Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Shaka vs Galang



Jam menunjukkan pukul 12 malam, Shaka masih berdiri menunggu kedatangan seseorang. Cowok itu masih menunggu dengan sabar, sampai dari arah berlawanan sebuah motor datang, dan berhenti 3 meter dari tempat Shaka berdiri.


Orang itu melepas helm full face nya dan tersenyum sinis ke arah Shaka. "Gue gak mau basa-basi, gue denger lo udah punya cewek. Hm ternyata lo udah bisa move on juga." Ujar Galang.


Namanya Galang Prayuda, ketua Gundala. Sahabat Shaka dulu, kalau sekarang lebih tepatnya ke mantan sahabat, mereka berdua cukup lama berteman hingga sebuah kasus membuat hubungan mereka hancur lebur.


Kasus inilah yang membuat kedua geng memiliki dendam satu sama lain, yang satu dendam karena orang yang dia sayang meninggal dan yang satu dendam akibat orang yang dia suka lebih menyukai sahabatnya sendiri.


Cukup bingung bukan?


"Bacot! Buruan ngapain lo ajak gue ke sini." Mood Shaka sedang tak baik sekarang, dan hal itu Galang manfaatkan untuk membuat Shaka emosi.


"Santai, kita ngobrol dulu lah. Udah lama kita gak berdua gini, setelah kepergian dia, mungkin tiga tahun yang lalu."


"Gue gak ada waktu buat sampah kayak lo," Shaka masih mencoba menahan amarahnya, cowok itu tau jika orang yang ada di depannya ini, ingin membuatnya emosi.


"Oke, oke, gak sabar banget jadi orang." Ujar Galang. "Gue mau tantang lo balapan, tapi kali ini beda. Kalau gue menang, jangan harap cewek lo aman dari gue, tapi kalau lo menang. Gue gak akan lakuin apa-apa ke dia, deal?"


Shaka tertawa remeh, yakin cuma itu tantangannya? Ah mudah sekali, bahkan tanpa membawa Runa ke dalam pertarungan ini, dia pasti sudah menang.


"Deal," Balas Shaka.


...


Jam telah menunjukkan satu dini hari, kedua motor bersampingan, di bagian kanan terdapat Shaka dan di samping kiri terdapat Galang. Detik-detik terakhir suara pistol menyala, kedua motor saling beradu di atas aspal.


Shaka menjalankan motornya dengan santai, meski dalam kecepatan tinggi, tak jauh kembali dari pandangannya garis finish tiba, sialnya! Saat Shaka berbelok menuju garis finish yang akan dekat, cowok itu tak sengaja menabrak garis pembatas yang membuat nya terguling ke samping.


Sial! Shaka kalah untuk kali pertamanya. Namun jangan salah, dibalik helm full face nya itu, ter cetak jelas senyum smirk. Shaka bangkit, di susul dengan anak-anak yang menghampiri Shaka. Cowok itu mengangguk kecil, tak apalah, kali ini saja dia kalah, biar mereka merasakan kemenangan untuk pertama kalinya.


Dan untuk ucapan Galang tadi, Shaka tak akan diam, dia tak akan membiarkan Galang seenak jidatnya menganggu Runa.


"Sa, lo gak papa?" Tanya Rayn.


"Gak papa, santai aja." Ujar Shaka, sambil menatap ke arah Galang, keduanya sama-sama melemparkan tatapan mematikan.


...


Runa berjalan terburu-buru memasuki kelas, sedari tadi saat dirinya menginjakkan kakinya masuk, banyak pasang mata yang menatap nya serta berbisik tentang pernyataan Shaka kemarin.


Ia bernafas lega, semuanya tak bertahan lama, di dalam juga sama, Runa seperti tersandung kasus saja jika seperti ini.


"Na seriusan lo pacarnya kak Shaka?"


"Runa, lo pakai cara apa, bagi dong sama gue?"


"Iya, bagi dong, sapa tau yang lain bisa nyantol gitu ke gue. Kan lumayan, gak dapat kak Shaka, kak Rasya pun boleh."


Runa aja bingung mau bilang apa, mereka aja kaget, gimana Runa? Bayangin aja tiba-tiba lo di cap sebagai pacar seorang most wanted. Tapi Runa seneng sih, halusinasinya jadi kenyataan.


