Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Extra part : sorry and see you



...Halo semuanya! Selamat datang kembali di cerita ini. ...


...Selamat membaca 🦋...


.........


"Gimana udah siap buat besok?" tanya Lea yang baru saja tiba, perempuan dengan dress abu-abu nya itu datang dengan nampan berisikan susu hangat serta beberapa cemilan di sampingnya.


"MAMA!" pekik Ale. "Udah dong anaknya gangguin mulu," ucapnya sambil cemberut.


Lea terkekeh pelan. "Mama kan cuma ngingetin aja, habis ini kamu siap-siap buat istirahat. Besok pagi acaranya di mulai."


"Kayaknya nanti deh, soalnya ada barang yang belum sampai. Yang perlu istirahat harusnya Mama sama Papa. Toh acaranya besok agak siang," jawab Ale seraya meminum susu hangat bikinan Lea.


Pandangannya beralih pada Shaka yang dari tadi diam menyimak obrolan mereka. "Diem mulu Bang! Kenapa lo?"


Shaka hanya menggeleng pelan sebagai tanggapan. "Enggak ada."


"Bang, gak ada niatan buat nikah lagi gitu?" tanya Ale sedikit mengecilkan nada suaranya.


Shaka diam matanya menatap Ale cukup lama lalu menggeleng kecil setelahnya. Ale memang begitu anaknya, semenjak beberapa bulan terakhir lebih tepatnya saat perempuan itu sudah mulai bertunangan selalu saja menggoda Shaka dan memintanya untuk menikah, Shaka tau bila ucapan Ale hanya becanda dan tak lebih.


"Ngapain gue nikah kalau lo bisa kasih keturunan selanjutnya," celah Shaka dengan santai.


"Lo pikir bikin keturunan mudah? Gue aja belum nikah, udah mikirin keturunan," cetus Ale berceloteh panjang lebar.


"Tinggal nunggu jam juga," katanya.


Shaka perlahan mendekati Ale yang ada di hadapannya, sementara Lea memilih untuk pamit ke dalam sambil menunggu Al yang belum balik ke rumah.


"Bang!" Ale tersentak kaget, kala Shaka tiba-tiba memeluknya dengan erat, berulang kali Shaka mengecup puncak Ale dengan lembut.


"Lo kenapa sih? Cium cium gue lagi," protes Ale meski begitu dia tetap membalas pelukan Shaka.


"Diem!" sentak Shaka yang masih memeluk Ale dengan erat, seakan-akan tak ada celah untuk Ale pergi.


Ale diam seketika dan menurut, perempuan itu mulai menyandarkan kepalanya ke dada bidang milik Shaka. "Gue meluk lo gini, Gio gak marah kan?" tanya Shaka memastikan.


"Marah ngapain, lo kan Abang gue. Lagian dia gak kayak lo kali yang cemburuan, " balas Ale setengah menyindir.


"Bagus deh."


"Tutup mata lo!" perintah Shaka menguraikan pelukan, sedangkan Ale yang di perintah hanya diam menatap Abangnya bingung. "Tutup mata lo Ale," katanya kembali.


"Ngapain? Nggak usah aneh-aneh ya lo! Gue teriak nih kalau lo aneh-aneh," ancam Ale.


Shaka berdecak pelan. "Udah tutup dulu nanti lo juga tau." Karena penasaran Ale pun menurut, perlahan mulai menutup kedua matanya.


"Tunggu dulu!" cegah Shaka sambil menggeledah saku celananya. Cowok itu mulai memasangkan sebuah benda berhiaskan bunga matahari di bawahnya.


"Buka mata lo," Ale pun membuka matanya perlahan dan mulai menunduk ke bawah saat mendapati kalung liontin dengan bandul bergambar matahari.


"Bagus banget," puji Ale lalu kembali mendongak pada Shaka. "Kalung? Buat gue?"


Shaka mengangguk sambil tersenyum. "Buat lo, buat hadiah pernikahan lo sama Gio."


"Seriusan?" tanya Ale tak percaya. "Ini bagus banget, mana matahari lagi."


"Ngapain juga bohong." Shaka berucap setelahnya terdiam sejenak, menatap ke depan dengan tatapan sendu.


