Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Secarik kertas



Pagi ini Runa sudah siap untuk berangkat ke kantor, dengan kemeja putih dan celana kain hitam. Menatap dirinya di pantulan kaca, segaris senyum hangat ia tampilkan.


Tak terasa, hari ini adalah bulan ke-lima Runa bekerja di Perusahaan Shaka.


Rasanya seperti mimpi, karena masih sampai saat ini Runa masih belum menyangka jika dirinya bisa bekerja di perusahaan itu.


Perusahaan yang bergerak dalam bidang makanan dan tambang.


Menyemprotkan sedikit parfum pada beberapa titik. Runa menyambar tas kerja nya, lalu mengambil sepatu dan turun ke bawah.


Menuruni satu persatu tangga, keningnya berkerut saat melihat ruang makan yang hanya diisi oleh Arfan dan Jihan.


Lalu Ayah dan Bunda kemana?


"Pagi Kak. Pagi Bang," sapa Runa memasuki meja makan. Menarik kursi dan mendudukinya.


"Pagi dek," Jihan tersenyum manis. Perempuan dengan daster bermotif bunga sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Bang,"


"Bunda sama Ayah kemana? Kok gak kelihatan," Runa bertanya pada Arfan.


Matanya masih menatap ke penjuru ruangan. Tumben banget, jam segini Bunda dan Ayah tak ada di rumah.


Perasaan kemarin malam masih ada kok, terus mengapa pagi ini tak ada? Kalaupun pergi ke Jogja tak mungkin.


Itu semua tak mungkin. Karena, nenek Runa yang berada di Jogja sudah wafat satu tahun yang lalu. Tepat saat Rama menembak nya.


"Pergi," singkat Arfan.


"Kemana? Terus kenapa gak bilang Runa?" tanya Runa kembali.


"Cuma pergi ke pasar doang," ujar Arfan. "Tadi mau bilang ke lo. Cuma keburu-buru jadi gak jadi bilang," sambung Arfan.


"Runa, nanti berangkat nya sama Arfan aja ya." Kata kak Jihan.


Runa menggeleng cepat. "Gak usah kak!" tolak Runa dengan cepat.


"Lah kenapa?" tanya Arfan dan Jihan secara bersamaan.


"Udah gue antar aja, Rama gak bisa jemput lo pagi ini. Katanya ada urusan," tutur Arfan pada Runa.


Runa menautkan alisnya. "Urusan? Urusan apa?"


Arfan hanya mengangkat bahunya tak acuh, bahwa dirinya juga tak tau, Arfan hanya menyampaikan pesan Rama untuk dia jelaskan pada Runa.


Runa mengangguk mengerti, tangannya mengambil ponsel yang berada di dalam tas. Lalu mencoba untuk mengecek pesan, mungkin saja Rama mengirimkan pesan. Namun Runa tak tau.


Ternyata benar, semalam Rama mengirimkan pesan singkat pada Runa. Dan memberitahu bahwa lelaki itu tak bisa mengantarkan pagi ini.


...Rama...


|Sayang, besok aku gak bisa antar kamu


|Aku ada urusan, dan malam ini aku harus ke Malang. Untuk urus toko Papa yang lagi ada masalah


|Kamu gak papa kan kalau aku tinggal?


|Maaf kasih tau kamu malam-malam gini, semangat kerjanya! Jangan lupa juga makanannya ✨


Runa tersenyum melihat pesan yang Rama kirim, tangannya menari di atas keyboard untuk membalas pesan Rama.


Selesai membalas pesan Rama. Runa, Arfan dan Jihan langsung melaksanakan sarapan pagi mereka bertiga.


Usai sarapan, Runa segera pamit. Namun sebelum itu Runa membantu Kak Jihan untuk membereskan piring kotor.


"Sini kak Runa bantu,"


Asik membereskan dapur, seketika suasana rumah berubah akibat suara pecahan yang terjadi di luar. Dengan segera, Arfan, Runa dan Jihan berlari keluar.


Pyar


Suara pecahan itu terdengar cukup keras.


