Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Berlibur berdua



Di liriknya jam dinding yang terpasang manis di ujung ruangan, Runa menyandarkan kepalanya pada sandaran kasur.


Pukul 19.15


Di lihatnya Shaka yang sibuk pada laptop di pangkuannya, membuat Runa mengurungkan niat untuk mengajak Shaka turun ke bawah.


"Sibuk banget ya?" tanya Runa.


Shaka berdehem singkat sebagai balasan. "Gak terlalu, ada apa?" Shaka beralih menatap Runa singkat lalu kembali lagi menatap layar laptop.


Runa menggeleng. "Gak ada,"


Tak enak untuk menganggu Shaka, Runa memilih untuk turun dari kasur perlahan dan keluar kamar. Tujuannya kali ini adalah dapur. Perutnya sudah meminta jatah makan malam.


Menuruni satu persatu anak tangga, ia masih menatap sekeliling rumah dengan kagum. Tak hentinya ia mengucap syukur dalam hati, masih belum menyangka jika Shaka akan memberikannya hadiah berupa rumah mewah.


Dan sekarang, Runa berdiri di dekat kompor dengan memegang berbagai alat dapur, dirinya siap untuk memasak.


Mengambil beberapa bahan yang tadi siang Shaka beli di supermarket, karena tak banyak bahan. Runa memutuskan untuk memasak makanan yang simpel tapi terasa mewah.


"Ayam goreng mentega," gumam Runa tersenyum.


Tak perlu waktu lama, selesai juga masakan yang Runa bikin. Memindahkannya ke dalam piring dan ia taruh di atas meja makan.


"Sa-- eh udah turun, yuk makan!" ingin dirinya memanggil Shaka, tetapi cowok itu terlebih dahulu turun.


Shaka tersenyum, menatap makanan buatan Runa. Menarik salah satu kursi lalu mendudukinya. "Kayaknya enak nih,"


Runa mulai mengambilkan makanan untuk Shaka terlebih dahulu. "Segini pas nggak?" tanya Runa, yang dibalas anggukan kecil dari Shaka.


"Makasih," Shaka mulai memakan makanan bikinan Runa, sempat terdiam sejenak lalu kembali makanannya.


"Kenapa?" tanya Runa khawatir, tak kala melihat ekspresi Shaka yang terdiam tadi.


"Gak enak ya? Atau keasinan?"


Shaka menggeleng. "Gak enak kok,"


"Tapi itunya gosong tau, udah ya gak usah makan. Nanti rasanya gak enak," tadi saat masak Runa tak sengaja menyalakan kompor dengan api besar, dan berakhir masakannya sebagian gosong.


Saat Runa ingin menyingkirkan piring. Shaka lebih dahulu menepis pelan Runa. "Gak papa sayang, lagian ini bisa dimakan. Mubadzir tau kalo dibuang, lagian yang gosong kan sebelah sini. Bukan sini," ujar Shaka.


Mengangguk menurut, mereka pun kembali melaksanakan makan malam berdua dengannya tenang. Sembari ditemani oleh perbincangan singkat antara kedua suami istri itu.


...


Esok paginya, Runa telah terbangun dari tidurnya. Menoleh ke samping ketika tak mendapatkan Shaka, melangkah ke balkon.


Mengintip Shaka dari atas, nyatanya cowok itu sedang bersantai di taman belakang sambil menikmati segelas susu hangat.


"Sayang!" panggil Runa.


Shaka menoleh lalu mendongak ke atas, menatap Runa. "Sini!" Shaka menyuruh Runa untuk turun ke bawah.


"Bentar! Mau mandi dulu," ujarnya. "Tunggu di sana ya," pekik Runa meninggalkan balkon dan melangkah masuk ke kamar mandi.


Tak memerlukan waktu lama untuknya mandi, dengan kaos hitam polos dan celana pendek selutut menjadi pilihannya kini.


Melangkah turun ke bawah untuk menghampiri Shaka. "Kok gak bangunin aku?" tanyanya sambil duduk di salah satu kursi.


"Kamu tidur nya nyenyak banget semalam, jadi gak tega bangunin." Shaka berucap sembari menyeruput minumannya.


"Hubby," panggil Shaka.


