Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Mimpi



Runa terbangun dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya, dadanya naik turun mengatur napas. Ia lalu menoleh ke samping mencari keberadaan Shaka yang sudah tidak ada di kasur.


Di liriknya jam dinding yang terpasang di ujung kamar, Runa memejamkan matanya sejenak sembari mengatur napas. "Kenapa mimpi ku aneh banget sih hari ini," gumamnya heran.


Tanpa berpikir panjang, Runa bangkit dan mulai memasuki kamar mandi. Dengan daster bermotif batik menjadi pilihannya, Runa pun turun untuk mencari keberadaan Shaka.


Mengulas senyum, begitu mendapati Shaka yang ada di dapur tengah menyiapkan sarapan. "By, kamu ngapain?"


"Pagi sayang." Shaka menyapa. "Lagi bikin sarapan, kamu duduk sana biar sarapan kali ini aku yang buat."


Runa menurut dan membiarkan Shaka menyiapkan semuanya, sambil memandangi Shaka dari belakang. Tak lama Shaka datang dengan dua gelas susu. "Ini buat kamu," Shaka menyerahkan susu bumil yang baru saja dia buat pada Runa.


"Makasih by,"


Kemudian Shaka balik ke dapur lagi untuk mengambil sandwich yang dia buat.


Shaka mengernyitkan dahi, lalu tersenyum mengetahui sesuatu. "Kenapa?" tanyanya begitu melihat Runa yang terdiam dengan raut wajah khawatir.


Runa menggeleng pelan. "By, tadi aku mimpi." ungkap Runa.


"Mimpi?" Runa mengangguk sebagai balasan. "Mimpi apa?" Shaka sedikit menggeser kan kursinya mendekati Runa.


Runa memejamkan matanya, disambung dengan hembusan napas panjang. Dengan perlahan Runa mulai menceritakan mimpinya yang menurutnya cukup aneh.


"Aku mimpi kalau ketemu perempuan, dia cantik banget, rambutnya panjang pakai dress putih tapi sayangnya aku gak lihat wajahnya."


Di mimpinya semalam, Runa terbangun di suatu tempat. Tempat dimana Runa tak pernah mendatanginya, sebuah sungai yang begitu indah di kelilingi oleh pepohonan dan ribuan bunga yang berjejer rapi.


"Tempatnya bagus banget," decak nya kagum.


Runa berjalan terus menyisiri setiap sudut sungai yang tak ada ujungnya, suara burung berterbangan serta air sungai yang mengalir menjadi pengisi kesunyian yang ada.


Hingga tibalah Runa ayunan kayu, gadis itu mengernyit ragu menatap seseorang yang duduk di atas sana. Ingin sekali ia menghampiri perempuan itu namun hatinya sedikit ragu.


"Dia siapa?" gumamnya bingung.


"Atau aku tanya aja ke dia, ini tempat apa?" perlahan Runa mulai melangkah mendekat ke arah perempuan itu, dilihat dari belakang perempuan itu nampak cantik. Rambut panjang yang bergelombang serta dress putih yang begitu bagus. Sepertinya perempuan itu terlihat seumuran dengannya.


"Hai," sapa nya ragu. "Maaf, ini tempat apa? Kenapa tempat ini begitu indah?"


Perempuan di hadapannya terdiam, ia tak menjawab pertanyaan Runa sama sekali. Hal itu semakin membuat Runa bingung, ada apa dengan perempuan di hadapannya itu?


"Kembalilah ke tempatmu, esok kau akan tau semuanya." Setelah terdiam cukup lama, perempuan itu pun mulai bersuara. Kemudian berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Runa.


"Lalu kenapa kau ada disini?"


"Karena ini tempat ku," balasnya. Perempuan itu tetap berjalan terus tanpa berbalik badan.


"Hei aku belum selesai bertanya!" pekik Runa sedikit berteriak, pasalnya perempuan itu mulai menjauh darinya. Dengan sedikit berlari Runa mengejarnya sampai kakinya tersandung yang membuatnya terjatuh.


"Aww... " Runa meringis dan kembali bangkit. Ketika ia mendongak dan mencari perempuan itu kembali, tapi tak ada siapa-siapa hanya dirinya seorang.


"Dia kemana?" batinnya bertanya-tanya. Kembali menyisiri tepi sungai, berkali-kali Runa memanggil perempuan itu untuk datang. "Apakah ada orang?" tanpa sadar dirinya menginjak sesuatu membuatnya terjatuh ke dalam sungai itu.


Byurr


Runa yang memang tak bisa berenang mulai tenggelam, tubuhnya terasa kosong seketika. Sayup-sayup ia menatap ke atas, mendapati sosok yang dirinya cari berdiri di tepi sungai sembari menatap sungai dan berakhir dengan kedua matanya yang tertutup rapat.


...


"By, aku takut," ujar Runa dengan lirih, tak dapat dipungkiri jika saat ini ia takut. Mimpi semalam terasa begitu nyata baginya.


Shaka perlahan mendekat, "Shut! Semuanya bakal baik-baik aja. Kamu tenang aja, hubby akan selalu ada di samping kamu."