"Sebenarnya itu hadiah buat Runa, sebulan sebelum dia pergi gue mau kasih kalung itu ke dia buat hadiah ulang tahun. Cuma ternyata yang di atas lebih dulu ngambil dia sebelum gue kasih hadiah itu. Udah dari lama dia minta hadiah itu, cuma gue belum kasih dan baru bisa kasih dia sebulan sebelum dia pergi," jelas Shaka dengan nada tercekat dia menunduk.


"Jaga kalungnya ya? Rawat dia seperti lo rawat benda kesayangan lo," ucap Shaka pada Ale.


"Bang?" Ale memeluk Shaka dari samping, dia kembali menangis saat mendengar penuturan Shaka barusan. "Gue janji gue bakal rawat dan jaga kalung ini sebaik mungkin, makasih ya udah kasih kepercayaan buat gue rawat kalung ini."


"Jangan nangis gue gak suka," ucap Shaka dengan lembut dia menghapus air mata yang berlinang di kedua bola mata Ale, lalu mengecupnya dengan lembut.


"Lebih lo tidur sambil lo cek Mama dan bilangin buat dia tidur juga. Gue mau nunggu Papa dulu," perintah Shaka.


"Besok hari sejarah lo bakal di mulai gue harap Gio emang beneran bisa jaga lo. Sama seperti gue dan Papa yang jaga lo selama ini," ucapnya dengan cepat Ale berlari memeluk Shaka dengan erat.


"Iya Bang, makasih banyak!" Ale menurut dan mulai naik ke atas untuk beristirahat.


...


Keesokan harinya, kediaman Aldebaran nampak ramai orang. Banyak sekali sanak saudara yang mulai hadir memasuki pekarangan rumah.


Pagi ini, acara ijab kabul akan di mulai pukul 8 pagi. Ale di kamarnya sedang bersiap diri, perempuan itu sudah di dandani dari pagi tadi. Dengan pakaian kebaya putih yang menyelimuti tubuhnya yang tinggi,


"Wah cantik banget," puji salah satu MUA sambil memasangkan penghias rambut terakhir.


Ale tersenyum melihatnya, lalu berbalik ke belakang saat mendengarkan suara pintu kamarnya yang terbuka.


Di sana berdirilah Lea yang sama-sama memakai kebaya, wanita itu tak lagi muda umurnya sudah setengah abad lebih namun cantiknya masih terlihat sampai sekarang.


"Mama?" Ale merentangkan tangannya kemudian memeluk Lea yang berdiri di sampingnya.


Sementara kedua perias tadi pamit undur diri saat pekerjaannya sudah selesai. "Terima kasih ya!" ucap Ale dan Lea bersamaan.


"Anak putri Mama udah gede sekarang," ujar Lea sambil menatap wajah Ale dari pantulan kaca.


Ale masih memeluk Lea, meski kedua matanya sudah mulai berair. "Mama, makasih ya udah ada di samping Ale selama ini. Makasih juga udah selalu support Ale sampai jadi sekarang. Mungkin kalau Mama gak ada Ale gak tau kayak gimana," ucap Ale seraya mengambil napas.


"Maaf juga kalau selama 24 tahun ini Ale selalu buat Mama marah, Ale selalu buat Mama sedih. Maaf ya Ma, tapi hari Ale mau bilang kalau Ale sayang banget sama Mama," lanjut Ale menitiskan air mata.


"Sayang!" Lea menarik kedua pundak Ale agar menghadap ke arahnya.


"Jangan nangis dong, kalau nangis nanti make-up nya luntur," ujar Lea sambil menghapus perlahan air mata yang membasahi kedua pipi putrinya, setelah itu Lea memeluknya erat.


Lea menguraikan pelukan, menatap lekat kedua bola mata putrinya. "Mama turun dulu, bentar lagi akad nikahnya bakal di mulai. Kamu nanti turun setelah Gio selesai ijab kabul." Ale mengangguk pelan menatap Lea yang mulai keluar kamar.