Mengerutkan dahinya, Runa menatap Shaka yang asik mengotak-atik ponselnya, lalu menyerahkan ponsel miliknya pada Runa. "Ini apa?" heran Runa.


Tersenyum simpul. "Baca aja,"


Runa mulai membaca perlahan, lalu menatap Shaka tak percaya. "Kamu mau ajak aku liburan?"


Mengangguk singkat. "Hm, Papa sih yang kasih. Kamu mau nggak? Kalo mau hari ini kita berangkat ke vila buat liburan, ya mungkin seminggu."


Tentu saja Runa mau, siapa yang tak suka berlibur. "Mau!" sahutnya girang.


Mengacak-acak rambut Runa gemas, Shaka berkata. "Sana bikin sarapan aku udah lapar, nanti buat bajunya aku yang bakal siapin,"


"Aku mau masuk dulu, mau bikin sarapan." Runa bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah untuk membikin sarapan pagi.


...


Setelah melaksanakan sarapan pagi, Shaka mulai memasukkan beberapa barang ke dalam bagasi. Siang ini mereka akan berangkat ke puncak untuk berlibur berdua. Mereka akan menempati salah satu vila milik Al di sana.


"Sudah semua?" tanya Shaka, menatap kedatangan Runa.


"Sudah kok, tinggal berangkat!" balasnya riang.


Berjalan masuk ke dalam mobil, Shaka mulai menyalakan mesin dan mulai menjalankan dengan kecepatan sedang.


Ditemani oleh dentuman musik yang menemani perjalanan mereka. Sedari tadi, tangan Shaka tak berhenti untuk mengusap lembut punggung tangan istri kecilnya.


Ia tau jika Runa mengantuk, dilihat dari tatapan gadis itu yang mulai sayu. "Tidur aja, nanti kalo udah sampai aku bangunin."


Menurut, Runa mulai menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Tatapannya menatap jalanan luar yang ramai akan orang-orang berwisata.


Maklum saja, hari ini adalah hari minggu. Kebanyakan orang mungkin akan di rumah saja tetapi sebagian orang akan memilih untuk berlibur bersama keluarga.


Menempuh waktu cukup lama, mobil yang mereka gunakan tiba di salah satu vila. Runa yang tadinya mengantuk akibat jarak tempuh yang lama, tetapi kini tak lagi.


Dengan semangat gadis itu melangkah memasuki vila, di dalam dirinya tak sengaja bertemu dengan beberapa orang yang ia yakini penjaga vila.


Dengan ramahnya ia menyapa kedua orang itu. "Siang pak, bu!" sapa nya dengan ramah.


"Siang neng,"


"Runa, jangan lari-lari!" Shaka datang dengan membawa koper sedang di tangan kanannya. Menoleh menatap dua orang itu, membungkuk sekilas Shaka menyapa mereka.


"Siang Neng, Den. Saya Bi Titik, penjaga vila ini. Nanti kalau ada apa-apa tinggal panggil saya aja, rumah saya di sebelah ini," jas wanita paru baya itu.


"Atau tidak, ke suami saya aja. Dia yang jaga pintu depan," sambung wanita itu memperkenalkan diri.


"Baik, nanti kalo ada apa-apa saya bilang ke Ibu." Runa membalas, mulut kecilnya tak berhenti melayangkan senyuman.


Selesai menyapa dan mengobrol singkat pada penjaga vila. Runa dan Shaka melangkah ke atas untuk menaruh barang-barang.


"Vila nya bagus," ungkap Runa. Sambil memainkan jari jemari Shaka yang dia gambar abstrak.


Menghela napas pelan. "Sebenarnya aku mau ajak kamu buat liburan ke luar negeri, atau gak keluar kota. Tapi pas dapat undangan dari Papa kemarin, yaudah aku ajak kamu aja kesini." jelas Shaka.


"Gak perlu luar negeri juga gak papa, yang penting tempatnya enak dan nyaman. Why not?"


Seperti dugaan Shaka kemarin, sudah Shaka prediksi jika Runa akan membalasnya seperti itu.


...


Banyak yang like dan baca tapi yang tinggalin komen dikit :) it's okay no problem. Yang penting kalian enjoy bacanya dan semoga gak bosen sama cerita ini. Tenang aja gak bakal ada konflik kok di season lanjut ini 😌