
"Kak Shaka?" Runa menarik ujung seragam Shaka, gadis itu menatap sekeliling dengan takut, sekarang dirinya dan Shaka sedang di hadang oleh beberapa anak.
"Lemah lo Sa, cuma karena cewek itu!" remeh Bayu -tangan kanan Gundala. Membuat semua nya tertawa meremehkan Shaka.
Shaka mengeram kesal, rahangnya mengeras, berani sekali mereka menginjak-injak harga diri Shaka.
"Runa, menjauh." Suara Shaka begitu rendah bahkan terdengar seperti bisikan.?
Runa menggeleng pelan, matanya membulat sempurna mengetahui sosok lelaki di depannya yang tersenyum manis ke arah Runa.
"Hai Runa, ketemu lagi." sapa Galang, cowok itu melambaikan tangannya ke Runa.
"Galang?" Runa menatap sekeliling, dirinya dikepung sekarang dengan anggota Gundala? Nama yang tak asing lagi bagi dia.
Ia terdiam beberapa saat, sedetik kemudian, Runa mengerti dan paham, terutama pada Galang dan cowok di sebelah kanannya.
"Shaka, Shaka ternyata benar lo lemah sama cewek." giliran Galang yang meremehkan Shaka.
"Berisik," lantas Shaka berlari menjauh lima meter dari tempat Runa berada, cowok itu ingin mengalihkan pandangan anggota Gundala ke arahnya.
Runa menautkan kedua tangannya, gadis itu bingung harus apa sekarang. Di tempat ini sepi tak ada orang, hanya gedung-gedung tua yang terbengkalai.
"Gak! Kamu gak boleh diam di sini doang, kamu harus cari bantuan." gumamnya, seraya merogoh handphone di dalam saku.
Dia mengumpat dalam hati, sambil merutuki dirinya sendiri. Ponsel yang Runa bawa mati sekarang, lalu apa yang harus dia lakukan.
"KAK SHAKA AWAS!" pekik Runa kencang, ketika salah satu anggota Gundala memegang balok seraya melompat tinggi dari arah belakang ke arah punggung Shaka.
Tubuh Runa merosot ke bawah, gadis itu menunduk di atas panasnya aspal. Runa menutup kedua bola matanya rapat-rapat.
"Bangun," Runa perlahan membuka matanya, gadis itu mendongak, matanya membulat sempurna.
S-shaka
Shaka berjongkok di depannya, cowok itu mengulurkan tangannya, menyuruh Runa untuk berdiri. Tunggu! Kalau Shaka di sini, berarti--
"Kak Shaka?" Runa menoleh ke samping, matanya membulat sempurna ketika melihat seluruh anggota Gundala terkapar di atas panasnya Aspal.
Jika kalian pikir bahwa Shaka bisa dikalahkan semudah itu, tentu jawabannya tidak. Pasalnya saat Shaka mendengarkan teriakan Runa, Shaka dengan sigap langsung menghentikan serangannya pada Bayu. Ia lantas berbalik dan menendang balok kayu yang hampir mencelakai dirinya.
"Ayo pergi," Shaka menarik lengan Runa, membantu gadisnya untuk bangkit dan pergi meninggalkan tempat ini. Sebelum bahaya selanjutnya tiba.
"T-tapi mereka," tunjuk Runa pada anak-anak Gundala yang terkapar tak berdaya akibat serangan Shaka. Aish masih saja dipedulikan, sekarang yang terpenting adalah pergi dari tempat ini. Secepat mungkin!
Shaka mendengus sebal, masih ada saja waktu buat memikirkan mereka. "Biarin, kita harus pergi sekarang." Matanya melirik sekilas ke arah Gundala, lalu menarik Runa pergi.
"Pelipis kamu." Tunjuk Runa pada pelipis Shaka yang mengeluarkan darah.
Shaka mengangkat alisnya, ia berbalik dan menatap ke spion kaca, pelipisnya terdapat bercak darah. Pantas saja kepalanya cukup pening. Pasti tadi gak sengaja terkena ujung balok, pada saat menangkis nya.
"Gak masalah, kita pulang sekarang, udah sore juga." Ujar Shaka, cowok itu mengambil alih helm yang ada di atas kaca, lalu memasangkannya ke kepala Runa.
"Kita ke supermarket dulu," Runa berucap dengan sedikit berteriak, dikarenakan bisingnya kendaraan.
"Ngapain?"
Runa berdecak pelan. "Berhenti dulu, tuh depan sana ada supermarket, urgent!" Di depan sana, tepat di sebrang jalan, ada supermarket.
