
Lain tempat, tepatnya di sebuah gedung tua. Anak-anak remaja tengah berkumpul mereka semua mengumpat kesal, untuk ke- entah berapa banyak mereka kalah.
"Sial! Harusnya Shaka mati hari ini!" Umpat cowok dengan tato di lengan kanannya.
Dia Bayu, pasti kalian tau dia siapa. Dia tangan kanan Gundala, tepatnya wakil dari Gundala, cowok itu memiliki dendam terselubung di dalam hatinya pada anggota Alastair.
Namanya Bayu Tratajaya. Cowok kelahiran Malang itu memang paling benci dengan kekalahan, maka tak ayal jika dia selalu marah.
Sedangkan tak jauh dari tempat duduk Bayu, seseorang cowok dengan kaki yang dia selonjor kan di atas meja menatap Bayu acuh. "Sekeras apapun kita lawan mereka mereka, kita juga yang bakal kalah." Tutur cowok itu, membuat Bayu mengeram kesal.
"Cih, lo aja terlalu bodoh jadi ketua! Mending gue aja deh yang ganti posisi lo buat ketua Gundala!" Tak jarang jika keributan antar mereka berdua terjadi.
"Gak usah ngarep lo!" Bantah Galang dengan tegas. Tak akan pernah terjadi jika Bayu adalah ketuanya.
Jika memang itu terjadi, Gundala akan semakin hancur dengan orang seperti Bayu ini. Terbukti dengan dua tahun terakhir Galang tak memegang Gundala.
Gundala hancur di tangan Bayu, dengan sebagian anggota Gundala yang keluar masuk penjara dikarenakan mabuk-mabukan tak jelas, bermain judi dan masih banyak lagi.
Padahal umur mereka masih di bawah umur, tak sedikit juga yang ada sudah legal, namun tetap saja membuat resah para warga.
"Gue gak mau tau, kita harus secepatnya buat tangkap Runa sebagai sandra. Dan lo, kalau emang lo gak becus pegang Gundala, mundur lo jadi ketua!" Bayu berucap lantas melenggang pergi.
Galang memutar bola mata malas. Lagi-lagi, hal ini terjadi, dia tau Bayu ingin merebut posisinya sebagai ketua Gundala. Namun dia pastikan jika itu tak akan pernah terjadi.
"Sabar Gal, biar gue nanti bilang ke Bayu baik-baik. Kayak gak tau aja dia kan emosian jadi orang." Ujar salah satu anggota Gundala.
Galang bergumam. Lantas dia bangkit dari duduknya dan melenggang pergi.
...
Keadaan basecamp begitu ramai, Shaka melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Setelah mengantarkan Runa, cowok itu memilih untuk pergi ke basecamp sekejap.
"Akhirnya yang ditunggu datang juga, tumben banget lo baru datang jam segini." Tara berucap sambil memberikan sekaleng softdrink pada Shaka.
Shaka menyahut singkat. "Urusan," balasnya lalu meneguk habis softdrink pemberian Tara.
Bram menatap Shaka cukup lama. "Dahi lo kenapa Sa?" Seketika semua anak menatap Shaka, benar, di sana terdapat perban yang menutupi pelipis Shaka.
Shaka hanya diam tak menjawab, membuat Bram mendengus kesal. Beginilah nasib bertanya pada kulkas.
"Berantem sama siapa lo?" seakan Rasya mengetahui hal yang terjadi. Eh lupa ya kalian, Rasya kan cenayang, kata Tara sih bukan kata ku loh ya.
"Gundala." Shaka membalas singkat. Sedangkan Arthur dan Bram tersedak kaget.
Spontan Rayn memberikan air minum pada mereka berdua. "Makanya makan tuh pelan-pelan, rakus sih lo pada."
"Gundala? Dia ngapain lo?" Kini giliran Rayn yang bertanya.
"Lo udah siapin yang gue suruh kan?" Bukannya menjawab pertanyaan Rayn, Shaka malah bertanya kepada Tara. Hal itu membuat Rayn mendengus kesal, sial! Di cuekin lagi.
Tara mengangguk dengan cepat. "Tenang aja, semuanya rebes, alias beres."
"Entar! Otak gue gak nyampe nih, maksudnya apaan sih?" Arthur, cowok play boy cap badak itu tak paham.
