
Sekarang disinilah mereka berdua, saling berdiri berhadapan memandang ramainya dufan.
"Ayo masuk," ajak Shaka terlihat aura wajah Runa yang begitu senang.
"Mau coba yang mana dulu?" tanya Shaka membuyarkan lamunan Runa.
"Mau naik bianglala boleh?" sudah dari awal masuk gadis itu tertarik dengan bianglala, yang ada di depan mereka.
"Boleh," ujar Shaka lalu cowok itu membayar dua tiket, karena Shaka yang mengajak maka kali ini Shaka yang membayarnya.
Mereka berdua naik, Shaka duduk di bagian kiri dan Runa duduk di bagian kanan -depan Shaka pas.
Gadis itu cukup terpesona dengan pemandangan di sampingnya. Perlahan bianglala itu berputar, tanpa gadis itu sadari tadi Shaka menatap Runa dari samping.
Dengan rambut yang menutupi wajahnya akibat terpaan angin, membuat tangan Shaka terulur merapikan anak rambut yang menutupi wajah Runa dan menyimpannya di belakang telinga.
"Suka diajak kesini?"
Runa mengangguk semangat, "suka banget, dulu kalau ayah gak sibuk selalu ajak Runa ke sini," tatapan Runa berubah menjadi sendu.
"Ayah kamu kerja juga buat kamu Na, orang tua mana yang mau anaknya hidup susah? Gak ada, ayah kamu kerja biar kamu sama yang lain hidup bahagia." Shaka mencoba memberikan pengertian.
"Iya, aku tau. Tapi kangen aja, tiap hari cuma telpon sama panggilan vidio, pingin juga kayak anak-anak yang diantar ayahnya."
Kadang gadis itu merasa sedih sekaligus bangga dengan ayahnya. Ayahnya tak pernah mengeluh tentang apa pekerjaannya dan kadang Runa sedih akibat jarang berkumpul dengan ayah seperti dulu.
"Tapi kalau kak Shaka suka gak?" Runa menatap Shaka. "Maksudnya itu, kak Shaka kan anak orang kaya, pasti mainnya di mall, kafe, club atau sebagainya."
"Suka dong, gini ya yang kaya itu papa bukan aku, aku cuma numpang doang. Numpang nama, dan lebih baik uangnya buat main ginian daripada beli barang-barang yang aneh. Emang beda ya?" ujar cowok itu.
Runa menggeleng pelan. "Beda, kita beda kak, kak Shaka di besarkan dari lingkungan orang terpandang sedangkan aku? Dari kalangan biasa, kadang aku mikir kok bisa kita pacaran sedangkan kita beda semua."
"Kenapa gak bisa? Kenapa kamu malah minder gini sih? Gak usah dengerin omongan orang, biarin aja. Mereka itu cuma cari sensasi doang, setelah itu biasa aja." Shaka menatap Runa aneh, gak biasanya Runa bicara begini.
"Pemandangannya bagus ya?" Shaka menatap ke arah luar, sudah hampir tiga tahun setelah kejadian itu Shaka tak berani ketempat ini lagi.
Bahkan ketempat permainan lainnya, disini kalian pasti mikir kalau itu tentang dia. Iya dia, sosok yang sama seperti Runa namun berbeda orang.
Setelah bermain dengan bianglala cukup lama, Shaka dan Runa melanjutkan permainan lainnya, bermain halilintar serta ke istana boneka.
Dan terakhir mereka habiskan dengan makan-makan, makan sebenarnya bukan makan siang lagi, udah sore. Karena keasikan main sampai lupa makan.
…
Malamnya dilanjutkan dengan menonton bioskop, karena tak tau mau nonton apa. Mereka berdua nontonnya random yang di putar aja malam ini.
"Biar aku yang bayar," Runa memberikan satu lembar uang merah kepada mbak-mbak kasir.
Tadi memang Shaka yang bayar, tapi kali ini Runa yang bayar. Dia tak mau harus meminta Shaka terus apalagi dibayarin selalu. Karena menurut Runa pacaran itu bukan buat siapa yang bayar.
Tapi untuk melengkapi, jangan bilang dirinya sudah hebat. Bukan! Bukan itu maksudnya dia hanya tak ingin mengantungkan dirinya pada Shaka.
Lagian dia juga masih belajar, belajar dari bang Arfan dan kak Jihan. Kalau Shaka yang beliin mainan serta makan berarti Runa mengantikan dengan menonton bioskop dan membeli cemilan.
"Runa?"
"Gak papa, gantian." ujar Runa. "Makasih mbak," ucapnya pada mbak-mbak kasir, tak lupa gadis itu membeli pop corn serta cola, Shaka yang minum dirinya tidak, dimarahi sama pawangnya. Takut maag Runa kambuh nantinya.
Keduanya berjalan menuju ke tempat bioskop dan duduk sesuai nomor yang mereka pesan.
Hingga jam menunjukan pukul 8 malam. Filmnya seru tentang horor namun romantis.
