
..."Yang susah di lupakan itu bukan orangnya tapi kenangannya." -Ale....
...…...
Shaka terdiam di ruang tamu, cowok itu menatap TV dengan tatapan kosong nya. Liburan kenaikan kelas sudah tiba, lusa kemarin cowok itu mengambil rapot bersama Lea.
Ale turun dari lantai atas, cewek itu ingin mengambil minum namun tak jadi akibat suara TV begitu keras. Telinganya begitu sakit, suara itu semakin meninggi membuat Ale mau tak mau ke ruang keluarga.
"ABANG!" teriak Ale yang langsung merampas TV dan mematikannya, cewek itu menatap Shaka aneh.
"Gila lo ya! Lo mau nonton apa mau konser, gede banget suaranya. Gak tau apa ganggu tau gak?!" kesal Ale.
"Hah kenapa?" Shaka bertanya kembali.
"Lo kenapa sih? Ngelamun mulu dari kemarin, kesambet tau rasa lo!" Ale duduk di samping Shaka, cewek itu menatap abangnya penasaran. Tak seperti biasanya Shaka terdiam begini, dan banyak melamun lagi.
Ale tau abangnya emang pendiam, entah mengapa kali ini berbeda saja, seperti ada yang dipikirkan oleh cowok itu.
"Lo ada masalah?" Shaka menggeleng pelan.
"Lo berantem sama kak Runa?" Shaka kembali menggeleng.
"Terus, lo berantem lagi sama kak Galang?" Cowok itu kembali menggeleng.
"Lo kenapa sih, ditanya geleng mulu jawaban lo!" kesal Ale sendiri. Gimana dia mau tau kalau jawaban abangnya begitu terus.
"Cerita aja kali, kenapa sih. Diem bae lo, kek orang banyak beban aja. Sini cerita sama gue, mungkin aja gue bisa kasih solusi ke lo." Shaka hanya diam, cowok itu malah menyandarkan tubuhnya ke kursi lalu menutup matanya.
"Bang, anjir lo ya! Gue ngomong baik-baik juga, malah di diemin. Lo tau gak di diemin itu sakit banget!" ucap Ale mendramatis.
"Lebay!" cibir Shaka.
"Atau lo pikirin dia?!" Ale berbicara sangat pelan bahkan bisa terdengar seperti bergumam. Jangan salah gitu-gitu Shaka masih dengar, telinganya kan tajam sekali.
Cowok itu langsung membuka matanya dan menegakkan diri. "Jadi bener lo mikirin dia lagi?" kali ini dengan suara yang biasa saja. Meski hatinya sudah bilang tak baik-baik saja.
"Le, lo tau gak gimana caranya melupakan seseorang?" tanya Shaka suaranya begitu pelan bahkan seperti bukan Shaka yang bicara.
"Tinggal lupakan, apa susahnya sih buat lupain. Lupain dan lupain, nanti lo bakal lupain dia kok."
"Susah," timpal Shaka. "Gue udah coba itu tapi gue gak bisa," ujarnya dengan suara yang bergetar.
"Gue tau, lo gak bisa lupain dia. Tapi ingat bang, ada kak Runa sekarang, ada dia yang harus lo perjuangin, ada dia yang cinta tulus sama lo, ada dia yang sayang sama lo dan peduli sama lo. Jangan sampai dia pergi karena ulah lo sendiri," Ale berkata panjang lebar, sambil menatap Shaka yang sama menatapnya juga.
"Susah dek, susah! gue udah coba, gue udah coba selama 3 tahun ini. Tapi gue gak bisa!" entah mengapa ketika cowok itu ingin membuka hatinya pada seseorang yang baru, bayang-bayang itu selalu menghantuinya.
"Gak susah! Lo belum mencobanya, lo belum lakuin. Dan lo bilang susah?!" Ale berucap dengan suara yang ia naikkan satu oktaf.
"Kalau gue bisa dari dulu, udah gue lupain! Tapi apa? mimpi itu kembali datang ke gue! Lo pikir gampang lupain semua kejadian itu, enggak dek."