"Minggir! Minggir! Gue mau duduk." Vanya mengusir semua anak yang mengerumuni mejanya.


"Runa!" Panggil Vanya. "Lo utang penjelasan sama gue!" Aish Runa lupa, bahwa semalam Vanya sudah menagih itu namun belum dia jelaskan hingga sekarang.


Runa mengangguk. "I-iya nanti aku jelasin ya,"


"Sekarang!" Vanya dari semalam sudah penasaran tingkat akut, makanya dia hampir terlambat untuk pagi ini.


"Nanti aja, aku jelasin waktu di kantin."


Vanya berdecak kesal, harus menunggu lagi dong. Gak tau ya, nungguin tanpa kepastian itu sakit. "Wait! Berita itu bener gak sih Run, bingung gue."


Runa hanya mengangkat bahu tak tau. Hei! Kamu aja bingung gimana Runa. "Gak tau,"


"Lah gimana sih, kan lo yang jalanin gimana gak tau. Sekarang kak Shaka lo terima gak." Vanya kembali bertanya.


Runa menatap Vanya sekilas, lantas berkata. "Kalau aku terima, berarti kita pacaran gitu?" Ini Runa yang terlalu polos atau memang dia tak pernah pacaran.


"Ya-iya! Kalau lo terima kak Shaka,bya lo jadian sama dia. Sekarang gini, orang nikah itu gak bakal sah kalau gak diterima sama mempelai." Jelas Vanya. "Paham?"


"Paham,"


"Lo terima kak Shaka gak?"


"Gak, gak aku terima sih."


Vanya membulatkan matanya sempurna, cewek itu menempelkan telapak tangannya ke dahi Runa, takut aja dia sakit terus mengigau. "Gak sakit," Gumam Vanya.


"Astaga Runa, cowok setampan dan se-tajir kak Shaka gak lo terima, tuker posisi yok!" Vanya hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah Runa.


"Gak dibolehin sama abang Vanya!" Ujar Runa.


"Btw ngomongin abang lo, dia gimana sih." Vanya jadi penasaran sendiri, dilihat Runa cantik, pasti abangnya tampan.


"Bentar," Runa merogoh sakunya. "Ini abang," Memperlihatkan foto Arfan.


"I-ini abang lo? Kenapa lo gak bilang kalau abang lo seganteng ini. Kan bisa gue pepet biar kita jadi ipar gitu." Beginilah jones, semua cowok yang dibilang tampan harus menjadi pacarnya.


"T-tapi Bang Arfan udah punya pacar,"


Shaka berdecak kesal, langkahnya terhenti ketika seseorang mencekal pergelangan tangannya. "Lepasin!" Dengan suara yang begitu pelan, namun tersirat penekanan.


"Shaka, aku mau ngomong sama kamu. Please dengerin aku." Ujar Tania, tak tau harus berapa kali Shaka menegur wanita ini untuk berhenti mengejarnya.


"Apa lagi?!" Dengan suara naik satu oktaf. "Lo mau ngomong kalau Runa itu pacar gue. Iya! Dia pacar gue, dan lo berhenti buat kejar gue!" Shaka telah kehilangan batas kesabarannya, cowok itu tak habis pikir dengan pikiran wanita di depannya.


"Shaka," Tania meneteskan air matanya, baru kali ini dia di bentak. Apalagi sama orang yang dia suka.


"Dengerin gue, gue gak suka sama lo, sampai kapan pun!" Ujar Shaka menekan setiap katanya.


"Dan satu lagi, hapus air mata lo. Karena gue gak akan pernah termakan sama rayuan busuk lo itu!" Lanjutnya.


"Shaka please, hargai perjuangan aku. Aku udah kejar kamu 2 tahun ini, masa iya kamu gak terima aku." Tania berucap sambil menangis.


"Siapa suruh lo kejar gue? Gak ada kan." Ucap Shaka dengan entengnya, lagian dia juga gak minta buat Tania mengejarnya.


Terus sekarang yang salah siapa? Shaka atau Tania?


Shaka mendekati tubuh Tania, membuat cewek itu tersenyum. Lalu merapikan anak rambut yang berantakan ke belakang telinga, dan berkata. "Lo cantik sih gue akuin lo cantik, tapi sayang.." Shaka menggantung ucapannya. "Lo murahan!" Bisik Shaka tepat di samping telinga Tania.