Shaka mengangguk pelan, memarkirkan motornya tepat di depan supermarket.
"Turun sebentar," Runa menarik Shaka dan menyuruh cowok itu duduk di kursi yang di sediakan. Sedangkan Shaka hanya mengidikkan bahu acuh, dirinya tak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Runa.
Tak lama Runa keluar sambil membawa kresek putih, gadis itu menarik kursi yang ada di depan Shaka, lantas mengeluarkan isi kresek.
"Kamu ada luka?" Tanya Shaka, menatap beberapa obat di depannya.
Runa memiringkan kepalanya, menatap Shaka. Lantas berkata. "Bukan aku, tapi kamu. Badannya majuin dulu, mau aku obati lukanya." Tutur Runa.
"Aku gak papa, ini cuma luka kecil aja." Elaknya.
Bagaimana bisa luka separah itu dikata luka kecil? Sedangkan luka itu telah terbuka lebar. "Luka kecil gimana? Orang itu kebuka gede banget kok, sini biar aku obati."
Shaka bergumam singkat, dia menarik kursi miliknya untuk mendekati Runa agar gadis itu lebih mudah mengobati lukanya.
"Kalau sakit bilang ya," Runa dengan perlahan mengobati luka di pelipis Shaka, sesekali dia meringis pelan ketika kapas yang terkena alkohol menyentuh luka Shaka.
Apa tidak perih?
Atau memang tak sakit sama sekali?
Shaka menatap pahatan wajah Runa, begitu sempurna, dengan wajah Runa yang begitu serius sekali mengobati lukanya. Seketika semuanya hilang saat pikirannya melayang ke kejadian setengah jam yang lalu.
Di saat penyerangan tadi, Galang membisikkan sesuatu kata di telinganya, membuat cowok itu mengeram kesal.
"Santai-santai! Jangan emosi dulu," Galang terkekeh pelan, sambil menatap Shaka dengan remeh.
"Gimana kalau Runa tau tentang semua nya?" Tanya Galang.
Shaka tersenyum miring. "Gak akan pernah," bantahnya.
Galang tertawa. "Yakin? Gue cuma mau kasih tau aja, kalau Runa.." ujar Galang menggantung.
Tangan Shaka mengepal kuat, rahangnya mengeras. Sial! Dia lupa bahwa Galang sangat licik, sangat sangat licik. "Brengsek lo!" Tangannya menarik kerah Galang dengan kasar.
"Kalau sampai gue denger lo bikin celaka Runa, gue pastiin. Gundala untuk kesekian kalian nya, rata sama tanah!" Umpat Shaka tepat di depan wajah Galang, dan menghempaskan Galang dengan kasar.
"Santai, semua masih pemanasan, lo boleh kok siapin pasukan lo buat jagain Runa, tapi ingat! Setiap menit, bahkan setiap detik. Runa ada dalam pengawasan gue, jadi kalau lo bisa main-main sama gue, gue juga bisa main-main sama lo." Galang berucap dengan santainya.
Bugh
Bogeman mentah mendarat mulus ke pipi nya, membuat Galang tersungkur di atas tanah. "Mimpi!" Decih Shaka.
Galang tertawa cukup keras, dia mendongak menatap Shaka dari bawah sambil mengelap darah segar yang keluar dari ujung bibirnya. "Terserah lo, ingat! Runa ada dalam pengawasan gue." Kata Galang seraya menekan kata akhirnya.
Bugh
Lagi dan lagi, Shaka memberikan bogeman mentah pada Galang. "Dengerin gue, dan jangan salahi gue kalau gue bisa masukin lo ke dalam penjara lagi."
"Lo mau masukin gue ke dalam penjara lagi? Karena apa? Masih dengan kasus Qilla? Dengerin gue, gue gak bunuh Qilla sampai kapan pun!" Dengan nada yang bergetar Galang membantah semua.
"Omong kosong!" Bantah Shaka. "Kalau bukan lo, siapa lagi?" Shaka dengan nadanya naik se-oktaf.
"Dia kecelakaan!" Bantah Galang tak mau kalah.
"Ya! Dan semua itu ulah busuk lo, ngaku lo?!"
Galang menunduk sejenak lalu kembali mendongak, menatap mata tajam Shaka. "Terserah! Terserah lo mau tuduh gue apa, karena sejarahnya bukan gue yang buat dia celaka. Ingat satu hal, Runa tulus sama lo, jadi jangan salahi gue kalau dia bakal berpaling dari lo."
