Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Shaka yang menyebalkan



Memarkirkan motor di depan rumah, Shaka melangkahkan kakinya masuk ke dalam, sambil menenteng jaket serta tas di pundak.


"Assalamu'alaikum." ucap Shaka memasuki rumah.


"Waalaikumsalam, kebetulan kamu udah pulang. Sini, bantu Mama sebentar." Lea menarik Shaka dan membawanya ke dapur.


Shaka hanya menurut saja, mengikuti langkah Lea dari belakang. "Ada apa Ma?" tanyanya.


"Itu, Mama tadi mau masak siang buat kamu sama Ale, tapi kok mati tiba-tiba. Coba kamu cek, kayaknya sih habis." suruh Lea.


Shaka mengangguk paham. Melemparkan tas dan jaket ke meja makan. Shaka berjongkok sambil menganti gas dengan yang baru.


"Ale mana?" tanya Shaka yang masih sibuk dengan menganti gas, sesekali melirik kanan kiri, melihat keberadaan Ale.


Terdengar sahutan dari arah tangga. "Ngapain cari Ale, kangen lo ya?" tanya Ale dengan percaya diri yang tinggi.


Mendengus sebal, Shaka memilih melanjutkan kembali menganti gas. "Ma, makan siang udah jadi belum?" tanya Ale pada Lea.


Shaka menyahut. "Kurang ajar lo, datang-datang minta makan gak bantuin lagi." cibir Shaka ketus.


Ale berdecih. "Apa sih, Ale bantu mama kok tadi, bantu masak nasi." Balas Ale tak kalah ketus.


"Dih gak tau diri," pedas sekali kalau bicara.


Lea hanya bisa menggelengkan kepala, memilih untuk lebih menengahi mereka terlebih dahulu, sebelum keributan tiba. "Udah, gak usah berantem, Shaka udah selesai kan ganti gas nya?"


Shaka mengangguk singkat. "Kamu ganti sekarang, Ale bantu Mama buat cuci piring ya?" suruh Lea, kembali melanjutkan masakannya yang tertunda.


"Tuh lihat!" ujar Ale, ngegas.


Shaka memutar bolat mata jengah. "Di suruh doang baru ngerjain, dari tadi ngapain aja lo. Drakor aja yang lo lihat." cetus Shaka.


Ale mendelik tak terima, menatap ke arah Shaka. Punya abang satu judesnya minta ampun ya begini. "Lo kenapa sih Bang? Sensi banget jadi cowok, kayak cewek PMS aja, Gue gak drakor ya, gue kerjain tugas tadi. Fitnah lo!"


Shaka kembali mencibir. "Bohong tuh Ma, besok-besok ambil aja laptopnya, Biar bantuin Mama kerja di rumah. Gak rebahan mulu, udah goblok, bego lagi." cibir Shaka dengan pedasnya.


Ale mengidikkan bahu tak peduli. "Gak jelas lo jadi orang. Udah minggir gue mau cuci piring." Usir Ale.


Senyum jail terbit pada bibir Shaka. "Kenapa gak lewat samping, kan luar di sana."


Ale mendengus sebal. "Wastafel nya ada di belakang lo, Abang!" kesal Ale.


"Putar balik aja kenapa ribet," ujar Shaka dengan santainya.


"Lo yang ribet ya! Orang tinggal geser aja, apa susahnya." kata Ale.


"Ogah, lo aja yang putar balik." Memang Shaka hobinya mengerjai adiknya yang satu ini. Seru aja gitu jailin adik sendiri, apalagi sampai nangis. Ada kesenangan tersendiri dalam diri Shaka.


"Gak usah ngajak ribut ya?!" tegas Ale.


Shaka mengangkat sebelah alisnya. "Siapa yang ajak lo ribut, kepedean lo!"


"Abang lo-"


"Udah stop! Gak usah ribut, Shaka udah dong, gak usah jail sama adiknya. Sana ganti," lerai Lea, yang tengah sibuk dengan masakannya.


Ale menjulurkan lidahnya mengejek, sedangkan Shaka memilih pergi, Sebelumnya mengacak rambut Ale yang membuat si empunya marah. Karena Ale paling benci ketika rambutnya di anak-anak.


