
Di sekolah Runa, setiap pulang memang menerapkan bimbel atau bimbingan belajar, setiap tiga kali seminggu, memang cukup melelahkan. Terkadang Runa harus berangkat pukul enam pagi dan pulang pukul enam sore.
Sebenarnya kelas ini tak wajib, yang diwajibkan ikut adalah kelas 12, dimana mereka harus belajar sungguh-sungguh untuk menentukan pilihan mereka untuk masuk ke Universitas terbaik.
Seperti saat ini, setelah pulang bimbel Vanya dan Runa menghabiskan waktu malsab atau malam sabtu mereka dengan menonton film.
Dua bulan sudah persahabatan mereka terjalin, semakin ke sini, persahabatan mereka semakin lengket. Seperti botol saja; Vanya botolnya dan Runa tutup nya.
Hal itu terjadi akibat anak-anak kelas yang memangil mereka berdua dengan sebutan botol, karena jika tak ada botol maka tak ada tutup nya.
Ini bukan kali pertama Vanya menginap di rumah Runa, ia sudah sering bermalam di rumah Runa, begitupun sebaliknya.
Tadi setelah bimbel usai, Runa mengajak Vanya untuk menginap ke rumahnya.
Tentu saja, Vanya menerima dengan senang hati. Lagian kedua orang tuanya sedang berada di luar kota, akibat kerjaan. Untuk pakaian, Vanya tak perlu membawa akibat Runa meminjamkan nya.
Kini kedua cewek dengan pakaian piyama mereka. Tengah menonton drama film, bergencre fantasi misteri.
Dimana sekumpulan para siswa dengan masing-masing kekuatan super mereka tengah berusaha menguak rahasia sekolah mereka.
"Akhirnya perlahan rahasia mereka mulai terkuak. Akh! jadi gak sabar gue buat tunggu 4 episode terakhir." ujar Vanya bersorak heboh, mereka baru saja menyelesaikan episode terbaru yang baru saja kemarin sore rilis.
"Iya, tapi kesel aja gitu. Kenapa endingnya harus di gantung gini. Kan jadi penasaran. Gak tau apa di gantung itu gak enak!" kesal Runa.
Dirinya senang sekaligus kesal, senang karena satu persatu rahasia terkuak dan kesal karena endingnya menggantung.
"Gue juga anjir! Gue paling suka sama karakternya Grace katanya dia bakal keluar di episode akhir, dimana si cewek ini nanti sebagai penentu ending dari semua cerita." jelas Vanya.
"Tapi gue juga kesel sih sama pak Suparto, andai nih kalau deket gue cekik tuh kepsek. Nyebelin banget, bisa-bisanya manfaatin anak didiknya buat uji percobaan!" kesal Vanya menggebu-gebu.
"Pak support Vanya," kata Runa mengkoreksi.
"Ya itulah pokoknya, eh gue haus gue mau ambil minum di bawah boleh kan?" tanya Vanya. Sebenarnya tanpa bertanya demikian, Vanya bisa langsung mengambil sesuka dia.
Baik Bunda Yuna, Runa dan Bang Arfan tak masalah, karena bagi mereka sendiri Vanya nyaman adalah hal pertama yang ketiganya perhatikan.
"Boleh aja, anggap aja rumah sendiri." jawab Runa.
Vanya menyibak kan selimut, cewek itu bangkit dari kasur. Sebelum keluar kamar, Vanya bertanya terlebih dahulu pada Runa, apakah ada yang mau di titipkan atau tidak.
"Oke, lo ada yang mau di titipin gak? Biar sekalian gitu gak naik turun." tanya Vanya.
"Boleh deh, aku titip keripik kentang ya, ada di rak jajan-jajan, sampingnya piring-piring." jawab Runa, tak bisa dipungkiri jika keripik kentang adalah jajanan kesukaannya.
Vanya mengacungkan jempol, cewek itu berjalan keluar. "Eh Vanya, keripik nya yang pedes ya!" teriak Runa pada Vanya yang mulai menjauh.
"Oke!"
Sampai dapur Vanya mendapatkan Arfan tengah memakan apel di meja makan. "Malam Bang." sapa Vanya.
Arfan menoleh. "Eh Vanya, malam Van. Belum tidur lo pada? Lo mau ngapain?"
