
Shaka tengah berada di dalam kamar mandi, cowok itu baru memuntahkan isi perutnya, kepalanya masih terasa begitu pusing akibat semalam terlalu banyak minum. Shaka saja sampai tak mengetahui seberapa banyak wine itu dia teguk.
Rayn yang sedari tadi berada di pintu kamar mandi, menatap Shaka khawatir. Cowok itulah yang bangun pertama untuk membantu membawa Shaka ke kamar mandi. "Lo gak papa Sa?"
Shaka mengangguk singkat "Gue gak papa." kepalanya sekarang terasa begitu berat.
Tak lama Rasya datang dengan secangkir teh hangat. Laki-laki itu memberikannya pada Shaka untuk menetralisir keadaan sahabatnya. "Lo minum dulu teh anget nya, buat angetin badan lo sekalian." ujar laki-laki itu.
Rasya melirik jam dinding, sudah menunjukkan pukul 5 pagi. "Gue mau balik dulu, mau ambil seragam." kata Rasya, dia tak ingin jika dirinya bolos sekolah.
Rayn menyahuti. "Gue juga harus balik, udah dicariin sama Oliv. Nanti buat pakaian lo pada, gue ambilin. Di basecamp masih ada anak-anak, kalau butuh apa-apa bilang mereka aja." sepuluh menit yang lalu adik Rayn menelponnya, katanya Oliv kangen dan mau nya sarapan pagi ini di masakan oleh Rayn sendiri.
Memang Rayn Abangable sekali.
"Lo yakin mau masuk sekolah? Maksud gue, mending lo istirahat aja Sa, keadaan lo masih belum baik ini." Sebenarnya Rayn dan Rasya telah menyuruhnya untuk berdiam diri di basecamp, paling enggak Shaka istirahat lah di sini. Sampai benar-benar membaik keadaannya.
Namun yang namanya Shaka, cowok kepala batu itu tak mau. Dia tetap saja ingin masuk sekolah. Alasannya, mau bicara berdua sama Runa, dia ingin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya ke Runa.
Shaka tersenyum tipis. "Yakin lah, lo tenang aja. Keadaan gue juga udah mendingan."
Masih pagi begini, namun basecamp telah ribut akibat suara berisik dari Arthur Margantra. Pasalnya di pagi yang buta ini, cowok itu merengek untuk masuk ke sekolah.
"Gue gak masuk sekolah deh, kasih alasan sakit atau apa gitu. Sumpah mager bet gue," alasan sebenarnya bukan karena Arthur tak mengerjakan tugas -walaupun itu menjadi salah satu alasannya. Tapi bukan itu alasan yang tepat, yang tepat adalah hari ini hari Kamis, artinya hari paling mematikan untuk anak Trisatya.
Kenapa begitu? Karena di hari ini lah kebanyakan para OSIS melakukan razia. Itulah mengapa Arthur malas masuk. Dari semua barang anak-anak yang kena razia, cuma dia doang yang paling banyak. Sudah begitu, tak dikembalikan lagi, mana barangnya mahal-mahal.
"Alasan terosss!" sahut Tara, Laki-laki itu memang paling rajin dari tiga manusia titisan setan ini.
"Beneran anjir! Kepala gue masih pusing."
"Yakin lo gak masuk kelas, hari ini ulangan Bu Dayu," ujar Rayn.
"Emang ada ulangan?" tanya Arthur, cowok itu aja gak pernah catat apapun info gimana mau tau.
"Ada, fisika. Yakin lo gak masuk?" tanya Rayn kembali.
"Tuh guru kenapa gak pensiun aja, capek gue mana pusing lagi." kesal Arthur. Mending masuk daripada gak masuk terus suruh kerjain di ruang guru sendirian di awasi sama bu Dayu bahaya.
Gak bisa oper jawaban gak seru.
"Udah, mending lo mandi sana Tur, bau alkohol!" usir Rasya, cowok itu langsung pergi meninggalkan basecamp.
"Ketika anak alim bersabda ya gini!" ujar Bram sambil menggelengkan kepalanya.
"Gue balik dulu ya, mau ambil seragam terus ke sini lagi." pamit Rayn.
"Nitip baju gue dong," ujar Tara.
"Iya entar gue bawain." setelah itu Rayn pergi keluar kamar, menyusul Rasya.
…
Vanya sedari tadi menunggu kedatangan Runa, namun sahabatnya itu sampai sekarang belum menampakkan jati dirinya.
"Apa Runa gak masuk ya, tapi kenapa? tumben banget, ah mungkin dia telat, iya mungkin telat." Vanya masih mencoba untuk berpikir positif.
