam dirinya berkonsultasi dengan dokter yang menanganinya beberapa bulan ini.


Akhirnya, pengobatan hai ini telah usai. Dokter Arum namanya, wanita dengan rambut panjang serta kaca mata bulat itu sudah menjadi sosok teman baginya, sosok yang berjasa dalam hidupnya selama 3 bulan terakhir.


"Konsultasi hari ini udah selesai ya," ujar dokter Arum.


Runa tersenyum manis. "Iya dok, terima kasih." ungkapnya dengan tulus.


Dokter Arun tersenyum. "Sama-sama Runa, ini sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai dokter." ucap nya.


"Saya mohon sama kamu sekali lagi, jangan sampai hal ini terus terulang kembali, karena bisa-bisa penyakit kamu akan menyerang ke yang lainnya." harap dokter Arum.


Penyakit? Maksudnya


Runa mengidap penyakit panic attack. Serangan panik (panic attack) adalah munculnya rasa takut atau gelisah berlebihan secara tiba-tiba.


Kondisi yang juga disebut dengan serangan kegelisahan ini ditandai dengan detak jantung yang bertambah cepat, napas menjadi pendek, pusing, otot menjadi tegang, atau gemetar.


Runa mengangguk kecil, kedua tangannya saling bertautan. "Iya Dok, saya usahakan."


"Saya tau, kamu takut dan cemas akan sosok orang yang kamu sayangi pergi. Namun, satu hal yang harus kamu ingat." ujar dokter Arum menggantung. "Di sini, kamu yang lemah itu mental bukan fisik." sambung dokter Arum pada Runa.


Dokter Arum berjalan mengitari meja, wanita berusia 30 tahun itu menarik kursi kerja dan menghadap ke Runa.


Tangannya menarik kedua telapak tangan gadis di depannya, lalu menggenggam erat.


"Kamu tau, kamu meningkatkan saya akan masa lalu. Takut, gelisah, cemas dan panik akan kehilangan sosok yang kita cintai." ungkap dokter Arum.


"Saya juga seperti kamu, dan suatu ketika saya memutuskan untuk kontrol pada salah satu dokter, dia mengatakan bahwa saya terkena penyakit seperti kamu."


"Sampai suatu ketika, saya memutuskan untuk menjadi diri saya sendiri, mencintai diri saya sendiri terlebih dahulu ada hal yang terpenting." jelas dokter Arum.


"Dan hal itulah yang membuat dokter menjadi sosok sekarang?" tanya Runa dengan pelan.


Dokter Arum mengangguk setuju, ucapan gadis di hadapannya memang benar. "Benar, sejak saat itu saya berjanji pada diri sendiri untuk menjadi dokter psikolog. Tujuannya biar bisa membantu orang untuk keluar dari masalahnya, dan ternyata sosoknya kamu," ungkapnya.


"Baik dok, Runa mau bilang Terima kasih sekali lagi buat dokter yang udah temani Runa dalam 3 bulan terakhir."


"Sama-sama, gak perlu takut buat cerita ya. Mungkin aja saya bisa kasih saran yang lebih baik lagi buat kamu."


"Pasti, nanti kalau Runa ada masalah atau lagi ada kesulitan Runa akan bilang ke dokter," bukannya Runa tak ingin bercerita pada Bunda ataupun Ayah. Dia hanya khawatir saja jika mereka berdua tau akan semuanya.


"Runa juga mohon sama dokter buat jangan bilang ke Ayah Bunda. Runa takut mereka khawatir," gumamnya


Dokter Arum mengangguk sesekali mengusap tangan Runa. "Kamu tenang aja, semuanya bakal aman sama saya."


"Makasih dokter,"


"Sama-sama, jangan sungkan ya." ujarnya tersenyum manis.


"Gimana kalau kita makan siang?" ajak dokter Arum pada Runa. "Udah waktunya makan siang," tambah nya.


"Boleh, Runa ikut dokter aja." ujar Runa.


"Kita ke kantin aja ya, semoga gak ramai sih jam segini. Udah makan siang soalnya, yuk!" dokter Arum melepas jas jaket lalu menarik Runa keluar ruangan.


Memasuki lift, keduanya mengobrol singkat. "Duduk sana yuk!" menarik Runa untuk duduk di salah satu bangku yang masih kosong.


...


Runa baru saja menyelesaikan makan siangnya bersama dokter Arum. Usai makan siang, dokter Arum memilih pamit pada Runa karena ada pasien lain yang harus dia periksa.


Kali ini, Runa berjalan menuju keluar rumah sakit, jari tangannya menari di atas keyboard. Memesan taksi online untuk mengantarkan nya pulang.


"Runa," namanya terpanggil membuat Runa mengangkat kepala lalu menoleh ke belakang.


Berdecak sebal, ketika mendapatkan sosok yang memanggilnya, ada Shaka dan Kania yang berjalan menghampirinya.


"Iya?" dengan senyum yang dia paksa semaksimal mungkin, Runa menampilkan keadaannya jika baik-baik saja.


"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Shaka.


"Kamu lagi sakit, sakit apa? Terus ke sini sama siapa, kamu gak kenapa-napa kan?" Shaka datang dengan menyerang Runa dengan berbagai pertanyaan.


