Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Ketakutan Runa



UP DOBEL BEB 😍


...


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dan Runa baru saja pulang dari kantor. Kalau dihitung, jam segini Runa sudah sampai di rumah dan bisa istirahat.


Karena tadi ada sedikit problem di kantor, yang membuat Runa harus mendekam satu jam lamanya di dalam kantor.


Itu semua terjadi karena lift kantor yang macet.


Jadi saat Runa masuk dengan empat orang karyawan lainnya, tiba-tiba lift macet yang membuat semuanya panik.


Ditambah lagi dengan keadaan lampu yang mati nyala, semakin menambah kepanikan.


Runa yang berada di dalam lift ikutan panik, namun sebisa mungkin dirinya mencoba tenang. Hingga akhirnya pintu lift bisa terbuka setelah setengah jam lamanya, mereka terkurung di dalam lift.


Belum sampai disitu, nyatanya dari mereka berlima. Ada salah satu karyawan yang pingsan di dalam akibat kekurangan oksigen.


Dan hal itu lah yang semakin memperlambat Runa untuk balik ke rumah, meski kesal. Namun tak mungkin juga jika Runa pulang dengan keadaan baik-baik saja.


Sedangkan temannya harus pingsan, dalam keadaan yang bisa dibilang kurang baik.


Saat ini, Runa berdiri di salah satu halte bis. Sambil menunggu taksi yang dia pesan. Runa memilih untuk memainkan ponsel.


Mendesah kasar, Runa melamun sejenak. Entah mengapa hari ini cukup melelahkan bagi dirinya. Di ingat-ingat kembali, hari ini banyak sekali masalah yang menimpanya.


Mulai ban mobil yang bocor, rumah kembali dapat kiriman yang kedua dengan foto dirinya. Di kantor, Runa tak sengaja melakukan kesalahan presentasi. Hingga terjebak dalam lift, sampai-sampai harus pulang terlambat begini.


"Perasaan banyak banget masalah hari ini," lirih Runa.


"Mulai ban bocor, salah presentasi sampai kejebak dalam lift. Capek banget," keluh Runa kembali.


"Btw, Rama gimana ya kabarnya di sana, udah hampir seminggu gak balik. Semoga aja masalah nya cepet selesai. Biar dia bisa balik ke sini," ujar Runa dan mengamini dalam hati.


Di pikir-pikir, malam ini adalah hari ke-enam Rama balik ke Malang, katanya laki-laki itu akan balik besok. Tapi Runa juga tak yakin, karena masalah di sana bisa dibilang tak baik-baik saja.


Mematikan ponselnya yang sebentar lagi akan habis. Runa memilih untuk menunggu taksi, menoleh ke belakang saat menemukan bangku.


Runa merutuki dirinya dalam hati. Tau begini, dari tadi Runa duduk saja. Ketimbang berdiri lama. Melangkah ke kursi besi dan menduduki.


Kakinya mengetuk jalanan aspal secara berirama. Menoleh ke kanan ke kiri memastikan apakah taksi yang dia pesan sudah tiba, paling tidak sudah dekat mungkin.


Menatap jalanan yang sudah sepi, bahkan sangat sepi. Runa saja sampai hafal, berapa banyak motor yang baru lewat.


"Sabar Runa. Bentar lagi juga datang," batin Runa, menguatkan diri.


Hingga akhirnya, seseorang datang menghampiri Runa. Runa yang merasakan kedatangan seseorang mendekatinya, langsung mendongakkan kepalanya ke atas.


Menghadap ketiga orang pria berbadan besar, kepala botak serta tato bergambar menyeramkan.


Dengan cepat Runa bangkit dari duduknya. Menatap ketiga pria itu dengan tatapan takut, seketika pikiran negatif menghantui pikiran.


"Hai cantik, sendirian aja." Salah satu dari mereka berkata, sambil menoel pipi Runa beberapa kali.


Runa langsung menepis kasar tangan orang itu. Yang membuat mereka bertiga tertawa keras. Salah satu dari mereka mendekat.


"Dingin, dingin gini enaknya yang anget anget nih. Gimana kalau kita angetin neng," ujar preman lainnya dengan menggoda.


Runa menggeleng keras. Instingnya benar, mereka mau berbuat yang tidak-tidak padanya. Sekarang yang harus Runa lakukan adalah pergi dari tempat ini.


Runa langsung berlari untuk menyelamatkan diri, tapi apalah daya. Kekuatan Runa tak sebanding dengan mereka bertiga.


"Lepas!" pekik Runa memberontak.


"Udahlah mending main bentar, nanti baru boleh pergi." ujar preman tersebut dengan mengelus pipi Lea.


Tangan preman itu perlahan beralih membuka kancing kemeja kerja milik Runa. Air mata yang Runa tahan tak bisa lagi dia bendung. Sekarang Runa tak bisa apa-apa.


Seluruh tubuhnya ditahan, percuma juga jika Runa berteriak di jalanan sepi, yang ada dirinya akan kehabisan tenaga.


Runa merutuki kebodohan kembali, kalau tau begini. Lebih baik tadi dirinya menerima tawaran dari temannya.


Ingin sekali Runa berteriak sekencang kencangnya, sekarang juga.


"Lepasin! Runa mohon," mohon Runa pada mereka.


"Lebih baik lo diam. Atau gue bakal lebih kasar dari ini!" bisik preman itu, yang semakin kencang memegang lengan Runa.


"Aawww..." ringis Runa, merasakan perih di bagian lengan.


"Lepas!" Runa tak peduli dengan ancaman mereka. Gadis itu masih memberontak untuk segera dilepaskan.


Menutup kedua matanya, saat tangannya semakin diremas kuat. Runa menangis, menangisi keadaannya. Dalam hati dirinya menjerit meminta tolong.


"Siapa pun, tolong Runa sekarang. Runa mohon," batin Runa berdoa.