"Langsung pulang?" tanya Runa.
Shaka mengangguk. "Iya, mau kemana lagi? Udah jam delapan tuh," ucapnya seraya memasangkan helm pada Runa,
"Kak, mau es krim boleh?" malam-malam gini enak juga makan es krim, entah mengapa membayangkan hal itu membuat Runa ingin melahapnya.
"Mau?" Runa mengangguk antusias. "Nanti di depan sana kita beli,"
Shaka menepati omongannya, sebelum kembali mengantar Runa cowok itu mengantarkan Runa membeli es krim.
"Makasih ya kak, udah antar aku pulang." ujar Runa, keduanya sudah berada di depan rumah Runa.
"Sama-sama, sana masuk. Udah malam,"
Gadis itu mengangguk, dan masuk ke dalam rumah. Dirasa Runa telah aman, Shaka langsung saja menyalakan motornya dan menancap gas pulang.
...Fakboi Bojong Gede (7)...
Arthur Margantra : Malam sayang
Arthur Margantra : Lagi apa?
Arthur Margantra : Mau jalan-jalan gak? Mumpung besok libur
Afgan Tara : Beginilah jones, tiap hari say Hi tapi kagak ada yang balas
Arthur Margantra : Anjir pedih kali ngomongnya
Bramanyu Pradipta : Grup aja di sayang apalagi kamu
Arthur Margantra : Tara sekali ngomong serius, bikin harga diri orang turun. Herman gue
Bramanyu Pradipta : Ngapain lo panggil bapak gue?
Arthur Margantra : Bapak lo Herman? Lha gue kira Johan
Bramanyu Pradipta : Anj-
Afgan Tara : Tur ada cewek nih, lo mau gak?
Arthur Margantra : Apa tuh?
Afgan Tara : Lu kesini lah ya kali gue ke sana
Bramanyu Pradipta : Ongkir aje, biar sekalian ke rumah gue
Arthur Margantra : Kagak ada gue duluan!
Bramanyu Pradipta : Kalau kata Arthur nih, kalau bisa berdua kenapa harus bersatu ya gak Tur?
Arthur Margantra : Kalau bersatu ntar ribut, makanya berdua
Bramanyu Pradipta : Betul
Arthur Margantra : HEH MAKSUD LO KITA BERDUA GITU? KAGAK DAH MAKASIH GUE!
Bramanyu Pradipta : Lho kita kan prend
Arthur Margantra : Matamu prend
Afgan Tara : Indahnya keributan ini
Arshaka Aldebaran : Siapa yang suruh ganti nama grup?
Rayn Abimanyu : Hayo paketu marah
Arthur Margantra : SUMPAH BUKAN GUE! BRAM NGAKU LO, LO KAN YANG GANTI NAMANYA! SINI LO KELUAR!
Bramanyu Pradipta : Punten, kamar mandinya di sebelah mana ya kak?
Arthur Margantra : Noh empang
Bramanyu Pradipta : Baik kak, makasih
Arthur Margantra : Gue bawa mobil nih, sapa yang mau gue jemput
Afgan Tara : Kemana?
Arthur Margantra : Nongki lah, yuk ngen cari cewek
Bramanyu Pradipta : Cewek mulu, sana kerja
Afgan Tara : Bram kenapa lo gak dihitung matematika? Kayak sebram, dua bram, tiga bram.
Bramanyu Pradipta : Itu gram goblok! Astagfirullah, punya temen gini amat /mengkesal
Arthur Margantra : Sudahi ribut mu mari bersenang-senang bersamaku
Afgan Tara : Yok lah gas, jemput gue ya. Gue mager
Arthur Margantra : Lihatlah ciri-ciri manusia tak punya masa depan
Rayn Abimanyu : Gue gak bisa ikut deh, nih Oliv gak bisa gue tinggal, di rumah cuma ada gue doang. Abang-abangnya yang lain pada pergi, ntar kalau gue tinggal nangis lagi
Bramanyu Pradipta : Abangable ya gini, Yan ajaklah Oliv ke Warjok kangen gue
Rayn Abimanyu : Oliv cuma kangen Rasya
Afgan Tara : Oliv udah ngerti mana yang kaya mana yang kagak
Rasya Adipati : Katanya mau jadi anak sukes, belajar. Bukan nongkrong
Bramanyu Pradipta : Ketika anak rajin bersabda
Arshaka Aldebaran : Gimana Asep?
Rayn Abimanyu : Udah membaik kok Sa, tadi udah dianter sama kita-kita
Arshaka Aldebaran : Syukur lah
Arthur Margantra : Oh tenang Sa, udah aman tadi kita kawal kok sama 10 polisi
Afgan Tara : Gaya lo 10 polisi
Arthur Margantra : Diam kau!
Shaka menatap layar handphonenya, cowok itu hanya menyimak saja tanpa ikut nimbrung.
Lagian percuma nimbrung juga gak penting. Palingan dirinya nimbrung waktu membahas hal yang penting saja.