Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Shaka marah?



"Kak Shaka kok ngomong gitu tadi?" Tanya Runa, gadis itu ingin meminta penjelasan pada Shaka.


"Ya karena emang lo pacar gue," Ujarnya singkat.


"Tapi kak, Runa gak mau. Kak Shaka juga bilang kan kalau kakak cuma bantuin aku doang. Gak lebih, please kak, jelasin ke mereka." Mohon Runa.


"Semalem gue berubah pikiran, lo jadi milik gue. Dan gue gak terima penolakan!"


"Kak-"


"Gue gak terima penolakan, lo belum makan kan? Yaudah makan bareng gue." Shaka menarik Runa ke kantin.


Seperti biasa, keadaan basecamp cukup ramai. Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Tapi semakin malam, malah semakin ramai.


Ada yang main game, nonton bola, main kartu uno serta duduk-duduk santai.


Shaka serta inti Alastair duduk sambil meminum softdrink serta kacang. Mereka. hanya diam tak ada yang membuka suara, hanya suara umpatan Arthur, Bram dan Tara yang sedang bermain.


"Sa, lo udah yakin sama keputusan lo buat jadiin Runa sebagai pacar lo?" Tanya Rayn, memecahkan keheningan.


Hal itu membuat Tara dan Rasya yang memainkan handphone menegakkan diri sambil menatap Shaka, mereka juga penasaran sih sebenernya.


Hanya anggukan singkat dari Shaka. "Yakin," ucapnya.


"Sa lo tau kan Runa murid baru, dan lo ingat kan tadi pagi dia aja digosipin anak-anak karena lo antar, terus tiba-tiba gak ada angin, gak ada hujan lo cap Runa gitu aja. Pasti anak-anak berfikir yang buruk tentang Runa, apalagi lo aja gak pernah deket sama cewek sekali ke adik lo sama Tante Lea." Ucapan Tara ada benarnya, masih ingat kejadian tadi pagi? Itu aja udah jadi bahan trending topik di sekolah. Apalagi yang ini.


"Mending lo jujur aja ke Runa, percuma lo cap dia jadi pacar kalau lo cuma kasih sama dia. Jangan sampai lo permainkan perasaannya, dan jangan sampai di saat Runa tulus dan cinta ke lo. Lo malah balik ke dia." Ucap Rasya, Rasya tuh kalau ngomong kadang-kadang bikin sakit hati.


Shaka menatap tajam Rasya, ucapan Rasya terdengar ejekan bagi Shaka. Namun karena Shaka tau gimana itu Rasya, baginya tak masalah. Toh dia yang jalani, dia juga yang kena.


Shaka menatap lurus ke depan. "Tenang aja, gue udah tau konsekuensi yang bakal gue dapetin nantinya. Lo tenang aja, Runa aman sama gue."


"Aman sama lo, tapi gak sama yang lain. Jangan sampai hal ini jadi patokan Gundala buat serang kita, dan semalam lo udah kasih tau mereka kalau Runa jadi pacar lo."


"Dan lo ingat, saat Bayu bilang apa, dia bakal buat Runa gak tenang, dan hal itu bisa jadi bahwa Runa akan masuk ke dalam masalah kita." Ujar Rasya, dia takut nantinya Runa masuk ke dalam urusan masalah mereka.


Runa itu gadis polos yang bisa kapan saja menjadi patokan untuk Gundala serang Alastair.


Gundala adalah geng motor yang sama seperti Alastair, mereka dulu bersahabat namun suatu kejadian membuat kedua geng itu menjadi musuh sampai sekarang.


Gundala di pimpin oleh Galang, sahabat karib Shaka. Dulu tapi, keduanya cukup akrab satu sama lain.


Namun seketika keduanya terpisah akibat suatu masalah yang membuat nyawa orang melayang.


"Maka dari itu, gue mau lo semua jaga Runa dan intai dia dari kejauhan." Suruh Shaka.


"Tar, lo kordinasi sama anak-anak buat jaga Runa. Jangan sampai dia tau." Ujar Shaka pada Tara.


"Oke itu mah, siap!"


"Bener Sa kata Rasya. Gue takut nanti Runa malah kena masalah kita. Lo tau kan seberapa liciknya Gundala. Dia bisa melakukan apapun buat memutar balikan fakta, dia juga pandai dalam hal kelicikan." Rayn, cowok itu juga sama seperti Rasya.


Kasihan kan kalau Runa masuk ke dalam masalah mereka. Padahal Runa gak tau apa-apa.


Dia adalah gadis yang di tolong Shaka, dan gadis yang cukup beruntung untuk memikat hati seorang Arshaka Virendra Aldebaran.


