
"Gue ada di depan." ujar seseorang dari sebrang.
Runa mengerutkan alisnya, gadis itu cukup bingung dengan ucapan seseorang yang menelponnya sekarang. Namun jika mendengarkan namanya, suara ini cukup tak asing bagi telinga Runa.
"Di depan? Maaf, ini siapa ya?" tanya Runa memastikan.
"Shaka," balasnya singkat.
"Kak Shaka?" Gadis itu menatap nomor yang ada di layar ponsel. Sejak kapan Shaka memiliki nomornya? dan dari mana cowok itu tau nomor Runa.
Shaka berdehem singkat. "Gue tunggu bawah, buruan!"
"Kemana--" belum juga dia melanjutkan ucapannya, namun dengan cepat Shaka memutus panggilan sepihak. Membuat Runa yang hanya bisa mengelus dada dengan sabar.
Tak ingin membuat Shaka menunggunya lama, Runa memutuskan untuk turun ke bawah, sebelumnya dia mengintip dari arah jendela kamar, di sana memang benar ada Shaka yang duduk di atas motor sambil memainkan handphone.
"Kak Shaka?" Lantas Shaka mendongakkan kepala, menatap Runa yang sudah ada di depannya. Cowok itu menatap penampilan Runa, mulai dari atas hingga bawah.
Senyum tipis terbit di bibirnya, Shaka langsung menarik lengan Runa dan memasangkan helm ke kepala Runa, dengan hati-hati.
Runa hanya bisa menatap Shaka bingung. "Kita mau kemana?"
"Keluar,"
"Iya tau, maksudnya keluar kemana?"
"Malam minggu, gue tau lo lagi ngelamun kan di kamar sendiri. Yaudah gue ajak keluar aja. Buruan naik, keburu malam." seru Shaka, seakan tau dengan jalan pikiran Runa.
"Tapi aku masih pakai--"
"Gak peduli, nih lo pakai jaket dulu. Ntar masuk angin." Menyerahkan jaket Alastair miliknya pada Runa.
Runa menerimanya dan memakainya. Terlihat jika jaket itu lumayan kebesaran di tubuh mungil milik Runa. Shaka yang menatap itu tersenyum geli, melihat Runa memakai jaketnya, terlihat sangat mengemaskan.
"Kita berangkat." seru Shaka sambil menyalakan motor, dirasa Runa telah aman Shaka menarik kedua telapak tangan gadisnya untuk melingkar di perutnya. Setelah dirasa aman, Shaka mulai menjalankan motornya.
Kedua pasangan remaja tengah menikmati malam minggu. Entah mau kemana Runa tak tau, dia hanya mengikuti kemanapun yang Shaka bawa.
Dengan angin malam yang menerpa wajah Runa, membiarkan beberapa anak rambut berterbangan. Perlahan Runa menyandarkan kepalanya di tegak punggung Shaka, menikmati suara detak jantung Shaka yang sama seperti dirinya, -tak normal.
"Kak Shaka kita mau kemana?" Tanya Runa sedikit teriak.
Shaka melirik Runa sekilas dari arah spion. "Lo mau kemana?" tanya Shaka balik.
"Mau beli es krim boleh gak?" Runa sedikit memiringkan wajahnya, agar bisa melihat tanggapan dari Shaka.
"Boleh," balas Shaka secara singkat. Dirinya membelokkan motornya ke arah toko ice cream yang tak jauh dari dari sana.
"Mau es krim apa?" tanya Shaka, kedua remaja itu sudah berada di dalam toko es krim.
"Coklat matcha." Mungkin sebagian orang bilang kalau matcha pait dan sebagainya, namun tak dengan gadis yang satu ini. Bagi Runa matcha adalah candu nya.
"Matcha coklatnya satu." ujar Shaka pada mbak-mbak pelayan.
Tak perlu menunggu waktu lama pesanan es krim milik Runa datang, dengan mata yang berbinar-binar menatap es krim matcha. Baru membayangkannya saja sudah membuat Runa menelan ludahnya sendiri.
"Kak Shaka gak beli?" tanya Runa.
Shaka menggeleng singkat, cowok itu memilih mengambil sebatang rokok dan memakainya. Namun, baru saja Shaka memetik korek api, Runa terlebih dulu merebutnya.
"Kamu ngerokok?"
Shaka berdehem singkat. "Balikin,"
"Gak mau, dari pada kak Shaka ngerokok mending makan es krim. Ngerokok gak baik tau, nanti kamu bisa sakit kalau kebanyakan ngerokok." Tutur Runa.
"Terus sama es krim lo?"
Runa cengegesan khas miliknya. "Tapi kan gak banyak-banyak juga," elak Runa.