Runa menutup mulutnya kaget, jantungnya berdetak kencang. Menatap pecahan kaca yang menyebar ke mana-mana.


Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan apakah ada orang atau tidak. Setelah itu kembali masuk ke dalam, saat dirasa tak ada orang.


"Gimana Fan?" tanya Jihan pada Arfan.


Arfan menggeleng sebagai balasan. "Gak ada orang, di depan kosong." imbuh nya.


"Terus ini---" ujar Runa gugup. Otaknya masih berpikir keras.


"Bentar!" cegah Jihan.


Perempuan itu perlahan mendekati retakan kaca yang menyebar ke mana-mana.


"Ini apa?" Jihan mengangkat sebuah batu besar, yang diikatkan tali putih dan anehnya mengapa ditutup dengan secarik kertas putih.


"Coba buka," suruh Arfan yang di angguki setuju sama Runa.


Jihan perlahan membuka tali putih itu, lalu perlahan membuka secarik kertas yang sudah tak rapi kembali.


"Foto!" kaget mereka bertiga.


Arfan, Jihan dan Runa saling padang satu sama lain. Lalu beralih menatap Runa. "Ini kan foto kamu Runa," ujar Jihan. Sembari menunjukkan foto Runa.


Tangan Runa terulur untuk mengambil foto itu. Keningnya berkerut, menatap foto yang ada ditangannya.


"Tapi kok muka kamu dicoret-coret gitu sih," heran Jihan.


Aneh, benar-benar aneh. Runa juga baru sadar jika di foto itu. Mukanya dicoret-coret dengan spidol berwarna merah.


"I-ini---" kata Runa menggantung.


Arfan segera menarik foto itu dari tangan Runa. "Lo gak lagi ada masalah kan?" tanya Arfan, menaruh curiga.


"Gak ada!"


"Lo gak punya musuh?" tanya Arfan kembali.


Dengan cepat Runa menggeleng. "Gak ada!" balasnya lagi. Dipikirkan kembali, mana mungkin Runa punya musuh. Dia saja cari masalah tak pernah.


Tapi siapa orang yang melemparkan ini? Masa iya teman kampusnya? Tak mungkin! Jika memang benar, memangnya Runa punya salah apa sampai memberikan teror begini.


Atau jangan-jangan teman kantor nya lagi? Apa karena Runa pernah membuat suatu masalah di sana. Seperti nya tidak!


"Atau jangan-jangan ini ulah Shaka lagi? Karena dia gak bisa dapetin lo. Terus dia kirim teror, biar kita minta tolong ke dia."


"Bang!" Runa menggelengkan kepala.


"Gak mungkin kak Shaka kirim gini, dan teror kita. Kalaupun itu kak Shaka. Pasti dia bakal teror kita dengan cara yang pintar," sambung Runa.


Masa iya kak Shaka, batin Runa bertanya-tanya.


"Bela aja terus!" sindir Arfan. "Gue yakin kalau ini ulah Shaka," katanya.


"Fan! Gak baik nuduh orang tanpa bukti. Sama aja kamu fitnah," seru Jihan.


"Bener tuh!" sahut Runa setuju.


Mendengus kesal. "Udah sana berangkat kerja. Biar lo gak kena hukum,"


"Tapi ini?" tunjuk Runa pada pecahan kaca yang menyebar ke mana-mana.


"Gak usah gue sama Jihan aja yang beresin. Lo berangkat gih. Biar gak telat," suruh Arfan.


"Yaudah deh Runa berangkat. Ayah sama Bunda jangan tau dulu," ujarnya pada Arfan dan Jihan.


Arfan dan Jihan mengangguk setuju. "Lo tenang aja, sana berangkat udah masuk jam kerja tuh."


Dengan cepat Runa menyalami kedua tangan Arfan dan Jihan. Melangkah keluar rumah bertepatan dengan Pak Bejo yang baru saja tiba.


"Pak anterin Runa ke kantor ya!" ujar Runa pada Pak Bejo, lalu masuk ke dalam mobil.


...


Aku udah siapin konflik yang pas buat season ini. Jadi, mari kita sama-sama meratapi nasib dari setiap tokoh yang ada disini 😈