Di bawah, semuanya sudah hadir beberapa menit ke depan ijab kabul akan segera di lakukan. Al dan Shaka rusuk berdampingan, dengan sambil mengulurkan tangannya Al menggenggam tangan Gio.


Gio mengangguk tegas, yang berarti cowok itu sudah siap dengan acara ijab kabul. "Bisa!"


Al tersenyum dan mulai mengucapkan ijab kabul. "Ananda Giovanni Ellard bin Abi Ellard, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya bernama Alexis Jude Aldebaran binti Alvaro Aldebaran dengan mas kawin uang sebesar 350 juta rupiah dan seperangkat alat shalat di bayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Alexis Jude Aldebaran binti Alvaro Aldebaran dengan mas kawin tersebut tunai!" Gio berucap dengan sekali tarikan.


"Gimana sah?"


"SAH!"


...


Akad nikah baru saja digelar, dan rencananya resepsi akan dilaksanakan nanti malam di salah satu hotel milik Aldebaran.


Saat ini semuanya sedang berkumpul di ruang tengah, ada Jihan, Arfan, Bima dan Yuna tak lupa juga si buah hati —Aretha, yang saat itu menjadi bahan rebutan.


"Ngelamun mulu lo Bang disini, mending di ruang tengah sana ngumpul sama yang lain." Ale memberi teguran pada Shaka yang dari tadi diam merenung di dapur.


Shaka menoleh ke samping dan menatap Ale yang kini sedang menyiapkan minuman. "Ngomong-ngomong, makasih ya Bang udah ada disini. Makasih juga udah temenin gue selama ini, walaupun gue selalu kesal sama lo dan selalu buat masalah, tapi gue sayang sama lo." Ale tersenyum manis pada Shaka yang dari tadi menatapnya dengan tatapan tulus.


"Sama-sama, makasih juga udah ada buat gue selama 25 tahun ini. Maaf kalau selama ini gue belum bisa jadi contoh yang baik buat lo," ucapnya yang langsung memeluk Ale dengan erat.


"Lo tau Bang, kalau lo adalah Abang terbaik yang pernah gue kenal. Walaupun kadang lo nyebelin, lo buat ulah dengan hal-hal membahayakan lo, tapi gue tau. Lo punya cara tersendiri buat bikin gue aman," gumam Ale yang masih terdengar di telinga Shaka.


"Gue naik dulu ya, udah waktunya duhur gue belum shalat," pamit Shaka membuat Ale melepaskan pelukan.


"Yaudah, gue tunggu di bawah ya." Ale tersenyum sambil membawa minuman dia mulai pergi meninggalkan dapur.


Shaka membalasnya dengan senyum, dan mulai meninggalkan dapur lalu aik ke atas untuk melaksanakan kewajiban.


Memasuki kamar kakinya melangkah memasuki kamar mandi untuk mengambil wudhu, seusai wudhu Shaka kembali keluar dan mulai menggelar sajadah.


Namun ketika ia ingin mengambil kopiah, pandangan Shaka mengarah pada nakas dekat kasur. Dimana di sana ada sebuah foto yang terus saja Shaka simpan hingga sekarang.


Shaka mulai mendekatinya dan mulai mengambilnya, perlahan dia duduk di pinggir kasur dengan tangan memegangi bingkai kaca tersebut.


Segaris senyum manis Shaka lihat kan ketika menatap foto Runa yang tertawa, dengan rambut yang berantakan akibat terpaan angin.


Masih teringat di benaknya, saat itu Shaka dan Runa sedang berlibur di pantai untuk merayakan hari jadian mereka yang kedua tahun —tepat dua bulan sebelum kepergian Runa. Dan Runa ingin sekali untuk naik kapal.


Shaka menghela napasnya panjang sambil mengusap bingkai kaca itu dan berkata. "Aku rindu kamu." sambil menaruh kembali bingkai kaca itu ke atas nakas.


Shaka pun bangkit dari duduknya dan perlahan mulai melaksanakan shalat. Dengan khusyuk Shaka menjalankannya, namun pada saat rakaat terakhir napasnya memberat dengan memejamkan matanya Shaka berkata. "Lailahaillallah."


Detik itu juga kedua mata Shaka terpejam erat dengan posisi sujud.


