
Selesai menempuh waktu lumayan lama, mobil yang Shaka kendarai kini telah sampai di depan cafe yang sudah dirinya pesan bersama teman-teman.
"Yuk masuk," menarik dan menggandeng lembut tangan Runa, Shaka mengajak gadisnya masuk ke dalam.
Sampai di dalam, ternyata hanya ada inti Alastair saja yang berada di sana. Terdengar umpatan serta canda tawa yang cukup keras dari anak-anak.
"Yang ditunggu datang juga, sini-sini duduk." Bram menganti peran sebagai pelayan dengan celemek coklat berlogo cafe itu.
"Wih udah ganti peran aja nih." seru Arthur sambil tertawa ngakak.
"Sialan lo!" umpat Bram semakin membuat mereka semua tertawa.
"Duduk sini, berdiri mulu lo." Rayn menggeser duduknya memberikan tempat di samping nya terisi.
Shaka melangkah terlebih dahulu, tapi tak berapa lama langkahnya terhenti, akibat ponsel miliknya berdering, yang mampu membuat semua anak menatap Shaka dengan tanda tanya.
"Apa?! Oke, oke gue ke sana sekarang," raut wajah Shaka yang awalnya tenang kini menjadi panik.
"Aku harus ke rumah Kania dia lagi ada masalah, kamu bisa pulang sendiri."
Inti Alastair di buat melongo begitupun dengan Runa, baru saja dirinya masuk ke dalam cafe ini, belum juga ada 5 menit. Dan sekarang, Shaka malah memilih pergi hanya karena Kania?
"Sa-- lo gila ya? Terus buat apa lo ajak Runa kalau ujung-ujungnya lo tinggal kayak gini?!" Arthur berkata dengan nada kerasnya.
"Terus kalau kamu ke kak Kania, aku gimana?" tanya Runa dengan suara yang pelan.
"Gak usah manja deh! Kamu bisa pulang kan naik taksi atau gak ojek, Kania butuh aku!" ujar Shaka membentak.
Runa menatap Shaka tak percaya, lalu tertawa hambar, baru juga tadi Shaka meminta maaf dan kini, Runa kembali dibentak? Dan parahnya, Shaka membentak Runa kembali di tempat umum.
Arthur lantas menarik Runa ke belakang. "Kalau lo emang mau pergi sama cewek itu, pergi! Tapi seenggaknya lo punya hati bangsat! Bentak orang depan umum lagi." Kekesalan Arthur sudah berada di ubun-ubun.
"Kenapa lo belain Run terus? Lo suka sama Runa? Ambil aja gih," Shaka tersenyum remeh.
"Mulut lo jaga anjing! Gue emang brengsek ya! Tapi kalau buat rebut cewek orang gue juga mikir kali pakai otak!" Arthur mengumpat sambil menekan kata akhiran.
"Kalau lo mau ambil, ambil gih, gue ikhlas kok." perkataan Shaka semakin membuat inti Alastair menggelengkan kepala. Shaka mabuk apa gimana?
Shaka melangkah mendekati Runa. Ia merogoh saku celana sambil memberikan beberapa lembar uang.
"Nih duit buat naik taksi, biar gue dikira tanggung jawab." menyodorkan uang itu tepat di depan wajah Runa.
"BANGSAT!" Shaka mendekati Runa hendak memberikan beberapa uang lembar pada gadis itu, namun Runa di tarik oleh Rasya.
Lalu kini sebuah bogeman mentah mendarat di wajah Shaka. Runa terpaku dengan tubuh gemetar karena baru kali ini melihat Rasya yang marah.
"KAK SHAKAAA!!!" teriak Runa saat Shaka tersungkur di atas lantai cafe.
Detak jantung nya bergemuruh kencang, seperti seseorang yang terkena pukulan. Dan membuat dadanya terasa sakit.
"LO ITU LAGI PUNYA MASALAH BANGSAT! DAN LO DENGAN BANGGANYA, LEBIH PENTINGIN CEWEK LAIN YANG BELUM TAU ASAL-USULNYA, DARIPADA PACAR LO SENDIRI?!" napas Rasya bergemuruh, lelaki itu menatap tajam Shaka, kemarahan yang dari tadi sudah Rasya tahan sekarang telah sirna begitu saja.
Mungkin kemarin Rasya diam, namun dilihat-lihat Shaka memang sudah keterlaluan, bayangkan kalian diajak keluar, lalu yang mengajak kalian keluar malah pergi dan lebih mementingkan orang lain.
Shaka berdecih pelan, mendongak ke atas menatap Rasya lalu tertawa lantang.
Kejadian itu berhasil membuat beberapa pengunjung yang berada di cafe, menatap Shaka aneh.
Perlahan Shaka bangkit, sambil memegangi sudut bibirnya. "Kania lagi butuh gue sekarang! Dia lagi kena kekerasan dan lo diam aja gitu sebagai cowok?!"
"Terus lo pikir Runa juga gak butuh lo?"
Rayn, Tara, Bram dan Arthur saling berbisik. Runa saja dibuat kaget sama kemarahan Rasya, apalagi mereka berempat.