"Sebenernya gampang lo lupain dia, lo aja yang terlalu berlebihan. Lo sadar gak sih, lo sendiri yang membuat semuanya makin rumit, lo sendiri yang membuat semuanya makin besar."
Kedua kakak adik itu saling melempar ucapan, entah mana yang benar dan mana yang salah. Mereka sama-sama berbeda pendapat sekarang, Ale dan Shaka sama-sama keras kepala.
"Astaga ini kalian kenapa ribut?" Lea langsung memisahkan mereka berdua.
"Ada apa? Kenapa kalian ribut, hem?" Lea menatap kedua anaknya bergantian.
"Kasih tuh masukkan buat anak mama, dibilangin keras kepala. Awas aja ya kalau lo sampai sakiti kak Runa!" tunjuk Ale dan pergi meninggalkan ruang keluarga.
Shaka bangkit cowok itu juga pergi ke kamarnya, kepalanya seketika pening. Al dan Lea hanya saling tatap satu sama lain, lalu keduanya sama-sama mengangkat bahu tak tau.
…
Shaka baru menyelesaikan latihan basketnya bersama Rayn dan Rasya, cowok itu menghampiri Rayn dan Rasya yang sudah istirahat terlebih dahulu.
"Lo pada kenapa?" tanya Shaka, lalu menguyur air mineral ke wajahnya. Cowok itu duduk di antara Rayn dan Rasya, menatap kedua temannya yang terlihat gelisah sekarang.
"Sa," Rayn memberanikan diri untuk memberikan info terlebih dahulu.
"Kenapa? Lo kenapa sih, kok gelisah gitu?" tanya Shaka sekali lagi. Shaka yang ini bukan Shaka yang saat ini, Shaka yang ini adalah wujud Shaka yang banyak bicara, tak irit bicara serta tak banyak diam.
"Sa.. Qilla.." ujar Rayn menggantung. Shaka yang awalnya acuh sekarang menatap Rayn dengan serius.
"Qilla kenapa? Dia kenapa?" seketika perasaan tak enak dalam hatinya bergemuruh, entah pertanda apa ini?.
"Qilla.. Qilla.." Rayn menggantung ucapannya membuat Shaka geram, Shaka beralih menatap Rasya yang terdiam, cowok itu juga sama-sama menatap Shaka.
Rasya menggeleng. Cowok itu menghela nafas sejenak dan berkata. "Qilla, dia- kecelakaan," ujar Rasya.
Shaka tertawa kencang, membuat sebagian orang yang ada di sana menatapnya aneh. Cowok itu kembali menatap Rayn dan Rasya. "Bercandaan lo gak lucu, gue gak suka ya lo berdua bercanda kayak gini, lo mau prank gue ya? Ah gak pro lo pada," Shaka masih berbicara santai, cowok itu masih tak percaya dengan ucapan kedua sahabatnya ini.
Lagian tadi sore dia dan Qilla masih mengobrol kok, meski dalam telpon. Namun Qilla tak kenapa-napa dia aman dan dia berada di rumah.
Shaka duduk cowok itu menyalakan ponsel nya. Banyak sekali pesan dan panggilan telpon yang tak sempat dia angkat, jari nya tertuju pada suatu pesan.
...Rayhan 'Alastair...
Rayhan 'Alastair
Shaka, Qilla...
Qilla kecelakaan saat mau ketemuan sama Galang
Qilla ada di rumah sakit Atnanjaya
Mereka berdua lagi perjalanan ke sana
Shaka menatap pesan itu tak percaya, cowok itu menatap semua pesan secara bergantian, bermaksud untuk mengecek apakah semua berita itu benar atau tidaknya. Tak hanya itu ternyata banyak sekali panggilan yang berasal dari beberapa anggotanya serta Gundala.
"Ras, Ray. Berita ini gak bener kan? Qilla- Qilla beneran kecelakaan?" tanya Shaka, cowok itu menatap ke depan dengan tak percaya. Tanpa banyak bicara Shaka berlari meninggalkan Lapangan basket.