"Tapi, gimana kalau nanti mimpi itu beneran terjadi?" tanya Runa yang masih saja takut.


"Gak akan, mimpi itu cuma bunga tidur sayang. Percaya sama aku kalau kamu bakal baik-baik aja," balas Shaka mencoba menghilangkan pikiran kotor yang menghantui istrinya itu.


Runa mengerjap tak percaya, ia tak menyangka jika Shaka akan merelakan waktu kerjanya demi dirinya. "Kamu yakin? Bukannya siang ini kamu ada rapat penting ya?"


"Memang siang ini ada rapat penting, untungnya juga gede. Tapi yang lebih penting sekarang adalah kamu," ucapan Shaka berhasil membuat Runa tersenyum senang.


"Makasih By!"


...


Untuk kedua kalinya Runa mimpi hal yang sama seperti kemarin. Gadis itu terdiam otaknya masih mencerna setiap kejadian yang melintas di ingatannya. Mimpi itu terasa begitu nyata, bukan hanya sekedar mimpi biasa.


Sambil menggenggam erat kedua sisi selimut yang menutupi tubuhnya, Runa menoleh ke samping mencari keberadaan Shaka yang tak ada di atas kasur.


"Tumben banget jam segini hubby gak ada di rumah," ujar Runa masih belum sadar sepenuhnya, begitu tatapan mengarah ke jam dinding matanya mengerjap kaget.


"Masih jam 7?" tanya Runa. "Berarti aku ketiduran dong?"


Setelah sadar sepenuhnya Runa menepuk jidatnya, ia baru sadar jika dirinya ketiduran akibat menunggu pesanan paket yang tak kunjung datang. "Astaga, Runa! Runa! Bisa-bisanya kamu ketiduran,"


Runa pun bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka, sekiranya mukanya tak terlihat seperti muka bantal. Ia memegang kedua sisi wastafel, tatapannya mengarah pada cermin.


Seketika mimpi nya tadi kembali teringat, jelas sekali Runa dapat mengingatnya. Mimpi itu terekam di memorinya. "Ya Tuhan ada apa ini?" lirih nya takut.


"Runa,"


Suara itu, tanpa harus dirinya menoleh ia tau itu siapa. Shaka, suaminya.


"Ada apa?" Shaka menatap wajah Runa dari pantulan kaca, lalu mengangkat tubuhnya ke atas wastafel.


"Kamu dari mana?"


"Dari kantor, tadi ada rapat yang gak bisa aku tinggal. Oh iya di bawah ada paket tuh kamu pesan apa?" tanya Shaka sambil merapikan anak rambut Runa yang basah akibat air, tangannya tak bisa diam untuk tak menyentuh sedikit pun tubuh Runa.


"Pesan panci, panci di bawah udah rusak. Gosong kemarin jadi beli lagi."


"By, aku mimpi lagi tadi. Yang anehnya kenapa mimpi itu kelihatan nyata?" ungkap Runa takut.


Di mimpinya tadi, Runa kembali bertemu dengan sosok perempuan yang sama seperti yang ia temui di mimpi sebelumnya. Tapi anehnya dipertemuan kali ini, Runa mendapati perempuan itu tengah menggendong seorang bayi. saat di tanya pun perempuan itu masih sama, tak menjawab dan tetap diam.


"Bayi yang kamu gendong itu siapa?" tanya Runa pada perempuan itu.


Lagi dan lagi, perempuan itu tak menggubris ucapan yang Runa lontarkan. Hal itu semakin membuat Runa bingung, ia menjalan mendekat untuk mengintip sosok bayi yang ada di dekapan perempuan itu.


"Cowok." Runa bergumam saat melihat wajah bayi yang di gendongan perempuan di hadapannya.


Lalu tatapannya beralih turun, menatap perutnya yang kini sudah tak buncit kembali. Perutnya benar-benar rata. "Perut aku?" gumam Runa yang mulai menangis.


Ia kemudian mendongak ke atas, untuk kedua kalinya Runa kehilangan perempuan itu kembali, bahkan hingga detik ini pun Runa masih belum bisa melihat wajah perempuan itu.


Runa memegang dadanya yang tiba-tiba terasa begitu ngilu, tatapannya perlahan kabur. Tak lama setelah itu tubuhnya merosot dan tak sadarkan diri.


"By aku takut," gumam Runa kembali ketakutan.


"Aku disini sekarang, dan kamu bakal aman." Shaka menarik menatap intens iris mata Runa dengan tatapan dalam, lalu memeluknya.


"Tapi by,"


"Gak akan, percaya sama aku." Shaka berbisik pelan. "Mimpi itu cuma bunga tidur," imbuhnya lagi.


"Udah yuk, sekarang kita makan. Tadi aku udah beliin beberapa makanan kesukaan kamu, belum makan kan?" Runa menggeleng, membuat Shaka tersenyum.


"Gendong," ucap Runa dengan nada manja meski masih nangis sesenggukan.


"OKE!" Shaka menggendong nya seperti koala.