Runa menggelengkan kepalanya cepat. "Gak mau, aku bakal balikin tapi dengan satu syarat gimana?" tantang gadis itu membuat Shaka menghela napas panjang.
Mengangkat sebelah alisnya. Lantas berkata "Oke, apa syaratnya."
Senyum Runa mengembang. "Kamu harus berhenti ngerokok. Baru aku balikin."
Shaka yang tak ingin berdebat memilih mengangkat bahunya tak acuh, cowok itu merogoh saku jaket miliknya dan mengeluarkan korek apinya yang lain.
"Stop!" cegah Runa. "Ih curang, bawa rokok lain. Kak jangan ngerokok ya, gak baik buat kesehatan. Apalagi buat paru-paru kamu, gak kasihan apa?" Runa menatap Shaka dengan tatapan memohon.
Shaka terdiam sejenak, lalu mengangguk menyetujui perkataan Runa. Bagaimana dia bisa menolak jika tatapan Runa seperti ini, lucu dan menggemaskan.
"Udah kan?" tanya Shaka dengan lembut.
"Nah gitu dong, malam ini aja gak ngerokok bisa kan?"
"Hm, bisa." Shaka menarik cup es krim milik Runa dan menyedoknya dan memakannya.
"Loh kok di makan?" heran Runa, bukannya Shaka tadi menolak.
"Nih es krim nya cair, lo sih banyak omong dari tadi." kata Shaka. "Mbak!" cowok itu memanggil salah satu pelayan, dan memesankan kembali es krim untuk Runa dengan rasa yang sama.
...
Di basecamp kelima cowok tengah bermain PS, karena besok adalah hari libur jadi malming kali ini mereka putuskan untuk bermalam minggu di basecamp. Di temani dengan snack-snack serta minuman soda.
"Sepi bener nih basecamp? Biasanya juga ramai anak. Pada kemana dah?" cetus Bram yang tak melihat keberadaan para anggota Alastair yang lain.
"Kagak tau, tanya ke gue lagi." jawab Arthur.
Bram menoyor kepala Arthur. "Siapa yang tanya lo, kepedean lo!" ketus Bram.
Arthur mendegus sebal. "Bantu jawab juga."
"Ray, lo bakal nginep basecamp kan?" tanya Arthur pada Rayn mereka berlima bersama anak-anak Alastair lainnya berencana untuk menginap satu malam di basecamp, sekalian berjaga-jaga juga.
"Gak bisa gue, Oliv sama yang lain di rumah sendirian. Nyokap bokap gue lembur kerja, gue harus balik malam ini." Tutur Rayn.
Tara bertepuk tangan. "Wah, abangable sekali anda." ujarnya.
"Gila lo Ray, pasti adik lo pada betah punya Abang kayak lo. Gue jamin sih itu, buktinya lo lebih pentingin keamanan dan kebahagian adik lo dulu, setelah itu lo." Ucapan itu berasal dari mulut Arthur.
"Kalau lo beda cerita," sahutan itu berasal dari Rasya, cowok yang sedari menyimak.
Semuanya tertawa ngakak mendengarkan ujaran Rasya. "Bener tuh kata Rasya, kalau lo mah beda cerita. Gue yakin sih kalau lo punya adik pasti adik lo tertekan punya Abang yang naudzubillah kayak lo gini." Sahut Bram.
Arthur mendegus sebal, sialan mengapa dirinya yang terbully di sini! "Napa gue sih yang jadi kena!" sebal Arthur.
"Gak papa Tur, buat anak orang ketawa itu dapat pahala kok." Sahut Tara, sambil menepuk pundak Arthur.
Arthur mencabik bibirnya sebal. Beginilah jadi Arthur, kalau gak jadi bahan bullyan anak-anak. "Iya sabar gue, punya temen kayak lo." ujar Arthur pasrah yang semakin membuat semuanya tertawa ngakak.
...
Kedua remaja tengah bergandengan tangan, duduk diatas kursi taman. Sambil menikmati lampu warna-warni. Banyak orang yang ada di taman ini, tak jarang juga anak kecil menyapa Runa dan Shaka.
Mereka cukup lama sudah berada di taman, setelah memakan es krim. Keduanya memutuskan untuk pergi ke taman sambil sedikit bercerita, menikmati angin malam yang begitu menyejukkan.
"Kita pulang, udah malam. Pasti lo capek kan?" ujar Shaka sambil menatap mata sayu Runa.
Runa mengangguk kecil, sesekali menggucek kedua matanya. "Iya pulang aja, udah ngantuk." ujar Runa.
Shaka hanya tersenyum tipis. Menarik Runa ke parkiran motor, Shaka menarik Runa agar memeluknya. Membiarkan cewek itu menyandarkan kepalanya ke punggung.
"Jangan tidur, nanti jatuh." peringatan Shaka.