"Van, buruan masuk. Bu Jul naik, bentar lagi!" teriak Siska dari ambang pintu.
"Oke-oke," Vanya berlari masuk ke dalam.
Istirahat tiba, Vanya masih menunggu kedatangan sahabatnya ini. Tak biasanya Runa bolos kelas, bahkan nih dari kelas 10 sampai sekarang, Runa tak pernah bolos kelas.
"Lo kemana sih Run? Udah di telpon juga, gak lo angkat, gue chat gak lo balas, ada apa sih sama lo sebenernya." Vanya memilih untuk ke kantin sendiri hari ini.
Di kantin Vanya menatap ke meja inti Alastair, apa dia tanya ya ke Shaka, mungkin aja dia bisa kasih tau kenapa Runa tak masuk hari ini.
"Permisi kak," ujar Vanya membuat ketujuh cowok itu menoleh ke Vanya.
"Ada apa Van?" tanya Bram.
Shaka mengerutkan dahi. "Gak masuk kelas," Vanya mengangguk. "O-oh itu, semalem dia bilang hari ini gak bakal masuk, gak tau kenapa." seru Shaka berbohong.
"Gitu ya kak, makasih ya kak." Vanya pun pamit pergi dan memilih memesan makanan.
"Emang Runa gak masuk kenapa?" tanya Bram pada Shaka.
"Bilang sejujurnya ke Runa. Biar gak salah paham." kata Rasya sambil memakan bakso nya.
…
Hari ini Runa memang memutuskan untuk tak masuk sekolah tadi dia sudah izin ke wali kelas melalui pesan WA dengan alasan sakit.
"Bunda,"
"Ada apa Run, kamu dimana di sekolah?" tanya bunda dari sebrang.
Runa dan Bunda serta Ayah harus berpisah untuk beberapa hari ke depan. Keadaan nenek tiba-tiba menurun mau tak mau bunda harus kembali lagi ke Jogja dan harus meninggalkan Runa serta Arfan di rumah sendiri.
"Runa di rumah, maaf ya bun, Runa harus bolos. Asam lambung Runa tadi kumat, jadi Runa gak masuk, gak papa kan bun?" entah berapa kali gadis itu membohongi semuanya, walau tak sepenuhnya, memang tadi pagi asam lambung Runa naik membuatnya harus bolak-balik ke kamar mandi.
"Terus sekarang gimana? Kamu ya, makanya jangan lupa makan sayang, biar gak kenapa-napa. Sekarang gak papa kan keadaannya, abang gimana apa abang udah pulang?" tanya Bunda bertubi-tubi.
"Aku gak papa bun, abang kuliah, katanya study tour sih. Maaf bun, Runa lupa makan semalam sibuk main sama Vanya." ujar Runa.
"Yaudah, gak papa, sekarang kamu makan ya, terus minum obatnya. Jangan kecapekan pokoknya. Nak bunda tutup ya, ini nenek mau ganti sebentar, nanti bunda telpon lagi."
"Oke bunda, salam ya buat nenek."
"Iya, jangan lupa makan." Bunda langsung memutus panggilan.
Runa mengambil jaketnya, gadis itu ingin memakan bubur untuk sarapannya pagi ini. Runa berjalan keluar, mungkin sekitar lima meter dari rumah untuk membeli bubur ayam langganan Runa.
"Selamat pagi pak," sapa Runa dengan ramah.
"Pagi neng, mau pesan bubur ya seperti biasa kan neng?" tanya mang Agus.
"Iya dong pak, bubur nya 1, makan sini ya pak." ujar Runa duduk di salah satu kursi plastik.
Sambil menunggu Runa memainkan ponselnya, ternyata banyak juga panggilan serta pesan chat dari Vanya. Runa merasa bersalah dengan Vanya, karena membuatnya khawatir.
...Vanya...
Vanya
Runa, pagi ini lo masuk kan?
Lo gak papa kan? Lo gak ada masalah kan?
Lo sakit ya, tumben banget lo bolos
Astaga, gak dibalas dong, jahat bener lo
Eh kata kak Shaka lo izin dia bilang lo emang gak masuk hari ini, emang lo kenapa???
Runa mengerutkan dahi, sejak kapan dia bilang ke Shaka kalau dia gak masuk. "Kapan aku bilang ke dia kalau aku gak masuk? udahlah biarin," batin Runa.
^^^Runa^^^
^^^Maaf Van, aku gak masuk hari ini^^^
^^^Lagi gak enak badan maaf ya 🙏^^^
Tak lama bubur pesanannya pun jadi. "Silahkan neng," ujar mang Agus.
Runa mengembangkan senyum. "Makasih ya mang." Mang Agus mengangguk lalu kembali melayani pelanggan yang lain.