Tara menyahut. "Sejak kapan otak lo nyampe hah?" Arthur mana pernah paham, otaknya kan ketinggalan, eh!
"Diem lo! Gue tanya sama Shaka, napa lo yang jawab sih." Sebal Arthur, kesel aja gitu. Dia ngerti kok dan dia juga paham kalau otaknya pas-pasan, tapi- jangan di perjelas gitu.
"Gundala ngapain lo?" Gantian Rasya yang bertanya.
"Biasa, ajak ribut tadi."
"Ribut, ribut apa tuh?" Seketika jiwa kepo dalam diri Bram melejit tinggi nih.
Shaka mengatur nafasnya sekejap. Cowok itu menceritakan apa yang terjadi, kecuali bisikan syaiton dari Galang tadi.
Keadaan basecamp seketika menjadi hening. Namun itu tak berlangsung lama, dobrakan meja membuat semuanya kaget.
Bruk
Arthur mengebrak meja dengan keras, membuat semua anak terjingkrak kaget. Begitu pun dengan Bram, cowok itu berada tepat di samping kanan Arthur.
"Eh bangsat! Ngagetin lo," kesal Bram sambil mengelus dada.
Arthur tak menghiraukan Bram. Cowok itu menggulung kaos seragam sampai ke pundak. "Wah gak bisa di diemin nih Sa, mereka udah kurang ajar."
Rayn mengangguk setuju. "Gue setuju, mereka udah keluar batas."
Rasya memutar bola mata malas. "Kenapa gak lo telpon kita aja." Rasya tau, Shaka jago bela diri dan cowok itu juga tau kalau Shaka bisa mengatasinya. Tapi kan kalau ada apa-apa mereka juga yang khawatir.
"Gak keburu, lagian tadi gue bawa Runa juga, kalau pun gue telpon lo pada, kita yang kenapa-napa." Benar juga kata Shaka, kalau pun dia telpon yang ada dirinya dan Runa yang kenapa-napa di sana.
Bicara soal GPS, jadi alat ini adalah alat penghubung anggota satu dengan yang lain.
Seluruh anggota Alastair akan mendapatkannya, jika mereka nantinya di kepung dan lagi sendiri, mereka bisa menyalakan alat ini agar mengirim sinyal ke anak-anak yang lain.
...
Malam harinya, Runa memutuskan untuk turun ke bawah mengambil air, dapat terlihat jika Arfan sedang menyeduh teh hangat di dapur.
"Malam bang," sapa Runa sambil mengisi air ke dalam botol minum.
"Malam, lo mau teh gak? Sekalian gue buatin," tawar Arfan.
"Gak usah, minum air putih aja." Tolak Runa, dia menarik kursi di samping Arfan dan mendudukkan nya di sana.
Runa menatap ke arah jam dinding. Sudah jam 7 malam. "Tumben ada di rumah, biasanya jam segini abang keluar rumah." Tak heran jika beberapa hari terakhir Arfan selalu keluar dan pulang malam.
"Pengen di rumah aja," jawab Arfan berbohong.
Runa mengangguk paham, dia bangkit dari kursi dan naik ke atas tanpa sepatah kata. Tak perlu waktu lama dia kembali lagi turun sambil membawa secarik kertas.
"Bang, maaf kalau emang aku lancang." Kata Runa membuat Arfan menautkan alisnya.
"Lancang apaan?" Tanya Arfan tak mengerti.
Runa menyerahkan secarik kertas pada abangnya. "Ini maksudnya apa? Dan kesalahan apa yang abang perbuat, sampai abang harus bayar segede itu." Tanya Runa.
Mata Arfan membulat sempurna. "Lo dapat dari mana kertas ini?" Bukannya menjawab pertanyaan Runa, Arfan malah bertanya balik.
"Abang gak perlu tau aku dapat dari mana. Sekarang abang jawab pertanyaan Runa, abang ngelakuin kesalahan apa sampai abang harus ganti rugi segede itu."
"Gue tanya lo dapat dari mana ini kertas," Arfan masih engan untuk menjawab pertanyaan Runa.
"Kamar," jawab Runa. "Bang ayo, jawab pertanyaan ku, abang kenapa, kok bisa sampai bayar uang segede itu."
"Bang, jawab!" Paksa Runa.
Arfan mengusap wajahnya gusar. Apa harus sekarang dirinya berkata jujur? Kalau bukan sekarang, kapan lagi.
