Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Pelacakan



Suasana kafe terlihat sangat kondusif, jam sudah menunjukkan waktu petang. Sebagian memang sudah pada pulang ke rumah mereka, namun sebagian lagi masih tetap stay di kafe, sembari menunggu kedatangan bos besar mereka.


Vanya dengan beberapa anak perempuan lainnya memilih untuk menonton film, sementara yang laki-laki nya memilih untuk bermain UNO.


Memang kafe ini sudah dibooking terlebih dahulu oleh anak-anak alastair satu hari penuh.


Jadi, mereka tak masalah untuk keluar masuk disini kapanpun sesuka hati mereka.


Seluruh pengunjung kafe terjingkrak kaget, ketika pintu kafe terdobrak kencang, membuat mereka kompak menatap ke ambang pintu.


Terlihat Shaka yang baru datang dengan membungkukkan badan sambil memegang kedua lutut -mengatur napas.


"Shaka," Rayn memberikan sebotol air pada Shaka.


"Makasih," Shaka langsung menenguk habis air pemberian Rayn, dan kembali menaruhnya di atas meja.


"Runa mana?!" tanya Shaka tiba-tiba.


"Runa mana?!" ulang Shaka kembali, menatap teman-temannya yang menatapnya dengan tatapan bingung.


"Runa udah balik," balas salah satu dari mereka, Vanya. Sambil menunjuk ke arah pintu keluar.


Mengacak-acak rambutnya kesal. "Pulang sama siapa?" tanya Shaka lagi, kali ini tercetak jelas di manik matanya, ada kekhawatiran disana.


Tapi Shaka sedang mengkhawatirkan Runa tentang apa? Sampai-sampai sekhawatir begitu.


"Ya sama Rama lah! Dia kan pacarnya." Vanya kembali membalas. "Ya kali naik onta," lanjut Vanya.


"Kapan?"


"Sekitar 1 jam yang lalu. Maybe," jawab Vanya dengan gugup, ketika melihat ekspresi Shaka yang berubah drastis.


Mendegar jawaban yang Vanya katakan, membuat Shaka menjambak rambutnya kasar. Cowok itu mengumpat keras.


Shaka menutup kedua matanya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak di hati. "Ras, gue mau lo lacak keberadaan Runa. Sekarang!" tunjuk Shaka memerintah.


"Hah?" beo yang lainnya.


Shaka mendesah kasar, beginilah kalau berteman dengan teman yang otaknya bermasalah, gak nyambung.


"Runa gak ada di rumah, dan sekarang dia lagi dalam masalah. Gue mau kalian semua lacak keberadaan Runa!" Shaka mulai menceritakan semuanya.


Satu jam lamanya, Shaka telah menyelesaikan beberapa laporan kantor. Untung saja, Shaka bisa menyelesaikannya dengan cepat, walaupun tadi ada beberapa masalah.


Menyandarkan kembali tubuhnya, cowok itu kembali memejamkan matanya sejenak. Tak lama suara ponselnya bergetar, membuat Shaka berdecak kesal.


Merogoh sakunya, Shaka mengambil ponsel. Menatap satu pesan yang baru saja terkirim. Pesan itu cukup singkat, dan ditambah dengan sebuah foto.


Shaka yang dibuat penasaran, memencet ikon pesan tersebut. Dan perlahan mulai membacanya dalam hati.


Sedetik kemudian Shaka mengumpat kasar, dan tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang ada di sampingnya, membuat pecahan gelas menjadi berantakan di atas lantai.


"Sial! Semoga kamu gak papa Na!" batin Shaka berdoa.


Mengemudi mobil dengan kecepatan yang tinggi, tanpa memperdulikan teriakan orang-orang yang marah, akibat Shaka ugal-ugalan dijalanan.


Kali ini yang harus Shaka lakukan adalah sesegera mungkin sampai di rumah Runa, dan memastikan gadis itu baik-baik saja.


Di pesan singkat tadi, seseorang mengirimkan suatu pesan. Katanya tak beberapa lama lagi Runa akan mengalami celaka. Hal itu lah yang membuat Shaka khawatir sekarang.


Tiba di kediaman Runa, Shaka segera turun dari mobil dengan terburu-buru. Sedikit tersenyum lega, ketika ada Yuna yang sibuk menyapu halamam.


"Assalamu'alaikum tante," sapa Shaka, ragu.


Yuna menoleh ke belakang, wanita dengan balutan hijab menatap Shaka dari atas hingga bawah. "Waalaikumsalam," balas Yuna lalu terdiam sejenak.


"Astaga, ini nak Shaka?"


Shaka mengangguk, lalu tersenyum. "Iya tante ini Shaka," tak lupa untuk menyalami tangan Yuna.


"Apa kabar? Kamu kesini cari siapa? Cari Runa?"


Mengangguk cepat sebagai balasan. "Iya tante, Shaka mau cari Runa. Runa ada di rumah?" hati kecilnya sudah menjawab jika Runa tak ada di rumah.


"Runa ya, dia belum pulang tuh. Kan jam segini masih jam kantor," sahut Yuna.


"Apa Runa nggak bilang. Kalau hari ini jam pulang kantor lebih dipercepat?" tanya Shaka membuat Yuna menggeleng, yang artinya wanita paru baya itu tak tau.


"Ya sudah kalau begitu Shaka pamit balik dulu," pamit Shaka kembali menyalami tangan Yuna dan masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Shaka baru terpikirkan bahwa hari ini anak-anak yang lain sedang kumpul, dan katanya lagi Runa dan Rama akan ikut ke acara itu.


"Kenapa gak kepikiran sih!" dengan segera, Shaka menjalankan mobilnya untuk segera sampai di kafe.


"Lo yakin kak. Kalau ini semua ulah Rama?" tanya Vanya sambil memicingkan matanya curiga.


Berdehem singkat, Shaka membalas. "Gue yakin, gue yakin kalau ini ulah Rama."


"Tapi lo gak bisa nuduh orang tanpa bukti," sahut Vanya membuat yang lainnya mengangguk setuju.


"Bener Sa, lo gak bisa nuduh orang kayak gini. Sama aja lo fitnah dia," cetus Bram yang disetujui Arthur.


"Lagian ya, masa iya Rama ngelakuin itu. Dia kan pacarnya Runa," heram Bram.


"Gue nemu keberadaan Runa," sahut Rasya yang sedari tadi diam.


Lelaki blasteran Thailand-Indo itu memang diam, tapi tangannya dari tadi bergerak melacak keberadaan Runa. Dimana Shaka memberikannya perintah, disitu Rasya segera melaksanakannya.


Shaka menerobos begitu saja. "Dimana?"


Rasya hanya diam, dan menyerahkan laptop miliknya pada Shaka begitu saja. Rasya hanya ingin jika Shaka melihatnya sendiri.