Rasya memang terkenal pendiam dan tak banyak bicara, tapi jangan salah jika Rasya marahnya seperti ini.
"Rasya kalau udah marah serem brooo!" bisik Arthur pada Bram.
Bram mengangguk setuju. "Gue juga bre, merinding gue." sahut Bram, bulu kuduk nya seketika berdiri, melihat kejadian ini.
"Lo pada kenapa, orang Runa aja santai kok kalian yang repot." serunya sambil menggelengkan kepala.
"Iya kan Runa, kamu gak masalah kan kalau aku ke rumah Kania?" tanya Shaka pada Runa.
Hanya bisa terdiam dan memaksa senyum adalah cara terbaik yang dilakukan oleh Runa sekarang, bingung dan tak tau harus menjawab apa.
Dan dalam hatinya paling dalam, Runa kesal, marah, kecewa pada kelakuan Shaka yang memberikan uangnya tadi. Runa seperti gadis matre saja tadi.
Shaka berdecak sebal ketika pertanyaannya tak dihiraukan begitu saja oleh Runa.
Tangannya menarik telapak tangan gadis itu, lalu memberikan uang yang tadi dia berikan pada Runa.
"Gue gak peduli lo mau pakai apa gak! Yang penting gue udah tanggung jawab sama lo," katanya, setelah berkata seperti itu Shaka memilih membalikkan badan dan berlari keluar.
Anak inti Alastair kembali dibuat terheran-heran dengan kelakuan ketua mereka, Rayn menatap sekeliling cafe, cowok itu langsung meminta maaf pada semua pengunjung akibat terganggu.
"Boleh dilanjutkan lagi kegiatannya. Maaf ya sekali lagi," mohon Rayn.
Bram mengusap lembut pundak Runa. "Runa," panggilnya.
Runa mengangkat perlahan kepalanya. "Iya kak?"
Mereka saling menatap Runa dengan tatapan kasihan, dalam hati mereka bergumam dan selalu berdoa agar masalah kedua remaja itu segera usai.
"Ya udah kak, aku pamit pulang aja ya." Runa berpamitan.
Lagian buat apa dirinya di sini, kalau yang mengajaknya saja lebih mementingkan sahabat barunya, entah harus menamai sahabat atau gadis beruntung.
"Naik apa lo?" Rasya bertanya.
"Bareng Abang, Runa udah kirim pesan kok ke Abang." jawabnya berbohong.
Alis Rasya terangkat. "Kapan lo kirim pesan? Bukannya dari tadi lo diam,"
Skakmat! Kali ini, Runa tak bisa lagi mengelak, jangankan main handphone, pegang saja tidak apalagi buka.
"Biar gue antar," kata Rasya.
"Gue juga deh, sekalian mau balik juga. Yuk!" Tara menyahut.
"Aduh.. kak, gak usah aku bisa pulang sendiri aja, nanti malah ngerepotin kalian." tolak Runa.
"Gak papa santai aja kali sama kita-kita, kita malah seneng kalau lo repotin. Udah yuk balik, bentar gue mau bayar dulu." Bram melangkah ke kasir, dan membayar makanan yang sama sekali belum mereka makan bahkan sentuh.
...
Motor anak Alastair sudah berhenti tepat di depan rumah Runa berada, mereka selesai mengantarkan Runa dengan aman dan selamat.
"Makasih ya kak udah diantar, maaf jadi ngerepotin kalian semua." Runa tersenyum manis, mulutnya tam berhenti mengucapkan kata terima kasih.
"Sama-sama, udah dibilangin santai aja." Arthur berkata, sambil memberikan kata penutup yang membuat semuanya tertawa.
"Kek nya emang lo cocok jadi tukang lawak Tur," cetus Bram.
"Jangankan cocok, mukanya aja udah lawak kok." sahut Tara dengan bercanda.
"Jahat kau mas!" Arthur memulai aksi dramatis.
"Sialan lo! Gini-gini gue ganteng kali," seru Arthur sambil menyisir rambut ke belakang.
"Kata mak lo kan?" tanya Rayn. "Udahlah kita tampan di mata mak, selainnya hanya dusta!" sambung Rayn.
"Kalian ganteng kok," puji Runa yang membuat Tara, Bram sekaligus Tara langsung merapikan pakaian.
"Gak usah lo puji harusnya, biar mereka gak kepedean." Rasya yang dari tadi diam kini membuka suara, perkataan nya berhasil membuat Arthur, Bram dan Tara mendengus sebal.
"Ah elah Ras, sekali-kali kek bikin temen bahagia." kata Arthur dengan kesal membuat Runa yang mendengar tertawa kecil.
"Mending lo masuk, gue sama yang lain mau pamit." suruh Rayn.
Runa mengangguk kecil, kembali mengucapkan terima kasih pada mereka berlima dan melangkah masuk ke dalam. Kelima inti Alastair bernapas lega, lalu memijit pelipis mereka.
"Kasihan gue sama Runa," Bram berucap, sambil menatap kepergian Runa.
"Runa yang terlalu baik jadi cewek."
"Gak usah salahin orang," kata Rasya.
"Dia udah diajarin baik dari kecil. Jadi wajar aja kalau sifatnya kayak gitu." sambung Rasya, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.