
Hampir empat bulan sudah pikiran Runa dihabiskan untuk skripsi, setelah perjuangan yang begitu banyak.
Hari ini diputuskan sudah sidang Runa dimulai. Siang nanti dirinya akan memulai sidang.
Nervous, tentu saja.
Menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan, pagi ini Runa duduk di meja belajar sambil menghafalkan teori skripsi nya.
"Jangan panik, tenang dan fokus. Aku yakin kamu bisa," Rama datang dengan nampan berisi sandwich dan segelas susu segar, tak lupa vitamin.
"Sarapan dulu, nanti dilanjut lagi." Rama menyingkirkan buku-buku ke samping.
"Nervous," ungkap Runa.
Terkekeh pelan, Rama berkata. "Gak usah panik, masih ada waktu. Yakin kalau bisa,"
Mengangguk paham, Runa menyandarkan diri pada sandaran kursi. Memakan sarapan buatan Rama.
"Kamu kuliah pagi atau siang?" tanya Runa sambil memakan sandwich.
"Pagi, jam 8."
"Berarti aku berangkat sendiri?" tanya Runa dengan nada riang.
"Nggak!" tegas Rama.
"Aku emang gak anterin kamu ke kampus. Tapi bukan berarti kamu bisa ke kampus sendiri. Nanti bakal ada Jack yang bakal antar kamu ke kampus," tambah Rama.
Pupus sudah harapan Runa untuk sehari sendiri. "Ram sehari aja boleh nggak?" mohon Runa menakup kedua tangannya di depan dada.
"Iya atau nggak sama sekali!" tekan Rama tanpa penolakan.
"Kok gitu sih," rengek Runa.
"Jack yang antar atau aku sendiri yang antar," tegas Rama sekali lagi.
"I-iya Jack aja," mengalah untuk kesekian kalinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Runa bersiap-siap untuk segera ke kampus.
Tak lupa mulut nya berceloteh sekedar mengingat teori skripsi.
Sebenarnya Runa sendiri sudah hafal dengan teori yang dipakai, hanya saja Runa ingin lebih mengingat lagi supaya nantinya tak lupa.
"Buku, charger laptop semuanya udah. Sekarang tinggal berangkat," kata Runa tak lupa mengunci kamar asrama.
Di dekat lift sana, ada sosok pria bertato elang. Sebut saja dia Jack. Teman kepercayaan Rama untuk menjaga Runa ketika lelaki itu tak bisa menjaganya.
"Kak Jack boleh pergi sekarang. Runa mau hafalin ini dulu," Runa mengusir halus Jack untuk pergi darinya.
Mengapa Runa selalu menjadi tontonan anak-anak? Dari SMA hingga kuliah, Runa selalu menjadi bahan omongan anak-anak.
Rama memang cukup terkenal di kawasan kampus, siapa yang tak kenal dengan lelaki bernama Rama Dirgantara itu. Lelaki yang masuk dalam daftar terbaik mahasiswa terbaik di jurusan Bisnis.
"Capek deh," Runa mendesah pelan.
Memilih memakai headset dan mendengarkan lagu, ketimbang mendengar ocehan tak jelas dari netijen.
...
Disinilah Runa berada, duduk di depan ruang sidang. Menunggu namanya terpanggil.
Menggoyangkan kakinya perlahan, mencoba untuk menghilangkan gugupnya.
Runa cukup bisa bernapas lega, saat bisa menyampaikan isi skripsi dengan baik. Dan syukurnya, Runa bisa menjelaskan dengan lancar tanpa kendala.
Kini dirinya sedang menunggu info, info dimana Runa akan lulus atau tidak.
"Runa," Rama datang menghampiri. Lelaki itu mengusap pundak Runa, memberikan semangat tentunya.
Di lain tempat, di sebuah cafe. Anak muda sedang berkumpul untuk makan siang. Mereka adalah inti Alastair tak lupa dengan Vanya.
Akhirnya finally Vanya dan Rasya jadian. Setelah kurang lebih 6 tahun Vanya mengejar, Rasya menembaknya juga. Dan sekarang mereka sudah menjalin hubungan hampir 2 tahun.
"Serius amat lo Van," Arthur dengan jahilnya melemparkan kulit kacang ke arah Vanya yang membuat Vanya kesal.
"Sialan lo kak!" umpat Vanya merapikan kulit kacang yang bertebaran di pakaiannya.
Arthur tertawa sumbang. "Lagian lo liatin ponsel kayak nentuin doorprize aja," cetus Arthur. "Liat apaan sih lo?" tanya Arthur kepo.
Berdecak sebal. Tak ayal Vanya menjawab. "Kagak gue chatingan sama Runa. Katanya hari ini mau skripsi, dan lagi nunggu kelulusan," jelas Vanya.
"Widih mau jadi sarjana doang," sahut Bram.
"Sa, pacar lo mau lulus tuh. Kirimin bunga gitu buat ucapan Selamat," cetus Bram yang sedetik kemudian tertawa garing. Ketika menyadari perkataan nya.
"Hodob banget lo!" Arthur mengeplak kepala Bram cukup keras.
"Aduh," Bram meringis sambil mengusap kepalanya yang terkena pukulan Arthur. "Sakit Tur!"
"Aruna Priyanka Zoey, silakan masuk." panggil sang dosen.
Runa mengangguk dan berdiri. "Aku masuk dulu," dengan perasaan gugup, Runa melangkah masuk ke dalam. Rama sendiri berdiri sambil menunggu Runa dari luar.
"Semoga hasilnya memuaskan," gumam Rama.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka lebar menampilkan Runa dengan wajah yang sungguh sulit Rama tebak, namun jika dilihat lebih dalam lagi.
Wajahnya memancarkan kesedihan, tunggu!
Jangan-jangan...
Rama menghampiri Runa, lalu mengajak gadis itu untuk duduk. "Gimana hasilnya?" tanya Rama.
"Runa.."
"Rama..." dengan sesenggukan Runa mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir.
Melihat Runa menangis membuat Rama kalang kabut. "Hei, tenang dulu. Jangan nangis, tenang, relax, jangan nangis." Rama memberikan instruktur.
"Ram," masih dengan tangisan Runa memanggil.
"Aku--" Runa menggantung ucapannya. "AKU LULUS DONG!" dengan riang Runa memeluk tubuh kekasih nya. "Aku lulus," ungkap Runa dengan tangis bahagia.
"Selamat sayang," Rama tersenyum lantas membalas pelukan Runa.
"YAAAAKKK!" pekik Vanya tiba-tiba.
"Uhuk.. Uhuk..." Bram tersedak. "Sialan lo Van, gak teriak sehari bisa gak sih?" menatap Vanya kesal, niat hati ingin minum malah tersedak akibat teriakan Vanya.
Rasya menggelengkan kepala. "Ada apa?" tanyanya pada Vanya.
Vanya terdiam sejenak. "Runa lulus skripsi dong!" jawab Vanya, sambil menangis bahagia. Akhirnya sahabatnya itu lulus juga.
"Sarjana Sastra," semuanya bertepuk tangan, tak lupa mengucapkan selamat atas keberhasilan Runa.
Shaka sendiri, tersenyum tipis. Akhirnya, perjuangan Runa selama ini terbalaskan juga dengan kelulusan.
Dalam hati Shaka tak henti mengucapkan kata selamat, meski sosok aslinya tak tau.
...
Lulus juga bocah satu, next episode kelulusan ya...