"So, gak udah sok care sama Runa. Urusin tuh kak Kania, dia lagi sakit kan." sindir Runa sambil menekan dua kata terakhir.


"Duluan," pamitnya pada Shaka dan Kania.


Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan, Runa menyandar pada dinding rumah sakit berpegangan dengan besi pembatas.


"Gak usah peduliin. Fokus sama kesehatan kamu," seru Runa sambil menguatkan diri.


"Kayaknya emang bener sama apa yang dikatakan oleh dokter Arum. Kamu pikirkan baik-baik sekarang, ayo Runa kamu bisa!" dengan tekadnya yang kuat Runa memutuskan semuanya malam ini.


Handphone miliknya bergetar, ternyata taksi yang dia pesan sudah berada di depan parkiran Runa. Dengan cepat dia melangkah keluar dan masuk ke dalam taksi.


"Maaf Pak nunggu lama," sesal Runa.


"Gak masalah neng, ini ke Perumahan Timur Besar ya," tanya pak supir sekali lagi, membuat Runa mengangguk cepat.


...


Shaka sudah selesai menyelesaikan ritual mandinya, baru saja menginjakkan kakinya di tangga terakhir namanya terpanggil, membuat nya harus membelokkan arah yang awal ke dapur kini ke ruang keluarga.


"Ada apa Pa,"


"Putuskan Runa," perintah Al dengan tegas, sudah cukup kemarin Al diam dan tak mau ikut campur dalam urusan Shaka.


Shaka lantas menatap Al kurang suka, tak suka dengan perintah yang Al berikan. "Gak mau, Shaka gak mau putuskan Runa."


"Terus, kamu mau sakiti dia? Ingat Shaka, Papa gak pernah ajarin kamu buat sakiti wanita! Papa aja bentak Mama kamu sampai sekarang masih mikir, dan kamu? Sakiti anak orang yang belum tentu kedepannya buat kamu!" emosi Al mulai tak terkendali, memang Al jarang bahkan jika dihitung jari berapa banyak Al membentak Shaka dan Ale.


Mendengarkan keributan di luar terjadi, membuat Lea tergesa-gesa menghampiri keduanya. Ada Shaka dan Al yang beradu argumen.


"Ada apa ini?" tanya Lea sambil memisah Al dan Shaka.


Al menoleh. "Besok kamu ke rumah Runa, suruh dia untuk jauhi Shaka. Dan putuskan hubungan," perintah Al pada Lea.


"Gue setuju sama Papa, lo udah keterlaluan banget. Apalagi saat kak Runa kecelakaan. Kalau emang lo gak bisa punya rasa ke kak Runa, seenggaknya lo punya hati buat kak Runa." serang Ale kembali dengan kata-kata pedasnya.


"Harus berapa kali, kita semua ingetin lo!" bentak Ale.


"Sadar dikit kek, atau gak punya hati dikit buat kak Runa. Gue ingetin ya sama lo, orang yang tulus bisa berubah jadi benci, ketika perjuangan nya udah gak dihargai sama orang." tunjuk Ale.


"Sampai kapan, lo harus berlalu di dalam masa lalu, sampai kapan lo gini terus, dan sampai kapan lo mau anggap keberadaan kak Runa. Sampai dia pergi baru lo anggap, gue rasa emang lo bodoh sih soal cinta." cecar Ale dengan kasar.


"Terlalu naif lo jadi orang," ketus Ale.


...


Shaka terduduk di atas kasur, tatapan matanya menatap ke langit-langit kamar. Perkataan Ale tadi seakan menjadi radio rusak yang terus berputar berulang kali.


"Sebenarnya gue ini kenapa?" Shaka, kembali bertanya pada dirinya sendiri.


Shaka juga merasa aneh pada dirinya sendiri, cowok yang terkenal tegas itu sekarang merasa bahwa memang di dalam tubuhnya bukan dirinya yang dulu. Entah mengapa hal itu terjadi.


"Maaf Na, aku pengecut, dan aku mengakuinya." ringis Shaka.


Tanpa sadar, Shaka memang sudah menyukai Runa, namun semuanya tertutupi tanpa cowok itu tau.


Merintih dalam diam, Shaka lakukan pada dirinya. Setiap Shaka melakukan sesuatu yang memang tak pantas pada Runa, gadis itu tetap memilih diam, memilih bungkam.


Apalagi ketika manik mata Shaka bertemu dengan manik mata milik Runa, terdapat kekecewaan yang sangat amat dalam Shaka lihat.


Shaka tau dia salah dan dirinya mengakuinya.


Shaka sadar dengan apa yang dia lakukan, dan malam ini Shaka putuskan untuk menghubungi Runa. Meraih ponsel di atas meja, tangannya mencari kontak Runa lalu menghubungi gadis itu.


Panggilan pertama hingga ketiga kalinya tak Runa jawab, hanya suara operator yang terdengar, menatap sekilas ke arah jam. Sudah pukul 11 malam, pastinya gadis itu sudah tidur.


"Besok gue harus ngobrol sama Runa," tekad Shaka langsung merebahkan diri di atas kasur.


...


Hebat juga si Shaka, sampai anak orang kena mental. Impresif... Btw beberapa episode ke depan bakal tamat 😭