"ABANGSAT!" umpat Ale.


Namun kalau hal seperti ini, mungkin hanya dia perlihatkan ke orang terdekat. Tak sering, sesuai mood saja. Naik ke atas untuk menganti pakaian, masuk ke dalam kamar yang identik dengan warna abu-abu hitam.


Aroma mint adalah aroma yang pertama tercium ketika memasuki kamar Shaka. Dengan kasur king size, Shaka melempar tas serta jaket ke atas kasur. Melepaskan pakaian dan menggantinya dengan yang baru.


Dengan kaos hitam dan celana yang senada. Mengambil kunci kembali, Shaka memilih turun ke bawah.


"Mau kemana Bang?" tanya Lea yang lagi menyiapkan makanan di atas meja.


"Shaka ada urusan bentar ma, mama sama Ale kalau mau makan. Makan dulu ya, nanti shaka nyusul. Shaka berangkat, assalamu'alaikum." pamit shaka menyalami tangan Lea dan mengecup singkat pipi.


Lea hanya menggelengkan kepala. "Waalaikumsalam,"


Ale menatap kepergian sang Abang. "Palingan juga mau ribut tuh orang." celetuk Ale.


Lea hanya menggelengkan kepala. "Gak baik berprasangka buruk sama orang. Kita makan dulu ya, nanti biar Abang nyusul." Mengajak Ale ke meja makan.


Bukannya berprasangka buruk, namun semuanya fakta dan buktinya juga udah jelas. Kalau gak ribut, balapan, tawuran. Itu terus aja yang di lakukan Shaka.


Yang membuat Ale heran, meski begitu Shaka selalu mendapatkan juara kelas, padahal kerjaannya begitu terus. Sedangkan Ale? Mengapa dirinya tidak, itulah yang masih menjadi sebuah misteri bagi Alexis Jude Aldebaran.


...


Gadis dengan rambut yang diuraikan begitu saja, membiarkan angin menerpa nya, tengah berjalan menuju suatu tempat. Runa, gadis itu tengah berjalan menuju ruko sang Bunda.


Sesekali bersenandung kecil, Ruko dan rumah tak jauh, hanya sekitar 10 meter. Mungkin jika jalan kaki memerlukan waktu 15 menit.


Sebenernya bisa naik ojek tapi karena Runa malas mengeluarkan uang dan tentunya menghemat uang. Akhirnya Runa memutuskan untuk berjalan kaki saja. Uangnya bisa dia simpan untuk keperluan lainnya.


Manik mata Runa menangkap seekor anak kucing yang berada di tengah jalan. Hati nuraninya meminta untuk Runa menolongnya.


Dengan langkah cepat, dia memindahkan anak kucing itu ke pinggir jalan. "Kamu kenapa di tengah? Kalau ketabrak gimana?" ujarnya, sambil mengusap lembut kepala kucing.


"Kamu pasti lapar ya? Tapi aku gak punya makanan, adanya cuma air doang. Gak papa kan?" Runa merogoh tas selempang dan mengambil sebotol air minum.


"Nih kamu minum," menaruh tutup botol itu di depan kucing. Kucing itu perlahan menghampiri dan meminumnya. Runa mengelus kepala kucing dengan lembut, sesekali gadis itu terkekeh pelan.


Runa bangkit dari jongkoknya. Gadis itu harus ke ruko sekarang. "Aku pergi dulu ya, kamu di sini aja, jangan ke mana-mana." Pamit Runa meninggalkan kucing itu.


Hingga dirinya berdiri di depan toko kue bertuliskan 'Yuna bakery' dengan perlahan dia membuka pintu, terdapat bunda sedang melayani pelanggan.


"Bunda," tak lupa Runa menyalami tangan sang Bunda.


"Runa, kok gak bilang main ke sini?" Tanya Bunda sambil menyuruh Runa duduk.


"Maaf Bun, lagian dirumah sepi, daripada Runa gak ngapa-ngapain mending aku ke sini buat bantu Bunda." Ujarnya.


"Terus ke sini naik apa?"


"Jalan kaki," jawab Runa.


"kenapa gak naik ojek aja? Udah makan belum?" Tanya Bunda lagi.


"Udah, tadi makan sama spageti." Ujar Runa.


...