"Gue ngerti, dan gue paham. Dan gue pastiin semua itu gak bakal terjadi, lo tenang aja, gue tau apa yang gue lakuin nantinya. Dan juga, konsekuensi apa yang gue dapat." Ucap Shaka serius.


Ya, kalau gini mereka harus apa? Shaka, mana bisa di bantah. Kalau ucapannya A ya A gak ada B.


"Semoga aja dengan kehadiran Runa di kehidupan lo, bisa merubah lo jadi Shaka yang dulu." Ucap Rasya, cowok itu melirik sekilas ke arah Shaka yang sama juga menatap dirinya.


Rayn dan Tara sama-sama mengamini di dalam hati.


Bram dan Arthur datang, setelah cowok itu bermain keduanya menghampiri yang lain.


"Kalian kenapa? Serius amat, tagih utang ya? Jangan serius-serius lah, santai aja. Hidup buat santai bro!" Bram, menatap yang lainnya bingung.


"Gak tau situasi lo!" Sarkas Arthur, cowok itu juga menatap yang lainnya bingung.


"Emang lo tau mereka kenapa?" Tanya Bram, mungkin aja ya kan Arthur tau, dan kalian tau apa jawabannya.


...


Shaka baru saja memasuki rumah, setelah mengantar Runa pulang, cowok itu mampir sebentar ke basecamp untuk bermain sebentar bersama anak-anak.


Matanya menyusuri setiap sudut rumah, tak ada Ale, shaka melirik ke jam dinding, tak biasanya adik laknatnya tak ada di bawah.


"Ale!"


"Ale!"


Cowok itu memutuskan untuk naik ke atas sambil mengecek ke kamar Ale, palingan nonton drakor. Shaka langsung masuk ke dalam kamar Ale, setelah mengetuknya berkali-kali. Namun si empunya tak menjawab.


"Pantesan gue panggil gak di jawab, orang telinganya di sumpel!" gumam Shaka, cowok itu langsung menarik headset milik Ale.


"Anj- ck ngapain lo?!" hampir saja dia mengumpat.


"Lo masak apa?" Tanya Shaka.


"Nasi," jawab Ale singkat.


"Lauknya?!"


"Gak, gue mager, tadi gue bikin nugget sama sosis." kata Ale.


"Gorengin, gue mau mandi." Shaka langsung meninggalkan kamar Ale tanpa menutup pintu.


"TUTUP LAGI PINTU NYA BANGSAT!" umpat Ale kesal, kesel aja sih sama orang yang masuk kamar terus gak di tutup rapat, kayak ada yang nanggung.


Ale dengan kesal menutup pintunya dan turun ke bawah, menggoreng nugget serta sosis untuk abangsat nya.


"Nih makan," Ale memberikan sepiring nasi berisi sosis dan nugget yang baru dia goreng, tak lupa saos sambal.


"Makasih adik gue,"


"Ya sama-sama abang sat!" ujar Ale menekan kata akhirnya.


Shaka hanya mengangkat bahu acuh, lebih memilih untuk makan di banding berdebat dengan Ale.


"Bang gue mau tanya dong, tapi lo jawab jujur ya." ujar Ale, memposisikan duduknya.


Shaka hanya berdehem singkat. "Lo gay gak sih?" Pertanyaan Ale membuat Shaka hampir saja tersedak.


"Mulut lo didiemin makin ngelunjak aja!"


Ale menggeleng cepat. "Gak bukan gitu! Ya kan lo gak pernah deket sama cewek lagi setelah kejadian tiga tahun itu, bahkan waktu gue tanya lo punya pacar apa gak lo diam aja. Gue kan cuma tanya, takut aja gitu abang gue homo."


"Ngadi-ngadi lo kalau ngomong, gue normal ya!" sarkas Shaka tak terima.


"Iya-iya maaf," ujar Ale. "Lo gak ada niatan gitu buat lupain dia dan ganti ke orang lain."


"Gak usah bahas itu," tegur Shaka masih dengan suara yang normal.


"Gue kan tanya Bang, kali aja lo udah lupain dia, dan udah ada pengganti yang baru. Syukur-syukur yang bisa rubah lo jadi kayak dulu."


"Sekali lagi lo ucapin kata-kata itu, jangan salahin gue buat lempar nih piring ke muka lo." peringatan ini berhasil membuat Ale mengulum bibirnya ke dalam.


Mampus, salah ucap!


Setelah berkata demikian, Shaka bangkit dari meja makan, menaruh piring ke wastafel dengan kasar, membuat Ale terjingkrak kaget.


Ale menatap kepergian sang Abang, Ale tak berhenti merutuki dirinya sendiri. Aish, mengapa dirinya lupa begini.


"Mati lo Le, Bang Shaka marah. Mampus lo! Eh napa gue nakutin diri gue sendiri, serem banget sih kalau marah." batin Ale.


...


Jejaknya jangan lupa :)