"Beasiswa gue terpaksa dicabut, akibat gue masukin salah satu anak sampai koma. Orang tuanya gak terima dan mau gak mau beasiswa gue harus ke cabut."
"Kok bisa? Abang ngelakuin kesalahan apa, sampai bisa di cabut gitu. Bang kalau Ayah Bunda tau gimana? Kenapa juga abang gak bilang sama aku." Runa menyerang Arfan dengan berbagai pertanyaan.
"Ya makanya lo jangan bilang ke mereka. Gue udah ada simpanan dari kerjaan gue, lo tenang aja. Lagian ada yang dari ayah juga, mungkin bentar lagi gue lunasi semuanya."
"Kerja? Jangan bilang abang akhir-akhir ini jarang antar jemput aku dan sering pulang malam akibat kerja?" dari awal gadis itu memang sudah berpikir bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arfan.
Arfan mengangguk, memang dia akhir-akhir ini tak bisa mengantar jemput Runa dan tak bisa di rumah akibat bekerja. "Iya, gue kerja. Makanya gue gak bisa antar jemput lo kayak dulu lagi,"
"Bang, kenapa abang gak bilang sama aku? apa abang gak jelasin ke mereka kalau dia yang mulai duluan? kan abang bisa jelasin ke mereka." Runa tak habis pikir dengan Abang nya ini. Emang masalah apa sampai berantem dan berujung beasiswa abangnya tercabut.
"Percuma, percuma gue jelasin apapun ke mereka. apapun yang gue jelasin gak akan percaya. Dia anak kepala sekolah, dan hal itu yang membuat gue kalah, mereka pakai kekuasaan." jelas Arfan.
Jaman gini masih ada aja ulah manusia dengan memakai kekuasaan, haus akan kekuasaan.
"Bang, terus gimana kalau ayah sama bunda tau tentang ini?" tanya gadis itu dengan khawatir.
Runa tak tau nantinya, jika ayah Bima dan bunda Yuna tau jika nanti akan mengetahui fakta bahwa beasiswa Arfan terputus dengan ulah Arfan yang seperti ini.
"Kecewa, gue juga bodoh waktu itu. Gak mikirin konsekuensi apa yang bakal terjadi," cowok itu selalu tak berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak.
Runa bangkit dari duduknya gadis itu kemabli ke kamar dan tak berapa lama turun dengan membawa sebuah kotak yang Arfan yakini itu adalah tabungan Runa.
"Abang pakai ini aja dulu, pakai uang Runa buat bayar SPP abang. Abang gak perlu pikir gantinya gimana," Runa memberikan tabungan yang cukup lama dia simpan pada Arfan.
Arfan langsung saja menolak. "Gak! Kalau gue ambil lo gimana?"
"Abang gak usah pikirin gimana gantinya, ini lumayan bisa buat tambahin setengah uang abang bayar per-semester." ucap Runa.
"Gak dek, lo udah simpan uang ini berbulan-bulan, gue gak mau terima. Gue ada tabungan buat bayar, lo tenang aja." tolak Arfan.
"Bang, biarin Runa bantu abang ya. Please," mohon Runa.
Arfan memegang kedua pundak Runa, cowok itu menatap Runa dalam. "Dengerin gue, uang ini buat lo, lo lebih butuh uang ini nantinya. Lo tenang aja gue ada simpanan buat satu semester ke depan."
"Sekarang ini, lo dan bunda adalah tanggung jawab gue. Jadi, apa yang gue lakuin gue juga yang harus tanggung jawab, karena ini kesalahan gue. Lo lebih butuh buat nanti jika emang lo gak dapat beasiswa, oke?" Sekarang tak ada ayah, dan mereka berdua adalah tanggung jawab cowok itu, dia yang melakukan dan dia yang harus tanggung jawab.
"Abang," Runa langsung saja memeluk Arfan. Gadis itu sebenernya tak tega melihat abangnya terkena masalah seperti ini.
"Udah ya, gak usah lo pikir tentang gue, pikirin masa depan lo sendiri. Lo simpan uang ini buat lo nanti, dan gue mohon sama lo. Jangan bilang ke bunda dulu ya, biar nantinya gue yang jelasin ke bunda sama ayah nantinya." Arfan akan memberitahu kepada Bunda dan Ayah jika memang waktunya sudah tepat.