"Kita susul Shaka jangan sampai dia kehilangan kendali," ujar Rasya yang diangguki Rayn, mereka harus mencegat Shaka agar tak kehilangan kendali. Jangan sampai hal itu terjadi, karena jika cowok itu kehilangan kendalinya, bisa-bisa Shaka menghabisi orang lain sebagai pelampiasannya.
…
Shaka melangkahkan kaki terburu-buru, cowok itu mencari keberadaan Qilla dan Galang. Emosinya sudah tak stabil, tangannya mengepal kuat, sosok yang dia cari datang juga.
Shaka berlari dan langsung melayangkan bogeman mentah pada Galang, yang membuat cowok itu tersungkur di atas lantai.
"BRENGSEK LO!" Teriak Shaka, nafasnya sekarang naik-turun.
Rayn, Rasya dan beberapa anggota Gundala langsung melerai keduanya. "Sa, tenangin diri lo." Rasya menahan tubuh Shaka agar tak kehilangan kendali.
"Apa yang lo lakuin ke Qilla? Brengsek!" umpat Shaka, sekarang rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal hebat, menatap tajam musuhnya.
"Dia kecelakaan." hanya itu balasan dari Galang.
Shaka yang ingin maju langsung ditahan sama Rayn dan Rasya. "Sa, ingat ini rumah sakit, ini tempat umum. Kontrol emosi lo," Rasya memberikan peringatan.
Shaka duduk dengan gelisah, cowok itu mendapatkan kabar dari salah satu anak Gundala yang mengatakan bahwa Qilla mengalami kecelakaan dan masuk ke UGD.
Tak berapa lama dokter keluar dengan raut wajah yang sulit di artikan. Shaka dan semuanya bangkit, mereka semua menunggu ucapan dari dokter itu.
"Gimana keadaan teman saya?" tanya Rayn.
"Saya selaku dokter telah berusaha semaksimal mungkin, namun takdir Tuhan berkata lain. Pasien telah meninggal dunia saat berada di perjalanan." ujar dokter itu.
Shaka tertawa tertahan. "Meninggal? Gak Qilla gak boleh meninggal!" seru cowok itu.
"Anda bohong, qilla gak akan pernah meninggal." Rasya dan Rayn menahan Shaka untuk tak memberontak, tubuh Shaka merosot, orang yang dia cintai pergi meninggalkannya.
…
Shaka bersimpuh di depan gundukan tanah, batu nisan telah tertancap di sana dengan nama "Aqilla Salsabila" gadis yang menemani suka dan duka di dalam diri Shaka.
"Kenapa lo pergi secepat ini sih Qil, bahkan gue aja belum ketemu lo untuk terakhir kalinya." batin Shaka, hatinya cukup berat mengetahui orang yang dia sayang pergi begitu cepat.
Al, Lea dan Ale menatap Shaka kasihan. Untuk pertama kalinya Shaka merasakan kehilangan orang tersayangnya. Kadang Shaka berpikir kenapa Tuhan tak adil padanya, di saat Shaka merasakan kebahagiaan disitu juga dia harus merasakan yang namanya kehilangan.
…
"Qil, lo gak boleh pergi. Lo harus disini, lo gak boleh pergi. Lo harus tepati janji lo." Shaka mengigau, cowok itu tak henti-hentinya berbicara dari tadi.
"Gak lo gak boleh pergi, Qilla! Gue mohon, jangan tinggalin gue. Qillaaaa!" Shaka terbangun, nafasnya naik turun. Keringat dingin membasahinya.
Cowok itu merubah posisinya menjadi duduk, mimpi itu,mimpi itu kembali lagi. Kejadian lama yang sudah Shaka kubur dalam-dalam kembali terbuka.
Tangannya terulur untuk mengambil gelas. Dia berdecak kesal ketika air yang ada di sampingnya habis.
Menatap jam dinding, masih jam dua pagi. Shaka memutuskan untuk mengambil air ke bawah. Menyibak selimut, Shaka berjalan menuju ke lemari untuk menganti pakaiannya.
menuangkan air ke dalam gelas, dia meneguk air itu hingga tandas, nafasnya masih tak stabil. Shaka memegang ujung meja, cowok itu menunduk dalam.