
..."Antara melepaskan dan mengikhlaskan." -Arshaka Virendra Aldebaran....
.........
Langkah kaki terburu-buru membuatnya hampir saja terjatuh, cewek itu masuk ke dalam rumah yang lumayan besar. Cewek itu menatap kaget, semua barang-barang yang ada di rumah nya di ambil satu persatu.
"Ma, i-ini kenapa? Kenapa bisa begini?" tanya cewek itu.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya, membuatnya kaget, cewek itu menatap sang mama dengan tatapan tanyanya, mengapa dia di tampar? kenapa juga sang mama menatapnya kecewa.
"Mama kenapa nampar aku?" tanya cewek itu.
"Kamu- apa yang kamu buat sampai membuat papa kamu turun jabatan dan apa yang kamu lakukan sampai kamu di keluarkan di sekolah Tania!" teriak sang mama. Cewek itu Tania, Tania Anastasia, ternyata ucapan Shaka tak main-main dia benar-benar menepati ucapannya.
"Tania-"
"Karena kamu, papa kamu jadi turun jabatannya. Kamu tau, sekarang perusahaan mama itu turun drastis, dan bangkrut akibat para rekan kerja mama mutusin kerja samanya. Kamu lakuin apa sih hah!" tanya mama Tania.
"Maaf ma," sesalnya. "Sial apa istimewanya Runa sih sampai di bela segitunya? Lihat aja lo nanti, lo bakal dapat apa yang lo lakuin ke gue." lanjut Tania dalam hati.
"Kita harus segera pindah, rumah ini udah bukan rumah kita lagi." Tania menatap sang mama kaget, apa pindah?
"Gak mau, ini rumah Tania ma! Tania gak mau pindah titik!" tolak Tania, enak aja main-main ambil rumahnya.
"Ayo, kamu mau kita di usir paksa? Ayo keluar!" mama Tania langsung menarik Tania keluar rumah.
…
"Papa udah cabut kan kerja sama nya?" tanya Shaka, cowok itu duduk di sofa kantor Al.
Al mendongak, lalu menganggukkan kepala. "Udah, keadaan Runa gimana?" tanya Al.
"Jauh lebih baik," balas Shaka.
"Bang, papa mau tanya sama kamu." ujar Al serius, menyandarkan diri di meja kantor, Al memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sambil menatap Shaka.
Sedangkan Shaka hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Jawab jujur pertanyaan papa, apa emang bener kamu beneran suka sama Runa? Atau semua yang kamu lakuin hanya karena kata kasihan dan penasaran." Al menatap Shaka, menunggu jawaban dari anaknya itu.
"Jawab papa!" Paksa Al.
Shaka menggeleng pelan. "Gak tau pa, Shaka bingung."
"Maksud papa?!"
"Putusin Runa, biarkan dia bersama orang yang benar-benar tulus sama dia! Kamu tau, semakin kamu seperti ini, semakin kamu memberikan harapan besar sama Runa!" Al berucap dengan nada dinginnya.
"Shaka gak peduli,"
"Dengerin papa! Kalau kamu sayang sama Runa, bilang aja ke dia, yang jujur. Papa tau, Runa pasti paham nantinya." kata Al sambil memberi arahan.
Namanya juga Shaka, keras kepala kalau dikasih tau. "Gak bisa pa, Shaka gak mau kehilangan Runa!" bantah Shaka sarkas.
"Kalau gitu kenapa gak sahabatan aja?" Bukankah hal ini lebih baik, daripada menyakiti satu sama lain.
"Shaka gak mau, Shaka gak peduli nantinya, pokoknya Shaka gak mau kehilangan Runa," Shaka menolak mentah-mentah.
Shaka bingung sekarang apa yang harus dia lakukan, di satu sisi Shaka memang tak mencintai Runa, namun Shaka juga tak ingin kehilangan Runa.
...
Malam yang petang, di temani segelas susu hangat coklat, Runa berdiri di balkon, gadis dengan pakaian tidur bergambar unicorn sedang menikmati anginnya malam. Untung saja kepalanya sudah lebih membaik dari pada tadi siang, meski masih terasa nyut-nyutan.
"Belum tidur kamu Dek," Bunda datang, sambil membawa beberapa tumpuk pakaian.
"Belum Bun, bentar lagi tidur." Balas Runa sambil tersenyum simpul.
Yuna mengangguk paham. Wanita paru baya itu melangkahkan kakinya, menghampiri Runa. "Buruan tidur ya? Udah jam sembilan, besok kamu sekolah kan?"
"Iya Bun, sebentar lagi aku tidur. Mau habisin susu nya dulu."
Yuna menatap Runa cukup lama, kening wanita itu berkerut. "Runa, dahi kamu kenapa? Kok biru gitu?" Tunjuk Bunda.
Mampus! Dia lupa kalau dahinya membiru akibat tertatap dinding toilet. Runa mencoba untuk menampilkan ekspresi biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa.
"I-ini Bun, t-tadi gak sengaja ke tatap di toilet deh, tadi kepreset. Jadi biru gini hehe." Gadis itu terpaksa harus berbohong ke sangat Bunda, Runa tak ingin Bunda tau dengan masalah yang terjadi.
"Makanya, Hati-hati dong, udah di obati belum? Biar Bunda obati ya,"
Runa menggeleng cepat. "E-enggak udah Bun, nanti Runa obati sendiri aja."
"Beneran?" Dibalas anggukan cepat dari Runa.
"Terserah kamu, Bunda balik ke kamar dulu ya? Pasti Ayah kamu cariin Bunda. Jangan lupa di obati lukanya." Sebelum pergi meninggalkan kamar, Bunda memeluk Runa singkat.
"Maafin Runa Bun." Batin Runa menyesal, menatap punggung Yuna yang perlahan menghilang dari pandangan.