Cowok itu kembali menegakkan tubuhnya, dan berbalik meninggalkan Tania yang terdiam di lorong sekolah, cowok itu berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.


Tania menatap kepergian Shaka, cewek itu lantas menghapus air matanya. "Shit! Harus pakai cara apa lagi buat dapetin lo?" Ujar Tania dengan kesal, lantas pergi meninggalkan lorong sambil mengumpat.


...


"Daebak! Demi apa sih? Kok gue gak percaya, masa kak Shaka gitu." Vanya memicingkan matanya, cewek itu masih tak percaya dengan apa yang Runa ceritakan.


Runa mendesah pelan. Tuh si Vanya aja yang di ceritakan dengan detail, sampai ke akar-akarnya masih gak percaya. Apalagi dia yang jalanin.


"Beneran Van, masa iya aku bohong." Kata Runa.


Vanya hanya mangut-mangut saja, "Iya juga ya, lo kan gak pandai buat bohong. Tapi kok aneh sih, masa kak Shaka kayak gitu, gak percaya gue."


Runa memutar bola mata malas. "Terserah kamu,"


Shaka baru saja masuk kantin, cowok itu berjalan menghampiri meja inti anak Alastair, meja turun temurun dari para seniornya.


"Paketu datang juga, duduk Sa." Rayn menggeser tubuhnya, mempersilahkan Shaka duduk.


"Lo udah siapin kan, Anak-anak buat jagain Runa?" Tanya Shaka to the point, pada Tara.


"Oh tenang, semuanya beres, udah selesai gue atur. Tinggal kerjanya aja." Ujar Tara, meski Tara sering bertingkah konyol, cowok itu paling jago untuk membagikan tugas-tugas kelompok tangan beginian.


"Bagus." Balas Shaka singkat.


"Sa mau gak gue ajarin, biar hubungan lo sama Runa langgeng." Tawar Arthur.


"Lo ajarin Shaka biar hubungannya langgeng, sedangkan lo pacaran sehari udah putus. Apa yang mau lo ajarin?" Saut Rasya yang terdiam.


Bram ikut menyahuti. "Betul tuh, sok-sokan ajarin Shaka biar langgeng, lo aja pacar gak--" Ujar Bram terpotong ketika Arthur membekap mulutnya dengan bakwan.


"Diem lu!"


"Enwak Twur, mwau lwagi dwong." Bram berucap dengan tak tau dirinya.


"Gini nih punya temen gak tau diri," Saut Rayn sambil memakan nasi goreng pesanannya.


...


Bel pulang berbunyi sepuluh menit yang lalu, namun kedua gadis itu sibuk mengobrol. Biasa membahas haluan mereka.


"Shut!" Vanya menyenggol pelan lengan Runa. "Tuh ada yang nungguin," Vanya berkata sambil menatap pintu.


Runa mengikuti arahan Vanya, gadis itu mengerutkan dahinya, sejak kapan Shaka berdiri di sana. Mana memasang muka datarnya lagi, sama-sama seperti tembok.


"Cie yang ditunggu di depan kelas, untung gak di depan gang lo! Sana balik, gue juga mau balik. Supir gue mau sampai." Ujar Vanya, sekalian menggoda Runa.


"Beneran supir kamu udah mau sampai?" Vanya mengangguk kecil.


"Udah sono balik, tungguin tuh, kasihan. Gue duluan deh kalau gitu, duluan kak." Vanya pergi meninggalkan kedua sejoli. Tak lupa menyapa Shaka, meski tak cowok itu balas.


"Sejak kapan kak Shaka di sini?" Tanya Runa.


"Sejak lo omongin gue," Jadi shaka telah berdiri lama di depan pintu dan mendengarkan semua percakapan dirinya dan Vanya.


"Itu bukan ngomongin kak Shaka," Elak Runa.


Shaka mengangkat sebelah alisnya. "Kalau bukan ngomongin terus apa? Gibahin gue?" Ujar Shaka.


"Bukan, bukan gibahin kakak kok." Udah ketahuan masih aja ngelak, udah gitu gak natural lagi.


"Terus?"


Gadis itu menjentikkan jarinya, dan berkata. "Lebih tepatnya memuji kakak!"


"Sama aja bodoh! Lo muji dengan kata-kata jelek, apa namanya kalau bukan gibahin gue? Udah balik," Cowok itu lantas menarik Runa pulang.