Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Kembali ke Jogja



...Aruna Priyanka Zoey...



...Rama Dirgantara...



.........


Reuni kali ini tak membuat Runa merasa senang. Dia kira dengan Runa datang ke reuni kali ini dapat membuat hatinya sedikit senang. Bukannya senang yang Runa dapat melainkan flashback masa lalu yang kembali berputar.


"Ram, aku mau pulang sekarang." Runa berkata dengan sedikit berbisik. Sebenarnya dia juga tak enak untuk balik duluan, namun mau bagaimana lagi. Sudah tak nyaman untuk berlama-lama lagi.


"Oke," balas Rama singkat. Menarik Runa dari kerumunan dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Nggak enak badan?" tanya Rama dengan khawatir. Tangan kiri nya mengusap lembut surai Runa, sedangkan tangan kanan menyetir.


Runa mengangguk sekilas, sebelum melanjutkan perkataannya. "Lusa balik lagi ke Jogja," putus Runa.


Alis Rama bertautan. "Kok buru-buru?" herannya. Tak biasanya Runa cepat-cepat begini.


"Nggak papa Ram, aku mau balik aja. Sekalian mau fokus buat skripsi," ujar Runa menatap ke luar jendela.


Sambil menutup matanya sayup-sayup, menikmati usapan Rama.


Memang beberapa bulan lagi Runa akan menjalani skripsi, setelah hampir 4 tahunan Runa menimba ilmu di sana. Kini akhirnya dia akan menjadi sarjana.


"Tidur aja, nanti kalau sampai rumah aku bangunin." suruh Rama masih mengusap lembut surai Runa. Perlahan mata itu tertutup rapat.


Tak perlu lama-lama, mobil Rama berhenti tepat di depan rumah gadisnya.


Melihat Runa yang terlelap membuat Rama tak tega. Mengangkat pelan tubuh Runa dan membawanya masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum!" ucap Rama.


"Waalaikumsalam, Rama! Runa, Runa nya kenapa?" tanya Bunda dengan nada khawatir.


"Runa gak papa tante, cuma ketiduran aja." jelas Rama sambil tersenyum.


Yuna bernapas lega. "Kamu bawa masuk aja ke kamar nya," perintah Ayah Bima pada Rama.


Rama mengangguk kecil, dan langsung menuju ke atas ke kamar Runa berada. Sampai di dalam kamar, Rama menaruh tubuh Runa dengan hati-hati, dan tak lupa menyelimuti tubuh gadisnya sampai ke atas dada.


Mengecup kening Runa sekilas, Rama berjalan keluar kamar namun terhenti seketika ketika dirinya ingin mematikan lampu.


Matanya menatap ke arah meja belajar, yang dihiasi oleh foto-foto.


Gigi nya bergemeletuk, saat tau foto itu. Mencoba menahan kesal, Rama mempercepat langkahnya untuk keluar kamar.


"****!" umpat Rama.


Di ruangan dengan cahaya remang, duduk seorang pria yang masih memakai jas.


Menatap layar laptop yang berisikan laporan kerja, tangannya mengusap wajah dengan kasar.


Baru ditinggal beberapa jam, laporan sudah menumpuk saja.


"Badan lo perlu istirahat, jangan lo paksain!" sahut seseorang dari ambang pintu.


Shaka mendongak, menatap Ale yang berdiri di sana. "Belum tidur?"


"Udah, cuma kebangunan karena haus. Lo sendiri kenapa ngapain disini?" tanya Ale perlahan menghampiri Shaka.


"Kantor,"


Ale menggelengkan kepala, menatap Abang satu-satunya. "Istirahat gih. Masih ada besok, gak usah di paksa kalau udah capek!" tegur Ale.


"Nanggung," namanya juga Shaka. Keras kepala anaknya.


Berdecak kesal. "Kepala batu lo!" sungut Ale. "Btw Bang, gimana? Udah ketemu sama mantan?" tanya Ale, menarik kursi di samping dan langsung mendudukinya.


Shaka berdehem singkat. "Kok hem doang sih!" kesal Ale. "Jelasin kek. Gue gak paham nih," jujur saja Ale tak ngerti dengan jawaban Shaka. Hm itu iya apa tidak.


"Ketemu,"


"Terus-terus," Ale semakin dibuat penasaran.


"Dia udah sama yang lain," sambung Shaka, membuat Ale terdiam.


Menepuk-nepuk pundak Shaka, Ale berkata. "Gitu doang nyerah, gini ya sebelum janur kuning melengkung. Udah gas aja, gak usah takut. Buktiin dong kalau lo bisa," ujar Ale menyemangati.


Shaka tersenyum sekilas. "Udah nggak perlu dipikirkan, ntar kalau jodoh pasti ketemu." tegas Ale. "Gue balik deh, haus gue." Ale bangkit dan keluar, meninggalkan Shaka sendiri.


...


Pagi ini, seperti yang diucapkan Runa kemarin lusa. Runa benar-benar akan kembali lagi ke Jogja.