"Belum Bang, baru selesai nonton film. Ini mau ngisi air, sekalian mau ambil kripik kentang buat Runa." jawab Vanya.
Arfan mengangguk paham. "Nih kripik kentang nya, sekalian brownies matcha kesukaan Runa, tadi gue beli. Udah gue makan setengah sih," Arfan menyerahkan sekotak brownies yang baru saja dia ambil dari dalam lemari es.
"Oke Bang kalau gitu gue naik ke atas lagi, takut Runa nungguin."
"Iya, gue juga mau balik ke kamar, mau lanjutin tugas kampus, bilang ke Runa jangan sering begadang. Gue duluan," setelah itu Arfan pergi meninggalkan dapur.
Vanya kembali naik ke atas, dengan kedua tangan berisikan makanan. Sampai kamar, Vanya melempar makanan itu ke atas karpet.
"Iye, Sama-sama. Nih ada brownies matcha dari Abang kesayangan lo." Vanya memberikan sekotak brownies matcha.
Runa mengambil alih kotak brownies itu, matanya berbinar. Entah mengapa rasanya tak makan makanan ini seperti ada yang kurang.
Padahal tadi Runa berniat untuk memesan brownies secara delivery, namun ternyata rejeki gak kemana.
Vanya dan Runa melanjutkan obrolan mereka hingga sama-sama tertidur di atas karpet dengan keadaan yang berserakan. Tentu saja, semua karena remahan makanan.
...
Hari yang cerah untuk mengawali pagi hari, mentari bersinar terang. Tidak terlalu panas, tapi cukup menghangatkan.
Hari ini adalah hari weekend, Runa dan Vanya memutuskan untuk berjoging mengelilingi komplek perumahan.
Sebelum melaksanakan aktivitas mereka, keduanya terlebih dahulu membereskan sisa-sisa makanan kemarin malam yang berceceran di atas karpet.
"Aku mandi dulu," Runa terlebih dahulu masuk ke kamar mandi.
Tak butuh waktu lama hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit Runa telah menganti pakaian dengan sweater crop top dan celana training.
Memerlukan waktu setengah jam untuk mereka berdua siap-siap, kedua gadis remaja kini berjalan turun ke bawah. Mereka akan meminum segelas susu segar.
"Yuk lari!" ajak Vanya dengan semangat, mereka mengelilingi beberapa komplek sambil sesekali berjalan dan mengobrol.
"Van, berhenti di sana yuk. Aku laper," Runa menunjuk taman bermain yang tak jauh dari tempatnya berdiri, di sana juga ada satu gerobak bubur ayam.
"Yuk lah, gue juga laper." tak ayal jika perut Vanya telah berbunyi.
"Pak bubur ayamnya 2 pedas!" pesan Runa pada bapak penjual bubur ayam. Sambil mengambil salah satu kursi plastik.
"Siap mbak!" Tak lama bubur pesanan mereka berdua jadi. "Ini mbak bubur ayam pesananya."
"Makasih pak," ujar Vanya tersenyum manis.
...
Vanya telah pulang tadi sore, cewek itu hanya menginap sehari di rumah Runa. Padahal besok masih libur sekolah.
Namun karena Vanya ada acara keluarga untuk malam ini, membuatnya tak bisa lama-lama bermain di rumah Runa.
Rumah kembali terasa sepi, Bang Arfan tengah berada di luar untuk membeli bahan-bahan tugas kampusnya, sedangkan Bunda masih di ruko seperti biasa.
"Rumah jadi sepi deh," gumam Runa.
Malam ini Runa tak tau harus ngapain, sudah satu jam dirinya rebahan. Mungkin dengan rebahan Runa bisa mendapatkan ide untuk melakukan sesuatu, namun nyatanya tidak semudah itu.
"Mau ngapain ya? ish bingung." rengek Runa, gadis itu mengacak rambut nya dengan sebal.
Runa segera mengubah posisinya menjadi duduk, tangannya terulur untuk mengambil ponsel miliknya di atas nakas. Gadis itu mengerutkan dahi, menatap nomor yang tak di kenal sedang menelponnya.
...+6287763218xxxx...
"Siapa ya?" gumam Runa ber tanya-tanya.
Karena tan ingin penasaran, gadis itu mengeser tombol ikon berwarna hijau, lalu menempelkan ponsel miliknya ke telinga. "H-halo?"
"Gue ada di depan." ujar seseorang dari sebrang.