Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Rumah baru



Setelah menyelesaikan sarapan pagi bersama. Shaka membantu Runa membereskan barangnya untuk dipindahkan di rumah baru mereka.


Tentu Runa tak tau jika Shaka akan membawanya ke rumah baru yang telah lama Shaka bangun untuk mereka berdua nanti.


Mengingat Shaka yang sudah memiliki uang, tentu tak menyulitkan dirinya untuk membeli rumah. Ditambah lagi, jika mereka memilih untuk tinggal bersama orang tua, malahan nantinya akan menyusahkan mereka.


Memasukkan beberapa koper yang berisikan barang-barang Runa ke dalam mobil, setelah semuanya pas Shaka menutup pintu bagasi dan berjalan masuk ke dalam.


Berdiri tak jauh dari Runa yang kini sedang berpelukan melepas rindu pada Yuna dan lainnya. "Ingat sayang! Pesan Bunda kemarin, jadi istri yang baik!" Yuna berucap tak melupakan untuk mengingatkan kembali pesan-pesannya yang telah dirinya ucap pada Runa.


Runa mengangguk. "Iya Bunda," dan kembali memeluk Yuna dengan erat.


"Maafin Runa ya kalo selama ini Runa nakal, maaf juga kalo Runa sering gak nurut sama Bunda," tangisannya pecah ketika sang Bunda memeluknya dengan kasih sayang.


"Ayah..." beralih memeluk Bima. "Makasih ya udah jadi Ayah yang hebat buat Runa, makasih juga udah rawat Runa segede ini. Maaf kalo Runa belum bisa bahagiakan Ayah,"


"Sama-sama, jadi istri yang baik ya!" Bima membalas pelukan sang putri, sembari mengusap lembut surai nya.


"Sudah jangan nangis lagi, dilihatin tuh sama Shaka!" Bima tersenyum menatap sang putri.


Runa mengangguk dan memeluk Arfan. "Makasih Bang udah temenin Runa selama 22 tahun ini, makasih juga udah kasih banyak pelajaran buat Runa!" kini tiba saatnya mereka memulai kehidupan baru mereka dengan pasangan masing-masing.


"Makasih kembali udah jadi princess Abang, maaf juga kalo gue selalu bentak lo!" Arfan menghapus air mata Runa yang mengalir membasahi pipi. "Gak usah nangis, udah gede!" sambungnya sambil mengecup kening Runa singkat.


"Sana, udah ditunggu sama Shaka tuh!" tunjuk nya pada Shaka yang masih setia menunggu di ambang pintu.


Perlahan Runa mulai melepaskan pelukan, gadis itu mulai berjalan menghampiri Shaka dan berpamitan pada yang lainnya. "Bunda! Ayah! Semuanya, Shaka pamit untuk bawa Runa. Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam! Hati-hati ya, jangan ngebut!" pekik Yuna.


Di dalam mobil, Shaka berusaha untuk menenangkan Runa. Ia tau sulit rasanya untuk berpisah, tetapi juga ini sudah menjadi pilihan. "Sudah, jangan nangis dong. Nanti kita bisa kok buat main ke Bunda dan Ayah,"


Runa mengangguk. "Iyaa, gak nangis lagi kok."


Shaka tersenyum tipis, tangan kiri nya asik mengusap surai Runa dengan lembut, dan tangan kanannya tetap memegangi stir.


...


Tak lama mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah bangun rumah yang megah, melirik Runa sekilas Shaka segera turun keluar dan menarik Runa untuk turun dari mobil.


Menatap bangunan depan dengan kagum, bahkan mulut kecilnya itu tak berhenti berdecak kagum.


"Suka?" tanya Shaka.


Runa mengangguk cepat. "Suka banget! Bagus," balasnya.


"Tapi... Ini rumah siapa?" heran Runa, baru kali ini dirinya berada di tempat ini. Dan dilihat-lihat dari ujung hingga ujung, ini termasuk perumahan yang cukup mewah.


Lihat saja rumah-rumah yang ada di samping, bagus dan mewah.


"Masuk dulu baru tanya," menarik Runa untuk masuk ke dalam, dan terhenti di depan pintu dengan ukuran besar.


"Buka," Shaka memberikan sebuah kunci kecil itu pada Runa.


"Tapi kan---" Shaka mengangguk sembari menatap yakin untuk Runa membuka pintu itu.