Dikatakan masih rindu, Runa masih ingin buat lama-lama di Jakarta. Tapi dia juga tak boleh melupakan bahwa Runa masih ada tanggungan di Jogja.


Selesai menatap semuanya dan memasukan nya ke dalam koper. Runa bersiap diri, mengambil ganti dan berganti pakaian dari piyama menjadi Sweater crop top serta celana training. Pulang kali ini Runa tak ingin memakai pakaian yang aneh-aneh.


Yang terpenting adalah nyaman.


"Iya Bunda bentar!" balas Runa tak kalah teriak. Mengambil ponsel, dengan buru-buru Runa turun ke bawah.


Sudah hampir lima kali namanya terpanggil. "Maaf Bun. Gak denger," Runa menyengir menarik salah satu kursi dan mendudukinya.


"Bunda kira kamu tidur," ujar Bunda sambil menyiapkan sarapan pagi. "Jihan, kamu ambil ayamnya ya di deket kompor," suruh Bunda paka Kak Jihan.


"Iya Bunda!"


"Ada kak Jihan?" karena saat kesini beberapa hari kemarin, Jihan memang tak terlihat berada di rumah.


"Tuh Jihan," Arfan menunjuk dengan dagunya pada wanita berdaster. tak lain tak bukan Jihan Moana.


"Yahh Runa balik kak Jihan ada," bahu Runa merosot. Padahal dia ingin berlama-lama dengan kakak kesayangan Runa.


"Dua minggu lagi kakak bakal ke Jogja kok. Jadi kita bisa berdua lumayan lama," sahut Jihan.


"Oh ya?" tanya Runa tak percaya.


"Iya dong. Satu minggu aja sih,"


"Gak papa, yang penting berdua." Runa menyengir.


"Sarapan dulu, keberangkatan kamu jam berapa dek?" tanya Ayah Bima.


"Jam 2 siang Yah," jawab Runa sambil memakan ayam goreng buatan Bunda. Sungguh ayam buatan Bunda memang tak ada lawan.


Setelah itu tak ada lagi pembicaraan, hanya suara sendok dan garpu yang terdengar. Usai sarapan, Runa, Bunda Yuna dan Jihan membereskan dapur.


Ngomong-ngomong tentang Jihan Moana, wanita yang kini sudah sah menjadi istri kak Arfan beberapa bulan lalu.


Wanita asli Surabaya dan lulus unair kini sedang menyambung kuliahnya S2 di university kota Jakarta.


...


Siangnya, rumah Runa kedatangan tamu. Siapa kalau bukan Rama. Cowok itu juga akan balik.


Kemana Runa berada disitulah Rama ada. Mereka tak akan pernah terpisah sampai kapanpun, jangankan pisah.


Rama saja tak membiarkan Runa ke mana-mana jika tanpa dirinya. Di garis bawahi jika tanpa dirinya. Artinya Runa tak boleh ke mana-mana kalau tak bersama Rama.


Rama tuh posesif nya minta ampun, tapi walaupun begitu dia cowok baik.


Baik didepan Runa, tapi kalau dibelakang-- tak tau, hanya Nana lah yang tau gimana Rama.


"Hati-hati ya sayang. Semangat sekolah nya, jangan lupa buat jaga kesehatan." Pesan Bunda Yuna, memeluk Runa dengan erat.


Jika ditanya apakah Bunda Yuna masih rindu, jawaban iya namun itu semua dia tepis karena semuanya demi masa depan Runa.


"Jangan lupa makannya juga," Ayah mengecup lama kening sang putri, pria paru baya itu memeluk tubuh mungil Runa.


"Ayah juga. Jangan sakit pokoknya," balas Runa.


"Cepet amat sih lo!" ujar Arfan. Tak tau saja Arfan masih merindukan princess kecilnya. "Semangat buat kejar cita-cita nya!" Arfan dan Runa saling ber-tos ria.


"Semangat Runa! Bentar lagi mau jadi sarjana. Semoga lancar ya," Jihan memeluk Runa sekilas.


"Kak Jihan juga semangat kuliahnya. Jangan lupa buat kasih Runa ponakan yang lucu," gurau Runa.


Selesai peluk-pelukan Runa dan Rama memasuki mobil yang sudah disediakan oleh Jihan. "Rama, om titip Runa ya. Om percayakan Runa untuk kamu," pesan Ayah Bima pada Rama.


Rama mengangguk tegas. "Iya Om!"


"Kalau nggak mau makan. Marahin aja Ram!" pekik Arfan.


"Abang!" sungut Runa. "BUNDA AYAH, RUNA JALAN DULUAN YA. KALIAN SEHAT-SEHAT!" teriak Runa dari dalam mobil saat mobil yang ia tumpangi perlahan meninggalkan rumah.


...


Shaka, maaf nih Nana harus oleng sekejap ke Rama. Sial dia ganteng ╥﹏╥