Bugh
Ketiga kalinya Shaka memberi bogeman mentah ke Galang. Membuat Galang terkapar di atas tanah.
"Bacot lo, manusia kayak lo harusnya menghilang dari bumi!" Selanjutnya Shaka pergi meninggalkan Galang yang tersenyum getir.
Entah kesekian kalinya, dia harus kalah, entah kesekian kalinya. Galang dituduh, dan entah berapa banyak dia harus di salahkan.
"Kak Shaka!" Runa dengan suara yang cukup lantang, membuat Shaka terbangun dari lamunannya.
"Iya?" Shaka menatap Runa dengan ekspresi kagetnya. "Ada apa?" Tanya cowok itu.
"Kamu yang kenapa, kok malah ngelamun, kepalanya sakit ya?" Runa bertanya kali ini dengan suara biasa.
Oh god! Berapa lama dia melamun. "E-enggak, gak papa kok. Gak ada yang sakit." Runa hanya berohria, gadis itu membereskan obat-obat itu kembali dan memasukkannya ke dalam tas ransel.
"Yuk pulang." Ajak Runa setelah memasukkan semua obat ke dalam tas ransel miliknya.
Shaka mengangguk singkat, dia mendorong sedikit kursinya ke belakang dan bangkit. Cowok itu kembali memasang helm full face, berkali-kali dia mengatur nafasnya.
...
"Makasih ya kak, udah antar aku pulang. Oh iya nanti jangan kena air dulu ya perbannya, dan jangan lupa buat di ganti juga." Pesan Runa pada Shaka.
Shaka menanggapi dengan anggukan. "Rumah kamu sepi, mau aku temani gak?" Tawar Shaka, cowok itu menatap ke dalam rumah Runa yang sama sekali tak ada orang.
"Gak usah, gak papa. Palingan bentar lagi abang pulang. Kakak pulang aja, sekalian istirahat. Pasti kepalanya pusing kan?" Runa mengerti jika Shaka lelah hari ini, dimulai tadi pagi dengan ujian, lalu ribut di Siang harinya.
Shaka menatap Runa cukup lama. Hari ini memang cukup melelahkan baginya. "Iya, kamu masuk sana,"
"Kak Shaka?"
"Ya aku pulang, setelah kamu aman. Sana masuk," ujar Shaka.
Runa mengangguk kepalanya kecil, gadis itu berbalik dan masuk ke dalam. Di rasa Runa telah aman, Shaka merogoh saku celana dan menelpon seseorang.
"Siapin anak-anak untuk penjagaan Runa." Kata Shaka, lebih tepatnya sebagai perintah. Dengan sepihak dia mematikannya.
....
"Assalamu'alaikum, Runa pulang." Ucapnya memasuki rumah. Runa menatap sekeliling, ternyata ada Arfan di rumah. Tumben banget, biasanya jam segini Arfan masih ada di kampus.
"Bang Arfan." Panggil Runa, berjalan menghampiri Arfan yang duduk santai di ruang tamu.
"Bang Arfan." Runa kembali memanggil Arfan, dia memiringkan kepalanya. Gadis itu terkekeh pelan melihat Arfan yang tertidur dengan televisi yang masih menyala.
Runa menepuk pelan kedua pipi Arfan, membangunkan Arfan agar tidur dengan benar. "Bang, bangun yuk. Mending tidur di kamar, biar gak sakit badannya."
Arfan menggeliat pelan, cowok itu mengerjapkan matanya berkali-kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.
"Eh Dek, udah pulang lo?" Arfan bertanya sambil menguap. "Tumben banget pulang jam segini, bukannya lo ulangan ya?" Tanya Arfan kembali, sambil melirik jam dinding.
Runa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ah itu, tadi ada masalah dikit di jalan. Jadi pulangnya agak sore gini." Arfan hanya mengangguk paham.
"Abang tidur kamar gih, biar badannya gak sakit semua." Ujar Runa.
"Gak ah, mager, mending tidur sini. Sana buruan ganti, terus makan. Udah gue siapin di meja makan." Setelah berkata demikian Arfan merebahkan dirinya melanjutkan kembali tidurnya.
"Bang tapi--" ucapannya terhenti ketika mendengarkan dengkuran halus Arfan. "Nanti aja deh tanyanya, aku mau naik dulu." Karena tak ingin menganggu Arfan, Runa memilih untuk naik ke atas dan beres-beres.
...
Semakin membangongkan