...


Sementara di bawah sana, semuanya masih berkumpul. Melihat jam makan siang yang sebentar lagi di mulai, Lea mulai menghampiri Ale yang sedang mengobrol berdua bersama Gio —suaminya.


"Ale!" panggil Lea membuat Ale menoleh padanya dan menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Iya Ma, ada apa?" tanya Ale.


"Bang Shaka mana? Kamu panggil dia biar ke bawah, makan siangnya udah siap." Lea pun pergi meninggalkan Ale dan Gio.


"Aku naik bentar buat panggil Bang Shaka. Kamu ke ruang tengah aja dulu nanti aku nyusul kalau udah panggil Bang Shaka," ujar Ale pada Gio.


Ale mulai naik ke atas dan menyusul Shaka yang belum saja turun. Sesampainya di depan kamar Shaka, Ale mulai mengetuk nya dan memanggilnya beberapa kali.


"Bang Shaka! Keluar, makan siang udah siap nih." Ale mengernyit bingung saat tak ada balasan dari dalam.


"Bang Shaka udah selesai belum? Yang lain udah siap di bawah, tinggal nunggu lo aja." Ale kembali memanggil Shaka namun lagi dan lagi, Shaka tak menjawab malahan seperti terdengar tak ada orang di dalam.


"Tumben gak ke jawab, apa tidur kali?" gumam Ale, karena penasaran ia pun mulai membuka pintu kamar milik Shaka.


Perlahan namun pasti pintu kamar Shaka terbuka, pandangannya mengarah pada Shaka yang sedang shalat. "Bang?" Ale menatap Shaka pada posisi yang masih sama, bersujud.


Karena tak kunjung mengubah posisi Ale mulai mendekati Shaka dan menepuk pelan pundaknya, saat itu juga tubuh Shaka terjatuh dengan kedua mata yang tertutup rapat.


Napas Ale seketika tercekat melihatnya. "Bang Shaka, l-lo jangan bercanda ya!" ucapnya gugup, Ale mulai mendekati tangannya pada hidung Shaka.


Tubuh Ale merosot ke bawah saat tak lagi mendengar deru napas milik Shaka. "BANG SHAKA!!" teriak Ale, tubuhnya gemetar hebat.


Teriakan Ale terdengar hingga bawah, membuat semuanya naik ke atas dan mengecek apa yang terjadi. Langkah mereka semua terhenti saat melihat Ale yang sedang memeluk Shaka dengan erat.


"Ale? Ada apa nak?" tanya Lea yang perlahan menghampiri Ale yang menangis, memeluk Shaka.


"Bang Shaka Ma, Bang Shaka, dia udah gak ada."


Semuanya terdiam sambil menutup mulutnya tak percaya mendengar ucapan Ale. Gio —selaku dokter perlahan mendekati Shaka dan mulai mengecek denyut nadi nya, dan benar saja jika denyut itu sudah berhenti.


Pada akhirnya tak ada yang tau siapa yang akan pergi terlebih dahulu. Aku, kau atau dia -Arshaka Aruna.


.......


.......


.......


.......


Hai semuanya, sekali lagi aku mau jelasin kenapa Nana buat cerita ini dengan Runa di matikan di ceritanya. Sebenarnya sebelum tamat dan aku putuskan buat update, memang akhir dari cerita aku buat seperti itu —dimana cerita ini berakhir dengan sad ending.


Ada yang bilang kalau kurang pas karena ceritanya ga sesuai judul, dimana Arshaka Aruna harusnya bahagia. Dan ada yang bilang kenapa harus di matikan? Udah ketentuannya emang kalau cerita ini seperti itu.


Semoga paham ya kenapa aku buat begini, kalau pun aku buat bahagia pasti itu-itu aja jadinya, toh kalau aku lanjut terus yang ada nantinya bakal keluar jalur dari apa yang aku mau dan pastinya kalian bosen sama apa yang saya buat.


Apakah judul namanya harus sesuai dengan endingnya?


Semoga gaada yang protes lagi ya 😭, sekali lagi makasih banyak semuanya dan minta maaf. Btw kalau aku buat cerita baru rame gak ya?