Perlahan namun pasti, Runa mulai memasukkan kunci dan memutarnya perlahan. Menutup mulutnya tak percaya, tak kala melihat isi dari rumah itu. "Ini---" Runa kembali menatap Shaka tak percaya.


Shaka tersenyum, sambil merentangkan kedua tangannya. Cowok itu berkata, "Rumah kita!"


"Rumah kita?" ulang Runa, entah berapa kali gadis itu dibuat kaget oleh kejutan yang Shaka lakukan.


"Kok nangis? Hm," Shaka menangkup lembut wajah Runa, menatapnya dalam.


Dengan sesenggukan Runa menjawab. "Makasih, makasih banyak."


"Sama-sama, gak usah nangis lagi."


Runa menggeleng pelan. "Nggak, ini cuma nangis seneng aja." dengan cepat Runa menghapus air matanya.


Mendengar jawaban Runa membuatnya tersenyum lega. "Gimana kalau kita keliling dulu? Terus kita masukin barang-barang ke kamar," tawar Shaka.


Tentu saja Runa mau, mengangguk cepat gadis itu menerima uluran tangan dari Shaka. Keduanya pun perlahan mulai mengelilingi rumah.


Dimulai dari ruang tamu dan dapur yang saling bersebelahan, lalu beberapa kamar tamu yang ada di bawah tak lupa kamar mandi.


Selanjutnya mereka berjalan naik ke atas untuk memeriksa keadaan kamar atas yang nantinya akan menjadi kamar mereka berdua.


Rumah ini memang dibangun dengan lantai dua, yang atas untuk mereka beristirahat dan yang bawah untuk mereka berkumpul bersama keluarga.


Setelah itu Shaka dan Runa turun kembali ke bawah, Shaka ingin mengajak Runa ke belakang. Di sana ada kolam renang dan kolam ikan. Shaka juga tak lupa untuk membangun taman kecil, jika mereka bosan mereka bisa ke sana.


"Suka gak sama tempatnya?" tanya Shaka sambil merapikan anak rambut Runa yang berantakan, akibat terpaan angin.


"Suka banget! Tempatnya juga bagus ada tamannya lagi." Tak dapat dipungkiri Runa senang dengan tempat ini, bahkan bisa dibilang rumah ini menjadi salah satu impiannya dari dulu.


Menghela napas lega. "Syukurlah,"


"Yuk masuk panas," ajak Shaka ketika matahari mulai naik-naiknya.


...


Shaka mulai menurunkan satu persatu koper yang ada di dalam bagasi, dibantu dengan Runa. Mereka sama-sama saling bekerja sama untuk menata rumah.


Karena rumah ini sudah diisi oleh perabotan, jadi mereka hanya tinggal mengisi pakaian dan beberapa bahan makan untuk kedepannya.


Sampai di atas kamar, Shaka menaruh koper itu ke lantai dan kembali turun untuk mengambil barang-barang yang lainnya yang masih tertinggal.


Runa mulai membuka koper satu persatu ia mulai memasukkannya ke dalam lemari pakaian. Bibirnya tak lepas untuk tersenyum bahagia, sungguh Runa benar-benar bahagia.


"Baju kamu yang lainnya mana kak?" tanya Runa, masih sibuk dengan urusan baju.


"Belum ku bawa, ntar sore kayaknya datang. Masih bawah sebagian soalnya," balas Shaka membantu membukakan koper.


Dirasa semuanya terbuka, Shaka berjalan menghampiri Runa dan memeluk sang istri dari belakang. "Na," panggil nya.


Runa menoleh. "Iya, kenapa?"


"Jangan panggil kak ya," katanya pada Runa. Sambil menaruh dagunya ke atas bahu Runa.


"Panggil yang lain. Masa kakak terus," cemberut nya.


Runa tersenyum seraya menggelengkan kepala. "Oke oke, gimana kalo sayang? Atau hubby?"


"Terserah kamu, kan kamu yang bakal manggil."


Mengangguk mengerti. "Oke, hubby!" final nya.


Mengacak-acak dengan gemas, Shaka kembali mempersilahkan Runa untuk melanjutkan kerjanya. "Aku keluar dulu ya, mau beli beberapa makanan buat nanti malam." Runa mengangguk sebagai balasan.


"Hati-hati ya!" pekik Runa pada Shaka yang mulai tak terlihat.